Tags

,

NAMA : ANNISA MAULIDYA                                

NIM : 1402045156

KELAS : HUBUNGAN INTERNASIONAL B 2014

TUGAS : PEMIKIRAN & POLITIK ISLAM (ESSAY INDIVIDU)

 

Berdasarkan survey yang kelompok 2 (kelompok saya) lakukan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Unmul terkait dengan tema yang kami angkat yakni “Gaya Hidup Hedonisme”, kami mendapatkan hasil kalau sebagian besar mahasiswa/ mahasiswi yang menjadi narasumber kami disana dapat dikategorikan kedalam tipe modernisme klasik. Hal ini dibuktikan dengan jawaban yang mereka berikan seputar beberapa pertanyaan yang kami susun terkait tema yang diangkat, menunjukkan kalau dalam memandang fenomena seputar gaya hidup hedonisme ini, mereka berpikiran dengan menghargai rasionalitas, merujuk pada HAM, mengikuti model barat namun tetap berpegangan dengan aturan dan batas yang berlaku, dimana beberapa hal diatas adalah ciri-ciri dari tipe modernisme klasik.  

Sementara saya sendiri menyadari dan menempatkan diri dalam memandang isu seputar gaya hidup hedonisme ini, kalau saya adalah tipe modernisme klasik juga. Saya menyadari bahwa sejauh ini kehidupan yang kita jalani di abad milenium, tidak dapat dilepaskan dari pengaruh barat. Banyak hal yang tidak dapat dipungkiri, dibuat menjadi semakin mudah dan terkini dalam berbagai bidang kehidupan. Tidak munafik, saya merasakannya dan jujur sangat menikmatinya. Kecanggihan teknologi bahkan gaya hidup. Rasanya bahkan segala teknologi yang ada sudah menjadi kebutuhan pokok hampir semua manusia.

Terkait beberapa pertanyaan yang disusun oleh kelompok 2 mengenai serba-serbi apa saja yang menandai gaya hidup hedonisme, seperti gadget yang seakan menjadi prioritas bahkan dari kalangan dewasa sampai anak kecil, kemudian fenomena restoran cepat saji yang banyak dipilih semua kalangan daripada warung nasi pinggir jalan, style masa kini yang kadang menyalahi syariat, fenomena kendaraan yang sudah marak diizinkan untuk dipakai anak yang masih dibawah umur, kegiatan berbelanja yang berlebihan untuk kesenangan semata, bahkan fenomena yang selalu hangat dibicarakan yakni free seks dikalangan remaja, saya memiliki pandangan sendiri.

Soal gadget, jujur jika bisa dikatakan saya tidak bisa seharipun lepas dari gadget saya. Bahkan tidur pun benda canggih itu harus ada didekat kepala meskipun hal tersebut saya tahu dapat menyebabkan radiasi. Dizaman ini, gadget atau ponsel benar-benar dibutuhkan dalam menyampaikan atau memperoleh informasi secara cepat dan untuk mengetahui hal yang lainnya. Jadi menurut saya tidak ada salahnya jika zaman sekarang manusia tidak bisa lepas dari gagdet mereka. Itu wajar, itu artinya kualitas hidup kita sudah meningkat dan maju. Kemajuan yang saat ini terjadi akan sangat sayang jika tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk hal yang dapat memudahkan segala urusan hidup. Selama masih pada tindakan yang sewajarnya saja.

