Tags

,

Nama : Fathurrahman

NIM   : 1402045164

Tugas : Pemikiran Politik Islam

Profil Singkat:

Nama saya Fathurrahman, biasa dipanggil Fathur. Saya lahir di Makassar, 06 Maret 1995, saat ini saya sudah berumur 21 tahun. Saya adalah anak terakhir dari 3 bersaudara. Ayah saya bernama Erman Hidayat (Sunda) dan Ibu bernama Rina Rusiana (Banjar). Saya merupakan alumni dari SMAN 1 Amuntai, Kalimantan Selatan. Saat ini saya menempuh pendidikan S1 (semester 4) di program studi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Mulawarman.

Ide “Islam Nusantara” di Indonesia

Mungkin bagi sebagian orang istilah “Islam Nusantara” bukanlah sesuatu hal yang asing lagi, sebab istilah ini sudah ada sejak zaman para wali ketika menyebarkan ajaran Islam di Indonesia melalui pendekatan budaya lokal, sehingga Islam dapat diterima oleh masyarakat Indonesia. Sebenarnya tidak ada yang salah dari istilah atau ide “Islam Nusantara” tersebut, namun akhir-akhir ini yang menjadi perdebatan di kalangan masyarakat Indonesia ialah adanya pro dan kontra dalam memaknai ide “Islam Nusantara”. Hal ini semakin ramai didebatkan semenjak terjadi kasus pembacaan Al-Qur’an dengan menggunakan langgam Jawa pada acara Maulid Nabi Muhammad Saw. 1436 H di Mesjid Istiqlal, akhirnya publik Indonesia mulai ramai disibukkan dengan ide “Islam Nusantara” tersebut. Kalangan yang pro terhadap ide “Islam Nusantara” tersebut mengatakan bahwa sudah seharusnya Indonesia menganut ide “Islam Nusantara” dan sangat berbeda dengan Islam Arab yang cenderung keras dan sering menimbulkan konflik. Ide “Islam Nusantara” adalah Islam yang dapat menyesuaikan dengan kebudayaan lokal. Pendapat seperti ini didukung oleh tokoh-tokoh penting di Indonesia seperti KH Said Aqil Siradj selaku Ketua Umum PBNU dan bahkan Presiden Joko Widodo juga mendukung ide “Islam Nusantara” ini untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat muslim di Indonesia.

Tentu, hal ini menimbulkan reaksi dari kalangan masyarakat yang kontra. Penolakan terhadap ide “Islam Nusantara” ini disebabkan karena adanya kesalahan dalam pola pikir masyarakat Indonesia ketika memaknai ide “Islam Nusantara” ini. Masyarakat awam menafsirkan ide “Islam Nusantara” ini sebagai ajaran Islam yang di “Nusantarakan” atau Islam yang dianut dengan pelaksanaan melalui tata cara yang berlaku di Nusantara. Misalnya seperti mengaji dengan menggunakan langgam Jawa, jilbab merupakan budaya Arab sehingga dapat diganti dengan pakaian adat Nusantara, ucapan “Assalamu’alaikum” adalah budaya Arab sehingga dapat diganti dengan ucapan “Salam Sejahtera”, bacaan sholat dan do’a dapat menggunakan Bahasa Indonesia, dan masih banyak lagi pemaknaan terhadap ide “Islam Nusantara” tersebut.

Berdasarkan permasalahan inilah, kelompok kami tertarik untuk mengangkat tema tentang ide “Islam Nusantara” yang menjadi perdebatan akhir-akhir ini dalam kegiatan survei kami yang dilakukan di Fakultas Hukum Unmul dengan target responden sebanyak 50 mahasiswa. Berdasarkan hasil survei yang kami dapatkan, kami pun melakukan penggolongan ke dalam 5 kelompok pemikiran untuk menentukan apakah kecenderungan pemikiran Mahasiswa Fakultas Hukum Unmul lebih Tradisionalis, Revivalis, Modernisme Klasik, Neo Revivalis, dan Neo Modernis.

Setelah kelompok kami melakukan survei, hasil yang kami dapatkan pun bahwa kebanyakan (50% responden) Mahasiswa Fakultas Hukum Unmul cenderung tergolong ke dalam pemikiran Revivalis, yaitu mereka yang memiliki karakteristik pemikiran yang masih bersandarkan pada Al-Qur’an, Sunnah, dan Al-Hadits. Mereka beranggapan bahwa ide “Islam Nusantara” yang menjadi perdebatan ini sudah menyalahi syariat-syariat Islam yang seharusnya, sehingga mereka tidak setuju dengan adanya ide “Islam Nusantara” tersebut, sebab pada nantinya akan membahayakan umat muslim di Indonesia jika terjadi banyak kesalahpahaman dalam menafsirkan ide “Islam Nusantara” tersebut. Dalam menyikapi permasalahan terkait ide “Islam Nusantara” ini, mereka yang Revivalis tidak menerima konsep pembaruan atau pun konsep-konsep dari Barat. Mereka masih cenderung teguh mempertahankan kebenaran dalam Islam yaitu sesuai dengan ajaran Al-Qur’an, Sunnah, dan Al-Hadits.

