Tags

, ,

Nama               :  Sri Mulyani

NIM                :  140204027

Prodi               :  Hubungan Internasional A

Mata Kulih      :  Politik & Pemerintahan Jepang (UTS)

Suku Ainu, – Jepang

sri 1Suku Ainu merupakan salah satu suku asli di Jepang (suku minioritas) yang menempati pulau-pulau yang sekarang dikenal dengan sebagai Hokkaido (pulau utara dari Jepang), Kuril, dan Sakhalin, jauh sebelum mereka menyebar keseluruh Jepang. Menurut pemerintah, saat ini ada 25.000 suaku Ainu yang tinggal di Jepang, tapi sumber lain mengatakan ada hingga 200.000. Suku Ainu yang merupakan suku minoritas Jepang sebagian besar asli suku Ainu beserta bahasanya tidak diketahui masyarakat luas bahkan masyarakat Jepang sendiri tidak menyadari keberadaan Suku Ainu. Namun ada satu teori menunjukkan bahwa suku Ainu adalah sisa-sisa Jomon-jin atau para pemburu yang menghuni Jepang selama periode Jomon (14.500 SM – 300 AD). Sekitar 300 AD, kelompok imigran lain yang dikenal sebagai Yayoi memperkenalkan teknik pertanian baru mereka dan mengintegrasi rakyat Jomon.

Salah satu mitos suku Ainu mengklaim bahwa “Mereka tinggal di tempat ini seratus ribu tahun sebelum anak-anak Sun datang”. Mitos ini dapat memperjelas bahwa konsisten teori Suku Ainu merupakan keturunan Jomon-jin. Terdapat penelitian baru yang menunjukkan bahwa sejarah budaya suku Ainu merupakan penggabungan dari budaya Okhotsk dan budaya Sastumon, yang sangat mirip dengan kelompok Jomon.

Secara fisik, orang-oramg suku Ainu dapat dikatakan menonjol jelas dari kebanyakan warga Jepang. Orang-orang suku Ainu cenderung memiliki kulit terang, perawakan tinggi besar, bentuk mata seperti orang Eropa, dan memiliki rambut yang tebal bergelombang. Darah asli keturunan suku Ainu bahkan memiliki mata biru dan rambut cokelat. Fisik suku Ainu sangat jelas berbeda dengan mayoritas masyarakat Jepang yang memiliki perawakan badan yang kecil, memiliki kulit yang pucat, mata sipit, dan rambut yang lurus.

Baru-baru ini terdapat penelitian melalui gigi morfologi dan sidik jari suku Ainu bahwa mereka merupakan Mongoloid. Sekarang ini sangat sulit untuk membedakan suku murni Ainu dengan warga Jepang lainnya karena perkawinan dan masalah penolakan identitas Ainu untuk menghindari diskriminasi.

sri 2Dapat dilihat bahwa dari penampilan budaya dan tradisi Suku Ainu secara signifikan sangat berbeda dengan budaya Jepang. Baik pria maupun wanita menjaga rambut mereka tetap sebahu dan mengenakan pakaian tradisional Suku Ainu. Para pria suku Ainu tidak pernah mencukur setelah usia tertentu (yang belum diketahui hingga kini), yang biasanya memiiki jenggot panjang. Para wanita Suku Ainu menjalani tradisi tato mulut untuk menandakan bahwa wanita suku Ainu telah beranjak ke dewasa.

Sebagai para pemburu, Suku Ainu memiliki makanan umumnya seperti rusa, kelinci, rubah, salmon, beruang, akar, dan banyak lagi. Berbeda dengan rakyat Jepang kebanyakan, suku Ainu selalu memasak makanan mereka, tidak pernah memakan makanan mentah seperti ikan mentah. Senjata yang digunakan Suku Ainu untuk berburu ialah tombak dan busur, anak panah beeracun.

