Tags

,

Euisita Gunawan

1402045150

Hubungan Internasional B

LAPORAN INDIVIDU WAWANCARA PEMPOLIS

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, sebelum saya memulai laporan individu penelitian Pemikiran Politik Islam pada mahasiwa dan mahasiswi Universitas Mulawaran saya akan mengawali laporan saya ini dengan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu.

Nama saya Euisita Gunawan, lahir di Surabaya 20 Maret 1998. Saya mahasiswi Hubungan Internasional B mengambil mata kuliah Pemikiran Politik Islam karena bukan hanya karena saya terlahir dan sudah beragama Islam kemudian saya mengambil mata kuliah ini, ketertarikan dan rasa penasaran saya untuk lebih mendalami dan mempelajari Islam membuat saya memutuskan mengambil mata kuliah ini. Kepercayaan saya bahwa agama islam adalah agama yang sempurna dan sangat fleksibel untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari hingga ke dalam dunia politik membuat saya sangat mantap untuk mempelajari mata kuliah ini.

Tugas yang diberikan Bu Unis sebagai dosen pengampuh mata kuliah Pemikiran Politik Islam untuk mewawancarai dan meneliti pemikiran mahasiswa dan mahasiswi Universitas Mulawarman terus terang membuat saya sangat senang, karena gaya belajar dan mengajar yang tidak monoton atau membosankan. Sekaligus memberikan pengalaman yang lucu dan asyik untuk lebih mengetahui pemikiran mahasiswa dan mahasiswi dari Fakultas lain lebih membuka pemikirin saya dan telah memberi saya pengetahuan yang lebih.

Di sini saya adalah anggota kelompok 7, kelompok saya terdiri dari 5 orang dengan Dini Harianti sebagai ketua kelompoknya dan kemudian ada Rusda, Dasiya, Putri, dan yang terakhir saya sendiri. Kelompok kami mendapat tugas untuk mewawancarai dan meniliti pemikiran dari mahasiwa Fakultas Kehutanan dengan tema wawancara yang kami angkat yaitu “feminisme”. Alasan utama kami pada awalnya mengangkat isu feminisme ini karena tentu saja semua anggota kami yang berisikan wanita sehingga membangun rasa penasaran dari kami semua bagaimana pikiran wanita atau mahasiswi lain menghadapi isu feminisme atau kesetaraan gender ini, terlebih lagi dengan Fakultas Kehutanan yang latarnya adalah ipa atau tidak mempelajari ilmu politik atau isu-isu global seperti yang kami pelajari di Hubungan Internasional lebih menguatkan alasan kami mengapa memilih tema ini.

Jumlah mahasiswa yang harus kami teliti adalah 50 orang, mengingat banyaknya mahasiswa yang harus kami teliti dan mengejar waktu yang tidak banyak akhirnya kelompok saya memutuskan untuk membuat quisoner. Namu dengan pertimbangan lagi bahwa mungkin saja jawaban dari quisoner ini akan terlalu singkat dan kurang memuaskan akhirnya saya mengajukan untuk membuat 40 quisioner dan 10 orang wawancara langsung. Di dalam quisoner tersebut kami ajukan 8 pertanyaan tentang wanita atau kesetaraan wanita, kami buka di awal pertanyaan dengan menanyakan apa yang kalian ketahui tentang feminisme, kemudian yang kedua apakah anda setuju dengan feminisme?, selanjutnya diikuti dengan pertanyaan apakah berjilbab merupakan kewajiban bukan pilihan, dan mengapa wanita yang pulang di malam hari biasa dianggap jelek oleh masyarakat?, selanjutnya berhak kah seorang istri ikut menentukan jumlah anak dengan suaminya karena biasanya seorang suami cenderung egois dalam menentukan jumlah anak terhadap istrinya, kemudian apakah seorang wanita harus wajib mengikuti apa yang dikatakan suaminya, lalu wajibkah seorang perempuan menuntut ilmu setinggi-tingginya, dan yang terakhir setuju kah mereka dengan peraturan bahwa wanita juga berhak bekerja di DPR sehingga peraturan kuota wanita di DPR hanya 30% harus dihapuskan?.

