Tags

,

DEA MEYLINDA F
HUBUNGAN INTERNASIONAL B
UNIVERSITAS MULAWARMAN
PEMIKIRAN POLITIK ISLAM

—————————————————————————————————————————————————-

Setelah melakukan wawancara ke beberapa mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai angkatan di Fakultas Hukum Universitas Mulawarman mengenai “Islam Nusantara”. Saya mendapat berbagai tanggapan yang berbeda beda. Mulai dari yang masih sangat bingung, belum tau bahkan belum pernah dengar sama sekali tentang Islam Nusantara. Tetapi tak sedikit pula yang paham dan serius menanggapinya.

 Istilah islam nusantara, menjadi isu yang mulai ramai dibicarakan. Sejalan dengan peran para budayawan dan orang-orang liberal di Indonesia. Dan nampaknya ini hendak dijadikan sebagai gerakan. Bahkan ada yang mengatakan, fenomena membaca al-Quran dengan langgam jawa, merupakan bagian dari proyek islam nusantara itu. Sebagian orang menganggap Islam Nusantara tidak menjadi masalah. Dan banyak pula yang beranggapan Islam Nusantara ini sebagai bentuk penyimpangan.

Islam agama yang universal. Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyebarkan islam kepada seluruh umat manusia. Sehingga ajaran islam sedunia adalah sama. Karena sumbernya sama. Ketika ada orang yang memiliki kerangka ajaran yang berbeda, berarti itu bukan islam ajaran beliau.

Dan menurut saya sendiri, Islam Nusantara tidak menyimpang karena masih berdasarkan perintah Allah. Sholat menyembah Allah, menghadap kiblat. Bacaan sholat pun tidak ada yang di ubah, hanya saja Islam Nusantara memperbolehkan membaca bacaan sholat dalam bahasa Indonesia. Menurut saya itu kebabsan hak asasi manusia, selama tidak merubah bacaan bacaan sholat dan gerakannya itu tidak menyimpang

Dan ketika membaca Al-Quran dengan langgam Jawa pun selama tidak merubah arti dari Al-Quran tersebut tidak ada masalah. Kembali kepada setiap individu yang menerapkan, jika arti dan niat nya sudah salah ya mau itu Islam Nusantara atau tidak tetap menyimpang. Tetapi jika tidak merubah bagaimana semestinya, tidak ada masalah sama sekali

Al-Quran diturunkan oleh Allah SWT sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia, tidak ada kekhususan bagi orang Arab, Eropa, Asia, dan sebagainya. Tentu kesalahan sangat fatal jika Islam disejajarkan dengan adat istiadat dan budaya sehingga menganggap ajaran Islam dapat disesuaikan dengan budaya lokal. Untuk hal yang sifatnya mubah tentu saja Islam bisa mengakomodasi budaya daerah selama tidak menyalahi syariah. Misalnya, memakai kopiah pada saat shalat dibolehkan sebagaimana sorban, karena hal tersebut hukumnya mubah. Namun, memakai jilbab (milhafah [baju kurung/abaya]) merupakan kewajiban bagi setiap Muslimah yang akil balig. Karena itu jilbab tidak boleh diganti dengan sarung dan kebaya karena pertimbangan budaya

Perlu pula ditegaskan bahwa Islam bukan produk budaya Arab. Meskipun al-Quran dan al-Hadits berbahasa Arab, isinya bukan budaya Arab, melainkan perintah Allah SWT untuk seluruh umat manusia. Karena itu sistem peradilan Islam, sistem pendidikan Islam, hingga sistem pemerintahan Islam berupa Khilafah Islamiyah bukanlah produk budaya Arab. Semua itu merupakan perintah Allah SWT yang termaktub dalam al-Quran dan al-Hadits

Bahkan bisa saja ada oknum tertentu yang sengaja menjadikan Islam Nusantara menjadi sebuah peluang untuk mengajarkan ajaran sesat. Jika memang seperti itu, ada atau tidak adanya penyimpangan atau adanya ajaran sesat tersebut merupakan tanggungan dosa dari masing masing individu. Jangan lah kita mecampuri dosa orang lain, kita hendak member tahu dan menasehati saja, masalah orang tidak mau mendengarkan adalah hak mereka masing masing

Advertisements