Tags

,

Nama  : Eka Sulistya

Nim : 1402045071

Prodi : Hubungan internasional (B)

MK : Pemikiran Politik Islam

Pernikahan Beda Agama

Seperti yang telah kita ketahui dari Al-Quran dan Hadist  bahwa pernikahan merupakan sunatullah, setiap makhluk bernyawa itu diciptakan berpasang-pasangan,laki-laki dan perempuan. Dalam islam perkawinan dimaksudkan adalah untuk memenuhi kebutuhan seksual seseorang secara halal serta untuk melangsungkan keturunan, dalam suasana yang mawaddah. Namun pernikahan dalam agama islam memiliki syariat dan ketentuan yang telah diatur. Perkawinan yang baik adalah perkawinan yang dilakukan oleh seorang suami dan isteri yang seakidah, seakhlak, dan satu tujuan. Penulis tertarik untuk mengangkat kasus Pernikahan beda agama karena di Indonesia ini sendiri masih banyak pro dan kontra yang terjadi dalam menyikapi kasus ini, Indonesia terdiri dari berbagai agama, keyakinan, dan adat serta budaya. Menurut istilah syariat islam pernikahan ialah akad yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan mahram sehingga dengan akad tersebut terjadi hak dan kewajiban antara kedua insan. Menurut Undang-Undang no.1 Tahun 1974 tentang perkawinan, mendefinisikan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. Dapat disimpulkan bahwa tujuan pernikahan adalah untuk membentuk keluarga berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.

Cukup sulit untuk menyelesaikan kontroversi mengenai pernikahan beda agama ini di satu sisi Indonesia termasuk negara pemeluk agama Islam terbesar di dunia namun negara ini ialah negara Pancasila yang memiliki banyak keberagaman keyakinan, agama, dan budaya, maka Indonesia tidak bisa menerapkan hukum islam yang utuh walaupun ada beberapa daerah yang menerapkannya. Disamping itu karena banyaknya kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia cukup mempengaruhi pola pikir serta gaya hidup masyarakat Indonesia baik itu masyarakat muslim sendiri, hal ini tidak lagi menjadi masalah yang tabu dalam sebuah pernikahan saat ini karena masyarakat Indonesia selalu mengedepankan Hak Asasi Manusia (HAM). Bahkan saat ini sudah ada yurisprudensi dari Mahkamah Agung (MA) menyatakan bahwa kantor catatan sipil diperkenankan untuk melangsungkan pernikahan beda agama namun apabila berkeinginan untuk mencatatkan perkawinan di KCS, maka berdasarkan putusan MA salah satu pihak memilih menundukan diri dan melangsungkan perkawinan tidak secara islam setelah permohonan percatatan perkawinan di kabulkan oleh pihak kantor catatan sipil, maka perkawinan adalah sah menurut hukum.

Tidak dapat di pungkiri lagi dengan banyakya budaya asing yang masuk di Indonesia di era modernisasi dan globalisasi mempengaruhi cara pandangan masyarakat saat ini tentang pernikahan Beda Agama, hal ini bukan hal yang tabu lagi terjadi yang di kehidupan sosial masyarakat, dimana dalam pernikahan ini satu pihak dan pihak lainnya kukuh mempertahankan keyakinan mereka dan berusaha menyatukannya dalam ikatan pernikahan yang sah di mata negara.

Dalam upaya menjelaskan gradasi pemikiran Islam di setiap zaman, perkembangan pemikiran Islam terbagi menjadi lima yaitu; tradisionalis, revivalis, modernisme, neo revivalis, dan neo modernism .

Untuk mengetahui pola pikir mahasiswa/i saat ini, penulis melakukan penelitian berupa observasi lapangan melalui wawancara dengan mahasiswa/i khususnya di Fakultas Teknik Universitas Mulawarman mengenai kasus Pernikahan Beda Agama, dengan mengambil sampel yang berjumlah 10 mahasiswa/i . Adapun pertanyaan yang penulis ajukan, yaitu :

  1. Apa yang anda pahami mengenai pernikahan beda agama ?
  2. Apakah anda setuju dengan pernikahan beda agama ?
  3. Bagaimana tanggapan anda mengenai pernikahan beda agama ?
  4. Bagaimana hukum pernikahan beda agama ini dimata agama anda ?
  5. Jika pemerintah melegalkan pernikahan beda agama ini, bagaimana tanggapan anda ?
  6. Apakah pernikahan beda agama ini mempengaruhi keluarga dari masing-masing pihak ?
  7. Menurut anda adakah dampak positif atau negatif dari pernikahan beda agama ini ?
  8. Apa solusi serta saran anda mengenai kasus pernikahan beda agama ini sendiri ?

