Tags

, ,

NAMA            : JOKO PERMONO

NIM                : 1402045051

 

TUGAS UJIAN TENGAH SEMESTER INDIVIDU

JEPANG DI MATAKU

“DUNIA PERFILMAN JEPANG”

 

            Jepang adalah salah satu negara maju di dunia dan merupakan salah satu dari macan asia selain Korea Selatan dan Tiongkok. Jepang sejak dulu sudah cukup superior di dunia internasional melalui armada militernya dan juga mampu mengalahkan Uni Soviet pada perang dunia. Selain di bidang militer Jepang juga sangat superior di bidang ekonomi dan teknologi bersaing dengan negara-negara maju lainnya. Kemajuan teknologi jepang berimbas hingga keseluruh elemen dari kegiatan militer, pergerakkan ekonomi, hingga industri dunia hiburan yang akan saya bahas lebih lanjut.

            Teknologi dalam dunia hiburan di Jepang sangat berpengaruh besar terutama dalam penyebarannya ke seluruh dunia yang dimana hampir seluruh negara terdapat produk-produk hiburan seperti film, mainan, bahkan lagu-lagu dari Jepang. Namun, yang akan saya bahas secara spesifik kali ini d adalah dunia perfilman Jepang. Jepang sangat dikenal dengan film-film animasi dan film dewasanya yang di sana menjadi hal yang legal. Film animasi Jepang khususnya entah itu film layar lebar atau pun serial TV, film dari Jepang sangat maju bahkan tidak kalah bersaing dengan film animasi produk Amerika Serikat yang sudah lebih dulu mengembangkan film-filmnya. Film-film animasi maupun live action Jepang juga memiliki penggemar yang tak sedikit dan tersebar di seluruh Dunia. Hal ini lah yang membuat saya tertarik untuk membahas dunia perfilman Jepang.

            Industri perfilman Jepang diawali dengan pemutaran film dengan menggunakan kinetoscope ciptaan Thomas Alva Edison pada tahun 1896. Sejarah produksi film pertama oleh orang Jepang yaitu pada tahun 1898. Film pertama yang dibuat adalah dua film pendek yaitu “Bake Jizo” dan “Shinin no Sosei” yang keduanya merupakan karya Shiro Asano dari Konishiroku yang sekarang dikenal Konica Minolta. Pada saat itulah perfilman mulai diminati oleh para warga Jepang.

Memasuki era film cerita atau film utama yang durasinya menurut Academy of Motion Picture Arts and Sciences dan British Film Institute harus berdurasi minimal 40 menit atau lebih. Jepang pada saat itu memiliki film cerita pertamanya dengan judul “Shiobara Tasuke Ichidaiki” pada tahun 1912 yang disutradarai oleh Shozo Makino dan ini merupakan film cerita pertama di Asia. Pada saat itu film-film di dunia masih bersifat film bisu, namun di Jepang bisa dibilang mereka tidak mengenal film bisu, karena di Jepang sebuah pemutaran film di bioskop akan ada pembicara yang tampil secara langsung di bioskop untuk menyampaikan rangkaian cerita dan menyuarakan dialog sewaktu film bisu diputar, pembicara ini disebut Katsudo Benshi. Kehadiran Katsudo Benshi ini sedikit banyak mempengaruhi jumlah penonton yang hadir pada suatu bioskop karena pemilihan kata-kata dan cara bercerita yang berbeda dari seorang Benshi. Hal ini juga menjadikan para penonton film lebih memilih bioskop berdasarkan Benshi yang tampil bukan berdasarkan film apa yang diputar seperti saat ini dan tak sedikit dari para penonton datang untuk menonton film untuk mendengar gaya sang Benshi bercerita.

Pada genre Animasi atau biasa dikenal di Jepang sebagai Anime, film pertama yang masuk ke layar lebar adalah film “Hakujaden” pada tahun 1958 dan film ini juga merupakan film utama animasi berwarna pertama di Jepang. Film yang bertemakan fantasi ini disutradarai oleh  Taiji Yabushita dan Kazuhiko Okabe dalam film ini pun dirilis ulang di AS pada tahun 1961 dengan judul “Panda and the Magic Serpent”.

Film Jepang mengalami banyak perkembangan hingga saat ini karena semakin majunya teknologi pendukung pembuatan film seperti film animasi jepang kini yang menggunakan CG (Computer Generated) yang membuat kulitas gambar terlihat lebih jelas dan presisi dibanding dengan gambaran tangan, namun hal ini membuat nilai-nilai seni dari film animasi sedikit berkurang. Untuk film live action Jepang juga memiliki banyak kemajuan karena tak sedikit judul-judul film jepang yang terkenal ke seluruh dunia dan bahkan di remake oleh hollywood, seperti contoh film “Godzilla” yang beberapa kali sempat dibuat ulang dan dirilis di Amerika Serikat.

