Tags

,

Nama : Rivaldi

NIM   : 1402045053

Prodi  : Hubungan Internasional Kelas A

Mata Kuliah : Pemikiran Politik Islam

Opini mengenai Sertifikasi Halal Pangan oleh MUI.

Dalam penelitian yang telah Kami lakukan, Saya secara Pribadi menemukan bahwa kecenderungan Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman dalam memandang Sertifikasi Halal Pangan oleh MUI mengarah kepada Tradisionalis. Mereka beranggapan bahwa sudah menjadi peran dan Fungsi Ulama untuk memberikan petunjuk kepada Masyarakat awam dalam berbagai hal, khususnya Pangan itu sendiri. Keterikatan Kuat dengan Pandangan Ulama inilah dapat disimpulkan kecenderungan Pemikiran Tradisionalis pada Mahasiswa Pertanian Universitas Mulawarman.

Indonesia merupakan salah satu Negara yang mewajibkan setiap Produk pangannya diberi Sertifikat halal.  Sertifikat Halal sendiri dimaksudkan sebagai Petunjuk Kepada Umat Muslim dan Umum tentang Pangan yang Halal dan baik. Sebagai Negara yang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia sudah menjadi hal yang wajar Indonesia memberlakukan Sertifikasi Halal Pangan yang diatur didalam Koridor Hukum Islam itu sendiri. Namun, ternyata Pemberian Sertifikasi Halal sendiri terjadi Pro Kontra di Masyarakat. Banyak beranggapan Sertifikasi Halal memang harus dilakukan, tetapi ada juga yang berpendapat Sertifikasi halal pangan tersebut sangat rentan dengan Korupsi dan penyalahgunaan sehingga esensi “Halal” sendiri pun akan menghilang atau memudar. Hingga pada akhirnya Isu ini sering diangkat menajadi topic diskusi di berbagai Media Massa dan Media Sosial. Berangakat dari perdebatan tersebut sekiranya Isu ini bisa diangkat dan diteliti lebih lanjut dengan lingkup Mahasiswa Pertanian yang berada di Universitas Mulawarman.

Halal menurut buku Ensiklopedia Islam Indonesia (1992) berarti tidak dilarang, diizinkan melakukan atau memanfaatkannya. Dalam kaidah Islam  suatu benda dikatakan halal haruslah memenuhi Dua Syarat. Syarat Pertama ialah Zat dari benda tersebut haruslah baik dan tidak bersifat Najiz. Syarat Kedua ialah Cara mendapatkan benda tersebut haruslah dilakukan dengan cara yang baik dan diridhai Allah Swt. Apabila salah satu dari Kedua Syarat tersebut tidak dapat dipenuhi maka Sifat Halal tidak akan tercapai pula. Di dalam aturan Islam banyak Surat dan Ayat Al-Qur’an yang mengatur dan mengharuskan Umat Muslim untuk menggunakan pangan yang Halal, salah satu Surat dan Ayat tersebut ialah Surat Al-Maidah Ayat 88, yang memiliki arti sebagai berikut:

Dan makanlah makan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya “

Di Indonesia pengaturan sertifikasi Halal pangan dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia. Majelis Ulama Indonesia diberikan mandat oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan hal tersebut. Terdapat berbagai Proses yang harus dilakukan untuk mendapatkan Sertifikasi tersebut. Majelis Ulama Indonesia sendiri dibentuk dengan tujuan sebagai pewaris tugas-tugas para Nabi(Warasatul Anbiya), sebagai pemberi fatwa(mufti), sebagai pemimbing dan pelayan umat (Ri’ayat wa khadim al ummah), sebagai gerakan Islah wa al Tajdid dan sebagai penegak amar ma’ruf nahi munkar.

