Tags

,

NAMA : Muhammad Yamin

NIM : 1402045085

HUBUNGAN INTERNASIONAL B

PEMIKIRAN POLITIK ISLAM

Mahasiswa sebagai insan yang berilmu dapat membedakan mana hal yang haq dan batil serta membedakan mana yang baik dan salah, dan menjalankan hukum dan syariat islam sesuai dengan ketentuan dalam ajaran islam, dalam pemikiran politik islam ada beberapa kategori yang dapat di jadikan acuan untuk mengelompokkan dan menentukan jenis pemikiran politk islam seseorang dari kelima kategori yaitu; Tradisional, Revivalis, Modernis, Neo Revivalis dan Neo Modernis dan dari kategori diatas masing-masing memiliki ciri-ciri khusus yang kemudian sebagai acuan pengelompokan Mahasiswa berdasarkan kategori pemikirannya serta kecendrungan –kecendrungan pemikiran politik islam mahasiswa terhadap sebuah kasus, dalam hal ini kami mengangkat tema besar HAM, Dewasa ini HAM menjadi salah satu problematika komplek yang menjadi pertentangan antar kalangan. Banyak pihak yang sependapat dengan konsepsi HAM masa kini dan banyak pula yang tak sependapat mengenai ini. Dalam Islam sendiri HAM sudah diatur dan menjadi bagian dari hukum islam yaitu bermuamalah sesama manusia.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilaksanakan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ( FMIPA) yang mengangkat pertanyaan tentang Pemikiran Politik Islam dalam hal ini mengambil kasus tentang HAM dimana apakah dalam hal ini pelaksaanan HAM dewasa ini tidak melannggar syariat islam ataukah sejalan dengan Pemikiran dan syariat islam, dari hasil wawancara yang kebetulan saya sendiri terjun dan mewawancarai narasumber yang merupakan mahasiswa dan mahasiswi FMIPA secara langsung dimana menurut saya secara pribadi FMIPA merupakan kampus yang agamis kenapa saya berpendapat seperti demikian di sebabkan oleh kuatnya akar organisasi PUSDIMA di lingkungan kampus FMIPA dimana dari tampilan luar mahasiswa dan mahasiswi nya saja sudah sangat agamis terlihat dari mahasiswi FMIPA tidak sedikit yang berjilbab besar dan juga ada beberapa mahasiswi nya juga yang mengenakan cadar dan mayoroitas muslimah disana sudah sadar dan mengenakan hijab dan untuk para mahasiswa beberapa tidak segan atau malu mengenakan baju kokoh sebagai baju untuk kulia alasannya supaya mudah saat solat dan beberapa juga berpendapat supaya mudah saat masuk sholat jum’at tidak perlu pulang kekos, sangat jarang saya pribadi melihat mahasiswa mengenakan baju kokoh yang nota bene merupakan baju sholat dipakai saat kuliah berlangsung dan pemandangan seperti ini juga sangat jarang bahkan langkah melihat hal ini dikampus FISIP, dan ketika masuk bada sholat dzuhur mushollah sangat ramai dan disaat memasuki bada dhuha pun mahasiswa ada saja yang ke mushollah FMIPA.

kembali lagi ke hasil wawancara ada beberapa pertanyaanyang saya ajukan bersama kelompok saya yaitu sebagai berikut :

  1. Apa yang ada pahami tentang HAM?
  2. Bagaimana penerapan HAM itu sendiri di Indonesia?
  3. Menurut anda apakah HAM tidak bertolak belakang dengan Islam?
  4. Bagaimana HAM itu sendiri, apakah menurut anda HAM itu sudah sesuai dengan esensinya saat ini?
  5. Dikatakan penindasan dan pembatasan pers sebagai contoh pelanggaran HAM tetapi dewasa ini malah mengulik privasi orang lain, bagaimana pendapat anda?
  6. Dalam islam hukuman mati diperbolehkan untuk para terdakwa kasus tertentu, dalam hal ini pakah hukuman mati melanggar HAM?
  7. Bagaimana pandangan anda tentang HAM yang diberikan kepada pengedar narkoba dan koruptor?
  8. Dalam islam poligami dianggap hal yang diperbolehkan untuk memiliki 2 3 4 istri, dalam hal ini apakah melanggar HAM?
  9. Bagaimana pandangan anda mengenai LGBT yang mengatasnamakan HAM yang secara jelas hal itu bertentangan dengan agama?
  10. Bagaimana pandangan anda mengenai negara sekuler yang memisahkan antara urusan negara dan agama, apakah menyalahi HAM?
  11. Bagaimana pendapat anda mengenai negara sekuler yang melarang penggunaan/ menunjukan identitas agama di ruang publik, apakah itu melanggar HAM?