Soal restoran cepat saji dan style masa kini, saya rasa hal ini hadir sebagai penyeimbang dan warna-warni kehidupan saja. Semacam sebagai apresiasi untuk diri sendiri lah. Menggunakan pakaian yang trendi, style yang ‘kekinian’, selama yang digunakan pantas atau sopan untuk dilihat orang lain dan nyaman dipakai. Kalau yang kemudian karena mengikuti style hingga jadi menyalahi syariat yang berlaku seperti muslim wanita yang berhijab, itu kembali kepada diri mereka sendiri. Meskipun jika kita ingin memberikan nasihat tentang berhijab yang sesuai syariat, tapi kalo kemudian dia hanya menerimanya sebagai masukan tanpa merubah penampilan, itu haknya. Kita hanya bisa sebatas memberikan nasihat yang baik, dan juga selama itu tidak membawa kerugian kepada diri kita ya silahkan saja. Makanan cepat saji, jujur saya juga penggemar junkfood, tapi saya juga tetap pecinta makanan rumahan. Dalam sebulan saya bisa sekali atau dua kali pergi ke restoran cepat saji. Kalau ini menurut saya sesuai selera masing-masing orang dan keinginan untuk membeli. Ada beberapa orang yang menghindari makan junkfood karena alasan kesehatan meskipun jika mau mereka bisa membelinya, bagi saya ya mereka tidak salah karena makan junkfood terlalu sering juga dapat menimbulkan penyakit karena banyak menggunakan bahan pengawet didalamnya. Tapi ada juga orang selalu makan junkfood, karena mungkin seleranya cocok dengan jenis makanan seperti itu. Semua alasan yang ada dapat dijadikan pembenaran dalam memandang fenomena ini. Karena kalau dikatakan makan junkfood ini sebagai bagian dari gaya hidup hedonisme, saya setengah setuju setengah tidak. Karena dizaman seperti ini, saya rasa hampir sebagian besar orang memiliki kemampuan untuk membeli junkfood, jadi anggapan kalau hanya kalangan kelas atas atau orang berlebihan saja yang bisa membeli junkfood itu salah besar. Selain itu kalau ada segelintir orang yang terus menerus memakan junkfood karena alasan gengsi ya mungkin mereka terlalu terikut arus barat hingga tidak paham bagaimana caranya membuat hidup menjadi seimbang dengan kemajuan yang ada. Akan ada sisi positif dan negatif yang mengikuti setiap tindakan, jadi menurut saya kembali lagi pada keputusan orang yang menjalaninya.

Soal kesenangan berbelanja yang umumnya dilakukan kaum perempuan, saya mengakui kalau saya sangat menyukai belanja. Saya selalu antusias jika diajak mama saya ke pusat perbelanjaan untuk berbelanja. Kalau dari saya, fenomena ini saya rasa wajar. Berbelanja terutama bagi kaum wanita seperti hiburan tersendiri. Melihat aneka barang yang lucu apalagi jika harganya ada diskon, sekali-kali boleh dilakukan. Asalkan kesenangan berbelanja juga diikuti kemampuan keuangan untuk melakukannya dan juga terutama memandang seberapa butuhkah barang itu untuk dibeli. Jika tidak terlalu butuh dan juga misalnya dengan harga yang lumayan mahal saya rasa tidak benar kalo membelinya dengan dipaksakan. Kemudian kesenangan berbelanja juga harus diikuti logika. Jangan hanya berbelanja dengan menghabiskan budget yang mahal hanya untuk membeli merek tanpa memikirkan kualitas barangnya. Meskipun jika dihadapkan dengan kalimat diatas, akan banyak penyangkalan dari yang gemar memburu merek seperti kalimat “Merek kan menentukan kualitas.” atau “Kalau mereknya mahal ya pasti berkualitas” yang jenis kedua jawaban ini cukup banyak saya temukan dari narasumber survey kelompok 2 di Fakultas Kesehatan Masyarakat. Saya berpikiran kalau urusan ini kembali lagi kepada masing-masing orang, hak mereka ingin membeli apa yang mereka mau. Tidak ada salahnya juga untuk sesekali mengikuti gaya hidup kekinian seperti ini asal diikuti kemampuan membeli dan tidak dipaksakan yang nantinya malah akan menyebabkan seseorang jadi melakukan hal-hal yang menyimpang hanya demi menuruti keinginannya semata. Selain itu juga, jika ada uang yang lebih dan sekiranya tidak ada hal yang mendesak dibutuhkan, lebih baik uangnya disimpan saja karena siapa tahu dilain waktu uang itu dibutuhkan untuk sesuatu yang mendesak.