Wawancara di hari pertama pun kami lakukan, saya dan teman-teman saya berangkat ke Fakultas Kehutanan sehabis perkuliahan sekitar jam 15:00. Kami mulai masuk dan mencari mahasiswa yang dapat kami berikan quoisoner, jujur saja pada hari itu kami sangat optimis melakukan penelitian dengan quisoner ini karena tentu saja ini akan lebih mudah daripada wawancara. Sehingga mahasiswa yang malu atau tidak dapat mengungkapkan pikiran mereka secara langsung akan lebih mudah menuangkan pikiran mereka di quisoner ini, namun kenyataan yang saya dan kelompok saya hadapi adalah potret Fakultas Kehutanan yang sangat amat sepi. Entah apa karena jam yang sudah menunjukkan pukul 15:00 sehingga menyebabkan Fakultas ini sepi atau memang karena mahasiswa disini sedikit. Setelah kami mencari-cari mahasiswa akhirnya kami menemukan beberapa mahasiswi yang dapat kami berikan quisoner, namun setelah kami memberikan quisoner ini alangkah terkejutnya saya dan kelompok saya karena mereka tiba-tiba bertanya kepada kami “mba, feminisme ini yang pake baju kaya cewe-cewe itu kan?”. Tiba-tiba saya dan kelompok saya hening dan saling bertukar pandang, ternyata ekspektasi saya dan kelompok saya melenceng cukup jauh. Mahasiswa dan mahasiwi di Fakultas kehutanan  ternyata tidak cukup familiar dengan isu “feminisme” sehingga kami harus menjelaskan secara pelan dan singkat bahwa feminisme ini bukanlah wanita yang berpakaian girly atau yang mungkin mereka maksud dengan feminim, jadi saya dan kelompok saya harus menjelaskan dengan pelan bahwa “feminisme” ini adalah sebuah ide atau paham yang dilakukan untuk menuntut kesetaraan gender, bahwa wanita pada perkembangan zamannya ingin memiliki hak yang sama dengan pria. Kemudian setelah kami jelaskan beberapa dari mereka baru mengetahuinya atau malah bahkan baru mendengar istilah ini, tidak sampai disini bahkan ada beberapa mahasiswi yang bertanya dengan nada agak kesal dan kasar “hah feminisme? Apa itu feminisme? Kok saya baru tau?”. Jujur saja wawancara yang kami lakukan disini sangat amatlah tidak mudah, karena tidak semua dari mereka menyambut hangat kedatangan kami, bahkan ada beberapa dari mereka yang lebih memilih untuk tidak menjawab quisoner ini atau ada beberapa dari mereka lebih memilih menghindar dari kami. Terus terang saja, dengan hasil yang kami dapatkan di hari pertama kami wawancara cukup membuat kami pesimis untuk melakukan penelitian selanjutnya. Terlebih lagi untuk menemukan kuota 50 orang tersebut, namun saya dan teman saya tidak mudah menyerah. Saya dan teman-teman saya tetap melanjutkan penelitian ini di hari esoknya lagi, sebelum kami pulang pada hari itu kami memutuskan untuk membaca jawaban dari beberapa orang yang telah kami beri quisoner tadi. Saat kami membaca jawaban mereka, jawaban yang saya dan kelompok saya dapatkan sungguh mengejutkan. Karena hampir semua dari mereka tidak mengerti apa itu feminisme dan jawaban untuk pertanyaan lain pun cenderung tidak sinkron seperti contohnya mereka memberikan statment setuju namun alasan yang mereke berikan cenderung ke arah tidak setuju, begitu juga sebaliknya ada beberapa dari mereka yang memberikan statment tidak setuju namun alasannya cenderung ke arah setuju.

