Tags

,

NAMA : MAYSARAH

PRODI : HUBUNGAN INTERNASIONAL B 2014

NIM : 1402045128

Pemikiran Politik Islam

Pemikiran politik islam selalu mengalami perubahan terhadap pola pemetaan pemikiran, manusia yang berpikir mengenai politik islam cenderung melihat bagaimana fenomena yang terjadi terhadap masalah sosial kemasyarakatan dan juga masalah kebijakan politik yang di ambil oleh suatu negara. Untuk itu saya melakukan penelitian dalam bentuk wawancara untuk mengetahui bagaimana pemikiran mahasiswa MIPA Universitas Mulawarman terhadap satu masalah atau fenomena yang saya ambil. Tema yang telah saya ambil untuk mengetahui pemikiran mahasiswa MIPA adalah mengenai Hak Asasi Manusia, mengapa saya dan teman-teman mengambil tema ini, karena banyak hak asasi yang telah dilanggar oleh sesama manusia bahkan pembuat kebijakan suatu negara pernah melakukan pelanggaran hak asasi manusia seperti korupsi. Saya melakukan penelitian wawancara melalui 5 pendekatan perkembangan pemikiran islam yakni tradisionalis, revivalis, modernisme, neorevivalis dan neomodernis, untuk itu saya akan menjelaskan sedikit pengertian pendekatan pemikiran islam ini.

  1. Tradisionalis yakni mereka yang memilki ikatan kuat terhadap ulama besar dan menganggap pintu ijtihad sudah tertutup.
  2. Revivalis yakni pemikiran yang muncul karena adanya rasa kekhawatiran terhadap suatu fenomena yang mengkaitkan kaum muslimin
  3. Modernisme yakni pemikiran yang mempunyai relasi dari kaum barat meskipun begitu mereka tetap menyandarkan pemikirannya dalam kerangka islam
  4. Neorevivalis ini merupakan respon terhadap kaum modernis namun tidak selamanya neorevivalis pihak dari antagonis
  5. Neomodernis merupakan pemikiran yang bisa di katakana keluar dari konteks keislaman atau mereka yang masa bodoh terhadap kerangka keislaman atau terjerumus dalam westernisasi.

Untuk mengenai HAM sendiri, hak asasi manusia adalah suatu hal yang di dapat dari lahir yang mutlak dan tidak dapat di ganggu gugat oleh siapapun, namun seiring berkembangnya zaman hak asasi manusia semakin di langgar bahkan sesama manusia itu sendiri terlebih lagi pembuat kebijakan suatu negara banyak yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia terutama di Indonesia, mereka membuat peraturan yang di kaitkan dengan aturan islam namun mereka sendiri yang masih melanggar. Banyak ketidakadilan yang terjadi terhadap hak asasi manusia itu sendiri. Untuk pertanyaan yang saya lontarkan mengenai HAM kepada mahasiswa MIPA, kami buat ke dalam 11 pertanyaan, namun saya akan menulis atau memberi beberapa pertanyaan yang telah saya lontarkan kepada mahasiswa MIPA Universitas Mulawarman.

  1. bagaimana penerapan HAM yang ada di Indonesia?
  2. bagaimana pandangan anda mengenai HAM yang di berikan oleh pengedar narkoba dan koruptor?
  3. apakah poligami melanggar HAM ?
  4. dikatakan penindasan dan pembatasan pers sebagai contoh pelanggaran HAM , namun dewasa ini pers malah mengupas privasi orang lain bahkan melebih-lebihkan atas privasi orang lain, bagaimana pendapat anda?
  5. Mengenai LGBT, apakah itu melanggar hak asasi manusia?

