Tags

,

Ade Mustika Dewi Bachtiar

1402045132

HI B 

Laporan Individu Pemetaan Pemikiran Politik Islam

Assalamu’alaikum Wr, Wb. Nama saya Ade Mustika Dewi Bachtiar. Nama panggilan saya adalah Ade. Saya lahir di Kota Tarakan, 7 April 1996. Saya anak bungsu dari 5 bersaudara. Ayah saya bernama Syeh Subakir Bachtiar dan ibu saya bernama Tukiyah. Saya mahasiswa aktif strata I program studi Hubungan Internasional di Universitas Mulawarman. Saya suka mendengarkan musik dan bermain badminton. Saya berasal dari kelompok 5 yang terdiri dari 5 orang anggota. Kelompok saya melakukan wawancara Penelitian Pemetaan Pemikiran Politik Islam di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dengan tema wawancara “LGBT dan HAM”.

LGBT seperti yang kita ketahui sendiri adalah nama yang dipakai untuk gerakan emansipasi di kalangan non-heteroseksual. Istilah itu berasal dari singkatan bagi lesbian, gay, biseksual dan transgender/transeksual, untuk menunjukkan gabungan dari kalangan minoritas dalam hal seksualitas. HAM (Hak Asasi Manusia) adalah prinsip-prinsip moral atau norma-norma, yang menggambarkan standar tertentu dari perilaku manusia, dan dilindungi secara teratur sebagai hak-hak hukum dalam hukum kota dan internasional. Melalui kegiatan wawancara penelitian ini, kelompok saya melakukan wawancara dengan tema LGBT dan HAM dikarenakan keduanya saling berkaitan erat.

Peta pemikiran politik islam terbagi menjadi lima, antara lain :

  1. Tradisionalis; pemikiran Islam tradisionalis punya keterikatan kuat dengan ulama abad pertengahan. Perilaku yang cenderung mengkultuskan ulama-ulama mazhab terdahulu, percaya bahwa fatwa hukum Islam sudah lengkap oleh ulama mazhab terdahulu; menganggap pintu ijtihad sudah tertutup karena tidak percaya dengan ulama zaman sekarang yang melakukan ijtihad, dan menggunakan qiyas untuk menyelesaikan permasalahan yang baru.
  2. Revivalis; pemikiran Islam revivalis berfokus pada isu-isu sosial kemasyarakatan, perilaku pemikirnya dapat terlihat dari mereka yang sangat anti tahayul dan khurofat, mereka selalu mendasarkan tindakan dan pemikirannya pada Al-Qur’an dan Sunnah, kemudian mereka juga menolak konsep dan pengaruh Barat dalam melakukan pembaharuan.
  3. Modern Klasik; pemikiran islam modern klasik sangat terbuka dan terpengaruh dengan konsep pemikiran Barat dalam melakukan pembaharuan islam, terbukti dengan terbukanya pintu ijtihad terhadap hal-hal baru seperti demokrasi, HAM, kesetaraan gender, dll. Namun kesemua hal ini tetap mengacu pada kerangka dasar islam.
  4. Neo-Revivalis; kebalikan dari pemikiran modern klasik, neo-revivalis menentang pengaruh pemikiran Barat, terutama yang berkaitan dengan : bunga bank, aurat wanita, dan KB. Namun hubungan kedua pemikiran ini tidak selalunya berkonotasi negatif.
  5. Neo-Modernis; bisa dikatakan hampir sama dengan pemikiran barat itu sendiri karena pengaruh pemikiran barat yang sangat dominan dalam pemikiran neo-modernis, seperti halnya merekonstruksi pemikiran islam secara radikal, menawarkan berbagai macam metode baru dalam memaknai Al Qur’an, yaitu melalui pendekatan-pendakatan filsafat yang lebih sering melencang dari syariat islam itu sendiri, karenanya selalu menghasilkan pendapat yang kontroversial dengan tradisionalis dan revivalis.

Saya dan saudari Nenoy melakukan wawancara penelitian bertempat di Kampus FKIP Gunung Kelua, sementara 2 teman kelompok saya, Mayda dan Rahma, melakukan wawancara penelitian di dua kampus FKIP yang lain. Ketika melakukan wawancara di Kampus FKIP Gunung Kelua saya bertemu dengan banyak responden mahasiswa yang memiliki jawaban bervariasi terhadap daftar pertanyaan wawancara kelompok saya. Berikut daftar pertanyaan wawancara yang saya ajukan kepada tiap responden mahasiswa:

  1. Sebagai seorang Muslim menurut Anda apa definisi agama Islam?
  2. Mengapa Anda beragama Islam?
  3. Menurut Anda apa itu Hak Asasi Manusia (HAM)?
  4. Menurut Anda HAM itu ada batasannya atau tidak?
  5. Menurut Anda apakah syariat Islam itu mengekang atau tidak?
  6. Menurut Anda apa definisi “LGBT”?
  7. Apa Anda setuju dengan LGBT?
  8. Menurut Anda apa pengaruh LGBT terhadap generasi penerus bangsa?
  9. Menurut Anda bagaimana seharusnya sikap pemerintah dalam merespon isu LGBT?
  10. Menurut Anda bagaimana seharusnya sikap mahasiswa dalam merespon isu LGBT?

