Tags

,

NAMA : NOR SA’ADAH

NIM : 1402045070

PROGRAM STUDI : ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

MATA KULIAH : PEMIKIRAN POLITIK ISLAM

TANGGAL : RABU, 6 APRIL 2016

PROYEK PENGISLAMAN NALAR DIKALANGAN MAHASISIWA

DALAM MEMANDANG FENOMENA LGBT

Kemajuan teknologi dan cepatnya arus komunikasi yang berkembang pada era globalisasi ini, sedikit banyaknya telah membawa perubahan yang signifikan terhadap ilmu pengetahuan dan pola pikir manusia. Pergerakkan laju modernitas dunia yang terjadi, membawa perubahan dan membentuk ide serta pola pikir baru sebagai bentuk proyeksi dari keadaan modernitas itu sendiri.

Penyebaran ide-ide barat yang dulu sulit menerobos lapisan bawah masyarakat kita, kini dengan mudah dapat diakses oleh banyak orang. Paham dari ide barat tersebut, tersebar melalui arus komunikasi baik media cetak maupun media elektronik, yang secara bersamaan membawa pandangan-pandangan ilmiah dan filosofis yang negatif. Pandangan yang dimaksud adalah pandangan yang dianggap tidak selaras bahkan dianggap berbahaya jika dilihat dari kaca mata Islami.

LGBT adalah salah satu produk yang lahir dari paham dan ide barat, LGBT dengan mudahnya tersebar ke seluruh penjuru dunia termasuk ke Indonesia dengan mengatasnamakan HAM. Yang tentu saja, lagi-lagi buah dari pemikiran modernitas. Isu yang sekarang berubah menjadi fenomena sosial ini merupakan penyimpangan perilaku seks yang dianggap telah menjadi hal yang lumrah bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang menganut kebebasan di dunia dan negara-negara sekuler yang diisi oleh kebanyakan umat manusia yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan dan kebenaran ajaran-Nya.

Sebagai respons terhadap fenomena LGBT yang merupakan bagian dari modernitas, muncul pertanyaan tentang Mengapa LGBT dianggap membawa dampak negatif? Dan Mengapa dampak negatifnya dianggap berbahaya dalam ajaran Islam? Lalu, atas dasar apa kita bisa ber-argumen bahwa hal tersebut berbahaya bagi Agama Islam?

Untuk menjawab nya, seringkali kita menjawab dengan jawaban yang merujuk pada penalaran modern yang justru hal tersebut malah menimbulkan pertanyaan yang lebih serius dan kembali membutuhkan jawaban yang lebih kompleks. Sehingga untuk mendapatkan jawaban yang benar dan tepat dasar asumsinya, meng”Islamkan” jawabannya mungkin memang perlu dilakukan.

Untuk mengetahui pemikiran yang seperti apa yang menjadi dasar penalaran manusia modern sekarang ini, saya akan mencoba menganalisis jawaban terkait isu modernitas seperti Fenomena LGBT dari para Mahasiswa. Yang saya tanyakan kepada teman-teman mahasiswa diantaranya adalah setujukah anda jika LGBT disebut sebagai penyetaraan HAM dan setujukan anda jika LGBT dilegalkan di Indonesia?

Dari pertanyaan yang saya ajukan, saya memperoleh jawaban dimana sebagian besar mahasiswa menolak bahkan mengecam keras jika LGBT dilegalkan di Indonesia (pemikiran neo-revivalis). Namun masih ada sebagaian kecil mahasiswa yang berpendapat bahwa LGBT juga dapat disebut penyetaraan HAM dimana adalah hak setiap individu untuk menentukan jalan hidupnya masing-masing. HAM yang dimaksud juga adalah bagian dari ide barat sama halnya dengan LGBT yang juga merupakan buah pemikiran dari barat (pemikiran neo-modernis).

Didapat dua jawaban yang saling bertolak belakang, yang sangat menarik untuk dibahas. Disatu sisi terdapat penolakan yang keras terhadap segala bentuk fenomena terkait isu LGBT, dengan argument mahasisiwa yang menggunakan dasar pemikiran Islam. Dimana mahasisiwa tersebut mengatakan bahwa fenomena LGBT dan segala bentuk isu yang terkait tentangnya, adalah suatu hal yang mutlak dianggap haram dan menyalahi aturan tidak hanya dari agama  Islam, tetapi juga dari semua agama.

Argument yang dikemukakan demikian sangatlah tepat, karena memakai perspektif Islam dalam penalaran jawabannya. Tetapi, bagaimana halnya dengan jawaban kedua yang memandang LGBT sebagai bentuk penyetaraan HAM? Apakah hal ini tidak bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Islam? Padahal Islam jelas-jelas menentang isu LGBT yang  tidak hanya dari kacamata social dianggap bukanlah bentuk dari proyeksi HAM melainkan “penyakit” penyimpangan perilaku seks, tetapi lebih dari itu, seperti apa yang tertuliskan dalam Al-qur’an “Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahsiyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (TQS. Al’Araf:80-81).

Orang-orang pelaku LGBT ini dipandang sebagai kaum Nabi Luth AS, kaum yang melampaui batas dan khodratnya sebagaimana diciptakan sebaik-baiknya dan sesempurna-purnanya oleh Allah SWT. Astaghfirullah! Sesungguhnya orang-orang yang mengikuti kaumnya Luth ini, dijanjikan oleh Allah SWT ganjaran atas penyimpangan dengan azab yang sangat besar dan dahsyat, yaitu dengan membalikkan tanah tempat dimana ia tinggal dan diakhiri dengan hujanan batu yang membumihanguskan mereka. Sebagaimana dijelaskan lagi dalam Al-qur’an “maka kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras” (QS. Al-Hijr ayat 74).

Setelah membaca sepenggalan ayat Al-qur’an diatas, alasan modernitas yang seperti apalagi yang ingin kita berikan untuk menghalalkan LGBT. Saya rasa sangat penting jika setiap menanggapi sesuatu hendaknya kita berlandaskan pada dalil Islam yang tepat dan benar, agar jawaban yang kita berikan dapat dipertanggungjawabkan tidak hanya didunia tapi juga di akhirat. Karena saat dunia dipenuhi oleh pemikaran modern dan liberalitas, yang seringkali memaksa kalangan manusia modern untuk menggunakan nalar mereka dengan ideologis barat yang bertentangan dengan Islam, bahkan tanpa disadari hanya akan menjadi krisis kehidupan bagi manusia itu sendiri.

Sehingga seberapapun banyaknya alasan yang disuarakan untuk membenarkan pelaku LGBT dengan mengatasnamakan HAM, sebanyak itu pula proyek peng”Islam”an nalar akan terus digemakan. Penanaman pemikiran yang berlandaskan pada ajaran Islam akan terus disebarkan, agar kondisi modernitas yang berpotensi menimbulkan fenomena-fenomena penyimpangan dalam ajaran dan nilai-nilai Islam bisa dihindari.

Disinilah dan melalui inilah pemikiran dan kepedulian akan penyerapan nila-nilai syariat Islam yang dibingkai dalam khazanah Islami, akan senantiasa ditumbuhkan untuk membentuk ketaqwaan individu dan menciptakan pemahaman kepada masyarakat untuk saling menasihati dan membangun lingkungan yang berbasis Islami.

Advertisements