Tags

, ,

Nama               :  Lita Lidya

NIM                :  1402045039

Prodi               :  Hubungan Internasional (A)

Mata Kuliah    :  Pemerintahan dan Politik Jepang

Jepang Di Mataku

Tradisi Membungkuk (Ojigi)

lita lidyaJepang merupakan salah satu negara yang terkenal dengan budaya dan tradisi lokal kental yang masih dianut oleh masyarakatnya dari dulu hingga sekarang. Seperti yang diketahui, masyarakat Jepang sangat sopan dan perasa sehingga etika adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka.  Jika diperhatikan benar-benar, masyarakat Jepang mempunyai kebiasaan (budaya dan tradisi lokal) yang unik, yaitu membungkuk hampir di setiap saat dan di setiap tempat. Seperti saat bertemu dengan kerabat dekat, berkenalan, meminta maaf, mengatakan permisi bahkan ketika mengangkat telpon mereka akan menbungguk sedikit. Kebiasaan ini adalah sebuah keharusan bagi orang Jepang dan telah diajarkan oleh orangtua mereka sejak kecil. Membungkuk ala Jepang atau yang disebut Ojigi (お辞儀) ini ternyata bukanlah sekedar membungkuk saja, melainkan ada aturan tertentu sesuai maksud dan tujuan serta kepada siapa bungkukan itu ditujukan.

Jika kita berpergian ke Jepang, mengetahui bagaimana caranya untuk membungkuk dan menyapa di Jepang akan sangat membantu. Alasannya karena membungkuk (ojigi) merupakan kebiasaan yang penting di Jepang. Walaupun mereka tidak mengharapkan orang-orang luar negeri untuk mengikuti kebiasaan mereka, tetapi usaha untuk mengikuti tata karma Jepang akan sangat dihargai. Membungkuk (Ojigi) adalah cara orang Jepang untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang lain. Orang Jepang sering menyapa satu sama lain dengan membungkuk, bukan berjabat tangan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang Indonesia. Kebiasaan membungkuk terus menerus dilakukan di Jepang dari dulu hingga sekarang. Dan perlu untuk diketahui bahwa cara membungkuk pria dan wanita Jepang itu berbeda. Biasanya pria akan meletakan kedua tangannya disamping paha mereka ketika membungkuk, sedangkan wanita akan menaruh tangan mereka di atas paha mereka.

Ada beberapa jenis cara membungkuk ala Jepang (Ojigi), yaitu:

  1. Anggukan kepala 5 derajat.

Jenis bungkukan ini sebenarnya hanya berupa anggukan kecil kepala kita. Pastikan bahwa kepala kita posisinya lurus ke depan. Anggukan ini biasanya digunakan kepada teman baik. Jenis bungkukan inilah yang paling sederhana dibandingkan jenis bungkukan yang lainnya.

  1. Membungkuk 15 derajat, Eshaku (会釈)

Biasanya dilakukan untuk menyapa orang secara sepintas. Misalnya jika kita sedang terburu-buru mau pergi kuliah dan di jalan kita bertemu dengan teman atau bertemu teman kita ketika sedang jalan-jalan santai. Bagi orang Jepang sangatlah tidak sopan jika tidak membalas orang lain yang membungkuk kepada kita.

  1. Membungkuk 30 derajat, Keirei (敬礼)

Ini adalah derajat bungkukan yang paling banyak dilakukan untuk menyapa pelanggan atau berterimakasih pada seseorang. Tipe bungkukan ini paling banyak dilihat di dunia bisnis di Jepang dan tipe ini tidak digunakan untuk acara-acara formal. Tipe ini juga bisa digunakan untuk mengundang teman masuk ke rumah.

  1. Membungkuk 45 derajat, Saikeirei (最敬礼)

Tipe ini merupakan tipe yang paling formal. Biasanya digunakan untuk menandakan rasa syukur yang paling mendalam, salam hormat, permintaan maaf resmi, meminta bantuan, dan lain sebagainya.

  1. Membungkuk hingga kepala menyentuh lantai, Zarei (座礼)

Tipe yang satu ini jarang sekali digunakan. Tipe ini biasanya dilakukan sambil duduk. Biasanya digunakan saat ada acara-acara keagamaan tertentu atau acara-acara bela diri. Atau juga digunakan untuk menujukan permintaan maaf yang sangat sangat mendalam karena dia telah melakukan sesuatu yang sangat buruk.

