Tags

,

Nama: Nenoy Hafsari Kabalmay

NIM : 1402045086

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Nama saya Nenoy Hafsari Kabalmay. Saya lahir pada tanggal 17 Mei 1997 di Tual (Maluku Tenggara) dan merupakan anak sulung dari dua bersaudara. Ayah saya almarhum Safari Abduh Kabalmay dan ibu bernama Roslaini Abriningrum. Saya senang mendengarkan musik. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S1 program studi Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik di Universitas Mulawarman Samarinda, Kalimantan Timur.

Kegiatan wawancara ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Pemikiran Politik Islam yang bertujuan untuk memperoleh informasi dari narasumber. Tema yang diangkat oleh kelompok kami adalah “LGBT” (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Saya termasuk ke dalam kelompok 5 bersama Ade Mustika Dewi Bachtiar, melakukan wawancara penelitian Peta Pemikiran Islam kepada mahasiswa/i di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unmul. Sekilas pembagian peta pemikiran Islam yang bersumber dari internet (source from google).

  1. Tradisionalis; pemikiran Islam tradisionalis punya keterikatan kuat dengan ulama abad pertengahan. Perilaku yang cenderung mengkultuskan ulama-ulama mazhab terdahulu, percaya bahwa fatwa hukum Islam sudah lengkap oleh ulama mazhab terdahulu; menganggap pintu ijtihad sudah tertutup karena tidak percaya dengan ulama zaman sekarang yang melakukan ijtihad, dan menggunakan qiyas untuk menyelesaikan permasalahan yang baru.
  2. Revivalis; pemikiran Islam revivalis berfokus pada isu-isu sosial kemasyarakatan, perilaku pemikirnya dapat terlihat dari mereka yang sangat anti tahayul dan khurofat, mereka selalu mendasarkan tindakan dan pemikirannya pada Al-Qur’an dan Sunnah, kemudian mereka juga menolak konsep dan pengaruh Barat dalam melakukan pembaharuan.
  3. Modern Klasik; pemikiran islam modern klasik sangat terbuka dan terpengaruh dengan konsep pemikiran Barat dalam melakukan pembaharuan islam, terbukti dengan terbukanya pintu ijtihad terhadap hal-hal baru seperti demokrasi, HAM, kesetaraan gender, dll. Namun kesemua hal ini tetap mengacu pada kerangka dasar islam.
  4. Neo-Revivalis; kebalikan dari pemikiran modern klasik, neo-revivalis menentang pengaruh pemikiran Barat, terutama yang berkaitan dengan : bunga bank, aurat wanita, dan KB. Namun hubungan kedua pemikiran ini tidak selalunya berkonotasi negatif.
  5. Neo-Modernis; bisa dikatakan hampir sama dengan pemikiran barat itu sendiri karena pengaruh pemikiran barat yang sangat dominan dalam pemikiran neo-modernis, seperti halnya merekonstruksi pemikiran islam secara radikal, menawarkan berbagai macam metode baru dalam memaknai Al Qur’an, yaitu melalui pendekatan-pendakatan filsafat yang lebih sering melencang dari syariat islam itu sendiri, karenanya selalu menghasilkan pendapat yang kontroversial dengan tradisionalis dan revivalis.

Wawancara ini dilakukan untuk dapat menggali pengetahuan mahasiswa tentang tema LGBT serta meningkatkan awareness kepada mahasiswa/i mengenai isu terkait yang sedang marak. Jumlah responden mahasiswa yang diambil sebagai sampel penelitian wawacara sebanyak 26 orang mahasiswa/i FKIP Unmul dengan teknik pengambilan sampel secara random sampling. Metode penelitian dilakukan dengan wawancara, yaitu mengajukan pertanyaan-pertanyaan langsung kepada responden. Berikut daftar pertanyaan yang alhamdulillah kami buat sendiri:

  1. Sebagai seorang Muslim menurut Anda apa definisi agama Islam?
  2. Mengapa Anda beragama Islam?
  3. Menurut Anda apa itu Hak Asasi Manusia (HAM)?
  4. Menurut Anda HAM itu ada batasannya atau tidak?
  5. Menurut Anda apakah syariat Islam itu mengekang atau tidak?
  6. Menurut Anda apa definisi “LGBT”?
  7. Apa Anda setuju dengan LGBT?
  8. Menurut Anda apa pengaruh LGBT terhadap generasi penerus bangsa?
  9. Menurut Anda bagaimana seharusnya sikap pemerintah dalam merespon isu LGBT?
  10. Menurut Anda bagaimana seharusnya sikap mahasiswa dalam merespon isu LGBT?

Dari kesepuluh pertanyaaan tersebut, setiap responden penelitian memberikan jawaban-jawaban yang variatif. Jawaban-jawaban ini yang kemudian kami teliti dengan menggunakan peta pemikiran Islam sebagai indikator. Berikut hasil penelitian kami serta penggolongannya:

