Tags

,

Nama : Rahmawati

NIM : 1402045130

Profil Penulis

Nama saya Rahmawati, saya lahir dari pasangan Yusuf dan Arbainah pada tanggal 15 September 1996 dan berjenis kelamin perempuan. Hobi saya membaca buku terutama novel motivasi. Saya bersekolah di SDN 019 Samarinda dan SMP Al-Muhajirin Muara Badak dan melanjutkan ke Sekolah Menengah Kejuruan di SMKN 10 Samarinda. Saat ini saya berada di semester 4 Hubungan Internasional, Fisipol Universitas Mulawarman.

Saya bersama dengan teman-teman kelompok saya melakukan wawancara ke Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan (FKIP) dengan tema LGBT ( Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender). FKIP tersebar di 3 tempat yaitu di Kampus Unmul Gunung Kelua, FKIP di Jalan Pahlawan dan FKIP di Bangeris. Kami mengajukan 10 pertanyaan terkait LGBT kepada 50 responden. Sepuluh pertanyaan tersebut adalah :

Sebagai seorang muslim, menurut anda apa definisi Islam?

  1. Mengapa anda beragama islam ?
  2. Menurut anda apa itu HAM ?
  3. Menurut anda, HAM itu ada batasannya atau tidak ?
  4. Menurut anda, syariat atau hukum dalam Islam itu mengekang atau tidak ?
  5. Apa itu LGBT ?
  6. Apa Anda setuju dengan LGBT?
  7. Menurut anda apa pengaruh LGBT terhadap generasi penerus bangsa?
  8. Menurut anda bagaimana seharusnya respon pemerintah terhadap isu LGBT?
  9. Menurut anda bagaimana seharusnya respon mahasiswa terhadap isu LGBT?

Jawaban yang mereka berikan cukup beragam. Dari pertanyaan nomor 1, kita bisa menilai sejauh mana dia mengenal Islam. Namun dari jawaban yang diberikan, sebenarnya banyak yang tidak begitu mengerti apa definisi Islam itu sendiri. Kebanyakan dari mereka menjawab petunjuk, pedoman, sebuah agama, dan hanya itu. Padahal sejatinya Islam adalah agama yang benar yang diturunkan kepada Nabi penutup yaitu Muhammad  Salallahu ‘Alaihi Wassalam dan harus diyakini. Islam bukan hanya dijadikan sebagai pengisi agama di kartu pengenal namun identitas yang melekat pada kita seumur hidup dan harus kita ikuti ajarannya yang berdasarkan Al Quran dan Sunnah.

Begitu juga dengan pertanyaan nomor 2, kita bisa menilai bagaimana mereka menyikapi keislaman mereka saat ini. 90% responden mengatakan bahwa keislaman mereka saat ini adalah faktor keturunan, bukan pilihan hidup. Banyak yang menjawab bahwa jika mereka tidak dilahirkan dari keluarga muslim mereka pun juga tidak akan beragama muslim. Padahal mahasiswa sudah tergolong dewasa untuk bisa membuat pilihan hidupnya termasuk memilih agama. Dari jawaban yang diberikan, saya melihat bahwa kebanyakan mahasiswa itu tidak memahami tentang agama Islam. Dari sinilah pentingnya kita mengenal agama kita sendiri. Belajar mengenai Islam. Hanya segelintir orang saja yang mau mempelajari agamanya sendiri. Inilah sebabnya saat ini Islam mengalami kemunduran.

Kemudian terkait syariat Islam mengekang atau tidak, kebanyakan dari mereka sepakat bahwa syariat Islam tidak mengekang karena sesungguhnya peraturan yang Allah buat itu untuk diri kita sendiri. Kemudian hak yang kita peroleh sejak lahir itu ada batasannya atau tidak, maka bisa saya simpulkan dari jawaban mereka adalah hak itu ada batasnya. Kita memiliki hak, namun jangan lupa bahwa kita harus mengerjakan kewajiban juga. Kadang seserang terlalu banyak menuntut hak nya namun lupa akan kewajiban yang harus mereka penuhi. Agama Islam adalah satu-satunya agama yang mengatur dari bangun tidur sampai tidur lagi. Saya bertanya kepada mereka apakah ini memberatkan dan mereka menjawab tidak karena sudah terbiasa.

Kemudian tentang definisi LGBT ada sekitar 25% yang tidak mengetahui tentang isu LGBT. Setelah kami berikan definisi singkatnya berbagai tanggapan tentang LGBT pun bermunculan. Kebanyakan mereka beranggapan bahwa LGBT adalah penyakit, dan harus segera ditindak tegas oleh pemerintah karena bisa menular, menular disini artinya mereka menyerang manusia normal lainnya dengan perang pemikiran seperti mempertontonkan kepada anak-anak dibawah umur yang mengandung unsur-unsur LGBT. Namun ada pula yang berfikiran jika pelaku tersebut tidak mengganggu “saya” maka tidak mengapa. Ini adalah tanggapan yang salah, jawaban ini terkesan bahwa mahasiswa tersebut apatis terhadap lingkungan sekitar, padahal pergerakan LGBT sudah begitu masif. Kemudian bagaimana mereka merespon tentang isu LGBT ini adalah beberapa diantara mereka tidak ingin begitu memusingkan tentang adanya LGBT ini. Hal ini tentu tidak sesuai dengan “agent of changes’ nya mahasiswa. Tugas mahasiswa adalah membawa perubahan yang lebih baik untuk negeri ini bukannya bersifat apatis apalagi terhadap masalah yang sedang marak terjadi. Tugas memantau perkembangan isu ini tidak hanya bagi mahasiswa Fisipol, tapi dari semua jurursan dan dari semua lini, kita saling bersinergi untuk menolak LGBT tentunya dengan tidak bertindak radikal kepada pengidap penyakit ini.

