Tags

,

Nama : Nurrin Sofiyah

NIM : 1402045012

Hubungan Internasional-A

 

UTS PEMIKIRAN POLITIK ISLAM

Dalam upaya menjelaskan gradasi pemikiran Islam di setiap zaman, Fazlur Rahman misalnya dengan metode historisnya, membagi perkembangan pemikiran Islam menjadi lima yaitu; tradisionalis, revivalis, modernisme klasik, neo revivalis, dan neo modernis. Berikut penjelasan dari kelima pemikiran tersebut :

  1. Kelompok Tradisionalis : kelompok yang memiliki keterikatan kuat dengan ulama abad pertengahan. Kelompok tradisionalis menganggap pintu idjtihad sudah tertutup, hal ini berkaitan dengan pandangan bahwa ulama-ulama mahzab terdahulu telah merumuskan permasalahan kehidupan secara lengkap. Selain itu, hal ini juga dipengaruhi oleh pandangan mereka yang menganggap bahwa ulama sekarang tidak mampu melakukan ijtihad karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki.
  2. Kelompok Revivalis : pemikiran ini muncul diakibatkan adanya rasa keprihatinan yang dalam mengenai keterpurukan kaum muslimin. Sehingga hadirlah suatu gerakan pembaharuan yang mencoba mengangkat kembali derajat kaum muslimin. Gerakan mereka terutama berusaha menghindarkan umat Islam dari praktek tahayul dan khurofat dengan cara kembali kepada ajaran sumber utama Islam; Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka tidak mendasarkan pembaharuannya kepada konsep-konsep Barat.
  3. Kelompok Modernisme Klasik : kelompok pemikir ini sudah memiliki relasi dengan para pemikir Barat. Selain itu, kaum modernis juga memiliki perluasan isi ijtihad. Sehingga mereka mulai berani mengurai masalah-masalah sosial seperti mengenai demokrasi, kesetaraan pria-wanita, dan pembaharuan pendidikan yang diperoleh dari interaksi dengan dunia Barat. Walaupun begitu, mereka tetap menyandarkan pemikirannya dalam kerangka keislaman
  4. Kelompok Neo-Revivalis : pemikiran ini muncul sebagai respon terhadap pemikiran modernisme klasik (demokrasi dan juga kemajuan pendidikan). Ada tiga hal yang menjadi penolakan kaum neo revivalis terhadap pemikiran kaum modernis yaitu mengenai bunga bank, aurat wanita dan juga keluarga berencana.
  5. Kelompok Neo-Modernis : mencoba merespon pemikir-pemikir kelompok yang terlebih dahulu hadir. Keterkaitan mereka dengan pemikiran Barat begitu kuatnya bahkan mereka begitu tercelup dalam arus westrenisasi. Kelompok ini mencoba merekonstruksi pemikiran Islam secara radikal. Mereka mencoba menawarkan metode baru dalam memaknai Al-Qur’an, yaitu melalui pendekatan-pendekatan filsafat heurmenutika (tafsir).

Untuk mengetahui bagaimana cara pandang/pemikiran para masyarakat ataupun mahasiswa/i pada zaman sekarang dalam memaknai kehidupan era globalisasi. Ibu Unis selaku dosen Pemikiran Politik Islam memberikan tugas berupa wawancara, temanya tidak ditentukan melainkan bebas saja mau bertemakan apa yang jelas tujuan dari wawancara ini agar kita selaku mahasiswa/i dapat membedakan 5 pemikiran tersebut. Agar dapat menjalankan tugas ini kami dibentuk menjadi 10 kelompok yang masing-masing kelompok beranggotakan 6orang/lebih. Kebetulan saya berada di Kelompok 8 yang beranggotakan : Mita, Saya (Nurrin), Qintamani, Nurlita, Versy, dan Irma. Beberapa hari setelah pembagian kelompok, salah satu teman saya yang bernama Qintamani kebetulan sedang menonton acara Hitam Putih yang dibawakan oleh Deddy Corbuzier. Disitu diundang seorang Komikus yang sedang terkenal sebagai Stand Up Comedy dan menjadi Host salah satu acara musik di TV Swasta terkenal. Dia diundang karena telah membuat sebuah tweet (kicauan/status) kontroversial di twitter yang telah menggemparkan dunia maya baik para orang awam maupun para penggemar penyanyi, band western dan k-pop yang berada di Indonesia maupun di Luar Negeri. Dalam sebuah kicauannya, ia menuliskan bahwa dia lebih memilih perempuan yang tidak berkerudung dan pergi ketempat clubbing daripada perempuan berjilbab pergi ke konser dan teriak-teriak menangisi idolanya. Lalu kami sepakat untuk mengambil kasus tersebut dan menjadikan untuk bahan wawancara kelompok kita. Kami memutuskan temanya yaitu “Apakah Hijab sebagai ikon Muslimah menjadi penghalang dalam mengekspresikan diri?”.