Sampai ke hari berikutnya kami melakukan wawancara pun jawaban yang kami dapatkan semakin beragam, semakin unik, dan semakin banyak yang tidak jelas. Sehingga dari beberapa jawaban mereka saya simpulkan bahwa mereka sebenarnya tidak mengerti kemudian menyebabkan akar pikiran mereka itu berbeda dengan tindakan yang mereka lakukan sehingga dari pemikiran, lisan, dan tindakan mereka banyak yang tidak sinkron atau berkesinambungan.

Untuk mengukur arah pemikiran mereka ada 5 dasar pemikiran yaitu:

Tradisionalis adalah tipe pemikiran yang sifatnya tertutup atau tidak menerima pemikiran, pendapat, atau saran yang di luar konteks Al-Quran dan Sunnah. Islam Tradsionalis menganggap semua hal yang ada hubungannya dengan agama sebagai ajaran yang harus di pertahankan, dan mereka memahami ayat-ayat Al-Quran secara tekstualis yang artinya tanpa melihat latar belakang serta situasi social yang menyebabkan ayat-ayat Al-Quran tersebut diturunkan, akibatnya jangkauan pemakaian ayat sangat terbatas pada kasus-kasus tertentu Revivalis adalah tipe pemikiran yang berfokus pada kehidupan social dan umat islam. Sifatnya anti konsep barat serta anti terhadap praktik takhayul. Tipe pemikiran ini lebih mengedepankan penalaran dan ijtihad.

Modernism menawarkan konsep pembaruan islam, mereka cukup fleksibel dengan ide ide selama masih sejalan dengan pemikiran islam atau tidak bertentangan.

Neo revivalis adalah tipe pemikiran yang menolak ide-ide barat terutama mengenai bunga bank, aurat wanita, dan keluarga berencana. Pemikiran ini bersikap memproklamasikan tatanan dunia baru yakni tatanan yang dipercaya sebagai tatanan Tuhan dengan menerapkan syariat-syariat islam serta menolak semua ide-ide.

Neo modernis adalah tipe pemikiran yang sangat mengarah ke barat. Pemikiran ini mengkonstruksikan pemikiran islam secara radikal dan  menawarkan metode baru dalam memaknai Al-Quran  sehingga memunculkan pendapat yang kontra dengan pemikiran tradisional dan revivalis.

Survey ini kami lakukan dengan membuat 8 pernyataan yang berkaitan dengan feminisme yang  masing-masingnya mewakili tipe pemikiran yang akan ditanggapi dengan pilihan setuju, kurang setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju yang disertai garis alasan yang akan menjadi pertimbangan klasifikasi pemikiran responden tersebut. responden akan masuk ke dalam tipe pemikiran tertentu ketika tanggapan dan alasan responden tersebut dominan ke satu tipe pemikiran tertentu. Contoh  5 dari 8 pernyataan ditanggapi oleh responden pertama dengan menggunakan pemikiran tipe tradisional maka kami  akan mengelompokkan responden tersebut sebagai mahasiswa tipe pemikiran tradisional.

Dan berdasarkan hasil survey tersebut tipe pemikiran tradisional, revivalis, dan modern lah yang mendominasi responden (mahasiswa Fakultas Kehutanan).

Kesimpulan kami dalam survey ini adalah mahasiswa di Fakultas Kehutanan masih menjungjung tinggi nilai-nilai islam namun tetap tidak menutup kemungkinan untuk menerima ide-ide baru seperti kesataraan gender ini selama tidak merusak atau bersinggungan dengan nilai-nilai prinsip yang terkandung dalam agama islam. Serta tidak ada pemikiran yang menjurus ke hal-hal yang radikal seperti ingin menerapkan ajaran islam ke semua orang di dunia yang merupakan ciri-ciri pemikiran neo-revivalis dan merombak ajaran agama islam agar sejalan dengan globalisasi sehingga menyalahi aturan agama islam. Hal tersebut terbukti dari hasil survey diatas yang menggambarkan bahwa tidak ada pemikiran tertentu yang jauh mendominasi dari pemikiran lain dan presentasi 0% untuk tipe pemikiran neo revivalis dan neo modern.

Advertisements