Tags

,

Nama              : Joko Permono

NIM                 : 1402045051

Mata Kuliah  : Pemikiran Politik Islam

Kelas               : HI – A 2014

 

OPINI PRIBADI KECENDERUNGAN PEMIKIRAN MAHASISWA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN  ILMU POLITIK UNIVERSITAS MULAWARMAN TERHADAP LEGALISASI LGBT DI INDONESIA

            Pada zaman modern ini dimana teknologi informasi berkembang pesat, globalisasi menjadi lebih jauh jangkauannya dan memiliki pengaruh yang semakin kuat. Hal ini merupakan hal yang tidak dapat ditolak dan tidak dapat terelakkan oleh semua masyarakat karena hal ini terjadi dengan cepat melalui media cetak, media elektronik serta perangkat teknologi informasi lainnya seperti ini smartphone yang dimana informasi dapat dengan mudah di akses. Dampak globalisasi pun berpengaruh ke seluruh negara di dunia tak terkecuali di Indonesia. Hal ini terlihat dari maraknya budaya-budaya asing di Indonesia, mulai dari Korea dengan K-Popnya, Jepang dengan Animasinya, India dengan drama-drama melankolisnya, serta Amerika dan Eropa melalui film-film hollywood dan lagu-lagu hitsnya.

Namun saat ini saya akan menyampaikan opini saya terkait isu yang lebih penting dari isu-isu diatas yaitu isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Isu ini merupakan isu yang cukup serius karena isu ini merupakan isu yang paling cepat menyebar dan tidak sedikit mendapat dukungan dari kalangan-kalangan yang menganggap LGBT merupakan bentuk penyetaraan HAM. Hal ini menjadi serius karena paham ini mulai memasuki negara-negara dengan mayoritas muslim seperti yang diketahui islam sebagai agama umat muslim menentang keras adanya LGBT karena bertentangan dengan agama islam. Isu ini merupakan isu yang sangat menarik atensi masyarakat Indonesia karena isu ini sangat sensitif dan cukup asing di telinga masyarakat Indonesia. LGBT di Indonesia mendapat berbagai tanggapan meskipun mayoritas masyarakat menolak adanya LGBT di Indonesia namun tidak sedikit juga masyarakat yang mendukung LGBT diterima dan dilegalkan di Indonesia.

Hal ini lah yang menarik rasa penasaran saya dan teman-teman saya untuk melaksanakan tugas penelitian kecenderungan pemikiran mahasiswa tentang LGBT di fakultas ilmu sosial dan ilmu politik universitas mulawarman. Karena fakultas ilmu sosial dan ilmu politik dikenal memiliki mahasiswa yang memiliki pemikiran yang rasional dan cenderung memisahkan urusan agama dengan urusan kehidupan di masyarakat dan juga ada mahasiswa FISIP yang terlibat langsung dalam komunitas LGBT. Sebelum saya dan teman-teman melaksanakan penelitian, awalnya kami telah menyeleksi mana mana orang yang akan kami wawancara termasuk orang-orang yang kami anggap terlibat langsung dalam komunitas LGBT. Setelah menyeleksi responden kami mulai membuat pertanyaan yang akan kami tanyakan pada responden, pembuatan pertanyaan kami lakukan dengan hati-hati untuk menghindari agar responden tidak merasa tersinggung dan terintimidasi. Setelah diskusi dalam merumuskan pertanyaan didapat 2 pertanyaan yang nantinya akan digunakan dalam wawancara dan pengisian kuesioner. Pertanyaannya adalah :

  1. Setujukah Anda LGBT merupakan salah satu bentuk penyetaraan HAM?
  2. Setujukah Anda jika LGBT dilegalkan di Indonesia?

Dua pertanyaan ini yang kami ajukan dalam penelitian karena tidak mengandung unsur yang dapat membuat responden tersinggung dan mengandung unsur keberpihakkan.

            Setelah melakukan wawancara dan penyebaran kuesioner saya cukup terkejut dengan jawaban-jawaban yang diberikan para mahasiswa FISIP dari berbagai angkatan mengenai pendapat mereka tentang isu LGBT ini. Karena FISIP yang terkenal dengan pemikiran yang cenderung sekuler justru banyak yang menolak kehadiran LGBT di Indonesia hal ini seakan menjadi paradoks dari FISIP yang banyak orang kenal. FISIP yang dikenal sebagai “Markas”nya LGBT di Universitas Mulawarman,  ternyata dari 50 sampel yang kami ambil sebanyak 19 responden menolak dengan keras jika LGBT dianggap sebagai bentuk penyetaraan HAM. Karena mahasiswa yang beranggapan bahwa LGBT bukanlah salah satu bentuk kebebasan HAM melainkan sebuah penyimpangan orientasi seksual, jadi tidak seharusnya disebut sebagai penyetaraan HAM dan LGBT akan berdampak buruk pada moral bangsa serta tidak cocok dengan budaya ketimuran yang dianut Indonesia. Meskipun FISIP memiliki rekor buta Al-Quran tertinggi di Universitas Mulawarman tetapi akhlak mahasiswa FISIP masih cukup selaras dengan ajaran Al-Quran dan Hadist dan juga budaya ketimuran masih dipegang dengan teguh oleh para mahasiswa FISIP.

Mahasiswa FISIP dalam menanggapi hal ini bisa dibilang sebagai sebuah hal yang sangat mengejutkan di mana hasil yang saya prediksi berbanding terbalik dengan apa yang ada di lapanagan. Hal ini menjadi pembelajaran juga bagi saya bahwa penampilan tidak selalu mencerminkan akan apa yang terkandung di dalamnya. Penolakan mahasiswa  ini juga merupakan secercah harapan bahwa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini masih memiliki akhlakul karimah yang hal ini merupakan hal berharga di masa globalisasi ini yang dimana nilai-nilai islam mulai bergeser dan berkurang karena pengaruh yang kuat dari media-media yang tidak independent dan justru memojokkan islam sebagai agama yang penuh kekerasan, identik dengan terorisme, pelemahan hak-hak perempuan dan masih banyak lagi hal-hal dalam islam yang disalahartikan oleh oknum-oknum yang mencoba mencari kesalahan-kesalahan dalam islam, yang saya yakin tidak akan pernah ditemukan karena Islam diturunkan sebagai agama yang paling sempurna dengan nabi Muhammad S.A.W sebagai suri tauladan sempurna bagi umat islam di seluruh dunia.

 

Advertisements