Tags

, ,

Dhysti Windyswara (1402045076)

      Hubungan Internasional B 2014

Asia, terutama Asia Timur, adalah tempat lahirnya filosofi ketimuran yang dikenal hingga ke ujung barat Dunia. Dari Asia Timur, lahirlah paham Konfusianisme dan Shintoisme. Sebagai negara yang terletak di benua Asia bagian Timur, Jepang adalah negara yang begitu terkenal dengan Shintoisme yang dianut oleh hampir sebagian besar masyarakatnya. Negara yang dikenal dengan julukan ‘Negeri Matahari Terbit’ ini adalah negara yang sangat menghargai tradisi yang telah ada di negara itu selama turun-temurun hingga saat ini.

      

disti 1

Figure 1 Ritual Upacara ajaran Shinto di Jepang

Kepercayaan Shinto yang dianut oleh masyarakat Jepang merupakan kepercayaan yang ada sejak ribuan tahun silam. Kepercayaan ini merupakan warisan nenek moyang bangsa Jepang yang di dalam ajarannya dikenal dengan penyembahan kepada dewa-dewa yang disebut kami. Secara harfiah, Shinto berasal dari dua karakter aksara China, 神/shin, yang berarti Tuhan dan 道/dou yang berarti jalan.[1] Maka, dapat diartikan bahwa Shinto adalah ‘jalan Tuhan’ yang dimana para penganut Shinto percaya bahwa para dewa, atau disebut kami, itu ada dan mereka melakukan upacara persembahan untuk memohon perlindungan dari bencana dan ketidakberuntungan. Karena mereka meyakini keberadaan dewa di lingkungan mereka itulah, tak jarang mereka banyak menyembah kami yang ada di alam, seperti Dewa Matahari, Dewa Pohon dan lain sebagainya. Jika disimpulkan, Shinto merupakan gabungan dari animisme, pemujaan pada alam semesta dan roh nenek moyang.

       Shinto yang berakar dari kebiasaan masyarakat Jepang kuno yang menyembah roh para leluhur dan percaya bahwa para leluhur yang sudah meninggal akan melindungi keluarganya secara turun-temurun juga dipengaruhi dengan mitos terbentuknya negara Jepang yang tercatat dalam kojiki dan nihonshoki. Dalam kedua catatan kuno tersebut, Dewi Matahari, Amaterasu Oomikami, mengutus cucunya yang bernama Ninigi-no-mikoto untuk turun ke pulau Jepang dan menjadi pemimpin di sana. Kemudian, Jimmu Tenno, anak dari Ninigi-no-mikoto, didaulat menjadi kaisar pertama di Jepang serta kepala pendeta untuk memimpin upacara ritual yang ada sejak dahulu. Karena itulah, aliran kepercayaan ini sangat menjunjung tinggi Kaisar Jepang yang dipercaya sebagai titisan Dewi Matahari.

       Tempat para penganut Shinto beribadah adalah kuil yang disebut jinja yang tersebar di seluruh Jepang. Para penganut Shinto mengunjungi kuil jika ada perayaan atau festival berdasarkan kalender Shinto, seperti perayaan shichi-go-san, yang ditujukan untuk anak-anak yang berusia 3, 5 dan 7 tahun, perayaan seijinshiki untuk para pemuda-pemudi Jepang yang menginjak usia 20 tahun sebagai tanda bahwa mereka telah dewasa, atau hatsumode, yaitu pergi mengunjungi kuil ketika tahun baru tiba. Para penganut Shinto juga berdoa kepada Dewa di jinja ketika mereka ingin mendapat perlindungan dari sesuatu dan ingin terkabulkannya keinginan tertentu oleh Dewa, seperti ingin lulus ujian, ingin cepat menikah, dan lain sebagainya. Selain itu, beberapa bentuk kesenian khas negara Sakura, seperti seni ikebana dan penyusunan tatami di rumah tradisional Jepang serta olahraga tradisional Jepang seperti Sumo dan yabusame juga berasal dari bentuk pemujaan para penganut Shinto kepada Dewa mereka. [2]

       Berbicara mengenai Islam dan bagaimana Islam bisa menyentuh negara Matahari Terbit, kita tak bisa lepas dari bagaimana literatur tentang Islam diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dan masuk ke dalam daftar bacaan para intelektual Jepang di tahun 1877, yang pada saat itu literatur Islam hanya masuk sebagai bagian dari pemikiran barat dan karena itulah pada waktu itu, para intelektual Jepang dan masyarakat awam menganggap Islam adalah agama yang aneh.

       Namun, di tahun 1890, kekaisaran Ottoman Turki mengirimkan kapal marinir besar bernama “Ertugrul” ke Jepang dengan tujuan untuk membangun hubungan diplomatik. Akan tetapi, kapal ini karam ketika dalam perjalanan kembali ke Turki dan menenggelamkan hampir seluruh penumpang kapal, meski hanya 69 orang selamat dari tragedi karamnya Ertugrul tersebut. Karena tragedi ini, seorang warga Jepang yang bernama Torajiro Yamada pun memutuskan untuk menjadi seorang Muslim setelah ia berkunjung ke Turki.[3] Kejadian Ertugrul ini telah memberikan arah baru bagi Islam di negeri Sakura dan jalan bagi masuknya pengaruh islam di Jepang.

