Tags

,

NAMA : GESNA AMARILA

NIM : 1402045155

“ISLAM NUSANTARA”

Nama saya adalah Gesna Amarila Permata Miknar. Saya lahir di Malang, Jawa Timur pada tanggal 11 September 1995. Saya adalah anak tunggal dari pasangan Derek Arsyad Dhani dan Zainun. Saya memulai sekolah di Taman Kanak-kanak Islam Terpadu AL-AULIYA pada tahun 2000 di Balikpapan. Saya merupakan lulusan dari sekolah dasar yaitu SD KEMALA BHAYANGKARI pada tahun 2007. Saya melanjutkan sekolah menengah pertama di SMP NEGERI 2 Balikpapan dan lulus pada tahun 2010. Pendidikan terakhir saya adalah sekolah menengah atas di SMA NEGERI 1 Balikpapan dan lulus pada tahun 2013. Pada tahun 2014 saya melanjutkan pendidikan saya di Universitas Mulawarman Samarinda dan masih aktif sampai dengan sekarang.

Islam nusantara adalah “Ngluri Leluhur” (Melestarikan Tradisi Leluhur). Islam nusantara memberi karakter bermazhab dalam teks-teks para ulama nusantara untuk menyambungkan kita dengan tradisi leluhur kita, untuk kita hormati, dan untuk meneladani contoh-contoh terbaik yang mereka hasilkan. Itu kalau Anda ingin menghargai jasa para leluhur bangsa ini, yang berjuang dan berbakti demi bangsa ini, tapi kalau tidak bermazhab, tidak punya silsilah atau kedekatan dengan sanad, berarti Anda tidak punya kepekaan dan tidak juga basis kerakyatan. Jadi ngluri leluhur adalah penghargaan terhadap leluhur, para ulama, para pejuang yang berjuang untuk bangsa ini serta para pendahulu yang berjasa. Islam nusantara membantu anak-anak bangsa memelihara segenap memori kolektif bangsa ini dari masa lalu tentang kejayaannya, tentang segenap pengalamannya berhadapan dengan bangsa-bangsa asing, hingga membantu mereka mengingat kembali perjuangan orang-orang yang berkorban untuk bangsa dan tanah air ini. Mekanisme untuk itu dilakukan dengan memelihara sejumlah tradisi, ritual, upacara, rasionalitas (ma’quliyah), pengalaman, dan segenap praktik-praktik keagamaan, kesenian dan berkebudayaan yang menghubungkan satu generasi ke generasi berikutnya, dari satu komunitas ke komunitas lainnya, sehingga solidaritas berbangsa, persatuan dan kebersamaan di antara komponen bangsa ini jadi terjaga.

Walaupun dianggap bukan istilah baru, istilah Islam Nusantara belakangan telah dikampanyekan secara gencar oleh salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia. Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mengatakan, Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara yang disebutnya “dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras.” “Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya.” Ia pun menegaskan, model seperti ini berbeda dengan apa yang disebutnya sebagai “Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara.”

Belakangan ini cukup ramai diperbincangkan tentang “Islam Nusantara”. Banyak intelektual, ulama, politisi, dan pejabat Pemerintah yang menggunakan istilah ini ketika membicarakan Islam. Pemantik awalnya adalah penggunaan langgam Jawa dalam tilawah al-Quran pada saat Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. 17 Mei 2015 lalu di Istana Negara. Sejak saat itu perbincangan “Islam Nusantara” menghangat. Apalagi ketika hal tersebut dikaitkan dengan opini penegakan syariah. Kalangan yang selama ini menolak ide penegakan syariah menemukan momentum mengajak masyarakat untuk turut dalam barisannya. Mereka mempropagandakan “Islam Nusantara” sebagai wujud implementasi Islam terbaik, dibandingkan dengan “Islam Timur Tengah” yang saat ini diwarnai berbagai konflik.

Para pengusung dan pendukung ide Islam Nusantara ini menggunakan berbagai argumentasi untuk meyakinkan masyarakat. Banyak media massa memberikan ruang yang cukup luas bagi mereka untuk menyampaikan idenya tersebut. Karena itu perlu ada sikap kritis terhadap argumentasi yang mereka kemukakan.

Berdasarkan permasalahan inilah, kami pun tertarik untuk melakukan polling pendapat Mahasiswa Fakultas Hukum Unmul tentang bagaimana pandangan mereka terhadap ide “Islam Nusantara” itu sendiri. Berdasarkan hasil survey, akan kami tentukan kecenderungan pemikiran mahasiswa tersebut ke dalam 5 penggolongan pemikiran, yaitu Tradisionalis, Revivalis, Modernisme Klasik, Neo Revivalis, dan Neo Modernis.

