Tags

,

Nama : Ferdiansyah

NIM : 1402045068

Prodi Hubungan Internasional A 2014

Mata Kuliah Pemikiran Politik Islam

‘Opini Hasil Penelitian yang dilakukan di Fakultas Pertanian mengenai Sertifikasi Halal Pangan oleh MUI’

Pada hari Senin tanggal 14 Maret 2016 kami melakukan peneletian di Fakultas Pertanian. penelitian kami lakukan dengan metode wawancara, di Fakultas Pertanian kami mewawancarai 50 orang mahasiswa dari Fakultas Pertanian, pada wawancara kami hanya menanyakan kepada narasumber satu pertanyaan yaitu “setuju kah anda dengan sertifikasi halal pangan oleh MUI”.

Indonesia merupakan salah satu negara yang dimana masyarakatnya sekitar 85% beragama Islam (Mayoritas Islam) sehingga pentinglah bagi masyarakat Indonesia yang beragama Islam untuk mengetahui kandungan yang ada didalam makanan yang mereka makan. Hal ini membuat lahirnya suatu lembaga masyarakat yang kita kenal sebagai MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang dibentuk setelah 30 tahun setelah kemerdekaan negara Indonesia yang lebih tepatnya pada 26 Juli 1975 di Jakarta. Majelis Ulama Indonesia sebagai wadah musyawarah para ulama, zu’ama dan cendekiawan muslim berusaha untuk memberikan bimbingan dan tuntunan kepada masyarakat, memberikan nasehat dan fatwa mengenai masalah keagamaan, menjadi penghubung antar ulama dan pemerintah untuk mensukseskan pembangunan nasional.

Di dalam MUI ( Majelis Ulama Indonesia) memiliki bagian yang khusus atau lebih spesifik terhadap kehalalan pangan yaitu LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia) jadi selain memeriksa kehalalan dari suatu makanan LPPOM MUI ini juga memeriksa kehalalan dari kosmetik kosmetik. Jadi LPPOM MUI ini memiliki visi yaitu menjadi lembaga sertifikasi halal yang terpercaya di Indonesia dan juga memberikan ketentraman maupun keamanan bagi masyarakat yang beragama Islam dan memiliki misi diantaranya adalah menetapkan standar halal baik itu dalam bidang pangan maupun kosmetik dan juga menyediakan informasi tentang kehalalan suatu produk dari berbagai aspek secara menyeluruh.

Di dalam kitab suci kita Al-Qur’an juga menjelaskan mengenai makanan-makanan yang baik, sehat dan halal bagi kita, ada beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadist mengenai makanan yang baik :

  1. QS Al Baqarah: 168

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّباً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Artinya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

  1. QS Al Baqarah: 172

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُواْ لِلّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.

Di dalam ayat ini, Allah mengulangi kembali agar memakan makanan yang baik, sebagaimana yang ditegaskan dalam ayat 168. Selanjutnya Allah menyeru agar selalu bersyukur terhadap nikmat-Nya jika benar-benar beribadah dan menghamba kepada-Nya.

  1. QS Al Baqarah: 173

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam ayat 173 Allah menjelaskan jenis-jenis makanan yang diharamkan, yaitu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Laranagan memakan empat jenis itu juga disebutkan dalam surah lainnya. Lihat misalnya, dalam surah Al-An’am: 145 juga al Maidah: 3.

  1. Hadits

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْب. [رواه البخاري ومسلم]

Artinya : “Dari Abu ABdillah Nu’man bin Basyir r.a,”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka, barang siapa yang takut terhadap syubhat, berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa dia adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pendapat saya sendiri mengenai sertifikasi halal pangan yang dilakukan oleh MUI ini sangat penting bagi masyarakat di Indonesia khusunya bagi yang menganut Agama Islam, karena sertifikasi halal ini akan mempermudah, dan tidak membuat masyarakat khawatir akan makanan yang akan dimakannya itu halal atau makanan itu mengandung unsur haram didalamnya, didalam Al-Qur’an dan Hadits juga menyebutkan bahwa makanan yang harus dikonsumsi itu harus terhindar dari beberapa zat yang telah diharamkan contohnya saja daging babi, darah, bangkai dan juga binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, tetapi dewasa ini kita sering melihat baik itu dari media-media maupun melihat langsung bahwa tempat-tempat makan yang berada di Mall- mall besar ini malah menyalah gunakan sertifikasi halal, pernah terdapat kasus bahwa ada tempat makan di suatu Mall itu menggunakan label halal yang palsu dengan kata lain pemilik tempat makan tersebut menempelkan stiker halal sendiri pada tempat makanan yang ia miliki selain itu juga masih ada tempat makan yang berada di Mall-mall itu tidak menggunakan label halal pada tempat makan tersebut sehingga hal ini menjadi tantangan baru bagi MUI khususnya LPPOM MUI untuk mengatasi tempat makan tempat makan yang enggan melakukan sertifikasi halal pada makanan yang mereka gunakan menurut saya yang menjadi alasan bagi pemilik tempat makan enggan untuk mensertifikasi halal tempat makan mereka karena mungkin prosesnya yang berbelit belit sehingga para pemilik tempat makan enggan untuk mensertifikasi tempat makan mereka, tetapi menurut saya MUI telah mengatasi masalah ini karena proses untuk mendapatkan sertifikasi halal ini sudah dapat dilakukan secara online dan mempermudah pemilik tempat makan untuk melakukan sertifikasi halal. Apabila masih ada tempat makan yang enggan untuk melakukan sertifikasi menurut saya hal itu kembali kepada pembeli agar lebih teliti dalam memilih tempat untuk makan.

Dan pada saat bertanya kepada beberapa mahasiwa di Fakultas Pertanian yang dimana mereka mau bekerja sama dengan kelompok kami, mayoritas dari jawaban mereka yaitu sertifikasi halal pangan oleh MUI ini sangat penting agar lebih yakin dalam menikmati makan tersebut tanpa takut akan adanya zat haram yang ada dalam makanan tersebut, yang dimana mereka termasuk pemikiran yang tradisionalis yang dimana mereka mengikuti apa yang disampaikan ataupun dilakukan oleh ulama-ulama, dan kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa mahasiswa Fakultas Pertanian lebih dominan ke pemikiran Tradisionalis.

Advertisements