Selama proses wawancara ini berjalan penulis selaku peneliti menganalisa pola pikir dari 10 mahasiswa/i Fakultas Teknik Universitas Mulawarman dan mencoba mengklasifikasikan mahasiswa berdasarkan pemikiran atau pola pikir mereka kedalam kelima gradasi pemikiran islam. Dari hasil wawancara yang dilakukan penulis menemukan dua gradasi atau pola pemikiran yang berbeda, yaitu :

  1. Tradisionalis sebanyak 6 mahasiswa, alasannya ialah karena setiap jawaban mereka selalu membawa-bawa hukum islam, syariat islam, alqur’an, dan juga hadist, keyakinannya yang kuat akan agamanya menjadi patokan dan jelas pemikirannya condong ke pola pikir tradisionalis.
  2. Moderenism sebanyak 4 mahasiswa, hal ini dapat terlihat jelas dari setiap jawaban yang ia berikan, setiap jawaban mereka selalu mengutamakan Hak Asasi Manusia maka mereka merasa pernikahan beda agama ini tidak masalah karna mereka memiliki hak dan juga Indonesia adalah negara Demokrasi yang berarti bebas berpendapat serta membuat keputusan. Maka disimpulkan pemikiran mereka mengarah ke modernism.

Dari pemaparan diatas maka dapat disimpulkan pola pikir mahasiswa/i Fakultas Teknik Universitas Mulawarman lebih Condong dan masih memiliki pola pikir yang Tradisionalis walupun ada beberapa yang sudah mengarah ke pemikiran Modernism. Menurut penulis pernikahan beda agama ini memang cukup sulit untuk menyatukannya di Indonesia sendiri faktor yang menyebabkan pernikahan beda agama ini terjadi juga bisa dari masyarakat Indonesia yang sangat heterogen yang terdiri dari berbagai macam agama, suku, dan budaya, bisa juga disebabkan oleh faktor ekonomi yang membuat pernikahan dalam hal mengenai agama terabaikan, dan tentunya era globalisasi saat ini yang mempengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia.

Kesimpulan dari hasil analisa penelitian wawancara mengenai pernikahan beda agama ini dikalangan mahasiswa/i Fakultas Teknik Universitas Mulawarman ini cukup baik karena pemikiran mereka masih berpegang teguh pada hukum al-qur’an dan hadist-hadist serta hukum islam dan walaupun ada juga yang pemikirannya condong ke Modernism yang mengutamakan dan mengedepankan kebebasan memilih atau berpendapatnya karena Indonesia adalah negara yang demokratis serta Hak Asasi Manusia yang dimiliki setiap orang. Dengan jawaban-jawaban dari para responden (mahasiswa/i Fakultas Teknik Universitas Mulawarman)  cukup menarik mengenai kasus pernikahan beda agama ini.

Dan dari pemikiran penulis sendiri mengenai kasus pernikahan beda agama ini lebih kepada pemikiran Tradisionalis. Karena menurut penulis pernikahan beda agama ini cukup sulit jika mengikuti hukum dan kebijakan di Indonesia saat ini yang sudah berada di era globalisasi dan pemikiran kebanyakan masyarakat cukup liberal atau Moderenism, namun penulis tetap berpegang teguh pada hukum, syariat, dan hadist yang berlaku dalam Al-qur’an. Karena di dalam agama islam sendiri sudah jelas melarang pernikahan beda agama ini kecuali laki-laki muslim yang masih bisa menikahi wanita ahli kitab (agama nasrani dan yahudi atau nasrani). Maka dalam hal pernikahan penulis jelas mengikuti syariat dan hukum islam sebagaimana mestinya sesuai perintah dan aturan yang ada di dalam Al-qur’an. Maka sebaiknya sebelum terlalu jauh dan dalam dalam menjalin hubungan yang mengarah ke jenjang pernikahan atau hubungan yang serius lebih baik mengetahui terlebih dulu agama dan keyakinan yang dianutnya, agar tidak melanggar hukum dan syariat serta larangan dari Allah SWT dan pernikahan yang terjadi akan menciptakan keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah dan juga satu tujuan dalam berumah tangga yaitu menjalankan ibadah serta untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT.

Advertisements