Tags

,

NAMA : Nur Mayda Rusmianti

NIM : 1402045126

PRODI : Hubungan Internasional B

MATA KULIAH : Pemikiran Politik Islam

Islam adalah “dien” yang sesuai dengan fitrah manusia, baik dalam urusan Aqidah, Syari’at, Mu’amalah, dan Ibadah. Islam merupakan agama samawi yang percaya bahwa hanya ada satu Tuhan yang menciptakan manusia, kehidupan, dan alam semesta ini., Islam diyakini oleh penganutnya disampaikan oleh malaikat Jibril melalui wahyu yang diberikan kepada Nabi terakhir, yakni Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan tuntunan hidup bagi seorang muslim.

Berbicara terkait agama, seharusnya bagi seorang muslim untuk memiliki kepribadian yang khas dan menunjukkan aqidah Islam yang dimiliki. Untuk memahaminya, penulis mencoba memetakan dasar-dasar tolak ukur yang dijadikan penulis untuk melakukan penelitian lapangan, terkait dengan “mengukur pola pikir mahasiswa Universitas Mulawarman mengenai Islam.

Pada setiap manusia Tuhan telah memberikan potensi akal, dengan potensi ini manusia dapat menentukan sikapnya, mengendalikan emosinya, dan mencari penyelesaian masalah apabila terjadi. Menurut pandangan Islam, manusia fitrahnya memiliki pola fikir dan pola sikap yang harusnya keduanya berjalan seiring menunjukkan bahwa dirinya seorang muslim. Apabila seorang muslim tak memiliki pola pikir dan pola sikap Islam,  maka belum benar orang tersebut dapat dikatakan sebagai muslim yang paham ajaran agama. Bisa jadi agama yang mereka anut saat ini, adalah agama warisan yang mereka pun tak mampu menjelaskan mengapa islam menjadi agama mereka.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan selama 2 minggu terakhir, penulis mendapati sebagian besar mahasiswa Universtas Mulawarman Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan masih belum memiliki pola sikap islami, ada yang memiliki pola sikap islami tapi tak memiliki pola fikir islami, begitu juga sebaliknya. Hal ini kondisi yang dialami penulis saat melakukan survey lapangan.

Pola pikir islami yang dimaksud adalah cara seseorang menghukumi suatu hal berdasarkan aturan yang diajarkan di dalam Islam itu sendiri. Sedangkan, pola sikap islam adalah cara yang digunakan seseorang untuk memenuhi tuntutan naluri dan kebutuhan jasmani yang dimilikinya ketika hidup. Naluri terbagi menjadi 3 diantaranya naluri untuk mempertahankan diri, naluri untuk menuhankan sesuatu, dan naluri untuk melestarikan keturunan.  Untuk kebutuhan jasmani diantarnya kebutuhan primer yang semua manusia pasti membutuhkannya, diantaranya makan, minu, tempat tinggal, pakaian, dan sebagainya.

Dikarenakan manusia memiliki naluri dan kebutuhan jasmani yang harus dipenuhi, biasanya manusia menggunakan akalnya untuk memenuhi naluri dan kebutuhan jasmaninya tadi. Contoh apabila seseorang jatuh cinta, hal ini merupakan tanda dari naluri melestarikan keturunan dari manusia kemudian dilihat lagi bagaimana manusia melakukan pemenuhan atas tuntutan nalurunya tadi. Apakah manusia ini memenuhi tuntutan nalurinya berdasarkan aturan Islam atau tidak hal ini menjadi pilihan dari si manusia sendiri. Apabila manusia memilih menikah, maka manusia ini mengikuti aturan agama di dalam Al-Qur’an, tetapi apabila manusianya memelih untuk memenuhi nalurinya dengan cara berzina maka ia tak menggunakan akalnya dan dapat dipastikan pola piker yang dimilikinya bukan pola piker islam.

Apabila ditelusuri secara lebih mendasar terkait pemikiran seseorang maka kita hanya perlu membaginya kedalam 3 ideologi besar di dunia. Mengapa ideology ? karna ideology yang memancarkan seluruh peraturan dan pandangan hidup.

Mabda adalah suatu aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud aqidah adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup, serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan Zat yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia ini. Sedangkan peraturan yang lahir dari aqidah ini tidak lain berfungsi untuk memecahkan dan mengatasi berbagai problematika hidup manusia, menjelaskan bagaimana cara pelaksanaan pemecahannya, memelihara aqidah serta untuk mengemban mabda. Penjelasan tentang cara pelaksanaan, pemeliharaan aqidah, dan penyebaran risalah dakwah inilah yang dinamakan thariqah. Selain dari itu — yaitu aqidah dan berbagai pemecahan masalah hidup — dinamakan fikrah. Jadi mabda mencakup dua bagian, yaitu fikrah dan thariqah. (baca Qiyadah Fikriyah — Nidzomul Islam).

Masing-masing mabda (ideologi) tersebut mempunyai akidah atau dasar pemikiran (pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup, serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan Zat yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia ini) yang berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya sebagai berikut 

  1. Kapitalisme

Aqidah (ide dasar) Kapitalisme adalah sekularisme, yaitu pemisahan antara agama dengan kehidupan. Ide ini secara tidak langsung mengakui eksistensi Tuhan, akan tetapi agama hanya sekedar hubungan antara individu dengan Penciptanya saja. Dengan demikian, didalam aqidah sekuler secara tersirat mengandung pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup.

