Tags

,

  Dhysti Windyswara, merupakan mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional angkatan 2014 di Universitas Mulawarman yang lahir 18 tahun lalu di kota kecil bernama Tarakan, Kalimantan Utara. Walaupun lahir dan besar dari kota kecil, namun memiliki impian yang besar dalam meraih cita-citanya yakni menjadi seorang diplomat muda yang dapat mengharumkan nama bangsa “akan kukejar impianku dengan penaku dan akan ku taklukan dunia dengan diplomasiku.”

   Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada manusia yang bersifat kodrati dan fudamental sebagai anugrah Allah SWT yang harus dihormati, dijaga, dan dilindungi oleh setiap individu, masyarakat, atau negara. Oleh karna itu di dunia Barat HAM semula dikenal dengan istilah “natural right” kemudian diganti dengan istilah “right of man”.  Karena ternyata  dari kata tersebut  tidak secara  langsung  mengakomodasi pengertian yang mencakup “right of women” maka istilah “right of man” diganti dengan “human right”.  Dalam Islam  padanan dari kata HAM adalah kata  “huquq al-insan adh-dharuriyyah” dan “huququllah”.  Huquq al-insan adh-dharuriyyah  dan “huququllah” tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Inilah yang membedakan HAM konsep Barat tentang HAM dengan konsep Islam.

   Islam sebagai agama dengan ajarannya yang universal dan konprehensif meliputi akidah, ibadah, mu’ammalah dan akhlak yang masing-masing memuat ajaran tentang keimanan. Di dalam dimensi ibadah di islam memuat ajaran tenang mekanisme pengabdian manusia kepada Allah dengan memuat ajaran tentang hubungan manusia dengan sesama manusia maupun dengan alam sekitar. Kesemua dimensi ajaran tersebut dilandasi oleh ketentuan-ketentuan yang disebut dengan istilah syari’at atau  fikih. Dalam konteks syari’at dan fikih itulah terdapat ajaran tentang hak asasi manusia (HAM).  Adanya ajaran tentang HAM dalam  Islam menunjukkan bahwa Islam sebagai agama telah menempatkan manusia sebagai mahluk terhormat dan mulia. Karena itu perlindungan dan penghormatan terhadap manusia merupakan tuntutan dan ajaran Islam itu sendiri yang wajib dilaksanakan oleh ummatnya terhadap sesama manusia tanpa kecuali.

    Mahasiswa sebagai insan terpelajar yang mampu membedakan mana baik dan  buruk, ( hak dan batil) tentunya dapat memahami esensi dari HAM itu sendiri. Mereka memiliki pemahaman yang lebih ketimbang masyarakat awam, namun apakah semua itu benar? Ternyata dalam praktek di lapangan berbeda. Berdasarkan penelitian mengenai HAM yang diadakan pada sejumlah mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman kota Samarinda, Kalimantan Timur, beberapa mahasiswa memberikan jawaban yang berbeda mengenai pandangan mereka mengenai hak asasi yang diperuntukkan pada manusia serta kaitannya dengan Islam.

   

  Ketika ditanyai mengenai “apa itu HAM?” kebanyakan dari mereka bingung untuk menjawab pengertian dari Hak Asasi Manusia iu sendiri bahkan ada yang mengatakan bahwa HAM sebagai suatu institusi pembela manusia, namun ketika ditanyai mengenai pertanyaan yang lebih kepada nalar serta pendapat, mereka lebih lancar menjawab pertanyaan tersebut walaupun sedikit ragu dengan jawaban mereka seperti bagaimana penerapan HAM di Indonesia serta apakah HAM bertentangan dengan islam?. Mereka berpendapat bahwa penerapan HAM di Indonesia ini masih kurang dan perlu di koreksi lagi, HAM di Indonesia hanya berpihak kepada kalangan menengah ke atas dan tiada keadilan terhadap kalangan bawah di Indonesia. Berhubungan dengan konsepsi HAM  sendiri dengan pandangan islam kebanyakan dari mereka menyatakan bahwa konsepsi HAM yang kita kenal sekarang ini bertentangan dengan HAM dalam pandangan islam. Islam mengajarkan keharmonisan antara hak dan kewajiban akan tetapi HAM yang kita kenal sekarang hanya menuntut pada hak dengan kebebasan secara menyeluruh tanpa ada batasan dan berpaku pada individualisme.

      Mereka pun menentang keras dengan adanya LBGT yang mengatasnamakan HAM, menurut mereka LBGT adalah suatu penyakit yang harus di sembuhkan bukan harus di dukung dan diberi simpatik atasnya. Mereka menjelaskan penyakit LGBT dengan mekanisme biologis yang menyimpang dari kodrati manusia maupun agama. Mengenai masalah pemberian HAM terhadap terdakwa mati terkhusus pengedar narkoba dan pelaku kriminal besar lainnya, kebanyakan dari mereka tidak setuju dengan HAM yang diberikan terhadap terdakwa tersebut, mereka berpandangan bahwa para terdakwa itu telah membunuh orang banyak dan pantas diberi ganjaran atas perbuatan yang telah ia lakukan. Namun ada pula mahasiswa yang membela para terdakwa ini, dia berpandangan bahwa tidak seharusnya pelaku tersebut harus di hukum mati karena akan menyalahi esensi dari HAM itu sendiri dan “mati” adalah hak tuhan dan manusia tidak berhak untuk mencabutnya.

