Tags

,

Nama : Putri Ayu Lestari

NIM: 1402045170

Mata Kuliah : Pemikiran Politik Islam

Hubungan Internasional (B)

Nama saya Putri Ayu Lestari ,saya biasa dipanggil Putri oleh teman teman saya dan keluarga. Saya lahir di Balikpapan, pada 9 November 1996. Saya adalah anak bungsu dari pasangan Abdul Hamid dan Ispinah. Saya memulai pendidikan sekolah dasar di SDN 002 Balikpapan, kemudian melanjutkannya di SMPN 6 Balikpapan dan di SMAN 2 Balikpapan. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan tahun kedua di Universitas Mulawarman dalam program studi Ilmu Hubungan Internasional.

Pada mata kuliah pemikiran politik islam saya mempelajari tentang 5 tipe pemikiran yaitu Tradisionalis, Revivalis, Modern, Neomodern dan Neo Revivalis. Untuk menganalisis kelima tipe pemikiran ini saya dan teman teman melakukan kegiatan survey dengan mewawancarai 50 mahasiswa di salah satu fakultas di Universitas Mulawarman dan kebetulan kami memilih untuk melakukan wawancara terhadap para mahasiswa di Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Topik wawancara yang kami pilih ialah tentang Feminisme. Kenapa Feminisme ? karena kami menganggap isu Feminisme ini sangat menarik dan dirasa tepat untuk dijadikan objek dalam survey yang nantinya akan mengklasifikasikan mahasiwa mahasiwa yang telah diwawancarai di dalam kelima tipe pemikiran yang telah disebutkan sebelumnya. Sebelumnya perlu kita bahas apa sebenarnya feminism itu sendiri. Feminisme berasal dari bahasa latin “femina” , yang artinya memiliki sifat keperempuanan.Yang bisa saya simpulkan adalah feminism merupakan paham yang sangat mengedepankan kesetaraan gender atau persamaan hak hak wanita dan laki-laki dalam segala bidang baik politik, ekonomi, social dan lainnya. Di Indonesia sendiri kita lebih mengenalnya dengan istilah emansipasi wanita. Sejarah feminis di Indonesia telah dimulai pada abad 18 oleh RA Kartini melalui hak yang sama atas bidang pendidikan bagi anak-anak perempuan. Munculnya feminism ini sebagai bentuk semangat untuk membela hak hak perempuan khususnya yang di nilai terlalu di batasi perannya dalam berbagai bidang secara tidak adil, salah satunya dengan berkembangnya budaya patriarki di masyarakat. Pada mulanya para feminis menggunakan isu “hak” dan kesetaraan” perempuan sebagai landasan perjuangannya, tetapi feminisme akhir 1960-an menggunakan istilah “penindasan” dan “kebebasan” dan kemudian feminisme menyatakan dirinya sebagai “gerakan pembebasan perempuan”. Terdapat beberapa jenis kaum feminis. Pertama adalah kaum liberal feminis, lalu kaum Marxis feminis, feminis radikal, feminis teologis dan feminis sosial. Feminisme menganggap bahwa selama ini baik secara teori maupun praktek hubungan internasional hanya menggunakan perspektif maskulin saja. Kaum feminis menginginkan adanya kesetaraan hak bagi perempuan dan laki-laki untuk menjalankan pemerintahan. Bentuk kesetaraan hak tersebut dapat berupa hak untuk berpartisipasi politik yaitu hak memilih dan hak dipilih. Feminism muncul dalam tiga gelombang , yang pertama ialah golongan feminism meuntut ada nya persamaan hak perempuan dan laki laki di bidang politik dan hukum yang pada akhirnya kemudian perempuan diberikahhak untuk mengikuti pemilihan umum pada tahun 1920an, gelombang kedua feminism kemudian merasa bahwa hak di bidang politik dan hukum saja tidak cukup mereka merasa di kehidupan social hak mereka masih dibatasi seperti didalam norma norma dan mereka menggugat institusi pernikahan ,kemudian masuk pada feminism di gelombang ketiga yang lebih menginginkan kesetaraan yang secara luas dalam artian bukan hanya bagi wanita wanita kulit putih kelas menengah yang memang dikenal menjadi pelopor gerakan feminis dan mendominasi ini tetapi juga kepada wanita wanita seluruh dunia dalam berbagai etnis, suku dan warna kulit apapun sehingga tidak ada kesan diskriminasi.