Adanya Pro dan Kontra di Masyarakat pastinya diawali oleh sebuah Pemikiran yang mendasari Pendapat masing- masing Kubu. Dalam pandangan Islam sendiri Pemikiran terbagi menjadi Lima jenis, mereka Ialah Pemikiran Tradisionalis, Pemikiran Revivalis, Pemikiran Modernis Klasik, Pemikiran Neo Revivalis dan Pemikiran Neo Modernis. Pemikiran Tradisionalis memiliki Ciri masih terikat kuat dengan pendapat ulama abad pertengahan, dan menganggap Ijtihad Ulama di Zaman Modern/Kontemporer tidak perlu dilakukan Karena Ulama terdahulu sudah merumuskannya. Pemikiran Revivalis berupaya menghindarkan Islam dari Pemikiran takhayul, Pemikiran Revivalis tidak terkontaminasi oleh pemikiran di luarnya seperti Pemikiran Barat, dan Pemikiran Revivalis sering menekankan pada kembalinya Umat pada Al-Quran dan As-Sunnah. Pemikiran Modernis Klasik memiliki keterbukaan terhadap Pemikiran diluar Islam selama tetap sesuai dan tidak melanggar kaidah Islam. Pemikiran Neo Revivalis lahir dari reaksi Pemikiran Modernisme Klasik yang menganggap Pemikiran Modernis Klasik terlalu terbuka. Terakhir Pada Pemikiran Neo Modernis lahir atas respon pemikiran-pemikiran terdahulu. Para pelaku Pemikiran Neo Modernis menggunakan Pendekatan Filsafat (Hermeneutika) dalam menanggapi suatu Masalah. Pemikiran Neo Modernis berusaha merekonstruksi Pemikiran secara Radikal. Adanya Pola dan jenis Pemikiran tersebut lahir atas Intepretasi-intepretasi para Pemikir Islam terhadap Dinamika-dinamika Kehidupan sesuai zamannya. Perbedaan-perbedaan Pemikiran yang ada ini seharusnyalah menjadi Perbendaharaan Ilmu dalam Perkembangan Islam dan Tidak ada yang Mutlak  salah dalam Pemikiran-pemikiran tersebut.

Secara Pribadi Saya memilih Setuju dengan adanya Sertifikasi Halal pangan oleh Majelis Ulama Indonesia. Saya memilih Setuju dengan alasan bahwa pangan yang belum tersertifikasi Kehalalannya maka akan menimbulkan keraguan untuk mengkonsumsinya. Masalah Kehalalan adalah Masalah krusial bagi Umat Muslim. Pangan yang halal apabila dikonsumsi maka akan berakibat baik bagi tubuh dan akan meraih Ridha Allah Swt, serta akan mendatangkan berkah didalamnya. Sementara segala sesuatu yang Haram apabila memasuki tubuh maka akan berakibat buruk bagi tubuh dan akan mendatangkan Mudharat bagi si Pengkonsumsi. Oleh karena itu Umat Muslim dalam memilih suatu Pangan maka yang diutamakan ialah Kehalalannya terlebih dahulu ketimbang rasa yang terkandung didalam Pangan tersebut. Masalah Halal pada pangan merupakan masalah yang rigid bagi umat Muslim. Mutlaknya Pangan halal bagi umat Muslim tidak akan berubah dari waktu ke waktu. Adanya para Ulama yang bergabung dalam sebuah Wadah Organisasi untuk memberikan petunjuk kepada Masyarakat awam merupakan hal yang baik dan sudah menjadi Fungsi Ulamalah yang melakukan hal tersebut. Adanya indikasi mengenai disalahgunakannya Sertifikasi tersebut memang cukup menganggu bagi niat baik tersebut. Hal tersebut merupakan tantangan dan Masalah bagi kredibilitas Majelis Ulama Indonesia. Untuk mencegah hal tersebut maka sebaiknya Prosedur pemberian sertifikasi Halal pangan harus dipermudah dan dilakukan transparansi serta pengawasan yang ketat.

Jika dikategorikan Pendapat Saya diatas bisa tergolong Tradisionalis dalam memandang Sertifikasi halal pangan oleh Majelis Ulama Indonesia. Mengapa Saya memiliki Pemikiran seperti demikian dalam memandang Masalah sertifikasi halal pangan? Karena Masalah pangan merupakan Hal yang sudah dirumuskan oleh Para Ulama terdahulu dan perumusan tersebut tetap dipakai hingga sekarang. Islam sebagai Agama yang telah disempurnakan Allah Swt, Tuhan semesta Alam telah mengatur semua kehidupan ini beserta dinamika-dinamikanya. Dalam kaidah Islam ada Dinamika Kehidupan yang bersifat rigid yang berarti Solusi dari Dinamika tersebut bersifat Kaku dan tidak dapat dirubah lagi, hal ini bisa berupa Kehalalan, Zakat, Ibadah wajib dan hal-hal yang bersifat prinsip lainnya. Namun Islam bukanlah Agama yang Kaku. Terdapat juga berbagai Dinamika kehidupan yang bersifat luwes, yang berarti Solusi dari Dinamika itu bisa berubah-ubah sesuai kondisi dan Waktu. Hal ini bisa berupa politik, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi,dsb. Saya memiliki pandangan Tradisional dalam hal ini Karena masalah tersebut masuk dalam Prinsip Islam.

Advertisements