Untuk mendapatkan informasi dari para responden berupa data primer, kami menggunakan metode pengumpulan data melalui kuesioner atau angket yang kami bagikan kepada 50 mahasiswa fakultas hukum. Ada 6 daftar pertanyaan yang kami berikan dalam kuesioner tersebut ialah:

  1. Belakangan mengemuka gagasan untuk mengembangkan corak “Islam Nusantara”. Apa yang Anda ketahui tentang “Islam Nusantara” dan bagaimana Menurut Anda terkait hal tersebut?
  2. Apakah Anda adalah orang yang mendukung ide tentang “Islam Nusantara” tersebut atau tidak?
  3. Apakah menurut Anda ide “Islam Nusantara” itu berbahaya bagi kehidupan umat muslim di Indonesia?
  4. Bukankah corak “Islam Nusantara” memikili tujuan yang baik, agar Islam lebih bisa diterima oleh masyarakat?
  5. Menurut Anda, apakah kita harus merujuk pada “Islam Timur Tengah”?
  6. Jadi, Masyarakat Islam seperti apa yang seharusnya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Berdasarkan hasil survei yang telah kami lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Mahasiswa Fakultas Hukum memiliki pemikiran yang cenderung tergolong ke dalam Pemikiran Revivalis. Bahwa Kelompok Revivalis di Fakultas Hukum mencapai 50%. Diurutan kedua sebesar 36% mahasiswa cenderung termasuk ke dalam pemikiran Modernisme Klasik. Urutan berikutnya terdapat 6% untuk pemikiran Tradisionalis dan Neo-Modernis, dan terakhir 2% mahasiswa cenderung Neo-Revivalis. Hal ini berarti Mahasiswa Fakultas Hukum masih beranggapan bahwa Islam Nusantara merupakan ide yang cukup berbahaya bagi kehidupan umat muslim di Indonesia dan berusaha menolak ide “Islam Nusantara” itu sendiri. Sebab mereka beranggapan bahwa segala sesuatunya harus dikembalikan pada Islam murni berlandaskan Al-Qur’an, Al-Hadits, dan Sunnah. Mereka yang Revivalis tidak dapat menerima konsep pembaruan dan yang mengandung konsep kebaratan. Kebanyakan Mahasiswa Fakultas Hukum memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap kebobrokan sosial dan masyarakat muslim di Indonesia, sehingga adanya ide “Islam Nusantara” dapat dikatakan menyalahi aturan dan syariat Islam seperti yang diajarkan dalam Al-Qur’an, Al-Hadits, dan Sunnah.

Saya juga sependapat dengan hasil survey tersebut karena menurut saya islam nusantara ini digunakan oleh segelintir orang untuk memecah umat islam itu sendiri. Selain itu ide Islam Nusantara tidak sesuai dengan al-Quran yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia, tidak ada kekhususan bagi orang Arab saja dan sebagainya. Perlu pula ditegaskan bahwa Islam bukan produk budaya Arab. Meskipun al-Quran dan al-Hadits berbahasa Arab, isinya bukan budaya Arab, melainkan perintah Allah SWT untuk seluruh umat manusia. Karena itu sistem peradilan Islam, sistem pendidikan Islam, hingga sistem pemerintahan Islam berupa Khilafah Islamiyah bukanlah produk budaya Arab. Semua itu merupakan perintah Allah SWT yang termaktub dalam al-Quran dan al-Hadits.

Maka untuk lebih jelasnya, ada 8 Alasan Habib Riziq sihab menolak konsep Islam Nusantara yang di posting oleh Suara Islam dengan judul “Jemaat Islam Nusantara (JIN) Paham Sesat Menyesatkan” :

  1.    Islam Pendatang

Bagi JIN bahwa Islam di Indonesia adalah “pendatang” dari Arab yang “numpang”, bukan agama “asli” bangsa Indonesia.

Tanggapan : Islam adalah agama asli yang turun dari langit untuk seluruh penduduk bumi, karena Islam datang dari Allah Swt sang pemilik alam semesta, sehingga Islam di mana saja di atas bumi Allah Swt akan selalu menjadi agama “asli” yang “pribumi”, dan tidak akan pernah jadi “pendatang”.

Jadi, Islam bukan dari Arab, tapi dari langit yang diturunkan pertama kali di tengah orang Arab, kemudian disebarkan ke seluruh dunia.

  1. Pribumisasi Islam

Islam sebagai pendatang dari Arab harus tunduk dan patuh kepada Indonesia selaku pribumi, sehingga Islam harus siap “dipribumisasikan” agar tunduk kepada budaya setempat.

