Tags

, ,

Dini hariyatti

1402045031

Hubungan Internasional A

Pemikiran Politik Jepang

Jepang di Mataku

Jepang tidak pernah terlalu menarik bagi saya. Saya lebih tertarik untuk mempelajari Negara-negara barat untuk dipelajari dan diketahui lebih jauh. Menurut saya hal itu dipengaruhi oleh bahasa, film-film, dan nilai-nilai barat yang jauh lebih familiar dan mudah saya temukan. Sampai akhirnya, jurusan bahasa yang saya ambil di bangku SMA memberikan saya kesempatan untuk mempelajari bahasa Jepang dan sedikit banyak mengenai social budayanya. Pada saat itu saya menjadi tahu bahwa Jepang adalah Negara yang sangat bangga akan budaya yang dimilikinya sebagai sebuah bangsa. Mengapa? Huruf  yang merupakan salah satu identitas sebuah bangsa saja Negara ini bedakan, huruf yang akan digunakan untuk menulis kata-kata dalam bahasa Jepang asli adalah hiragana sedangkan untuk bahasa asing huruf yang digunakan adalah katakana. Ketika kami (saya dan teman-teman di kelas) bertanya mengapa harus dibedakan, guru saya mengatakan hanya agar berbeda dengan kata-kata asli Jepang. Bukannya merasa aneh atau bingung atau mengira bahwa bangsa ini arogan saya malah merasa takjub akan rasa bangga dan tidak ingin disamakannya bangsa ini dengan bangsa lain. Saya pikir hal seperti itu penting dimiliki sebuah bangsa agar terjaganya budaya asli sebuah bangsa. Karena bangsa yang menjaga budayanya adalah bangsa yang mengenal dirinya, yang tahu apa keinginan dan kebutuhannya sehingga memiliki filter dalam menghadapi perkembangan zaman yang terus berubah.

Selulusnya saya dari SMA, ditahun kedua saya kuliah, saya mengambil kesempatan untuk mengenal Jepang lebih jauh yaitu mempelajari bagaimana politik dan pemerintahan di Jepang yang terkandung di dalamnya aspek ekonomi, social dan budaya melalui mata kuliah politik dan pemerintahan Jepang. Menurut saya Jepang adalah Negara kekaisaran yang paling sukses menerapkan nilai—nilai demokrasi yang mana nilai tersebut berhasil diterapkan (juga) akibat dari paksaan yang dilakukan oleh Barat melalui perubahan sistem pemeritahan, yang dulunya kekaisaran absolute menjadi monarki konstitusional yang mana dibaginya tiga pemegang kekuasaan yang setara dalam sebuah Negara yaitu dengan dibentuknya badan legislative, eksekutif, dan yudikatif. Perubahan pemegang kekuasaan ini tidak hanya berpengaruh ke dalam biidang poilitik dan pemerintahan saja melainkan ekonomi dan pertahanan keamanan, dan pendidikan.

Sebelum perubahan sistem kepemimpinan yang sangat drastis dari monarki absolute ke monarki konstitusional sistem kepemimpinan di Jepang sempat satu kali berubah. Monarki absolute terjadi di periode legendary emperor (diyakini era yang dipimpin oleh dewa-dewa) sampai periode Nara dan Heian yang mana pemerintahan dijalankan sepenhnya oleh kaisar, kaisar memiliki kewenangan untuk membuat UU, membuat dan menjalankan kebijakan, serta menetapkan hukum namun hal ini berubah di periode Kamakura yang mana pemerintahan dipimpin oleh kalangan militer atau dikenal dengan Shogun yang mana periode ini dimotori oleh Tokugawa dan seniornya. Perubahan dari periode Heian ke Kamakura ini disebabkan serangan militer tentara-tentara Kamakura ke kaisaran Heian yang akhirnya mampu mengambil kursi pemimpin. Karenya di periode tersebut yang memimpin Jepang adalah tentara atau Shogun  sampai periode Edo. Hal yang paling saya ingat dan cukup takjub dalam rentan periode ini adalah bagaimana pemimpin memilih untuk mengisolasi diri dari dunia internasional. Meskipun hal ini tidak membawa dampak yang baik bagi Jepang tapi saya rasa ide ini tidak terlalu buruk, mengapa? Karena salah satu alasan pemimpin pada pada periode tersebut menutup diri  adalah karena adanya dominasi eropa dalam bidang ekonomi khususnya yang cukup kuat, sehingga mereka khwatir akan terjadinya espansi dan Jepang bisa dikuasi sehingga cara yang dilakukan untuk mempertahankan kekuasaan bangsa Jepang di tanah sendiri adalah dengan menutup diri. Hal yang membuat saya takjub adalah sikap defensive bangsa ini akan kemungkinan imperialisasi bangsa lain yang cukup cepat disadari. Meskipun pada akhirnya mereka harus membuka diri akibat paksaan dari AS.