Pada tanggal 02 Maret 2016 pukul 09.40 kami bergegas pergi ke Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan sebagai tempat wawancara kami dan mencari 50 narasumber yang mau kita wawancarai. Kami membagi menjadi 2 kelompok agar wawancara ini berjalan dengan lancar. Saya bersama Mita dan Qintamani mengelilingi fakultas tersebut dan berhasil mendapatkan setengah dari target narasumber kita. Versy, Nurlita dan Irma juga telah mendapatkan narasumber dan menjadikan kelompok kami berhasil mendapat 50 narasumber. Kami melakukan wawancara sampai pukul 12.00. Dari hasil wawancara tersebut kami menyimpulkan bahwa pemikiran para mahasiswa/i di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan lebih condong ke Modernisme Klasik karena mereka rata-rata berpendapat bahwa seorang muslimah tidak apa-apa pergi ke konser walaupun dia berjilbab. Dalam statement ini terdapat 19 orang. Selanjutnya terdapat 13 orang yang termasuk dalam kelompok pemikiran Tradisonalis yang berpendapat bahwa sebaiknya sebagai seorang muslimah yang menjalankan perintah Allah swt tidak pantas pergi ke konser dan menangsi seorang idola dan perempuan yang pergi ke clubbing terlebih lagi jika dia seorang muslim tidak pantas pergi ke tempat hiburan malam tersebut karena yang kita tau bahwa disitu adalah termasuk tempat orang-orang banyak melakukan zinah. Terdapat 1 orang yang termasuk dalam pemikiran Revivalis dan 5 orang pemikiran Neo-Revivalis, mereka menyatakan bahwa untuk lebih baik berhijab dan menghindari perbuatan yang menyimpang dari Al-Quran dan sunah dan seharusnya memang wanita itu harus menutup aurat. Dan yang menarik adalah 12 orang yang termasuk dalam pemikiran Neo-Modernis mereka berpendapat bahwa lebih memilih wanita tidak berjilbab dan berpakaian sexy yang pergi clubbing karena menurutnya wanita tersebut dapat menempatkan dirinya dengan situasi dibandingkan wanita berjilbab yang jingkrak-jingkrak dan berteriak tidak jelas karena seorang muslimah tidak pantas seperti itu.

Dalam pandangan saya, saya termasuk dalam pemikiran Modernisme Klasik. Ada beberapa alasan mengapa saya berpikir seperti itu, karena wanita berjilbab namun pergi ke konser itu wajar saja karena setidaknya dia telah menjalankan perintah Allah swt yang telah dijelaskan dalam Al-Quran, QS. Al-Ahzab: 59 yang berbunyi :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya : “Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu & isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah utk dikenal, karena itu mereka tak di ganggu. & Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Akan tetapi, pada zaman sekarang sering kali permasalahan hijab dikaitkan dengan akhlak seseorang. Hingga hampir mencoreng kesucian hijab itu sendiri. Walau sebenarnya Hijab dan Akhlak merupakan dua hal yang sangat berbeda. Menurut saya, antara jilbab dan akhlak adalah 2 hal yang berbeda. Berjilbab adalah murni perintah Allah, wajib untuk wanita muslim yang telah baligh tanpa memandang akhlaknya baik atau buruk, sedangkan akhlak adalah budi pekerti yang tergantung pada pribadi masing-masing. Jika seorang wanita berjilbab melakukan dosa atau pelanggaran, itu bukan karna jilbabnya namun karna akhlaknya. Yang berjilbab belum tentu berakhlak mulia, namun yang berakhlak mulia pasti berjilbab. Sebagai seorang muslimah, jilbab itu hukumnya wajib. Tidak ada tawar-menawar dalam hal ini. Namun, terkadang jilbab dijadikan tolak ukur perilaku seseorang contohnya saja pernyataan seperti ini ”Dia berjilbab, tapi kelakuannya buruk”. Jika ada seorang wanita berjilbab, tapi akhlaknya buruk. Berarti, wanita itu hanya sekedar ‘mengetahui’ belum ‘memahami’. Kita tidak boleh menyalahkan jilbabnya, karna itu kewajiban, cukup pribadinya. Dan yang berjibab itu seharusnya jangan sampai berlebihan dalam mengidolakan seseorang. Karena idola yang benar-benar dan patut dijadikan panutan hidup adalah hanya Nabi Muhammad saw. Jadi bagi para penggemar yang berlebihan sebaiknya kefanatismenya dikurang-kurangi karena sesuatu yang berlebihan itu Allah tidak suka dan perbuatan seperti itu tidak baik untuk diri sendiri.

Advertisements