sri 3Satu hal yang membuat Suku Ainu sama dengan rakyat Jepang adalah agama. Seperti orang-orang Jepang lainnya yang merupakan animisme dan percaya bahwa segala sesuatu dihuni oleh roh-roh yang dikenal dengan sebutan Kamuy atau dewa beruang dan pegunungan. Semua hewan dianggap sebagai perwujudan dari Dewa di Bumi dalam budaya Suku Ainu. Namun beruang diyakini sebagai kepala dewa atau dewa tertinggi (Kamuy) atau Tuhan. Dalam adat dan kepercayaannya Suku Ainu mengorbankan (menjadi persembahan) beruang dalam rangka untuk melepaskan kamuy ke dunia roh. Sebuah tradisi, lotame yaitu memelihara atau membesarkan seekor beruang muda seolah-olah beruang tersebut merupakan seorang anak dari suku Ainu, lalu pada umur tertentu beruang itu akan dikorbankan.

Selama periode Tokugawa (1600-1868) Suku Ainu semakin terlibat dengan perdagangan Jepang. Pada saat ini dapat dikatakan bahwa mereka dapat mempertahankan budaya dan cara hidup mereka sampai batas tertentu. Namun dari Restorasi Meiji membawa dampak besar bagi Suku Ainu di 1899. Seperti pemerintah Jepang memutuskan untuk menyatukan Jepang dengan menganeksasi (merebut tanah milik Suku Ainu) pulau Utara Hokkaido dan menciptakan hukum yan membatsi Suku Ainu dalam melaksanakan budaya mereka sendiri. Singkat kata ialah Suku Ainu dicabut kepemilikan wilayah mereka serta dipaksa untuk tidak melaksanakan tradisi budayanya dan berbaur serta menyesuaikan dengan budaya Jepang itu sendiri. Tetapi dalam kurun waktu yang tidak sampai pada tahun 1997, hukum tersebut dicabut.

Bahasa asli Suku Ainu (The origin language) sampai saat sulit untuk dijumpai, dikarnakan sebagai salah satu dampak pembatasan penggunaan bahasa pada tahun 1899. Sekarang ini hanya kurang dari 15 orang asli suku Ainu yang berusia diatas 70 yang bisa berbahasa Ainu, sehingga dapat dikatakan bahasa Suku Ainu terancam punah. Pada mulanya bahasa Ainu memiliki tiga dialek utama : Hokkaido, Sakhalin, dan Kuril. Namun hanya dialek Hokkaido yang satu-satunya masih ada hingga sekarang ini. Penyebab lain dari terancam punahnya bahasa Suku Ainu ialah karna tidak adanya sistem penulisan dalam bahasa Suku Ainu (tidak ada bentuk tertulis). Bahasa Suku Ainu hanya diturunkan dari orangtua ke anak selama bertahun-tahun yang sempat terhenti pemakaian bahasanya akibat hukum jepang. Meski demikian, bahasa Ainu yang ada sekarang ini masih ada dari tradisi bercerita Ainu atau Yukar, bahasa yang dimengerti oleh semua kelompok Ainu dan dikenal sebagai Classical Ainu.

Jika dilihat dengan lebih dekat lagi bahasa Jepang dengan bahasa Suku Ainu, secara sekilas bahwa kedua bahasa tersebut saling terkait, tetapi diantara bahasa Jepang dengan bahasa Suku Ainu memiliki empat fitur yang menandai perbedaan jelasnya :

  1. Person is marked on predicates (person is expressed in predicates)
  2. Ainu is a polysynthetic language (ideas maybe expressed through “sentence words”)
  3. There are no verbal inflections (verbs are not changed to express tense)
  4. There are verbal suffixes for plurals (plural forms are expressed in verbs)

Meskipun sekarang ini budaya Suku Ainu terancam punah, tampaknya semakin banyak usaha untuk melestarikan budaya Suku Ainu yang masih ada. Para pemuda-pemudi Suku Ainu yaitu The Ainu Rebels melakukan upaya terbaik mereka dalam menciptakan identitas baru Suku Ainu bagi orang-orang Suku Ainu sendiri dan masyarakat Jepang untuk lebih terbuka pada kelompok minioritas. Karena The real oh Ainu tidak bisa diungkapkan sekedar dengan kata-kata.

Advertisements