LGBT menurut pendapat saya adalah penyakit, dan tugas kita di dunia ini adalah menyembuhkan penyakit bukan membunuh orang yang sakit.

Mahasiswa FKIP dikenal sabagai mahasiswa yang alim, pintar, intelektual dan sebagainya. Namun hal ini sedikit berbeda dengan apa yang saya amati di lapangan. Berdasarkan survey yang saya dan teman-teman lakukan, mahasiwa/i FKIP pemikirannya cenderung modernis. Ciri-ciri pemikiran modernis adalah :

Membawa konsep pembaruan Islam

Sangat terpengaruh pemikiran Barat

Pintu ijtihad masih terbuka pada hal-hal baru seperti kesetaraan gender, HAM, dll

Tetap mengacu pada kerangka dasar Islam

Saya mengatakan mahasiswa FKIP cenderung modernis karena mereka tidak terlalu memegang teguh agama Islam, kebanyakan dari mereka hanya menganggap Islam sebagai agama keturunan dari ayah dan ibu mereka bukan sebagai pilihan mereka sendiri. Tidak ingin belajar tentang Islam lebih jauh. Karena seperti yang kita ketahui pendidikan agama Islam di bangku kuliah hanya 1 semester dan cuma 2 SKS, dan ini tidak cukup untuk mengeteahui tentang Islam. Ada salah satu ulama yang ditanya oleh muridnya kapan dia akan berhenti belajar, dia menjawab “saya akan berhenti ketika kaki kanan saya berada di Surga”. Artinya adalah dia akan berhenti ketika ia meninggal, belajar tak ada batasan umur. Seseorang yang mempelajari Islam saja mengatakan bahwa ilmu yang kita miliki adalah umpama lautan yang kita masukkan jari kita kedalamnya dan kita angkat, tetesan terakhir itulah ilmu kita. Ulama saja mengatakan demikian, bagaimana dengan kita yang lebih banyak santai dari pada belajarnya. Inilah pentingnya kita belajar dan mengajari apa yang kita ketahui.

Dan terkait isu LGBT,sebenarnya jika mereka ditanya setuju atau tidak mereka menjawab tidak setuju, namun ketika mereka mengutarakan opini mereka terkait isu LGBT mereka malah cenderung mendukung. Seperti ada beberapa yang mengatakan bahwa itu hak mereka untuk menentukan pilihan hidup mereka sendiri, mereka juga ingin bahagia, dan jika tidak mengganggu mereka maka mereka juga tak akan mengusik pelaku LGBT tersebut. Bahkan ada salah satu mahasiswa FKIP yang mengatakan kalau pelaku LGBT itu seharusnya tidak di diskriminasi harus kita rangkul meskipun dia bukan LGBT, dia mengatakan demikian karena mengedepankan HAM yang katanya semua orang miliki.  

Menurut saya ini adalah pemikiran yang apatis terhadap lingkungan. Betapa berbahayanya LGBT ini jika kita membiarkan mereka terus berkembang. Semenjak Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis, LGBT di Indonesia pun berani muncul ke permukaan. Ini adalah penyakit serius dan harus segera disembuhkan. Tugas untuk menghapus LGBT dari Indonesia bukan hanya pemerintah, kita sebagai mahasiswa juga punya tanggung jawab yang sama. Jika kita berfikiran demikian maka kita tak lebih dari mereka. Kita harus bersinergi, fakultas manapun baik isipol maupun FKIP. Apalagi FKIP yang notabene calon guru berperan penting untuk mendidik generasi-generasi penerus bangsa. Sebenarnya tugas untuk mendidik itu juga tugas orang tua bukan hanya guru. Namun, sebenarnya lingkungan berpengaruh besar terhadap pola pikir anak. Mereka banyak menghabiskan waktu di sekolah bersama teman-teman mereka. Disinilah peran seorang guru untuk mencetak generasi-generasi penerus bangsa yang berakhlak baik.

Ada beberapa mahasiswa FKIP yang menurut saya pemikirannya Revivalis, karena mereka anti terhadap pemikiran barat, seperti menganggap bahwa Hak itu ada batasnya, Islam mengatur kita dari tidur sampai tidur lagi. Tidak seperti pemikiran barat bahwa hak adalah segala-galanya namun melupakan kewajiban. Mereka anti terhadap konsep barat yang mengatakan bahwa jilbab mengekang kaum wanita, wanita bebas sebab bebasnya, apalagi terkait isu LGBT, mereka dengan tegas mengatakan bahwa LGBT harus ditindak tegas. Peran mereka sebagai mahasiswa adalah meluruskan kembali pemikiran yang salah ini dengan berdakwah kepada yang belum memahami.

Dan saya tidak melihat ada mahasiswa FKIP yang tradisionalis karena mereka tak ada keterikatan yang kuat dengan ulama, menggunakan Qiyas untuk masalah yang baru, kemudian mengkultuskan ulama-ulama terdahulu. Kesimpulan saya adalah mayoritas  mahasiswa FKIP pemikirannya cenderung modernis, dan minoritas pemikiran mahasiswa FKIP pemikirannya revivalis.

Advertisements