Kegiatan survey yang kami lakukan di Fakultas Kehutanan dapat dikatakan berjalan dengan baik dan lancar meskipun agak susah untuk mencari partisipan untuk di wawancarai dikarenakan jadwal praktikum mereka. Dan ada satu hal yang mengejutkan yaitu dari 50 mahasiswa yang kita wawancarai ternyta mayoritas tidak mengetahui tentang istilah Feminisme dan bahkan banyak yang mengaku baru mendengarnya. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa feminism itu sendiri sebagai perilaku yang lebih ‘kewanitaan’ tetapi kemudian kami memberikan mereka sedikit penjelasan mengenai feminism tersebut. Survey ini kami lakukan dengan memberikan quisioner yang berisi 8 pernyataan ringan tentang kehidupan sehari hari yang akan ditanggapi dengan pilihan setuju, kurang setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju yang disertai garis alasan yang akan menjadi pertimbangan klasifikasi pemikiran mereka ,disamping itu juga kami melakukan wawancara langsung. Mereka kemudian akan masuk ke dalam tipe pemikiran tertentu ketika tanggapan dan alasan mereka terlihat lebih mengarah ke satu tipe pemikiran tertentu. Dan berdasarkan hasil survey tersebut kami mengetahui bahwa tipe pemikiran revivalis, dan modern lah yang mendominasi responden (mahasiswa Fakultas Kehutanan). Mahasiswa yang memilki tipe revivalis beranggapan bahwa memang dalam perkembangan masyarakat sosial sekarang perempuan terkesan dibatasi peran maupun haknya ,oleh karena itu mereka memang merasa perlu ada feminism tetapi jangan sampai paham ini menyalahi nilai nilai islam karena memang perempuan dan laki laki itu berbeda secara kodrati. Sedangkan kelompok modernism sangat terbuka terhadap ide kesetaraan gender ini tetapi mereka juga tidak keluar dari koridor agama islam.

Sedangkan, menurut pendapat pribadi saya mengenai isu feminism ini mungkin bisa dikatakan bahwa saya termasuk tipe modernism. Saya sangat mendukung ide ide seperti demokrasi dan kesetaraan gender. Pola pikir masyarakat yang patriarki tidak seharusnya berkembang karena hal ini sangat terlihat sekali menomor duakan perempuan dalam kehidupan social masyarakat. Perempuan dan laki laki memang dasarnya secara kodrati tidak bisa di samakan dilihat dari segi fungsional ,dan juga sudah jelas ada perbedaan mengenai hukum menurut aurat bagi wanita dan bagi laki laki ,tetapi masalah hak hak social perempuan dan laki laki harusnya tidak dibedakan. Ketidakadilan gender ini merupakan hasil dari proses sosialisasi masyarakat. Mereka sama sama memiliki hak bersuara dan berpendapat dan hak untuk mengikuti pemilihan umum karena sebagai seorang warga negara yang baik hal itu merupakan suatu kewajiban untuk berpartisipasi dalam politik dan juga pemilihan umum sangat mempengaruhi nasib negara itu untuk kedepannya. Dalam mendapatkan pekerjaan pun laki laki dan wanita memilki hak yang sama begitu juga dengan masalah pendidikan. Di dalam Al-Quran pun Allah SWT memerintahkan kita untuk ‘membaca’ yang artinya baik laki laki maupun perempuan belajar dan mendapatkan pendidikan itu hak mereka dan juga belajar merupakan salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah SWT. Sama halnya dalam kehidupan berkeluarga yang merupakan suatu hubungan yang di bangun dengan kasih sayang yang tulus seharusnya menghasilkan kerjasama antar suami dan istri untuk sama sama membangun sebuah hubungan yang berada di jalan Allah SWT dan rumah tangga yang dapat menghasilkan anak anak yang sholeh sholehah juga memberikan kenyamanan bagi semua anggota keluarga. Suami dan istri sama sama memilki tanggung jawab dalam membesarkan dan mendidik anak anak mereka terlepas dari kewajiban suami untuk mencari nafkah dan imam keluarga ,jadi tidak seharusnya istri diberikan tanggung jawab penuh atas anak. Hubungan dengan ayah dan ibu yang baik sangat mempengaruhi psikologis anak nantinya. Dia butuh sosok ayah untuk dijadikan pelindung dan panutan baginya dan butuh kelembutan dari seorang ibu ,jadi keduanya harus seimbang. Islam sendiri pun merupakan agama yang sangat memuliakan perempuan , di hadapan Allah SWT perempuan dan laki laki memiliki derajat yang sama. Jadi paham feminism ini dapat diterima selama kita masih berada dan berpatokan pada ajaran islam dan islam itu sendiri adalah agama yang diturunkan untuk mengatasi ketidakadilan.

