Tags

, , ,

Nama : Fitri Wahyuningsih

NIM : 1402045046

Hubungan Internasional – A

Senin 15 juni 2016

Setelah perjuangan berbulan bulan yang melelahkan dan berliku – liku akhirnya kami berhasil untuk bisa bertemu langsung dengan ‘’wakil kami’’ di DPRD Kaltim. Saya berangkat dari kost menuju kantor DPRD Kaltim sejak pukul  setengah 9 pagi, dan tiba disana sekitar jam 9. Dalam surat yang kating saya ( Poro ) tunjukkan, bahwa rapat akan dimulai sekitar jam 10 pagi yang intinya adalah tujuan kami kesana adalah hanya untuk  menghadiri rapat paripurna DPRD Kaltim ke 15. Dalam rapat Paripurna DPRD Kaltim ke 15 kali ini ternyata ada 4 agenda yang akan dibahas : A) Jawaban Gubernur atas pandangan umum fraksi – fraksi DPRD Kaltim terhadap pertanggung jawaban APBD 2015. B) Pembentukan Pansus pelepasan aset provinsi kaltim yang ada di kaltara dan instansi vertikal C) Pembentukan Pansus investigasi kegiatan / korban tambang D) Pempentukan pansus Raperda pertanggung jawaban APBD tahun 2015. Ini adalah pengalama perdana saya menyaksikan langung rapat DPRD secara langsung sehingga saya agak sedikit kebingungan di awal sidang. Kebingungan sayakemudian semakin menjadi jadi ketika melihat jumlah anggota dewan yang hadir terbilang sedikit, banyak sekali kursi dewan yang kosong. Selain itu, saya rasa agenda rapat yang dijadwalkan sekitar jam 10 pagi itu molor, saya rasa rapat paripurna itu dimulai sekitar jam 11-an.  Jadi saya bingung, jika anggota sidang yang hadir hanya sedikit bagaimana nantinya dengan pengambilan keputusan nya? karena dalam agenda rapat ada rencana pembentukan pansus, jadi saya berfikir bahwa orang yang masuk di pansus itu harusnya bersedia dimasukkan di pansus ini atau pansus itu. Kemudian selama berjalan nya sidang, entah mengapa saya merasa bahwa peserta sidang ( Anggota Dewan) tidak fokus pada apa yang sedang di paparkan oleh bapak gubernur kaltim. Apa yang saya lihat adalah para anggota dewan tersebut justru berbincang dengan rekan anggota dewan yang lainnya. saya mencoba untuk melihat sebenarnya apa yan membuat bapak dewan ini berbincang sendiri dan peserta sidang yang lain ( PNS, Teman – teman mahasiswa ) juga sama, mengobrol dan mengantuk. Sepertinya faktor banyaknya peserta sidang yang sedang menjalankan ibadaha puasa mengakibatka banyak diantara mereka yang yawning dan juga faktor suara bapak gubernur yang tidak jelas yang membuat peserta sidang semakin bosan. Walau sebenarnya semua juga telah tahu bahwa penyebab tak jelasnya suara bapak gubernur karena beliau memang sudah tidak fit kondisi fisiknya.   Selain itu lagi apa yang saya tangkap selama rapat paripurna adalah saya merasa bahwa rapat ini benar benar tak khidmat, banyak sekali orang yang lalu lalang selama bapak gubernur memaparkan jawaban nya. dan lucunya adalah yang lalu lalalng itu adalah anggota dewan yang telat datang rapat, bahkan ada di antara mereka yang telat sampai 1 jam (walau pada akhirnya tak semua anggota dewan yang menghadiri rapat ). Setelah sekitar pertengahan rapat, salah seorang yang saya rasa mengkooridinir teman teman mahasiswa dari DPRD ini memanggil wakil kami, maka datanglah poro. Setelah poro dan wakil dari DPRD berdiskusi, maka poro memberi tahu kami bahwa setelah sidang paripurna aka nada sesi tambahan untuk kami yakni sesi Tanya jawab antara anggota dewan dan mahasiswa.

Kembali ke agenda sidang paripurna DPRD Kaltim ke 15 ini, saya tidak bisa menangkap semua hasil dari rapat, namun yang saya ingat adalah bahwa gubernur kaltim berencana untuk membangun listrik bertenaga 10.000 volt (Jika saya tidak salah). Selain itu pemerintah kaltim juga berencana untuk mengembangkan industry pariwisata lebih dalam, realisasi wajib belajar 12 tahun, pembangunan infrastruktur ( ada rencana pembangunan tol Samarinda – Bontang, yang bekerja sama dengan Tiongkok), dan rata- rata dari rencana yang di paparkan bapak gubernur hari itu adalah tentang usaha beliau untuk meningkatan kualitas hidup masyarakat kaltim (pendidikan,kesehatan,lingkungan hidup, transportasi) dan tentang perusahaan tambang.

