Tags

,

Nama : Rideka Nuswantari

NIM : 1402045166

Kelas : Hubungan Internasional B

“SURVEI PENDAPAT MAHASISWA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MULAWARMAN TENTANG IDE “ISLAM NUSANTARA” DI INDONESIA”

Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah nusantara yang disebut dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras. Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, tidak malah memberangus budaya. Awal mula munculnya Islam Nusantara disuarakan oleh kelompok atau tokoh perorangan Islam yang berpaham moderat kemudian dikampanyekan dan mendapat dukungan dari beberapa masyarakat. Ada beberapa contoh dari Islam Nusantara yaitu mengaji dengan menggunakan langgam Jawa, bacaan Sholat dapat digantikan dengan Bahasa Indonesia atau bahasa daerah, jenazah yang dikafankan dengan kain batik bukan dengan kain putih, jilbab yang dianggap hanya budaya Arab dan digantikan dengan pakaian adat nusantara, ucapan “Assalamualaikum” yang juga dianggap hanya budaya Arab dapat diganti dengan ucapan “Salam Sejahtera” dan masih banyak hal yang lainnya.

Namun ada juga masyarakat yang tidak sutuju atau masih menerima tapi tidak secara keseluruhan. Hal ini merupakan bagaimana pandangan masyarakat terhadap Islam Nusantara yang dimana padangan tersebut terbagi menjadi 5 golongan pemikiran yaitu Tradisionalis, Revivalis, Modernisme Klasik, Neo Revivalis dan Neo Modernis.

Untuk megetahui lebih lanjutnya bagaimana pemikiran masyarakat awam tentang Islam Nusantara ini, kami melakukan survei di Fakultas Hukum Universitas Mulawarman yang ditujukan sebanyak 50 orang mahasiswa. Ketika kami melakukan survei masih banyak mahasiswa yang tidak mengetahui apa itu Islam Nusantara sehingga kami harus menjelaskan terlebih dahulu definisi serta contoh dari  Islam Nusantara.

Dari hasil survei kami sebanyak 2% cenderung berpemikiran Neo-Revivalis, 6%  cenderung berpemikiran Tradisionalis, 6% cenderung berpemikiran Neo-Modernis, 36% cenderung berpemikiran Modernisme Klasik dan yang terakhir 50% cenderung berpemikiran Revivalis. Hal ini membuktikan bahwa mahasiswa Fakultas Hukum yang berpemikiran Revivalis memiliki karakteristik yang masih bersandarkan pada Al-Qur’an, Al-Hadits, dan Sunnah. Mereka beranggapan bahwa Islam Nusantara cukup berbahaya dan tidak seharusnya diterapkan di Indonesia. Mereka sangat memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kondisi masyarakat muslim di Indonesia dan mereka beranggapan bahwa segala sesuatunya harus kembali pada ajaran murni Islam yaitu Al-Qur’an, Al-Hadits, dan Sunnah. Ini juga merupakan kebobrokan sosial dalam masyarakat muslim di Indonesia, sehingga adanya ide “Islam Nusantara” dapat dikatakan menyalahi aturan dan syariat Islam seperti yang diajarkan dalam Al-Qur’an, Al-Hadits, dan Sunnah.

Menurut saya, saya juga memiliki pemikiran yang sama dengan mahasiswa Fakultas Hukum yang cenderung berpemikiran Revivalis. Karena Islam yang sekarang kita anut merupakan Islam murni yang berasal dari Allah bukan merupakan adat atau budaya dari Arab, hanya saja semua ajaran dari Allah diturunkan di kota-kota yang ada di Arab sehingga banyak orang yang berpikiran bahwa Islam adalah budaya Arab. Dalam Islam seorang wanita wajib menutup aurat berarti itu menunjukan kalau Islam bukan ajaran dari Arab, di dalam Al-Qur’an terdapat Ayat yang mewajibkan bagi wanita untuk mengenakan jilbab. Kemudian kain kafan putih diganti dengan kain batik yang tidak pantas dikenakan pada jenazah. Dan hal lainnya yang ada di Al-Qur’an dan Hadist yang seharusnya tidak disesuaikan dengan budaya daerah.

Segala sesuatu yang kita kerjakan atau lakukan sebagian besar berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist. Entah bagaimana dengan orang-orang yang memiliki pemikiran Neo Modernis, saya rasa mereka hanya mengikuti zaman dan hanya berpacu pada budayanya sendiri. Kemungkinan mereka tidak peduli dengan ajaran Islam yang sebenarnya mereka hanya peduli dengan ajaran yang ada di sekitar mereka.

Mencampuradukan agama dengan budaya daerah adalah hal salah salah karena agama murni berasal dari Tuhan yang tidak dapat menggangu gugat, sedangkan budaya berasal dari kebiasaan orang-orang terdahulu yang tidak besifat permanen dan suatu saat akan pudar karena perubahan zaman yang semakin modern. Perlahan masyarakat akan meninggalkan budaya asli daerah karena budaya asing yang mempengaruhi negeri ini. Kalau dipikir-pikir buat apa kita menyesuaikan agama dengan budaya sedangkan kita tidak memegang teguh budaya kita sendiri karena pengaruh asing, sama saja hal tersebut merupakan omong kosong.

Lebih baik segala sesuatunya yang menyangkut agama kita landaskan pada Al-Qur’an atau Hadist dan tidak disangkutpautkan dengan budaya karena budaya hanya berasal dari pemikiran dan kebiasaan manusia terdahulu yang besifat turun-temurun dan tidak permanen serta dapat berubah-ubah. Aturan agama tidak dapat diubah oleh manusia melainkan hanya Allah yang dapat menentukannya. Kita sebagai manusia hanya diminta menjalankan perintah-Nya menjauhkan segala larangan-Nya dan berserah diri kepada-Nya. Manusia tidak memiliki hak untuk mengubah segala yang ditetapkan oleh-Nya

Inti survei dari kami masih banyak masyarakat yang peduli dengan agama Islam dan menganggap Islam Nusantara adalah hal berbahaya yang dapat mempengaruhi jika kita tidak cerdas melihat yang mana yang benar. Intinya jika kita ingin aman kita cukup berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadist serta yang utama percaya kepada Allah.

Advertisements