Tags

,

RIZQA RAHMATANIA AGHNA SAPUTRI

1402045005

PEMERINTAHAN DAN POLITIK JEPANG

“JEPANG DIMATAKU”

Negara Jepang kaya dengan berbagai kebudayaan leluhurnya yang beraneka ragam. Walaupun saat ini perkembangan teknologi di Jepang terus up date dalam hitungan perdetik, namun sisi tradisional masih terus dilestarikan hingga sekarang ini. Jepang yang mempunyai kebudayaan yang unik membuat Negara bunga sakura itu banyak di kenal masyarakat dunia salah satunya Indonesia Adakalanya kita perlu mengetahui seperti apa kebudayaan jepang itu, mungkin dengan mengetahui beberapa kebudayaan jepang kita bisa sedikit meniru cara melestarikan kebudayaannya, mungkin bisa saja kebudayaan kita tetap terjaga dan tetap di lakukan seperti kebudayaan jepang.

Namun terlepas dari teknologinya yang sangat canggih tersebut, disini saya akan mengulas lebih dalam tentang adat yang unik dan filosofis yang ada di Jepang. Adat ini juga bisa dikatakan dengan ritual tebus rasa malu. Pada masa itu, Seppuku di lakukan dengan senang hati untuk membersihkan nama baik yang sudah rusak karena melakukan kesalahan, biasanya mereka yang melakukan Seppuku sangat malu karena kesalahannya. Berikut penjelasan lebih yang sudah saya dapatkan dari berbagai sumber.

Seppuku (切腹, arti harfiah: “potong perut”) adalah suatu bentuk ritual bunuh diri yang dilakukan oleh samurai di Jepang dengan cara merobek perut dan mengeluarkan usus untuk memulihkan nama baik setelah kegagalan saat melaksanakan tugas dan/atau kesalahan untuk kepentingan rakyat. Seppuku dulu hanya dilakukan oleh samurai. Istilahseppuku ditulis dengan dua buah aksara kanji, yaitu: 切 (kiru) dan 腹 (hara). Aksara kanji untuk kiru dapat juga dibaca sebagai setsu (ucapan Tionghoa) yang berarti potong, sementara aksara kanji untuk hara dapat juga dibaca sebagaifuku (ucapan Tionghoa) yang juga berarti perut.

Tindakan seppuku pertama kali dicatat dalam literatur setelah Minamoto no Yorimasa melakukan seppuku dalam Pertempuran Uji pada tahun 1180. Seppuku akhirnya menjadi bagian penting dari kode kehormatan samurai yang disebut bushido. Seppuku dulunya dilakukan oleh samurai untuk menghindar dari tangkapan musuh, serta untuk mengurangi rasa malu, dan menghindari dari kemungkinan penyiksaan. Samurai juga dapat melakukan seppuku berdasarkan perintah tuan tanah feodal yang disebut daimyo. Samurai yang telah membuat malu kadang-kadang diizinkan tuan mereka untuk melakukan seppuku sebagai alternatif dari hukuman mati. Bentuk seppuku yang paling umum dilakukan laki-laki adalah merobek perut, dan setelah samurai tersebut selesai merobek perutnya, ia menengadahkan kepala sebagai isyarat agar kepalanya segera dipancung oleh seorang rekan yang berada di belakangnya, dan bertugas sebagai pendamping samurai dalam ritual seppuku. Oleh karena maksud utama dari seppuku adalah pemulihan kehormatan seorang samurai, mereka yang bukan termasuk kelas samurai tidak pernah diperintahkan atau diharapkan untuk melaksanakan seppuku. Samurai juga umumnya melakukan tindakan seppuku hanya kalau diizinkan oleh tuannya.

Kadang-kadang seorang daimyo memerintahkan musuh yang telah kalah untuk melaksanakan seppuku sebagai dasar sebuah perjanjian damai. Kemampuan militer dari klan musuh yang melakukan seppuku akan berkurang sehingga perlawanan militer berakhir secara efektif. Toyotomi Hideyoshi memerintahkan musuhnya untuk melakukan bunuh diri dalam beberapa peristiwa. Salah satu peristiwa yang paling dramatis adalah ketika klan Hōjō dikalahkannya dalam Pertempuran Odawara tahun 1590. Hideyoshi memaksa daimyo Hōjō Ujimasa yang sudah pensiun untuk melakukan seppuku dan pengasingan putra Ujimasa yang bernama Hōjō Ujinao. Kekuasaan klan Hōjō yang dikenal sebagai keluarga daimyo paling berpengaruh di Jepang Timur, secara praktis berakhir setelah Ujimasa melakukan seppuku.