Dari hasil wawancara yang saya dapatkan , saya mewawancarai  50 mahasiswa MIPA secara random yakni mahasiswa dari jurusan BIOLOGI, ILMU KOMPUTER, STATISTIK, FISIKA, dan KIMIA. Mahasiswa prodi BIOLOGI berjumlah 11 orang dominan dalam pemikiran Revivalis yaitu sebanyak 5 orang dan 6 sisanya termasuk pemikiran modernis, neomodernis, tradisionalis, dan neorevivalis, sedangkan prodi ILMU KOMPUTER  sebanyak 15 orang dominan kepada Neo-revivalis, Modernis, dan Tradisionalis, untuk statistic sebanyak 5 orang lebih dominan Neorevivalis, untuk fisika sebanyak 10 orang dominan Neo-revivalis, dan terakhir prodi KIMIA sebanyak 8 orang dominan kepada kaum Neo-revivalis.  Jadi untuk hasil pemikiran mahasiswa MIPA universitas Mulawarman mengenai Hak Asasi Manusia adalah Neorevivalis, dimana dari jumlah 50 mahaiswa yang saya wawancarai secara random memiliki pemikiran neorevivalis. Mengapa dominan neorevivalis karena mereka menjawab pertanyaan yang kami lontarkan kepada mereka yakni masih memiliki respon baik karena masih mau menolak hal-hal yang bertolak belakang kepada pandangan hukum islam, seperti urat wanita, bunga bank, maupun masalah seperti hak asasi manusia, atau lebih tepatnya mereka mengeluarkan pikiran sebagai bentuk pemecahan masalah terhadap masalah-masalah yang terjadi seperti contoh masalah LGBT, mahasiswa MIPA Neo-revivalis mengatakan bahwa LGBT melanggar hak asasi manusia, karena penyuka sesama jenis atau LGBT tidak ada di atur dalam hukum islam atau dalam aturan islam namun LGBT bukanlah suatu bentuk permusuhan bagi kita melainkan kita harus dapat membuat mereka yang menjadi LGBT bisa sembuh dari penyakitnya, karena menurut mereka LGBT merupakan penyakit yang harus di sembuhkan, jadi menurut saya pemikiran mahasiswa MIPA Universitas Mulawarman  merupakan pemikran yang baik terhadap suatu fenomena yang masih melekat atau dalam hal yang masih menyangkut kerangka dalam keislaman tentang hak asasi manusia yang dimana hal ini merupakan langkah sebagai respon terhadap fenomena atau masalah yang bertolak belakang dengan islam yang telah terjadi, karena pemikiran ini masih lebih baik dari pada pemikiran Neo-modernis, mengapa? Karena kaum Neo-modernis memiliki pemikiran yang tidak peduli atau bahkan masa bodoh sama sekali atau bisa disebut hedon, dan apabila di suatu negara yang membuat peraturan atau kebijakan dengan mengkaitkan peraturan hukum islam seperti negara Indonesia, dan apabila warga masyarakatnya nanti  atau banyak orang-orang yang akan menjadi Neo-modernis apa jadinya negara dengan peraturan yang terkait meskipun sedikit dengan peraturan hukum islam, hal ini pasti akan bertolak belakang dan akan mendatangkan akibat buruk bagi masyarakat tersebut karena saling bertolak belakang dengan peraturan yang di buat suatu negara dengan peraturan hukum islam terhadap sikap warna negaranya apalagi jika yang melanggar adalah pembuat kebijakan itu sendiri seperti korupsi, hal ini juga akan mendatangkan perilaku yang tidak akan membuat masyarakat peduli lagi terhadap struktur politik di suatu negara mesikipun struktur politik yang di buat berbau keislaman dan masyarakatnya dominan memiliki agama islam, dan hal inilah yang mendatangkan adanya partisipasti masyarakat berkurang dan menjadikan masyarakat terjerumus menjadi masyarakat parokial

Maka dari itu saya masih bisa mengatakan pemikiran mahasiswa MIPA masih terbilang baik, dimana pemikiran yang saya miliki juga merupakan pemikiran yang sama layaknya pemikiran mahasiswa MIPA yang dominan di Universitas Mulawarman yakni Neo-revivalis. Harapan kedepannya bahwa, mahasiswa MIPA yang menjadi atua memiliki pemikiran Neo-revivalis ini dapat mengembangkan pemikirannya untuk mengatasi masalah- masalah yang terjadi sekarang maupun nanti.

Saya juga cenderung masih memiliki respon terhadap suatu masalah atau fenomena yang bertolak belakang dengan pandangan hukum islam meskipun belum bisa melakukan reaksi terhadap masalah – masalah yang bertolak belakang dengan pandangan hukum islam tersebut namun saya masih berpikir bagaimana mengatasinya atau mencari solusi-solusi bagi masalah yang tidak dapat terjawab bahkan terselesaikan. Bagi saya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, seharusnya makhluk ciptaan Allah SWT yang lainnya harus memiliki pandangan yang tidak merusak citra agama itu sendiri bahkan justru mereka harus bisa mencari solusi dan tidak mengabaikan seolah-olah tidak peduli terhadap masalah yang telah timbul atau terjadi belakangan ini agar membuat kehidupan menjadi lebih baik dan masalah yang merusak islam dapat berkurang, dan saya juga teringat ketika saya memiliki pengalaman pribadi yakni dimana teman-teman saya penyuka sesama jenis atau lesbian, namun di samping itu saya tidak memisahkan diri kepada mereka atau berpikiran menjauhi mereka, karena banyak teman-teman saya yang justru menjauhinya atau bahkan jijik kepada mereka, di satu sisi saya masih bergaul dengan mereka namun ketika ada kesempatan berbicara saya memberi saran atua nasihat untuk merubah perilakunya menjadi normal untung nya mereka yang menjadi lesbian tidak marah akan hal itu, justru mereka memberitahu saya bahwa mereka memang ingin berubah dan pasti akan berubah suatu saat nanti tapi mereka hanya belum bisa menahan diri mereka dari jeratan nafsu nya, jadi bagi saya memang betul pemikiran mahasiswa MIPA Universitas Mulawarman yang pemikirannya Neo-revivalis bahwa LGBT melanggar hak asasi manusia terutama hukum islam, namun itu hanya penyakit yang belum bisa mereka atasi, namun kita juga tidak sepatutnya mneghidari mereka. Jadi initinya saya setuju dan sependapat terhadap pemikiran kaum Neo-revivalis terkhususnya pemikiran mahasiswa MIPA Universitas Mulawarman.

Advertisements