Rapat paripurna DPRD Kaltim ke 15 ini berakhir sekitar jam setengah dua siang, sekitar setengah jam berikutnya atau sekitar jam 3an dilanjutkan dengan sesi selanjutnya yakni Tanya jawab DPRD Kaltim dan Mahasiswa. Dalam sesi ini ada 3 orang anggota DPRD yang hadir, yakni ibu siti komaria (saya lupa dari kosmisi berapa), kemudian bapak yosef dari komisi I dan satu lagi bapak dari komisi IV (saya lupa namanya). Sesi Tanya jawab ini dibuka oleh bapak yosef yang memaparkan tentang berapa jumlah anggota dewan DPRD Kaltim, tentang Dapil, Fraksi – Fraksi, ada berapa komisi dan membidangi apa, dan juga sedikit membahas masalah kaltara. Sepanjang sesi ini hampir semua di bawakan oleh bapak yosef .Dari awal sudah di beritahukan bahwa sesi ini tidak akan panjang, hanya ada satu sesi tanya jawab dengan 3 orang penanya. Maka setelah pak yosef selesai dengan pemaparan nya maka di bukalah sesi Tanya jawab tersebut, 3 rekan saya bertanya yakni Armin, Kurnianto (Poro) dan Dhysti. Jika saya kerucutkan dari pertanyaan mereka memang lebih condong terkait daerah otonomi baru (DOB), pengembangan industri lain untuk menunjang pendapatan Kaltim selain dari pertambangan, Migas dll serta tanggapan DPRD Kaltim terkait narkotika. Saya kurang menangkap poin dari jawaban terkai DOB karena jawaban yang diberikan terlalu panjang, namun terkait pengembangan industri lain untuk peningkatan pendapatan daerah DPRD kaltim memberikan jawaban hal ini telah di rancang. Mereka mengatakan bahwa daerah daerah kaltim coba di kembangkan potensinya masing – masing, contohnya Bontang sebagai kota industri, Kutim pertanian,  dan Berau pariwisata. Lebih jauh terkait pengembangan berau sebagai daerah destinasi wisata, pemerintah Kaltim berharap banyak dari adanya derawan, Labuan cermin dan destinasi wisata berau lainya. Pemerintah berharap berau bisa seperti Bali yang mana pendapatan nya bertopang pada pariwisata, bukan pada pertambangan, migas layaknya kaltim. Kemudian untuk tanggapan DPRD terkait tingginya penggunaan dan penyebaran narkotika di kaltim khususnya pada generasi muda, yang menyebabkan Kaltim berada dalam kondisi darurat narkoba dan menempatakan Kaltim pada urutan pertama penggunaan narkotika. DPRD kaltim mengatakan bahwa telah mengeluarkan sebuah UU untuk menangani hal ini. kemudian pak yosef yang berasal dari dapil Penajam Paser Utara (PPU) menceritakan bagaimana sebegitu parahnya penyebaran narkotika di dapilnya. Beliau berujar bahwa di sana banyak anak muda yang bisa mendapatkan narkotika dengan harga yang murah dan jenisnya sudah mulai bervariasi tidak lagi terbatas pada jenis pil – pil namun sudah ke shabu – shabu, ganja. Lebih lanjut beliau berujar Jika pemuda tersebut tak mampu membeli narkoba biasanya mereka menggunakan lem  dengan bau yang kuat sehingga jika di hirup dapat mencintakan sensasi layaknya menggunakan narkotika.

Setelah menjawab pertanyaan yang di ajukan teman – teman mahasiswa, sudah tidak ada lagi sesi tambahan untuk Tanya jawab. Padahal kawan saya poro masih memberi tanggapan atas jawaban yang diberikan namun karena semua sesi telah usai maka tanggapan  nya tidak bisa di jawab. Akhirnya sekitar jam 4 sore, semua telah selesai. Pelajaran yang dapat saya tarik dari perjalanan kami ke parlemen kali ini adalah :

  1. Anggota dewan sepertinya sangat ekslusif. Jelas mereka adalah wakil rakyat di parlemen, namun sangat sulit untuk bisa bertemu mereka. Wajarlah rakyat banyak yang ‘’ogah – ogahan’’ terhadap kondisi politik negeri ini, untuk menyampaikan aspirasi melalui wakilnya sendiri saja sangat sulit. Padahal masukan rakyat adalah bahan bagi mereka (Anggota Dewan) untuk menjalankan tugasnya. Jika mereka tidak mau / tidak mendengar msukan rakyat yah mereka tidak akan memiliki pekerjaan jadi anggota DPR.
  2. Selama sidang paripurna banyak anggota dewan yang terlambat datang. Banyak orang yang mengatakan bahwa ‘’ kedisiplinan adalah awal dari sebuah kesuksesan’’, pantaslah banyak kebijakan yang dibuat kurang / jauh dari keinginan rakyat, ternyata saat pembuatan nya banyak anggota dewan yang tidak benar benar serius menggarapnya. Jika mereka serius, tak akan mereka terlambat, mengobrol, tidak focus,main hp saat sidang. Jika kebijakan mereka tidak pas dengan kebutuhan rakyat, maka bisa dikatakan DPR kita tidak sukses mengemban tugas.
  3. Walau rasa – rasanya kurang saya bahas, tapi saya harus memberi apresiasi bagi pak gubernur, mengapa? Beliaulah yang terlihat nyata kondisi fisiknya tidak sehat, tapi beliau tiba di ruang sidang tepat waktu. Bahkan beliau datang jauh sebelum anggota dewan lain yang jelas – jelas berada di bawah beliau pangkatnya. Beliau orang nomor satu di Kaltim, namun datang duluan di banding ‘’anak buahnya’’ yang lain.
  4. Sesi tanya jawab antara DPRD dan teman – teman Mahasiswa sangatlah sedikit, padahal saya melihat masih ada teman – teman lain yang ingin bertanya atau memberikan tanggapan. Entah dari dulu saya selalu merasa bahwa anggota dewan cukup menghindari forum dengan Mahasiswa, dan hari ini menegaskan keyakinan saya.

inilah serangkaian perjalanan ke parlemen yang saya ingat. Pastinya akan menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Dan karena ini adalah kunjungan perdana di rapat paripurna, maka kesan awal saya ini lebih banyak negatifnya. Sekian.

 

Advertisements