Meskipun dari hasil wawancara yang kami lakukan kami dapati bahwa mayoritas mahasiswa FMIPA lebih berpandangan terhadap Neo Revivalis namun juga ada yang berpandangan modernis dan beberapa bahakan bisa dibilang bertolak belakang dengan pemikiran Neo Revivalis dimana saya menyajikan pertanyaan tentang bagaimana penerapan  HAM di Indonesia apakah sudah sesuai, dan sang narasumber berpendapat belum dikarena untuk memilih agama dan menentukan agama orang lain dibatasi oleh pemerintah dan menghukum orang yang melecehkan agama pemerintah terlalu ikut campur, seharusnyakan pemerintah tidak boleh bersikap seperti itu dan kembali saya menanyakan tentang Negara sekuler yang memisahkan antara urusan dunia dan akhirat dimana masyarakatnya tidak boleh menunjukkan identitas agamanya diruang public artinya seorang muslim dan muslimah tidak boleh menunjukkan keislamannya secara terbuka dimuka umum, dan dia berpandangan ini tidak melanggar HAM dan menurut narasumber konsep negara sekuler sangat bagus dimana urusan pemerintahan tidak dicampur adukkan dengan urusan agama seketika saya mengajukan pertanyaan berkenaan dengan hal itu, bagaimana jika anda di posisikan hidup di Negara sekuler dimana anda seorang muslimah dan berhijab seperti sekarang ini kemudian dibatasi dan bahkan dilarang, meski agak ragu namun di tetap menjawab bahwa jikahal itu perlu kenapa tidak dan jika pemerintah melarang mengenakan hijab ya maka saya akan menurut saja, dan beberapa narasumber lainnya juga berpendapat bahwa negara sekuler itu bisa di bilang melanggar HAM dimana disini Negara melanggar HAM masyarakat dalam beragama dan menunjukkan identitas mereka di muka public dan selain itu juga Negara sekuler juga seharusnya tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat dimana dikedua hal itu tidak dapat di pisahkan satu sama lainnya diumpamakan saja jika kita hidup dan berjalan tanpa tujuan dan pedoman maka kita akan tersesat jadi agama disini diumpamakan sebagai pedoman dan tujuan manusia tentu saja tidak dapat dipisahkan, dan mengenai kaum LGBT yang mengatas namakan HAM dapat dikatakan bahwa LGBT bukan termasuk dalam HAM dimana disini sudah jelas bahwa LGBT hanya akan menimbulkan masalah dan perkara baru tentang kemusnahan dan pengurangan populasi manusia serta mengancam eksistensi manusia di dunia yang justru jelas tidak dapat ditolerir, dan saya ajukan pertanyaan mengenai Poligami apakah melanggar HAM sebagian besar mahasiswa menjawab setuju meskipun dari pihak mahasiswa dan mahasiswi mengaku tidak mau melakukannya dikarena belum merasa adil dan satu saja sudah lebih dari cukup,lalu para narasumber di Tanyai mengenai pantas kah hukuman mati terhadap pengedar narkoba dan koruptor kebanya dari mereka menjawab bahwa pantas saja selama sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai pemeberian efek jera terhadap pelaku yang lain sehingga nantinya hal seperti itu terminimalisir dan bahkan hilang.

Dari hasil wawancara yang dilakukan saya secara pribadi merasa bahwa kembali kepada Al-quran dan Hadist sangat penting dimana Al-quran dan Hadist sebagai acuan dan pedoman kita dalam berfikir dan sebagai filter kita dalam menyongsong era globalisasi seperti sekarang ini dimana seperti yang sudah saya pahami dalam mata kuliah pemikiran politik islam perlu bagi saya pribadi mengolah pola pikir menjadi lebih islami dan sedikit banyak pelajaran yang saya dapatkan dari proses penghimpunan hasil wawancara yaitu yang berkesan dari para narasumber yaitu bagaimana pun identitas diri kita yaitu islam tidak dapat dipisahkan karena itulah hakikat diri kita, islam sebagai pedoman yang sama sekali tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, ibarat pelaut berlayar tanpa kompas maka ia akan tersesat dilaut yang luas entah natinya ia akan bertemu dengan badai atau ombak laut yang dapat mengaramkan kapalnya, maka seperti itulah bila kehidupan yang dipisahkan dari agama, dan banyak lagi bahan koreksi bagi saya sendiri dimana   

Sedikit saya memperkenalkan diri saya dalam ringkasan autobiografi ini, nama saya Muhammad Yamin biasa di panggil Yamin saya putra daerah kota Bontang lahir pada tanggal 08 – Mei – 1994 dan sekarang menempuh studi di Universitas Mulawarman Jurusan Ilmu Hubungan Internasional dan sekarang memasuki tahun kedua saya di jurusan ini mengenai kecenderungan pemikiran politik islam saya dapat di kategori cendrung memiliki pemikiran yang mordernis dimana berdasarkan sajian pertanyaan diatas yang paling menonjol yaitu meski saya tidak jauh dari Al-quran dan Hadist namun pemikiran saya dapat dikatakan juga dapat menerima sesuatu hal yang baru namun selama tidak menyimpang dari agama islam itu sendiri serta juga dapat dikatakan bahwa dapat menyesuaikan dengan kondisi global sekarang dan beberapa hal juga dapat menerima pemikiran barat serta tidak menolak sepenuhnya pemikiran barat. Dan menurut pemahaman saya tentang masalah social yang terjadi dilingkungan saya apapun yang orang lain lakuakan asalkan tidak berpengaruh buruk bagi saya dan masyarakat di sekitar. Juga tidak terlalu pusing dengan apa yang orang lain lakuakan dan saya terkadang cendrung individualism.   

Advertisements