Jepang mengisolasi dirinya dengan tidak mengizinkna bangsa lain untuk tidak memasuki wilayah kedaulatannya sedang laut yang menjadi jalur perdagangan AS dan beberapa Negara eropa ke China masih termasuk wilayah kedaulatan Jepang sehingga menghambat akses perdagangan beberapa Negara tersebut, alhasil AS memaksa Jepang untuk membuka akses lautnya dengan memaksa masuk 7 kapal perangnya ke area terirori Jepang  pada tahun 1854 dan memaksa Jepang menangatangi perjanjian Shimoda yang intinya bersedia membuka pelabuhan Shimoda dan Hokodate untuk asing yang mana hal ini adalah awal restorasi Meiji yang mana perubahan kepemimpinan Shogun ke Kaisaran (tidak absolute) terjadi.

dini 1

Restorasi Meiji ini adalah masa dimana Jepang membuka diri dan melakukan banyak sekali perubahan di berbagai bidang yaitu politik pemerintahan, ekonomi, militer, dan pendidikan.

Di masa inilah nilai-nilai demokrasi barat dimasukkan melalui cara-cara paksaan yang sifatnya langsung maupun tidak langsung. Pemerintahan dikembalikan kepada kaisar karena Shogun dipandang lemah dari paksaan atau dominasi barat akibat persetujuan perjanjian Shimoda namun kembalinya kepemimpinan ke kaisar tidak lagi absolute melainkan monarki konstitusional yang mana kaisar hanya sebagai symbol Negara dan pemersatu bangsa. Dalam bidang ekonomi Jepang ikut melakukan kolonialisasi ke Negara lain hal ini juga didasari oleh pertumbuhan angka populasi yang cukup signifikan di awal setelah restorasi Meiji terjadi. Dalam bidang militer Jepang menjadi sangat kuat karena Jepang merasa sudah tertinggal terlalu jauh dari bangsa lain sehingga bisa diancam oleh AS dengan membawa 7 kapal perangnya. Akhirnya Jepang megalokasikan 50% pendapatannya ke bidang militer sehingga wajar saja jika Jepang menjadi sangat kuat di masa pernag dunia meskipun pada akhirnya kalah. Dan pendidikan, Jepang menerapkan sistem pendidikan yang sama dengan Barat dan banyak mengirim pemudanya ke luar negeri yang teknologinya maju

Yang saya ingin katakan melalui penjelasan singkat diatas adalah meskipun nilai-nilai barat ini masuk dan diterapkan di Jepang dengan paksaan, rakyat dan pemerintahnya berhasil menyatukan persepsi bahwa nilai-nilai tersebut layak untuk diterapkan dan disesuiakan dengan kebutuhan yang mereka butuhkan. Meskipun penolakan dengan melakukan perang juga terjadi namun hal ini tidak dibiarkan berlanjut dalam waktu yang lama dan banyak memakan korban seperti yang terjadi di banyak Negara di timur tengah saat ini. Pemempin yang dianggap tidak mampu memimpin rela meletakkan jabatannya dan rakyat mampu mendukung pemerintahnya. Saya kira sistem pemerintahan apapun baik selagi adanya persamaan persepsi akan kebaikan sistem tersebut di antara pemerintah dan rakyat.

Kesimpulan saya meskipun cukup banyak perubahan sistem pemerintahan yang terjadi di Jepang dengan  adanya factor domestic ataupun internasional tidak menghambat Jepang untuk menjadi Negara yang maju secara ekonomi, pendidikan, teknologi, dan politik pemerintahan yang sangat kondusif. Dan karenanya hal ini bisa menjadi role model bagi Negara lain termasuk Indonesia.

dini 2Jepang masa kini

 

Advertisements