Karenanya, tidak boleh lagi ada istilah “Islamisasi Indonesia”, tapi yang mesti dilaksanakan adalah “Indonesia-isasi Islam”. Jadi, jangan pernah katakan “Indonesia negara Islam”, tapi katakanlah “Islam ada di Indonesia”.

Tanggapan : jika pola pikir ini benar, maka Islam di China mesti di-China-isasi, dan Islam di India mesti

di-India-isasi, serta Islam di Amerika juga mesti di-Amerika-isasi, dan seterusnya, sehingga Islam di dunia jadi bermacam-macam dan berjenis-jenis sesuai negerinya.

Jika mundur lagi ke belakang, mestinya saat Islam ada di tengah masyarakat jahiliyyah, maka Islam harus di-jahiliyyah-isasi.

Jelas, pola pikir di atas ngawur dan tidak ilmiah, bahkan sesat menyesatkan.

  1. Tolak Arabisasi

Islam yang ada di Indonesia selama ini adalah “Islam Arab”, sehingga budaya Nusantara terancam dan tergerus oleh Arabisasi.

Karenanya, di Indonesia semua budaya Arab yang menyusup dalam Islam harus diganti dengan budaya Nusantara, sehingga ke depan terwujud “Islam Nusantara” yang khas bagi bangsa Indonesia.

Intinya, JIN menolak semua budaya Islam yang beraroma Arab, karena dalam pandangan mereka semua itu adalah “Arabisasi Islam”, sehingga perlu ada gerakan “Indonesia-isasi Islam” di Nusantara.

Tanggapan : Rasulullah Saw diutus di tengah bangsa Arab untuk meng-Islam-kan Arab, bukan meng-Arab-kan Islam. Bahkan untuk meng-Islam-kan seluruh bangsa-bangsa di dunia, bukan untuk meng-Arab-kan mereka.

Jadi, tidak ada Arabisasi dalam Islam, yang ada adalah Islamisasi segenap umat manusia.

  1. Ambil Islam Buang Arab

Islam sebagai pendatang dari Arab tidak boleh mengatur apalagi menjajah Indonesia, tapi Islam harus tunduk dan patuh kepada Indonesia selaku pribumi.

Karenanya, bangsa Indonesia boleh ambil budaya Islam, tapi wajib tolak budaya Arab, agar supaya budaya Nusantara tidak terjajah dan tidak pula tergerus oleh budaya Arab.

Tanggapan : ini adalah propaganda busuk JIN yang ingin menolak budaya Islam dengan “dalih” budaya Arab. Pada akhirnya nanti, semua ajaran Islam yang ditolak dan tidak disukai JIN, akan dikatakan sebagai “budaya Arab”.

Dan propaganda ini sangat berbahaya, karena menumbuh-suburkan sikap rasis dan fasis, serta melahirkan sikap anti Arab, yang pada akhirnya mengkristal jadi anti Islam.

  1. Ambil Islam Buang jilbab

Menurut JIN bahwa jilbab adalah budaya Arab karena merupakan pakaian wanita Arab, sehingga harus diganti dengan pakaian adat Nusantara.

Tanggapan : JIN buta sejarah, karena di zaman jahiliyyah, masyarakat Arab tidak kenal jilbab, dan wanita Arab tidak berjilbab. Bahkan wanita Arab saat itu terkenal dengan pakaian yang umbar aurat dan pamer kecantikan, serta tradisi tari perut yang buka puser dan paha.

Lalu datang Islam mewajibkan wanita muslimah untuk berjilbab menutup aurat, sehingga wanita muslimah jadi berbeda dengan wanita musyrikah. Dengan demikian, jilbab adalah busana Islam bukan busana Arab, dan jilbab adalah kewajiban agama bukan tradisi dan budaya.

Selayaknya untuk itu kita menyadari bahwa hal ini sangat membahayakan kehidupan umat muslim di Indonesia. Munculnya ide ini merupakan suatu kepentingan dari kelompok tertentu di mana ingin memudarkan ajaran islam dan tujuan islam itu sendiri. Seperti kita ketahui bahwa Negara-negara Barat berupaya memberikan citra negatif terhadap syariah Islam dan Khilafah secara sistematis. Sekecil apapun celah yang bisa digunakan untuk menghadang tegaknya Khilafah akan mereka dukung, termasuk ide Islam Nusantara yang bermuatan sekularisme itu. Kaum Muslim harus menyadari pula bahwa kelompok-kelompok liberal yang ada saat ini tidak lebih dari mesin politik untuk kepentingan penjajah AS dan sekutunya.

Advertisements