Ada beberapa alasan mengapa orang Jepang melakukan Ojigi, yaitu sebagai berikut:

  1. Karena tradisi Ojigi ini sudah mendarah daging di dalam diri Orang Jepang dari kanak-kanak hingga tumbuh menjadi orang dewasa, oleh sebab itu sangat sulit untuk tidak melakukannya. Karena ojigi telah menjadi suatu kebiasaan bagi mereka dan mereka melakukannya dengan sangat natural.
  2. Ojigi dijadikan sebagai sebuah salam. Sudah umum bahwa membungkukkan kepala dan bahu 10 derajat kedepan merupakan cara untuk memberi salam kepada teman atau mengucapkan selamat tinggal.
  3. Untuk memperkenalkan diri. Baik dalam situasi resmi atau santai,membungkukkan badan atas 30 derajat kedepan adalah suatu keharusan,dan posisi tangan dan bahu harus lurus dengan tangan berada disamping. Setelah bertukar mesihi,membungkuklah dan tahan selama 1 detik atau lebih. Jangan bertatap mata saat membungkuk (dianggap hal yg buruk),jaga jarak agar tidak berbenturan (sering terjadi).Jika orang yang anda temui adalah orang penting,membungkuklah 45derajat dan jangan membungkuk sambil berjabat tangan diwaktu yang sama.
  4. Membungkuk adalah sebuah ekspresi kemanusiaan yang selalu menandakan bahwa kita menghormati orang lain.
  5. Dalam olahraga pun orang Jepang akan membungkuk, bungkukkan itu merupakan rasa hormat saat dua lawan saling berhadapan dalam pertandingan olahraga, yang umumnya dilakukan dengan bungkukan rendah sekitar 20 derajat.
  6. Dalam upacara keagamaan pun orang Jepang membungkuk. Tujuan membungkuk dalam upacara keagamaan ini adalah sebagai tanda penghormatan kepada dewa di Kuil Shinto yang umumnya hanya berupa bungkukan rendah badan bagian atas.
  7. Dan dalam kegiatan bela diri, Jepang juga mempunyai cara tersendiri untuk membungkuk, yang bisa berarti sikap sangat menghormati guru ataupun lawan.
  8. Di Jepang, pembeli dianggap dewa atau raja, sudah menjadi hal yang wajar jika penjaga toko membungkukan badan kepada pembeli yang biasanya dilakukan dengan membungkukan badan atas sekitar 20 derajat. Pembeli tidak perlu balas membungkuk, karena penjaga toko telah dibayar untuk melakukan hal tersebut.
  9. Saat mengucapkan terima kasih pun orang Jepang juga harus membungkuk. Biasanya dilakukan dengan membungkukan kepala sedikit saja sebagai tanda keramah tamahan kepada orang yang telah memberi pertolongan.
  10. Seperti halnya di barat, pada umumnya aktor memberikan penghormatan saat penonton bertepuk tangan dengan cara membungkuk sedikit badan, namun di Jepang ada kalanya para aktor berterima kasih atau penghormatan kepada penonton dengan membungkuk rendah, contohnya seperti para Geisha. Perlu diketahui, Geisha merupakan seniman penghibur tradisional Jepang yang sekarang kerap kali disalah artikan sebagai pelacur.
  11. Ojigi digunakan sebagai permintaan maaf secara halus dilakukan dengan membungkukan kepala 10 derajat. Hal ini bisa dilakukan bila kita secara tak sengaja menabrak seseorang yang mengakibatkan orang itu merasa tidak nyaman. Biasanya dikuti dengan mengatakan sumimasen. Jika atasan atau bos sedang marah, bungkukan badan atas 45 derajat selama 5 detik sambil berkata sumimasen deshita (saya menyesal atas kesalahan saya) sebagai permintaan maaf biasa. Untuk permintaan maaf yang serius, biasa dilakukan jika melakukan kesalahan yang cukup serius. Bungkukan badan atas 45 derajat selama 15-20 detik sambil berkata moushiwake gozaimazen deshita (saya sangat menyesal dengan apa yang telah saya lakukan). Jika kita adalah seorang pelayan yang tidak sengaja menjatuhkan kopi disalah satu pelanggan, membungkuklah 45 derajat secara terus menerus untuk menunjukkan betapa menyesalnya kita sambil berkata moushiwake gozaimasen dalam setiap bungkukan. Dan yang terakhir untuk permintaan maaf yang sangat serius. Anggaplah kita telah melakukan kejahatan yang sangat serius dan mencoba meminta maaf kepada orang lain yang menjadi korban kejahatan kita. Maka kita harus membungkuk dari posisi berlutut serendah mungkin. Dan berkata makoto ni moushiwake gozaimasen deshita (saya benar-benar meminta maaf secara tulus atas apa yg telah saya lakukan).

Dapat disimpulkan bahwa ojigi merupakan salah satu tradisi dan juga tata karma sopan santun Jepang yang sampai saat ini masih dilakukan masyarakatnya dimana saja dan kapan saja. Dengan melakukan ojigi, orang Jepang menunjukkan penghargaan terhadap sesama manusia dan juga terhadap nilai budaya mereka sendiri. Saya sebagai orang Indonesia berharap untuk dapat mengambil sisi positif dari segi kesopan santunan orang Jepang. Mungkin mulai sekarang saya bisa menganggukan kepala sedikit saat bertemu teman sebaya sebagai tanda bahwa saya menghargai mereka dan saya mempunyai sopan santun.

Advertisements