       Pada saat Perang Dunia II, sebuah fenomena bernama “Islamic Boom” atau Ledakan Orang Islampun terjadi. Hal ini disebabkan oleh didirikannya beberapa pusat studi mengenai Islam serta organisasi Islam oleh pemerintahan Jepang serta diterbitkannya 100 jurnal mengenai Islam di Jepang.[4] Namun sayang, pusat-pusat studi Islam dan organisasi tersebut tak mampu dimanfaatkan oleh komunitas Muslim Jepang pada waktu itu, hingga berujung pada hilangnya organisasi tersebut ketika perang berakhir walaupun terdapat beberapa peninggalan seperti bangunan masjid dan pemeluk islam yang masih bertahan pada ajarannya walaupun jumlahnya sedikit dari total keseluruhan masyarakat Jepang. Salah satu bukti bersejarah yakni Masjid Kobe yang merupakan masjid yang  tidak hancur ketika Jepang di bombardir pasukan sekutu saat Perang Dunia II walau bangunan lain di kota itu rata dengan tanah.

       Begitu arus modernisasi menyentuh Jepang hingga membentuk Jepang pada masa kini, masyarakat Jepang pun berubah. Arus modernisasi yang datang bersamaan dengan gaya hidup a la Barat membuat masyarakat modern Jepang menjadi pribadi materialistis, modis dan terpaku hanya pada pekerjaan. Secara perlahan, masyarakat modern Jepang mulai meninggalkan agama Buddha dan kepercayaan Shinto yang mereka anut selama beribu tahun lamanya, meski mereka tetap pergi ke kuil hanya dalam peringatan atau perayaan tertentu saja. Karena arus modernisasi inilah, tak jarang masyarakat modern Jepang merasa tertekan dengan paksaan serta tuntutan yang menghantui mereka sehingga menyebabkan banyaknya warga mereka yang mengalami stress ataupun rela untuk membunuh diri mereka sendiri dikarenakan malu tak bisa menanggung beban berat.

      disti 2

Figure 2 Masjid Tokyo Camii yang merupakan masjid terbesar di Jepang

Pandangan masyarakat Jepang terhadap agama samawi yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW itu mulai berubah pasca tragedi 9/11 dan maraknya terorisme yang mengatasnamakan Islam, seperti ISIS. Meskipun di belahan bumi Barat agama Islam dicap sebagai agama teroris serta menimbulkan rasa takut tak beralasan pada Islam (Islamophobia), namun masyarakat modern Jepang malah semakin menunjukkan ketertarikannya kepada ajaran Islam dan bersikap lebih toleran kepada Muslim pada saat ini. Ini dibuktikan dengan adanya beberapa restoran yang menyediakan makanan halal, didirikannya lebih banyak masjid/mushola selain Masjid Tokyo Camii atau Masjid Kobe, adanya toko produk halal dan sebagainya. Meskipun sebagian besar pengaruh Islam dibawa oleh pendatang yang berasal dari Indonesia, Turki, Bangladesh, Pakistan dan Iran, namun lambat laun penduduk asli Jepang pun mulai mempelajari Islam dan menyatakan diri untuk menjadi seorang Muslim, terbukti dengan meningkatnya jumlah pemeluk Islam di Jepang yang kini berjumlah sekitar lebih kurang seratus ribu jiwa dari total keseluruhan warga Jepang.

       Merupakan satu hal yang menarik ketika bericara mengenai dinamika agama dan kepercayaan di negeri yang terkenal kuat dengan tradisi serta kepercayaan kuno mereka namun tak begitu mempercayai ajaran agama Samawi secara keseluruhan, terutama agama Islam yang memiliki pengaruh besar pada bergeraknya roda kehidupan di dunia ini. Meskipun kebanyakan warga Jepang masih awam terhadap Islam dan mempertanyakan hal-hal dasar seperti mengapa tak mengkonsumsi daging babi, bertanya tentang ibadah puasa dan sholat, akan tetapi ketertarikan mereka terhadap Islam serta adanya masyarakat Jepang yang memutuskan untuk menjadi Muslim di tengah-tengah masyarakat beragama lain namun tetap mengikuti tradisi kuno mereka sangatlah unik. Meskipun mustahil, namun perlahan tapi pasti, Islam akan berkembang di Negara Matahari Terbit ini.

[1] http://arti-definisi-pengertian.info/pengertian-shinto/

[2] Devi, Rima. Shinto bagi Bangsa Jepang: 2009

[3] http://www.id.emb-japan.go.jp/spmins.html

[4] http://rojaycreativ.blogspot.co.id/2015/08/sejarah-masukknya-islam-di-jepang.html

Advertisements