Tags

, ,

Nama               : Muhammad Fauzi Andhoyo

NIM                : 1402045036

Kelas               : Hubungan Internasional (A)

                                                            Jepang di Mataku

                                                Pendidikan, Karakter dan Moral

            Disini saya memasukkan pengalaman saya ketika saya berkerja sebagai tenaga mengajar secara online disalah satu penelitian yang dilakukan beberapa professor dan mahasiswa gabungan dari berbagai negara untuk melihat tingkatan pemahaman bahasa asing di beberapa negara salah satunya adalah Jepang dan saya mengajukan untuk mengajar di salah satu sekolah dasar di Jepang dan mengajarkan bahasa Indonesia, walau pun dibilang mengajar atau tidak disana saya mengajarkan basic dari mempelajari bahasa Indonesia dan menceritakan tentang beberapa cerita anak-anak dan beberapa cerita rakyat dari Indonesia dengan bahasa Indonesia seperti Timun Mas dan Asal Mula Surabaya. Beberapa bulan saya mengajarkan disana dan melihat bagaimana mereka bersekolah, dan belajar mereka telah dapat memahami beberapa cerita dan melihat pemahaman mereka yang cukup cepat, setidaknya dalam beberapa bulan mereka telah berhasil setidaknya mengerti dan menerjemahkan beberapa cerita yang saya ajarkan setidaknya hingga 48 persen dari cerita itu sudah mereka pahami dan terjemahkan kedalam tulisan jepang. Dari situ saya bertanya bagaiman mereka bisa lebih cepat paham cerita-cerita itu dan ternyata salah satu faktornya adalah kedisiplinan, karakter belajar diri mereka sendiri dan bagaimana mereka berkerjasa sama ketika disekolah, yang berbeda dengan disini.

            Saya sering bertanya-tanya mengenai system pendidikan di Jepang karena itu bagaian awal dari melihat dan menilai bagaimana mereka bisa menjadi salah satu negara berkembang sangat pesat dan juga menjadi salah satu negara maju yang bisa sejajar dengan negara  majju dalam ekonomi dan juga dengan salah satu pemain besar pasar dunia dengan berbagai inovasi dan  juga menjadi salah satu negara dengan inovasi yang bisa terbilang unik. Bagaimana Jepang sendiri bisa tetap teratur dan memikirkan orang lain disaat negaranya itu sendiri sedang mengalami kekaucauan karena bencana yang cukup sering terjadi di sana, disaat orang lain kesulitan karena bencana orang-orang Jepang masih sempat memikirkan orang lain dan tetap bersikap jujur, hal ini tentu saja bukan terjadi begitu saja namun karena pendidikan orang Jepang itu sendiri yang memang sedari kecil memberikan pendidikan moral dan karakter kepada para siswa nya yang mengedepankan kemandirian, keteraturan, kepedulian dan lain-lain.

Walaupun dihampir semua negara menerapkan hal yang sama dalam pendidikannya namun saya melihat bahwa Jepang lah yang paling berhasil dalam menerapkannya walau pun  Pendidikan selalu menjadi tolak ukur dalam menilai kemakmuran dan kesejahteraan orang-orang yang berada di negara tersebut, apabila pendidikan negara itu rendah maka kemakmuran dan kesajahteraan negara tersebut juga kurang dan begitu pula sebaliknya. Dalam hal ini saya menilai bahwa pendidikan adalah hal yang penting  bagi suatu negara dan masyarakat dalam mencapai kemakmuran dunia.

Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri, Menghargai Orang Lain, Menghargai Lingkungan dan Keindahan , serta menghargai kelompok dan komunitas. Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa seenaknya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai.

Dipandangan saya negara jepang adalah negara dengan pendidikan karakter yang sangat tinggi dimana pendidikan karakter nya sudah dimulai sejak dini, walaupun hampir di semua negara memang menerapkan hal tersebut namun dipandangan saya Jepang sangat peduli dan sukses dalam pelaksanaannya yang sampai sekarang ini dapat kita lihat dimana anak-anaknya dan masyarakatnya sangat peduli akan sesama, bertanggungjawab, lingkungan, dan juga pendidikan moral yang tinggi dengan nilai-nilai bushido samurai.

            Pendidikan moral dan karakter sejak mereka sudah bisa mengeri ucapan orang tua nya, sejak kecil mereka dibiasakan unutk hidup sehat,jujur dan bekerja keras. Sejak itulah mereka kecil mereka sudah dibiasakan untuk membantu orang tua nya melalui beberapa tugas sederhana seperti membantu memebersihkan rumah, membantu menyiapkan peralatan makan hingga membersihkan toilet yang dijadikan sebagai kebiasaan agar bisa menghargai pekerjaan satu sama lain. Begitu pula ketika mereka sudah masuk ke sekolah dasar hal-hal yang mereka pelajari dirumah diterapkan lagi disekolah dengan kerjasama antar siswa. Disekolah mereka juga memiliki tugas-tugas mereka sendiri seperti piket di Indonesia namun mereka melakukan hampir semuanya secara mandiri dengan pembagian-pembagian tugas yang telah disiapkan seperti membersihkan kelas, membersihkan wc dan juga disana mereka sudah disiapkan makan siang sendiri yang telah disediakan sekolah namun dengan murid atau siswanya sendiri yang bertugas mengambil makanan tersebut dan juga membagikannya ke masing-masing kelasnya sendiri.

