Tags

,

Nama : Puteri Adelia Syari

NIM   : 1402045048

Prodi : Hubungan Internasional A

Tugas : Pemikiran Politik Islam

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM MAHASISWA

Adapun faktor yang kemungkinan mempengaruhi adanya perbedaan pandangan dalam pengintrepretasikan sumber syariat itu disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya situasi sosiologis, kultural, dan intelektual, dan lain sebagainya. Dengan adanya aneka ragam penafsiran mengenai firman-firman itu, telah menyebabkan permasalahan di kalangan umat islam sendiri. Mulai dari mengklaim kebenaran, hingga mengklaim semuanya benar. Agaknya permasalahan ini pun merambah ke dunia kampus. Tidak mungkin bisa disangkal, karena arus informasi pun sangat mudah didapat.

Di sini saya akan memaparkan keberagaman pemikiran-pemikiran keislaman yang ada di dunia yang merambah ke dunia kampus, lalu memberikan sedikit solusinya.

Sebenarnya banyak sekali ragam pemikiran islam yang ada di dunia. Hanya saja di sini saya akan memberikan gambaran kasarnya. Di sebabkan yang lain-lainnya di rasa masih sangat minim kehadirannya, terutama di kalangan mahasiswa. Sehingga saya hanya membagi mereka menjadi lima kelompok, pertama muslim generalis, kedua muslim tradisionalis (salafiyyah), ketiga muslim fundamentalis, dan keempat muslim liberalis, serta kelima muslim moderat.

Muslim Generalis

Menurut Azyumadri Azra mereka adalah mahasiswa yang muslim yang mengamalkan ajaran islam seadanya serta cenderung tradisional dan kovensional. Sebagian mereka bahkan tidak begitu concern terhadap agama.Mereka yang peduli pun, seperti yang dapat disaksikan, hanyalah melaksanakan ajaran agama seadanya sebagaimana mereka terima dari orang tua dan lingkungan mereka. Mereka memang mengamalkan ritual-ritual yang pokok seperti shalat dan puasa, tapi tidak begitu semangat terhadap agama. Ironinya, mereka inilah yang terbanyak di kampus umum.

Menarik apa yang dikatakan oleh Azra, bahwa mereka adalah kelompok yang menjalankan agama sebagaimana mereka terima dari orang tua dan lingkungannya. Saya pun setuju. Contohnya saja, jika kita tanya kepada mereka mengapa mereka shalat, zakat, puasa. Biasanya jawaban yang terlontar adalah karena itu anjuran seorang muslim. Jika kita bertanya lebih lanjut, misalnya bertanya tentang dalil diwajibkannya shalat, zakat, dan puasa. Mereka tidak bisa jawab. Paling jawabannya, ‘ya pokoknya islam menyuruh saya melakukan itu, saya tidak tahu dalilnya’. Lalu jika kalian bertanya, misalnya ‘kenapa kamu sebelum shalat mengucapkan usholli? apa dalilnya?’ mungkin mereka akan menjawab, ‘ya ini yang diajarkan orang tua ku.

Ini merupakan tugas berat bagi kalangan aktivis dakwah kampus, karena menurut saya kelompok inilah yang paling harus diayomi. Sepertinya, perkataan mengislamkan orang islam masih sangat relevan. Dibutuhkan kesabaran yang ekstra dalam menghadapinya. Jangan menyerah atau mengatakan ‘orang ini mah tidak akan bisa taubat’ karena sungguh Allah akan membantu orang-orang yang membela agamanya. Kita bisa melihat sejarah, Rasulullah saja yang merupakan manusia pilihan Allah, manusia terbaik, membutuhkan puluhan tahun untuk bisa meluruskan iman seseorang.

Muslim Tradisional

Ini yang merupakan satu-satunya kelompok yang berasal/ khas Indonesia asli, bukan dari luar, walaupun mungkin di luar negeri ada yang seperti ini sesuai dengan ciri khas negaranya masing-masing.

Mereka memiliki gaya hidup layaknya santri dan memang dapat diyakini umumnya mereka adalah mahasiswa yang pernah nyantri di pondok pesantren tradisional.

Kurzman menyebutnya sebagai kelompok islam adat. Islam adat tergolong sebagai tradisi pertama dalam islam, yang ditandai oleh kombinasi kebiasaan-kebiasaan kedaerahan dan kebiasaan-kebiasaan yang juga dilakukan di seluruh dunia islam. Kebiasaan-kebiasaan tradisi islam tersebut seperti penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang dianggap suci, kepercayaan suci terhadap hal-hal yang dipandang gaib dan tempat-tempat keramat seperti kuburan dan lain-lain.

Mereka memiliki model pemikiran yang berpegang pada tradisi-tradisi yang telah mapan. Bagi mereka –tidak seluruhnya- segala persoalan umat telah diselesaikan secara tuntas oleh para ulama terdahulu. Tugas kita sekarang hanyalah menyatakan kembali atau merujukkan dengannya.

Muslim Fundamentalis.

Fundamentalisme islam sebagai pemikiran maupun gerakan apapun penilaiannya dalam kenyataannya tetap tumbuh dan berkembang sebagai fakta sosiologis. Gerakan ini bahkan telah menjadi fenomena gerakan Transnasional yang tumbuh di berbagai belahan bumi.