Mabda ini bersumber dari akal semata, akal yang terbatas, Ide sekularisme adalah dasar atau ‘aqidahnya. Mabda Kapitalisme tidak sesuai dengan fitrah manusia karena di satu sisi mengakui keberadaan “Tuhan”, namun di sisi lain manusialah yang dianggap layak untuk menetapkan aturan.

  1. Sosialisme

Adapun sosialisme, termasuk juga komunisme, dua-duanya memandang bahwa alam semesta, manusia, dan hidup merupakan materi belaka, dan bahwasanya materi menjadi asal dari segala sesuatu. Dari perkembangan dan evolusi materi inilah benda-benda lainnya menjadi ada. Tidak ada satu zat pun yang terwujud sebelum alam materi ini.

Ide ini berpandangan bahwa materi bersifat kekal, tidak berawal dan tidak berahkir, materi bersifat wajibul wujud (wajib adanya). Ide ini mengingkari adanya Pencipta, sebab segala sesuatu berasal dari materi dan akan kembali lagi menjadi materi.

Aqidah ini juga bersumber dari akal manusia yang terbatas, tidak sesuai dengan fitrah manusia, sebab tidak meyakini adanya Pencipta (“Bukankan setiap manusia mempunyai naluri beragama?”)dan manusia dianggap sebagai pusat segalanya. Hukum dibuat berdasarkan tolok ukur materi, tujuan tertinggi adalah materi.

Persamaan antara Sosialisme dengan Kapitalisme adalah dua-duanya sama-sama menganggap bahwa nilai-nilai yang paling tinggi dan terpuji pada manusia adalah nilai-nilai yang ditetapkan oleh manusia itu sendiri. Dan bahwasanya kebahagiaan itu adalah dengan memperoleh sebesar-besarnya kesenangan yang bersifat jasmaniah. Adapun berdasarkan sumbernya, maka aqidah dua ideologi ini murni bersumber dari akal manusia yang terbatas.

Keduanya juga sependapat dalam memberikan kebebasan pribadi bagi manusia, bebas berbuat semaunya menurut apa yang diinginkannya selama ia melihat dalam perbuatannya itu terdapat kebahagiaan. Maka dari itu tingkah laku atau kebebasan pribadi merupakan sesuatu yang diagung-agungkan oleh kedua mabda ini.

Sedangkan pandangan Sosialisme dan Kapitalisme terhadap individu dan masyarakat tidaklah sama. Kapitalisme adalah mabda yang individualis, definisi masyarakat adalah kumpulan dari individu-individu, kebebasan individu dijamin oleh negara. Kebebasan adalah yang paling penting, serba bebas (liberalisme) dalam masalah ‘aqidah, pendapat, pemilikan dan kebebasan pribadi.

Dalam perekonomiannya, ekonomi berada di tangan para pemilik modal. Setiap orang dapat menempuh cara apa saja dalam berekonomi. Tidak dikenal sebab-sebab kememilikan terhadap sumber kekayaan dan tidak membatasi jumlah banyaknya kekayaan yang dimiliki individu.

Berbeda dengan Kapitalis, definisi masyarakat dalam sosialisme adalah “masyarakat dibentuk oleh unsure manusia, alam dan alat-alat produksi dan interaksi antara ketiganya.” Negara di atas segalanya. Individu merupakan salah satu gigi roda dalam roda masyarakat yang berupa sumber daya alam, manusia, barang produksi dan lain-lain. Standar perilaku ditentukan oleh negara.

Dalam ide ini, ekonomi berada di tangan negara, tidak ada sebab kepemilikan, semua orang boleh mencari kekayaan dengan cara apapun, namun jumlah kekayaan yang boleh dimiliki dibatasi, kondisi ekonomi harus samarasa-samarata secara real.

  1. Islam

Adapun Islam, ‘aqidah Islam bersumber dari wahyu Allah SWT kepada Rasulullah. Dasar ‘aqidahnya adalah “Laa ilaaha illaa Allah, Muhammad Rasulullah.”

Aqidah Islam menetapkan bahwa sebelum kehidupan ini ada sesuatu yang wajib diimani keberadaannya, yaitu Allah SWT, dan menetapkan pula iman terhadap alam sesudah kehidupan dunia, yaitu hari Kiamat. Juga bahwasanya manusia dalam kehidupan dunia ini terikat dengan perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya, yang merupakan hubungan kehidupan ini dengan sebelumnya.

Manusia terikat pula dengan pertanggungjawaban atas kepatuhannya memenuhi semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya. Seluruh perbuatan terikat dengan hukum syara’.

Islam sesuai dengan fitrah manusia, karena Islam menetapkan bahwa manusia itu lemah, maka segala aturan apa pun harus berasal dari Allah SWT melalui wahyu yang disampaiakan kepada Rasulullah untuk seluruh umat manusia.

Masyarakat dipandang sebagai kumpulan individu-individu yang dipersatukan oleh pemikiran, peasaan dan sistem aturan yang sama. Individu adalah salah satu anggota masyarakat, individu diperhatikan demi kebaikan masyarakat dan masyarakat diperhatikan untuk kebaikan individu.

Dalam perekonomiannya, setiap orang bebas menjalankan aktifitas ekonomi dengan membatasi sebab kepemilikan dan jenis pemiliknya. Adapun jumlah kekayaan yang boleh dimiliki tidak dibatasi.

 

Advertisements