    Secara eksplisit kami tanyai mereka mengenai pandangan tehadap negara sekuler yang memisahkan antara urusan negara dan agama, apakah menyalahi HAM, mereka menjawab hal itu tidak menyalahi HAM sama sekali. Haruslah terjadi keharmonisan dan keterpaduan antara urusan pemerintaan dan urusan agama, karena agama akan memberikan dogma-dogma serta aturan dalam bernegara, dan apabila hal itu di aplikasikan secara benar maka negara tersebut dapat mencapai tujuannya yakni menjadi negara yang aman dan sejahtera. mengenai negara sekuler yang melarang penggunaan/ menunjukan identitas agama di ruang publik yang melanggar HAM, kebanyakan dari mereka menyatakan bahwa hal itu jelas sama sekali melanggar HAM, karena terjadi pengekangan terhadap individu dalam menunjukan identitasnya sebagai makhluk yang beragama.

     Dalam pengisian agama di kolom KTP pun kebanyakan dari mereka menganggap hal itu penting karena dapat menunjukan identitas dari individu tersebut. Apabila jika terjadi suatu musibah misalnya meninggal akibat kecelakaan maka dapat dikenali identitas dari individu tersebut dan dapat di makamkan sesuai dengan prosesi dan tata cara dari agama masing-masing. Namun terdapat pula mahasiswa yang menganggap kolom agama di KTP tidak begitu penting karena itu merupakan hak masing-masing dari setiap individu untuk mencantumkan agamanya maupun tidak, dan agama hanyalah urusan antara individu pribadi dengan tuhan dan tidak perlu di umbar serta diketahui oleh orang lain.  

     Dalam perkembangannya, pemikiran Islam dibagi menjadi lima tahap, yaitu tradisionalis, revivalis, modernisme klasik, neo revivalis, dan neo modernis. Adapun secara menyeluruh penelitian yang diadakan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam melibatkan 50 mahasiswa dari lima jurusan, 16 dari 50 mahasiswa condong untuk memahami konsep HAM dalam Islam sebagai neo-revivalis. Neo-revivalis yang dimaksudkan dalam hal ini adalah mereka yang memahami konsep-konsep pemikiran Barat namun tidak melupakan nilai-nilai Islami yang telah ada. Mereka bersikap memproklamasikan tatanan dunia baru yakni tatanan yang dipercaya sebagai tatanan Tuhan. Tatanan tersebut menggantikan tatanan dunia kontemporer yang berorientasi humanitas, kapitalis, modernitas, dan nilai-nilai sekuler Barat.

      Meskipun demikian, menurut pandangan saya pribadi dalam menyikapi HAM dalam Islam, saya lebih condong pada neo-revivalis. Mengapa? Sebagai seorang mahasiswa yang tumbuh besar dalam masyarakat modern yang mengalami perubahan besar dalam peradabannya, terlebih lagi saya sebagai mahasiswa yang dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia yang saat ini sedang mengalami pergolakan hebat, menjadi pribadi yang memandang HAM dari perspektif Islam secara modernis sangat sesuai dengan kondisi terkini negara ini namun tetap berpaku pada Al-Quran dan Al-Hadist.

      Meskipun banyak pemikiran Barat yang mempengaruhi gaya hidup masyarakat Indonesia pada saat ini, alangkah baiknya jika kita mampu mempertahankan nilai-nilai HAM yang telah diajarkan oleh Islam sesuai dengan Al-Quran. Misalnya dalam hal kesetaraan gender antara pria dan wanita yang sampai sekarang ini menjadi isu hangat yang diperbincangkan. Islam sendiri telah mengatur hak dan kewajiban antara pria dan wanita, sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan antara hak dan kewajiban mereka, dan hal ini berbanding terbalik dengan pemikiran Barat yang mengusung feminisme sebagai wujud kesetaraan gender antara pria dan wanita.

     Sebenarnya, tak ada cela atau kesalahan yang bisa kita temukan dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah karena bersumber dari Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW sebagai tuntunan bagi umat manusia sepanjang zaman. Akan tetapi, kesalahan yang dapat ditemukan adalah kesalahan dari umat manusia yang hidup setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW ini dalam menginterpretasikan kandungan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Terlebih lagi dengan kita sebagai umat yang hidup di akhir zaman yang cenderung terpengaruh dengan pemikiran Barat, maka alangkah baiknya kita kembali menerapkan apa yang telah diajarkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi sebagai tuntunan hidup demi menghadapi arus westernisasi yang begitu keras.

 

Advertisements