            Saat masih di sekolah dasar juga para siswa tidak terlalu dibeban dengan yang namanya hapal pasti atau banyaknya pelajaran seperti yang ada di system sekolah dan kurikulum dari pemerintah yang memiliki banyak pelajaran yang harus diingat dengan pasti sedangkan di sekolah dasar Jepang biasanya tidak memerlukan hapalan mati kecuali menghapal huruf-huruf kanji yang memang menjadi central dari pelajaran Bahasa dan budayanya dimana huruf kanji adalah bentuk tulisan yang pasti dan banyak digunakan baik dalam kehidupan sehari-hari dan juga penggunaannya dalam kehidupan ketika mereka sudah berkerja. Begitu pula dengan pendidikan mereka ketika memasukki ke jenjang yang lebih tinggi mereka dihadapkan dengan situasi yang lebih nyata dengan dunia kerja dimana mereka sudah mulai dihadapkan dengan berbagai macam tugas dan penulisan laporan sehigga mereka sudah terbiasa dengan yang namanya “paper work” dan bertanggung jawab.

            Dilingkungan masyarakat juga terdapat berbagai macam pendidikan moral seperti berbagai macam peraturan ketat dalam berkendara, ketika berada di kendaraan umum dan tempat umum sebagaimana memang telah diajarkan dirumah dan disekolah sebagai contohnya adalah adanya poster-poster yang memperlihatkan orang-orang yang duduk secara mengankang dan mengalambil tempat yang luas sehingga mengganggu orang-orang yang hendak duduk dan juga mengganggu orang yang memang berdiri ketika di kereta, dan beberapa aturan serta norma yang mengajak masyarakat agar lebih peduli pada orang lain yang berada disekitarnya agar tidak mengganggu saat masih diperjalanan kecuali kau memang menggunakan kendaraan pribadi. Ada beberapa hal lagi seperti bagaimana seseorang tidak melanggar waktu yang telah dijanjikan atau mereka memiliki kebiasaan untuk datang lebih awal ketika membuat janji seperti janji temu dan mereka biasanya tidak meminta untuk dijemput kecuali memang mereka tinggal ditempat yang tidak terlalu jauh dan lebih biasa berjanji untuk bertemu disuatu tempat lain seperti didekat stasiun atau ketempat mereka berjanji untuk bertamu karena mereka sangat menghargai waktu apa lagi ketika orang itu yang meminta untuk bertemu, itu menandakan bahwa mereka adalah orang yang disiplin waktu menghargai waktu dan kesempatan yang telah diberikan oleh orang itu, kedispiplinan moral juga terlihat ketika mereka berbicara, memanggil nama dan juga saling memberi salam seperti ketika makan, bertemu, dll.

            Ada beberapa cara memanggil nama seseorang, ketika abaru kenal biasanya mereka hanya memakai nama keluarga untuk saling memanggil dan bukannya nama aslinya kecuali mereka sudah merasa akrab dan juga ada tambahan seperti penggunaan kata –san, -kun, chan sebagai penanda keakraban mereka. –san digunakan sebagai tanda hormat dan paling sering digunakan ketika bersama teman yang baru kenal dan juga di tempat kerja bersamaan dengan penggunaan –dono diakhir nama seseorang sebagai tanda hormat, bahkan berberapa kali saya mendapati mereka memanggil saya dengan tambahan –dono yang terkadang membuat saya merasa tua/canggung karena –dono diucapkan untuk orang-orang yang dihormati.

            Bahkan dilingkungan masyarakat Jepang yang namanya budaya antri sudah sangat kental dan biasanya walau sudah menunggu lama atau antriannya panjang mereka tetap sabar karena mereka memliki tingkat kedisiplinan yang tinggi yang telah mendapat pendidikan dari rumah dan sekolah, beberapa kenalan saya di Jepang juga bisa dibilang sangat ramah dan berdedikasi dalam melakukan apa yang mereka kerjakan, seperti ketika saya menjadi tenaga mengajar disana beberapa rekan saya juga sangat berkerja keras dalam menyiapkan beberapa materi masukkan bahasa dalam pembawaan materi ketika saya hanya bisa melihat dari layar computer ketika berkerja dan mereka yang melakukan penjelasan lanjutan atau sekedar membuat panggung boneka kecil agar memudahkan proses belajar agar tidak terlalu suntuk dan membosankan karena saya mengajar mereka dari tempat yang jauh dengan begitu saya juga dapat ikut berinteraksi langsung dengan para siswa bersamaan dengan mereka terasa sangat menyenangkan.

fauzi 1

Siswa yang bertugas membagikan makan siang untuk siswa lain dikelasnya

fauzi 2

fauzi 3

AppleMark

Saling membungkuk ketika bertemu sapa

 

Advertisements