  1. Tradisionalis memandang LGBT sebagi sebuah penyimpangan dari syariat Islam dan kodrat yang telah ada. Kemudian menurut pemikir tradisionalis ini, hak asasi manusia (HAM) adalah hak yang ada melekat pada diri manusia sejak lahir, dengan keseimbangan dalam hak dan kewajiban sebagai batasan-batasannya. Sesuai dengan peta pemikiran Islam, orang-orang berpemikiran tradisionalis berpegang teguh pada aturan dan syariat terdahulu dan tidak terbuka akan ijtihad-ijtihad baru.
  2. Kemudian revivalis memandang LGBT sebagai tindakan terlaknat serta tidak sesuai dengan pedoman di dalam Al-Qur’an dan hadits. Lebih lanjut, menurut pemikir revivalis LGBT harus diberantas sebab mengingkari perintah Allah SWT. Kemudian hak asasi manusia (HAM) diartikan sebagai hak setiap manusia dengan berpedoman pada Al-Qur’an dan hadits, serta hak yang diridhai oleh Allah SWT. Sesuai peta pemikiran Islam, revivalis kembali kepada ajaran sumber utama Islam; Al-Qur’an dan Sunnah.
  3. Ada pula pemikir modernisme klasik yang memandang LGBT dapat dibenahi dengan undang-undang anti LGBT serta turun tangan pemerintah dan masyarakat. Hak asasi manusia (HAM) terletak pada kesadaran setiap individu dalam menjalaninya. Pemikir Islam ini terpengaruh pemikiran barat. Walaupun begitu, mereka tetap menyandarkan pemikirannya dalam kerangka keislaman.
  4. Berikut neo-revivalis mendefinisikan LGBT sebagai perilaku menyimpang yang menyalahi kodrat manusia. Pendidikan agama Islam sangat penting sebagai pedoman berhidupan. Hak asasi manusia dibatasi dengan nilai-nilai agama Islam.
  5. Kontras dengan neo-modernis yang memandang LGBT sebagai perbuatan yang biasa/wajar, keterikatan dengan pemikiran Barat begitu kuatnya menarik mereka ke dalam arus westrenisasi. Dikatakan neo-modernis mencoba merekonstruksi pemikiran Islam secara radikal; contoh agama Islam yang diperoleh berdasarkan keturunan dibiarkan begitu saja, tidak dieskplor lebih dalam untuk keyakinan diri.

Jumlah keseluruhan dari hasil yang kami dapat dari menggolongkan responden-responden tersebut ke dalam 5 peta pemikiran Islam. Dari 26 responden mahasiswa/i Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unmul Kampus Gunung Kelua terdapat sebanyak:

8 responden tradisionalis;

7 responden revivalis;

5 responden modernisme klasik;

1 responden neo-revivalis; dan

5 responden neo-modernis.

Dari hasil tersebut saya dan rekan selaku pewawancara menyimpulkan bahwa banyak responden mahasiswa/i Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unmul Kampus Gunung Kelua memiliki pemikiran Islam tradisionalis, begitu juga dengan pemikiran Islam revivalis. Banyak responden mahasiswa/i FKIP Kampus Gunung Kelua menyatakan bahwa Islam sebagai agama yang paling benar dan sempurna. Saat diajukan pertanyaan tentang LGBT, banyak yang menentang termasuk para pemikir tradisionalis dan revivalis. Begitu Beberapa mahasiswa/i berpemikiran modernis. Mahasiswa dengan pemikiran Islam neo-revivalis sangat jarang ditemukan. Namun, tidak sedikit juga mahasiswa/i pemikir neo-modernisme.

Kelompok kami mengangkat tema LGBT karena topiknya yang cukup sensitif dari sisi agama. Isu-isu LGBT juga tengah beredar di masyarakat Indonesia yang tentunya menentukan pro dan kontra. Selain itu juga memberi awareness juga kepada mahasiswa/i. Saya ingin sedikit berbagi pengalaman selama wawancara yang mengambil tempat di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Kampus Gunung Kelua ini. Terdapat dua responden mahasiswa FKIP Kampus Gunung Kelua yang jawabannya menarik bagi saya dan ingin saya share di dalam laporan ini. Kedua responden mahasiswa tersebut adalah Rizky Ramadhan (NIM 1305085139) dan Indra Yudistira (NIM 1305025009). Rizky adalah mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris sedangkan Indra mahasiswa prodi Pend. Kimia. Berdasarkan penelitian yang saya lakukan dengan indikator peta pemikiran Islam, keduanya merupakan pemikir neo-modernisme dan neo-revivalis. Kontras dan menarik, bukan? Rizky si neo-modernisme mendefinisikan LGBT sebagai mereka yang meminta kesetaraan hak asasi manusia-nya. Kaum LGBT ini galau akan identitas diri mereka dan terjebak di dalam pikiran mereka sendiri. Lebih lanjut, Rizky sendiri setuju dengan LGBT karena hak asasi manusia yang menurutnya ialah penyetaraan antara setiap manusia. Kemudian Indra sang neo-revivalis mendefinisikan LGBT sebagai perilaku menyimpang yang menyalahi kodrat. Mereka adalah orang-orang dengan pengetahuan agama yang kurang, tetapi membawa-bawa hak asasi manusia untuk meyampaikan identitasnya. Lebih lanjut, Indra sangat menyarankan penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dalam kurun waktu 2 minggu, kami kelompok 5 dapat menyimpulkan bahwa saat ini, banyak mahasiswa/i FKIP yang telah memiliki pandangan hidup sekuler, dapat dilihat dari jawaban-jawaban yang menunjukkan dominasi pemikiran barat. Namun, alhamdulillah lebih banyak mahasiswa/i yang masih menanamkan pemikiran-pemikiran yang berdasarkan syari’at agama Islam, Al-Qur’an dan hadits. Dari penelitian inilah kita dapat mengukur sejauh mana pemikiran Islam yang dimiliki oleh individu dengan pemikiran yang mendominasinya selama ini. Dengan terlaksananya kegiatan wawancara ini, saya dengan teman-teman berharap telah menyelasikan tugas Pemikiran Politik Islam dengan baik, serta semoga hasil penelitian yang kami berikan dapat bermanfaat bagi kita semua. Mohon maaf atas segala kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja, akhirul kalam, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Advertisements