Film Jepang selain banyak dipenuhi sains fiksi dan fantasi, tak sedikit juga film-film Jepang dipengaruhi dengan kebudayaan-kebudayaan terdahulu seperti samurai, shogun, ronin, dan ksatria-ksatria Jepang lainnya. Film bertemakan ksatria-ksatria Jepang ini cukup menarik atensi para penonton film di seluruh dunia hingga tak jarang film-film di dunia khususnya Hollywood mengadopsi tema ini, sebut saja film-film box office seperti “The Last Samurai”, “47 Ronin”, dan juga “Red Sun”. Bukan berarti Jepang tidak memiliki film berkualitas yang bertemakan samurai dan sejenisnya karena ada film-film Jepang yang diakui oleh kalangan luas akan orisinalitas dan teknik-teknik penyampaian cerita yang baik seperti contoh film-film karya Akira Kurosawa seperti “Yojimbo”, “Rashomon” dan “Shichinin no Samurai” atau yang lebih dikenal dengan judul “Seven Samurai” dan film ini pun masuk nominasi oscar yang membuat film-film Jepang khusunya yang bertema ksatria sangat dikenal di seluruh dunia.

Pada film animasi, Jepang mulai dikenal film animasinya melalui Serial TV “Astro Boy” karya Osamu Tezuka yang juga pernah dibuatkan film layar lebarnya pada tahun 2009 dengan judul yang sama. Namun salah satu film animasi Jepang yang paling dikenal dan memiliki rating yang baik dari para penikmat film seluruh dunia adalah film-film animasi produksi dari Studio Ghibli yang juga merupakan studio animasi favorit saya. Studio Ghibli didirikan oleh Hayao Miyazaki dan Isao Takahata dimana kedua orang ini sangat saya kagumi berkat karya-karyanya yang luar biasa. Seperti contoh film “Grave of the Fireflies” yang disutradarai oleh Isao Takahata yang pada waktu itu sempat diputar pada saat festival kebudayaan Jepang di Universitas Mulawarman, film ini mengisahkan perjuangan kakak-beradik dalam bertahan hidup pada zaman perang dunia kedua. Film ini merupakan film dari Studio Ghibli favorit saya karena banyak pesan moral yang dibawa oleh film ini dan juga alur cerita yang melankolis dan penuh drama membuat saya setelah menonton film ini menjadi lebih bersyukur akan hidup yang saya miliki saat ini. Film-film dari Studio Ghibli kebanyakan bergenre fantasi dan selalu membawa pesan-pesan positif dalam setiap filmnya.

Studio Ghibli semakin dikenal berkat kemenangan filmnya yang berjudul “Sen to Chihiro no Kamikakushi” atau lebih dikenal dengan judul “Spirited Away” di ajang Academy Awards pada tahun 2003. Film “Spirited Away” ini menjadi film animasi Jepang pertama yang mendapat oscar dan juga film ini sempat mengalahkan film drama romantis Leonardo Dicaprio dan Kate Winslet yaitu “Titanic” dalam perolehan pendapatan, sehingga menarik minat dari studio animasi raksasa dunia Disney untuk membuat dubbing versi bahasa inggris untuk dirilis di bagian Amerika utara. Karena prestasi dan popularitas dari film ini membuat Studio Ghibli pun meningkat popularitasnya dan menjadi kebanggaan warga Jepang sehingga dibuat Museum Ghibli yang isinya menampilkan replika-replika setting tempat dan karakter dari film-film Studio Ghibli, dan juga museum teknologi dan seni yang menunjukkan teknik-teknik dan alat untuk membuat film animasi. Sayangnya setelah sekian lama menggeluti dunia perfilman salah satu founding father dari Studio Ghibli yaitu Hayao Miyazaki memutuskan untuk pensiun membuat film dan film terakhir yang dibuatnya adalah “Kaze Tachinu” atau dengan judul versi internasionalnya dikenal dengan “The Wind Rises” yang sempat juga didistribusikan dan dibuat versi bahasa Inggrisnnya oleh Disney dengan pengisi suaranya adalah para aktor dan aktris papan atas Hollywood seperti Joseph Gordon Levitt (Inception), Emily Blunt (Sicario), dan Stanley Tucci (The Hunger Games). Sebelum memutuskan pensiun Hayao Miyazaki telah mengantongi dua piala oscar melalui film “Spirited Away” dan juga dari Honorary Award atas dedikasinya di dunia perfilman khususnya pada bidang animasi.

Jepang memiliki segudang sejarah dan legenda-legenda yang mendunia menjadi modal yang bagus buat Jepang untuk memproduksi film-film yang berkualitas dengan memperlihatkan kebudayaan mereka kepada dunia. Selain dengan modal sejarah dan legendanya Jepang juga mampu mengembangkan dunia perfilmannya memelalui genre-genre yang bisa dikatakan tidak memiliki kaitan dengan sejarah-sejarah terdahulu seperti film-film sains fiksinya dan fantasi-fantasi animenya sehingga mampu dikenal luas masyarakat dunia. Tak hanya film-filmnya saja yang mampu go internasional tetapi juga para aktor dan aktris dari Jepang pun banyak yang bermain di film-film Hollywood sebut saja Ken Watanabe yang bermain bersama Leonardo Dicaprio dalam film “Inception” dan aktris Rinko Kikuchi yang berperan sebagai Mako Mori dalam film “Pacific Rim”. Hal ini tidak terlepas dari perilaku warga Jepang yang dikenal disiplin, memiliki rasa tanggung jawab, budaya malu yang tinggi, dan juga penghargaan warga Jepang terhadap nilai-nilai luhur budaya yang turun temurun.

FOTO – FOTO

  • Akira Kurosawa

joko 1

  • Hayao Miyazaki

joko 2

  • Isao Takahata

joko 3

  • Ghibli Museum

joko 4

Advertisements