Namun, saat kami melakukan survei pun, ternyata terdapat hal unik dari jawaban mahasiswa. Ada yang mengatakan bahwa tidak ada masalah dalam ide “Islam Nusantara” yang sekarang. Memang seharusnya Islam disesuaikan dengan perkembangan zaman, kita tidak harus mengikuti budaya Arab yang mungkin cenderung memaksakan, karena di dalam Islam pun sangat dijunjung toleransi. Maka kehadiran ide “Islam Nusantara” ini pun sangat cocok dengan kehidupan budaya lokal yang ada di Indonesia. Tidak ada masalah jika tidak menggunakan jilbab, mengaji dengan langgam Jawa, Sunda, atau pun langgam yang lainnya, tidak ada masalah terhadap semua hal tersebut. Berdasarkan jawaban dari mahasiswa ini, kelompok kami merasa jawaban mahasiswa tersebut sangat berbeda dengan jawaban dari para responden lainnya. Pikirannya sangat berbeda, padahal ia sendiri adalah seorang muslim yang berjilbab. Dengan argumen seperti ini, kami menggolongkan pemikirannya ke dalam pemikiran Neo-Modernis.

Ada juga yang sangat keras dan menolak adanya “Islam Nusantara” ini, ia beranggapan bahwa “Islam Nusantara” tersebut sudah sangat salah. Sebagai umat muslim, kita harus mengikuti segala ajaran Islam yang telah disyariatkan. Seperti berjilbab, puasa, dan sebagainya. Kita harus mematuhi ajaran Islam yang sesungguhnya . Tidak ada istilah Islam yang dipadukan dengan budaya lokal, Islam hanyalah satu, dan ia tidak bermacam-macam. Islam yang murni ialah Islam yang ada sejak dahulu dan hingga sekarang tidak berubah. Apa yang diajarkan oleh para nabi, rasul, dan ulama terdahulu sudah sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Berdasarkan jawaban mahasiswa ini, kelompok kami merasa pemikiran mahasiswa tersebut tergolong ke dalam pemikiran tradisional. Mahasiswa tersebut sangat fanatik dengan Islam. Ia mempercayai ajaran Islam murni ialah yang sesuai dengan syariat Islam seperti apa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para rasulnya yang terdahulu.

Dalam hal ini, saya pribadi pun memposisikan diri saya sebagai seorang yang Revivalis. Saya masih mempercayai bahwa Islam yang benar adalah Islam yang sesuai dengan syariat-syariat Islam dan tidak menyalahi aturan yang sudah ditetapkan. Adanya konsep baru dalam ide “Islam Nusantara” ini membuat masyarakat Islam salah menafsirkan dan pada akhirnya mengesampingkan syariat-syariat Islam yang ada. Misalnya saja seperti anggapan bahwa jilbab merupakan budaya Arab, sehingga jilbab bukanlah sesuatu yang wajib digunakan bagi kalangan wanita, bahkan jilbab tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi lokal di Indonesia, misalnya dapat diganti dengan pakaian adat atau yang lainnya. Anggapan seperti ini tentu menjadi sangat salah jika pada akhirnya dihubungkan dengan syariat-syariat Islam. Jika kondisi seperti ini terus dibiarkan, maka yang akan terjadi ialah masyarakat muslim di Indonesia akan semakin melupakan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Menurut saya, Islam hanyalah satu, Islam adalah Islam, tidak perlu diberi ‘embel-embel’ Nusantara atau pun istilah lainnya. Karena pada nantinya akan memberikan penafsiran yang salah terhadap Islam itu sendiri. Seperti apa yang terjadi saat ini, kehadiran ide “Islam Nusantara” yang menjadi perdebatan hangat di kalangan umat muslim Indonesia menyebabkan penafsiran yang salah terhadap makna “Islam Nusantara” yang sesungguhnya. Kehadiran istilah atau ide “Islam Nusantara” saat ini pun tidak begitu jelas dari mana asalnya. Walau pun memang, budaya Indonesia berbeda dengan budaya bangsa lainnya, terutama Arab. Namun, bukan berarti kita dapat mengutak-atik istilah Islam, terlebih untuk urusan yang menyangkut ibadah dalam Islam yang sejatinya tidak dapat dirubah-rubah (harus sesuai dengan syariat Islam).

Maka dari itu, pembaharuan dalam konsep Islam ini tidak dapat dibenarkan, apalagi jika konsep Islam ini telah mengandung unsur “kebarat-baratan”. Artinya, sudah terdapat konsep pembaharuan yang pada akhirnya akan menyalahi syariat dalam Islam. “Islam Nusantara” yang diperdebatkan inilah yang merupakan konsep pembaharuan dalam Islam yang tidak dapat dibenarkan. Jika mungkin bagi sebagian orang tidak ada masalah terhadap suatu istilah yang mengatasnamakan Islam, namun bagi saya, hal seperti ini tidak dapat dianggap ‘sepele’. Sebab, Islam adalah agama, maka penambahan istilah akan memberikan makna yang berbeda hingga lebih berbahaya penafsiran yang salah terhadap syariat-syariat Islam yang telah ditetapkan.

Saran dari saya, akan lebih bijak jika kita tetap mengkonsepkan Islam sebagai Islam murni yang berarti Islam yang sesuai dengan syariat Islam dan ajaran-ajaran di dalam Al-Qur’an, Sunnah, dan Al-Hadits. Kita harus dapat membedakan secara jelas, mana yang syariat dalam Islam dan mana yang merupakan budaya (khususnya budaya Arab, sebab kebanyakan masyarakat Indonesia berpikir bahwa Islam yang sesuai syariat ialah Islam Arab). Walau pun sebenarnya pengakulturasian nilai-nilai Islam dengan budaya Indonesia tidak menjadi masalah (selama tidak melanggar syariat Islam), akan tetapi lebih baik dalam memaknai Islam itu tidak perlu diberikan istilah lain semisal Islam Liberal, Islam Nusantara, dan sejenisnya. Sekali lagi saya tekankan, Islam hanyalah satu, Islam adalah Islam yang sesuai dengan syariat yang bersumber pada Al-Qur’an, Sunnah, dan Al-Hadits.

Advertisements