Bagaimana islam sendiri memandang isu feminism ini ? Jika dilihat dari sejarahnya ,Islam datang untuk melepaskan perempuan dari perlakuan yang tidak manusiawi dari berbagai kebudayaan manusia. Islam memandang perempuan sebagai makhluk yang mulia dan terhormat, memiliki hak dan kewajiban yang telah di tentukan oleh Allah SWT. Dalam Islam, haram hukumnya menganiaya dan memperbudak perempuan, dan pelakunya akan diberikan siksaan yang pedih. Islam mengembalikan fungsi perempuan sebagai pengemban amanah untuk mengelola alam semesta. Jadi dengan kata lain, gerakan emansipasi perempuan dalam sejarah peradaban manusia sudah dipelopori oleh risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, wanita dalam Islam memiliki peran yang konprehensif dan kesetaraan harkat sebagai hamba Allah serta mengemban amanah yang sama dengan laki-laki. Di dalam Islam dan dijelaskan dalam Al-Quran semua manusia diciptakan untuk tujuan yang sama yaitu menjadi khalifah dibumi dan untuk mengembangkan keterununannya. Kesamaan lain antara perempuan dan laki-laki adalah dalam hal menerima beban taklif (melaksanakan hukum) dan menerima balasannya kelak di kahirat , siapa saja laki-laki maupun perempuan yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka akan masuk surga. Tolok ukur kemuliaan dalah ketakwaan yang diukur secara kualitatif, yaitu sebaik apa-bukan sebanyak apa-seseorang bertakwa kepada Allah SWT. Seruan Allah kepada keduanya sebagai hamba Allah adalah sama yaitu kewajiban menyeru manusia pada Islam, sholat, puasa, zakat, haji, menuntut, saling tolong-menolong berbuat kebaikan, mencegah kemungkaran, berakhlak mulia, larangan berzina, mencuri, dsb. Dalam konteks keluarga, Islam memandang perempuan sebagai pasangan, partner, dan sahabat laki-laki dalam menjalankan tugas mengabdi kepada Allah SWT. Ide-ide feminisme tampaknya cukup menarik tokoh tokoh Muslim , tetapi ada ketidaksesuaian feminisme dengan islam antara lain terkait dengan ide persamaan kedudukan dan hak antara perempuan dengan laki-laki, ide penindasan terhadap perempuan dalam institusi keluarga, metode yang ditempuh untuk menghilangkan penindasan terhadap perempuan, maupun ide-ide feminisme Muslim liberal. Dalam pandangan Islam, ide dasar dan utama yang diperjuangkan oleh feminisme berupa keadilan antara laki-laki dan perempuan dalam wujud kesetaraan kedudukan dan hak antara perempuan dengan laki-laki adalah sesuatu yang tidak benar dan menyalahi kodrat kemanusiaan.

Al-Quran telah menetapkan tugas yang seimbang bagi pria dan wanita. Tugas ini diberikan sesuai dengan fitrah dan kemampuan masing-masing, berdasarkan fitrah alami wanita yang berbeda dengan pria. Oleh karena itu, bukanlah kerendahan bagi wanita dan kelebihan bagi pria, akan tetapi memang fitrah alami bagi keduanya yang menjadi pertimbangan agar segala tugas dapat diemban dengan baik. Kemuliaan perempuan dalam Islam setidaknya bisa kita ketahui dengan bagaimana Islam menempatkan posisi seorang ibu.. Kita hendaknya lebih memahami tentang konsep Islam tentang perempuan. Dalam ajaran Islam telah dijelaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama. Kita harus saling melengkapi, melindungi, dan saling menghargai antara hak dan kewajiban serta perpedaan yang telah diciptakan oleh Allah SWT.

Referensi : Adam Patel, Ismail. 2005. Perempuan, Feminisme, Dan Islam. Jakarta. Pustaka Thariqul Izzah

 

Advertisements