Soal kegiatan berkendara yang marak dilakukan anak dibawah umur, saya kurang setuju dengan hal yang satu ini. Karena belum waktunya untuk dilakukan dan jika dilakukan tanpa pengawasan pula pasti akan menimbulkan resiko yang tidak menyenangkan. Taruhlah, ditilang oleh polisi atau bahkan yang lebih ekstrem adalah kecelakaan yang tidak diharapkan karena cara berkendara yang tidak sesuai aturan. Karena seperti yang sekarang ini sangat banyak sekali terlihat dijalanan, anak-anak dibawah umur menggunakan kendaraan dengan kencang dan tidak terkontrol meskipun dijalanan yang kecil dan sedang padat seperti mendapatkan sebuah euphoria berkendara yang harusnya hanya boleh dilakukan orang dewasa. Tidak menggunakan helm sama sekali, bergoncengan hingga 4 orang diatas 1 motor, serta menggunakan kendaraan yang tidak sesuai standar. Ada juga yang menggunakannya hanya untuk sekedar gaya dan gengsi semata. Namun jika dibawah pengawasan orang tua, serta menggunakannya hanya dalam batas tidak jauh saya rasa cukup memudahkan. Seperti misalnya disuruh membeli sesuatu diwarung yang ada didepang gang rumah. Ya, meskipun tetap saja apapun itu alasannya tidak boleh dilakukan anak dibawah umur jika belum mencapai batas umur yang seharusnya.

Terakhir, mengenai free seks, saya memandangnya juga cukup rasional namun saya juga tidak mau dianggap berpandangan tradisionalis sekali. Mengenai fenomena ini, kalau saya pribadi tidak membenarkan apalagi melakukannya meskipun saya memiliki hubungan dengan laki-laki, kecuali setelah saya menikah nanti. Saya masih tetap berpegang pada agama saya tentang bagaimana dosanya melakukan perbuatan zina ini. Saya masih sangat takut pada murka dan azab Allah bagi para penzina. Sebenarnya semua orang tahu bagaimana dosanya dan konsekuensinya dari melakukan perbuatan ini. Semuanya sudah tertulis jelas di kitab suci agama dan bahkan saat ini banyak penelitian yang menghasilkan tulisan-tulisan tentang bahayanya beberapa penyakit mematikan yang ditimbulkan akibat free seks. Karena agama selalu mengajarkan kebaikan, apabila ada sesuatu yang dilarang, itu berarti memang karena mendatangkan kemudharatan dan hal-hal tidak baik. Tapi kalau kemudian seperti zaman sekarang masih saja banyak kalangan terutama remaja yang melakukannya, itu sudah menjadi keputusan mereka masing-masing dengan pengetahuan yang dimiliki. Mereka yang berbuat, mereka yang mendapatkan kesenangan dan kenikmatannya, dan juga mereka yang harus menanggung akibatnya yang terjadi dikemudian hari. Saya sendiri memilih untuk tidak berkomentar apabila fenomena free seks ini dilakukan teman disekitar saya. Bukannya tidak peduli, tapi dari pengalaman yang saya lalui, alih-alih menerima nasihat, bahkan saya justru dianggap ‘sok suci’ mengurusi perbuatan orang lain sementara perbuatan sendiri saja belum sepenuhnya baik. Jadi mereka yang melakukannya, pasti memiliki pikiran, memiliki logika, yang kalau digunakan sebaik-baiknya tidak akan melakukan hal itu karena mengerti tidak hanya akan mendatangan dosa tapi juga mendatangankan masalah serius dari segi kesehatannya, sekalipun seperti yang kini ramai jadi kontroversi tentang penggunaan alat kontrasepsi, itu tidak bisa 100% menjamin.

Jadi, penjabaran diatas merupakan tuangan dari hasil pikiran saya dalam memandang beberapa hal yang melekat dengan label gaya hidup hedonisme. Saya merasa kalau dalam menjawab semua fenomena yang ada saya menggunakan rasionalitas, menghargai HAM yang ada pada orang lain yang melakukannya, memang mengikuti gaya hidup barat namun untuk pribadi saya sendiri saya masih berpegang teguh pada nilai-nilai dan larangan agama tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam hidup saya.

Advertisements