Seppuku adalah ritual bunuh diri dengan merobek perut sendiri dengan sebilah pedang sebagai bukti rasa tanggung jawab. Mengapa perut ? Di masa-masa feodal dulu di Jepang, para pendekar perang menganggap perut sebagai tempat bermukimnya jiwa. Jadi pada waktu mereka harus membuktikan rasa tanggung jawab sebagai pendekar atas perbuatannya, mereka lebih memilih melakukan seppuku. Di jaman Edo, seppuku bahkan merupakan bentuk hukuman mati bagi anggota kelas samurai. Yang bersangkutan melakukan sendiri seppuku, untuk itu disediakan seseorang guna membantu menuntaskan kematian tersebut agar penderitaan tidak berlarut-larut. Dewasa ini seppuku sama sekali tidak dipraktekkan lagi. Kasus terakhir tercatat pada tahun 1970 ketika seorang sastrawan besar Mishima Yukio melakukan bunuh diri dengan cara ini, dan hal itu sangat mengejutkan seluruh negeri Jepang. Trennya pun berganti dengan pengunduran diri dari jabatan, tetapi tetap dalam semangat Seppuku. Sebagai contoh, pada tahun 2008 menteri pertanian Jepang, Seiichi Ota, mengundurkan diri atas permasalahan beras yang busuk. Pada tahun 2011, karena malu menerima banyak kecaman atas kinerja yang lamban dalam persoalan penanganan bencana gempa dan tsunami Maret 2011 serta krisis nuklir di Fukushima, Naoto Kan akhirnya mundur dari jabatan perdana menteri. Lalu masih banyak lagi kasus-kasus pelepasan jabatan karena MALU atas kegagalan atau ketidak mampuan menunaikan amanah yang telah dibebankan.

Di luar Jepang, praktek seppuku lebih dikenal dengan hara-kiri (merobek perut). Namun seiring berkembangnya zaman, di Jepang  istilah  untuk bunuh diri sekarang lebih dikenal dengan sebutan jisatsu (mengakhiri hidupnya sendiri). Bunuh diri atau biasa disebut dengan jisatsu tetap menjadi fenomena di Jepang hingga sekarang. Dibuktikan dengan adanya catatan dari Badan Kepolisian Nasional  Jepang  yang  mengatakan  bahwa  setiap  tahunnya  lebih  dari  30.000  orang meninggal akibat kasus bunuh diri.

Makna dari kebudayaan seppuku harus dijaga, yaitu kebertanggungjawaban, kesetiaan, royalitas, kebaranian. Akan tetapi, praktek seppuku sendiri, bunuh diri, harus dicegah. Kemunculan seppuku yang memang didasarkan dari ajaran bushido, sepatutnya dikaji lebih dalam juga, guna mengkarifikasikan pengertian negatife yang selama ini ada di kalangan masyarakat luar Jepang.

Mungkin masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahui ritual seppuku ini namun menurut pendapat saya, seppuku ini merupakan kebudayaang jepang yang patut untuk dijadikan pelajaran dan ditiru bagi bangsa Indonesia agar tidak ada lagi ketidak bertanggungjawaban di dalam masyarakat Indonesia mengingat banyaknya para pejabat yang melakukan korupsi dan jelas merugikan rakyat bahkan Negara, tidak dengan para ksatria Jepang yang menunjukan jati dirinya dengan meninggalkan egonya demi kepentingan bersama karena cuma malu dan melakukan kesalahan. Jelas hal ini sangat berbanding terbalik dengan Indonesia terutama soal pemimpinnya. Jika di Jepang, para pejabat dengan rela meninggalkan jabatannya jika ketahuan melakukan Korupsi atau kesalahan yang lainnya, rasa malu yang mereka miliki begitu tinggi. Jika ritual Seppuku di laksanakan di Indonesia, mungkin kita tidak akan melihat lagi tindak Korupsi, Suap, skandal, atau tindak kriminal lainnya yang merugikan Negara. Jika Indonesia belajar dari Jepang soal budaya malu, maka bisa di pastikan semua pelaku tindak kriminal harus rela melakukan Seppuku untuk memulihkan nama baiknya di mata Rakyat.

Bukan tradisi bunuh dirinya yang menjadi penekanan di sini, tetapi “tradisi malu”. Bangsa kita juga mengenal budaya malu tetapi kualitasnya mungkin tidak setinggi Jepang. Contohnya sederhana saja – suka ngaret” atau “jam karet” masih terjaga baik dalam pikiran masyarakat kita. Buktinya saat seorang mengeluh karena seorang rekan belum tiba pada waktu yang telah dijanjikan, atau mengeluh karena sebuah acara tidak juga dimulai padahal sudah lewat dari waktu semestinya, maka dengan serta merta akan muncul celetukan “biasalah…jam karet. Bukan orang Indonesia kalau enggak ngaret” atau “Indonesia kan emang jam karet”. Pertama, masyarakat nampak cenderung makin permisif dan maklum dalam hal pelanggaran norma, artinya kurang adanya sanksi sosial terhadap keterlambatan.budaya semacam  ini cukup sukses membentuk karakter anak bangsa menjadi tidak punya rasa malu karena datang terlambat. Kedua, tidak disadari kita kadang berniat melanggar kesepakatan perjanjian dengan cara mengulur-ulur waktu untuk tiba di tempat perjanjian dengan dalih ‘jangan buang-buang waktu dengan menunggu karena toh mulai acara pasti molor’.

risqa 1

risqa 2risqa 3

http://www.id.emb-japan.go.jp/aj305_01.html

http://www.sman2kuta.sch.id/index.php/kreatifitas-siswa/33-12ipa1/131-seppuku

http://viva.com

http://www.kompasiana.com/rubensetiono/ritual-tebus-rasa-malu-jepang-seppuku-indonesia-sebodo-amat_564c0e89799373dd11518033

http://www.kompasiana.com/rhulee/malu-budaya-yang-semakin-langka_552b1c12f17e618770d623d4

 

Advertisements