Dalam konteks islam, gerakan fundamentalis itu berupaya melawan Amerika dan sekutu-sekutunya, termasuk Negara muslim yang menjadi sekutu mereka. Gerakan ini juga melawan masyarakat tertentu yang memiliki atau menjalani keyakinan dan praktik kehidupan yang bersebrangan dengan garis-garis dasar dari gerakan tersebut. Gerakan ini muncul akibat dari sebab-sebab internasional, yaitu tekanan-tekanan ideologis, politik, militer, ekonomi, dan intelektual, yang dimainkan oleh Negara maju seperti Amerika dan sekutunya terhadap Negara-negara muslim terutama Palestina. Kalau boleh dikatakan, kelompok ini terbanyak kedua setelah kelompok muslim generalis. Kebanyakan dari mereka adalah aktivis-aktivis islam dari kampus sekuler yang dulunya lulusan SMA/SMK. Dengan demikian, revivalisme islam tidak muncul di kampus-kampus berbasis keagamaan, tetapi dari kampus-kampu sekuler atau umum. Kenapa di dominasi oleh lulusan SMA/SMK? Karena saat di sekolah mereka banyak belajar umum (non agama), mereka baru menemukan ghirah atau semangat beragamanya saat di kampus, terlebih ketika mereka berjumpa dengan aktivis-aktivis lembaga dakwah dan organisasi-organisasi tertentu.

Ada ciri khas kedua yang mereka sepakati yaitu kebenciannya kepada hal-hal yang berbau liberal. Otak mereka rasanya sudah di setting untuk menolak liberalisme. Terlebih lagi jika liberalisme itu merasuk ke dalam tubuh islam. Maka dari itu, mereka sangat menolak kehadiran sebuah kelompok yang menyatakan dirinya sebagai ‘Jaringan Islam Liberal’. Nama Ulil Absar Abdalla seperti sudah tidak asing bagi mereka. Ulil dianggap sebagai ‘setan’ yang merasuk ke dalam tubuh umat islam, maka dari itu harus ditolak, bahkan kalau bisa dibasmi. Hal itu dapat kita lihat dari berbagai kegiatan mentoring mereka yang sering membahas JIL.

Muslim Liberal

Nama ‘islam liberal’ menggambarkan prinsip yang dianut, yaitu islam yang menekankan “kebebasan pribadi” dan “pembebasan struktur sosial politik dari dominasi yang tidak sehat dan menindas”

Dua jenis pemikiran ini (fundamentalis dan liberalis) –karena memang sering dipertentangkan- sama-sama mengklaim bahwa pemikiran keagamaan mereka yang benar, yang dikehendaki agama, dan yang harus dimiliki umat. Kaum fundamentalis dan liberalis sama-sama memiliki visi dan misi kegamaan yang berbeda. Dengan berangkat dari tradisi teks, kaum fundamentalis berkeinginan untuk menyelamatkan umat manusia untuk kembali kepada ajaran murni sesuai dengan teks. Sedangkan liberalis, karena terinspirasi oleh kemajuan modernitas lebih menginginkan kebebasan, kemerdekaan, serta kemajuan umat. Mereka kemudian mengajukan alternative bagi kemajuan umat dengan menekankan kontekstualitas ajaran dengan zaman modern. Kedua aliran pemikiran ini terbukti tidak terlalu dewasa untuk menghindari sikap-sikap ekstrim dan arogan. Posisi mereka selalu berhadapan, hingga dalam banyak hal, mereka selalu tampil dalam suasana panas dan emosional.

Muslim Modernis/Moderat

Dalam pemikirannya, kaum reformis menekankan pentingnya sains dan teknologi dalam pembaruan pendidikan, struktur kontitusi dan demokrasi parlementer dalam politik, serta peran perempuan yang perlu ditinjau ulang dalam ranah kehidupan bermasyarakat. Dalam catatan Esposito para reformis islam menekankan semangat, kelenturan, dan keterbukaan yang telah menjadi ciri khas perkembangan awal islam, terkhusus pada capaian-capaiannya di bidang hukum, pendidikan, dan ilmu pengetahuan. Mereka juga mendesakkan reformasi internal lewat suatu proses ijtihad dan adaptasi selektif (islamisasi) ide-ide dan teknologi Barat. Persentuhan reformisme dan modernisme islam memunculkan pemikiran reformis-moderat. Pemikiran reformis-moderat muncul sebagai antithesis atau akomodasi dari dua kutub pemikiran islam yang saling bersebrangan, yaitu pemikiran tradisional dan sekuler. Pemikiran ini berpadangan bahwa islam adalah agama universal, komprehensif, dan integral sehingga akan terus sesuai serta aktual untuk diterapkan dalam ruang dan masa yang berbeda.

Kesimpulan

Setelah dipaparkan beraneka ragam corak pemikiran mahasiswa yang ada di Indonesia. Kita perlu memahami, bahwa keadaan yang demikian plural (beragam) adalah suatu keniscayaan. Tidak bisa di dunia ini semua orang memiliki pikiran atau paham yang sama. Pemikiran manusia sangat dipengaruhi oleh sekian banyak faktor. Betapapun, saya berharap para akvitis islam memiliki kecederungan untuk bersikap bijaksana dan kebijaksaan seseorang melambangkan luasnya ilmu yang dimiliki.

Walaupun di sini titik tekannya kepada mahasiswa kampus umum, bukan berarti ini hanya diajukan kepada mereka saja, melainkan kepada seluruh mahasiswa muslim yang ada di Indonesia. Dan ini merupakan tugas berat seorang aktivis muslim untuk bisa memberikan pemahaman-pemahaman keislaman yang moderat, tidak berat ke kiri atau ke kanan. Tidak fundamentalis juga tidak liberalis. Selama kita bisa menjauhi sikap tatharruf (terlalu longgar) atau tasyaddud (terlalu ketat), niscaya umat islam akan tetap disegani.Allahu alam

Advertisements