Dari wawancara yang telah saya lakukan di Kampus FKIP Gunung Kelua bersama saudari Nenoy, saya menarik kesimpulan bahwasanya mahasiswa FKIP Kampus Gunung Kelua lebih cenderung kepada pemikiran tradisionalis. Saya mengelompokkan tiap responden mahasiswa kedalam jenis-jenis peta pemikiran politik islam berdasarkan jawaban mereka terhadap pertanyaan yang saya ajukan. Tiap jawaban mahasiswa dari 10 pertanyaan diatas saya kelompokkan kedalam jenis-jenis peta pemikiran politik islam, kemudian saya jumlahkan. Jenis yang paling banyak muncul akan menentukan apakah seorang responden mahasiswa itu merupakan pemikir tradisionalis, revivalis, neo-modernisme, neo-revivalis, atau modern klasik.

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, hasil yang saya dapatkan adalah mahasiswa FKIP Kampus Gunung Kelua cenderung berpikiran tradisionalis. Banyak dari mereka menjawab pertanyaan saya berdasarakan teori atau buku. Mereka percaya aturan dan hukum yang telah ada sebelumnya sudah sangat benar dan tidak bisa di ubah atau diragukan kebenarannya. Saya juga menangkap kecenderungan perilaku pasif dari responden mahasiswa FKIP Kampus Gunung Kelua, mereka takut memberikan pendapat mereka sendiri atau bahkan tidak pernah berpikir untuk berpendapat dan oleh karenanya mereka lebih mengacu kepada buku dan teori-teori terdahulu.

Namun tetap ada beberapa responden mahasiswa yang merupakan pemikir revivalis, modern klasik, neo-revivalis, dan bahkan neo-modernisme. Terkait dengan tema wawancara kelompok saya yaitu, LGBT dan HAM, karena mayoritas responden mahasiswa sendiri merupakan pemikir tradisionalis, banyak dari mereka tidak setuju dengan LGBT dan berpendapat bahwa HAM terbatas oleh aturan-autran yang telah ada untuk menjaga kepentingan setiap manusia. HAM merupakan hak yang ada dan telah melekat pada diri manusia sejak lahir. Seperti layaknya seorang pemikir tradisionalis, menurut mereka LGBT adalah haram dan tidak baik bagi moral bangsa, karena dalam aturan terdahulu LGBT merupakan kaum yang terlarang dan dilaknat oleh tidak hanya agama islam namun semua agama di dunia. Pelaku LGBT melanggar kodrat yang telah ditentukan oleh setiap agama, termasuk agama islam. Pemikir tradisioanalis percaya bahwa sudah seharusnya setiap manusia itu berpasang-pasangan, dalam hal ini berpasangan dengan lawan jenisnya dan bukan merupakan yang sebaliknya. Menurut pemikir tradisionalis, LGBT merupakan penyakit kejiwaan / mental, oleh karenanya harus diobati. Pemerintah harus lebih tegas dalam menindak lanjuti pelaku LGBT, memberikan sosialisasi dan fasilitas rehabilitasi. Sementara mahasiswa sendiri sebagai “agent of change” harus bisa bertindak bijaksana dan kritis dalam menghadapi kasus LGBT. Salah satunya antara lain tidak mengadili penderita LGBT, merangkul mereka, dan memberikan bantuan serta dukungan moral seperti nasihat kepada sesama (saling mengingatkan). Responden pemikir revivalis juga memiliki pemikiran yang hampir sama dengan tradisionalis, hanya saja para pemikir revivalis cenderung lebih fokus pada isu-isu sosial masyarakat, seperti halnya LGBT dan HAM. Sehingga dalam kegiatan wawancara penelitian ini, pemikir revivalis sangat bersemangat apabila ditanyai tentang pendapat mereka. Beberapa pemikir neo-revivalis juga cenderung menolak LGBT namun berbeda dengan pemikir tradisionalis dan revivalis, neo-revivalis berpendapat bahwa HAM itu tidak ada batasnya karena merupakan hak asasi masing-masing manusia.

Meskipun demikian, ada beberapa mahasiswa, walaupun sangat sedikit, percaya bahwa LGBT merupakan salah satu bentuk daripada perwujudan HAM itu sendiri. Menurut mahasiswa-mahasiswa ini, menentang LGBT merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Mereka percaya bahwa HAM bukan sesuatu yang terbatas, dan peraturan yang mengatur HAM seharusnya tidak ada. Setiap individu manusia memiliki hak bebas memilih pilihan hidup mereka sendiri tanpa batas, karena demikianlah inti sebenarnya dari pengertian HAM. LGBT sendiri menurut mereka adalah hal yang biasa dan wajar, dikarenakan kesukaan setiap manusia pastilah berbeda-beda. Responden penelitian yang memiliki jawaban seperti ini berasal dari sedikit pemikir modernisme klasik dan dari banyak pemikir neo-modernisme. Hal ini kemudian dapat dimengerti, karena pemikir neo-modernisme berpemikiran radikal (sama dengan budaya barat) dan oleh karenanya selalu bertentangan dengan tradisionalis dan revivalis.  

Hasil wawancara responden mahasiswa FKIP Kampus Gunung Kelua tidak jauh berbeda dengan 2 kampus lainnya. Hasil akhir keseluruhan  wawancara di 3 lokasi Kampus FKIP dari 50 responden mahasiswa tercatat sebanyak 16 responden tradisionalis, 14 responden revivalis, 8 responden modernisme klasik, 5 responden neo-revivalis, dan 7 responden neo-modernisme. Saya menarik kesimpulan bahwasanya banyak responden mahasiswa FKIP Kampus Gunung Kelua, FKIP Pahlawan, dan FKIP Bangris yang memiliki pemikiran Islam tradisionalis dan revivalis. Beberapa memiliki pemikiran politik islam modernism klasik dan neo-modernisme, sementara yang berpikiran neo revivalis ada walaupun minoritas.

Advertisements