Tags

, ,

Nama          :         Arif Faat Kumara

NIM  :         1402045032

Kelas :         HI – A

KEBUDAYAAN JEPANG

Musik Tradisional Min’yō

Musik Jepang merupakan gaya musik khas Jepang dari beragam artis, baik tradisional maupun modern. Kata musik dalam bahasa Jepang berarti ongaku, menggabungkan on (suara) dengan gaku (musik). Jepang merupakan pasar musik terbesar kedua di dunia, dengan nilai total area penjualan mencapai 4,422.0 juta dollar dan sebagian besar pasar didominasi oleh artis Jepang. Musik lokal sering muncul di berbagai tempat karaoke, dari label rekaman. Musik tradisional Jepang sangat berbeda dari Musik Barat. Musik Barat yang diperkenalkan ke Jepang selama Periode Meiji dikenal sebagai (Yogaku : Musik Barat), sedangkan music yang telah turun-temurun di Jepang adalah  (Hogaku : Musik Tradisional Jepang).

Sejarah Musik Jepang Musik di Jepang disebut ongaku, yang bila diterjemahkan secara langsung dapat diambil untuk berarti sebagai suara untuk kenyamanan. Meskipun saat ini sebagian besar dikenali oleh dunia luar untuk pop, permen karet jenis lagu, musik Jepang pada dasarnya adalah sebuah kombinasi eclectic pengaruh musik dari seluruh dunia. Sebesar itu penting dalam tradisi dan sejarah lokal, dengan skala, namun gaya dan instrumen yang dipinjam dan merebeh diadaptasi dari negara-negara tetangga seperti Cina, Korea dan Indonesia, dan telah berkembang untuk mengintegrasikan gaya musik Barat seperti jazz, rock, ska dan reggae .

Ada dua macam jenis musik yang ada di jepang yaitu jenis dalam musik tradisional  seni musik dan musik yang diterapkan pada drama. Secara umum, musik jepang lebih mengutamakan vocal dari pada instumennya. Hal ini juga terdapat pada lagu daerah jepang Min’yō yang mana di dalam nya banyak sekali terdapat instumen lagu dengan sentuhan budaya jepang.

Lagu daerah Jepang (min’yō) dapat diklasifikasikan dalam banyak cara, tetapi sering kali dikelompokkan dari empat kategori utama seperti: work song, lagu religi (seperti sato kagura, sejenis musik Shintois), Dan juga lagu ini yang banyak sekali digunakan untuk pertemuan-pertemuan seperti, pernikahan, pemakaman, dan festival (matsuri, terutama Obon), dan lagu anak-anak (warabe uta).Lagu ini berisi tentang kesedihan, kesenangan, dan juga rasa semangat dalam melakukan kegiatan sehari hari.

Musik min’yō, biasa nya di bawakan oleh seorang Geisha, membawakan Min’yo biasanya disertai dengan alat musik lute dan tiga alat musik lainnya yang dikenal sebagai shamisen, drum taiko, dan seruling bambu yang disebut shakuhachi. Instrumen lainnya adalah seruling melintang yang dikenal sebagai shinobue, sebuah bel yang dikenal sebagai kane, drum tangan yang disebut tsuzumi, dan / atau kecapi 13 senar yang dikenal sebagai koto. Di Okinawa, instrumen utamanya adalah sanshin. Ini adalah instrumen tradisional Jepang, tapi dengan instrumentasi yang modern, seperti gitar listrik dan penyintesis.

Banyak sekali sebutan ketika membicarakan musik min’yō seperti ondo, bushi, bon uta, dan komori uta. Sebuah gambaran umum setiap lagu rakyat dengan ayunan khas yang dapat didengar sebagai 2 / 4 irama (meskipun biasanya tidak mengelompokkan ketukan) ini membuat lagu terasa cepat dan berayun sehingga menyenth hati pendengar nya. Ondo pada umumnya menjelaskan beberapa lagu daerah dengan ayunan khasnya. Lagu khas daerah ini pada umumnya dapat didengarkan pada festival tarian Obon. Fushi adalah lagu dengan melodi yang khas. Komori uta adalah lagu pengantar tidur anak. Nama-nama pada lagu min’yo biasanya meliputi sebutan deskriptif dibagian akhir. Contoh: Tokyo Ondo, Kushimoto Bushi, Hokkai Bon Uta, dan Itsuki no Komoriuta.

Di antara lagu-lagu min’yō biasanya memerlukan penekanan yang lebih pada beberapa suku kata tertentu serta teriakan bernada (kakegoe). Kakegoe pada umumnya merupakan teriakan kegembiraan dalam musik min’yō, Kakegoe sendiri sering dimasukkan sebagai bagian paduan suara. Dan tidak jarang juga para samurai jepang sangat suka dengan alunan musik min’yō. Di setiap daerah banyak sekali variasi kakegoe dari satu wilayah ke wilayah lainnya hal ini menyebabkan kekayaan budaya yang bermacam ragam. Di Okinawa sendiri sebagai contoh, teriakan itu berupa “ha iya sasa!” Di daratan Jepang sendiri teriakan itu berupa “a yoisho!,” “sate!,” atau “a sore!” serta “a donto koi!,” dan “dokoisho!”

Baru-baru ini sistem berbasis serikat dikenal di jepang sebagai sistem iemoto telah yang tealah diterapkan untuk beberapa jenis lagu min’yō. Sistem ini awalnya dikembangkan di semua daerah di jepang untuk mentransmisikan atau menularkan sehinga genre klasik seperti nagauta, shakuhachi, atau musik koto tidak digerus jaman dan hilang begitu saja, tapi hal ini karena terbukti menguntungkan untuk para guru pengajar musik min’yō dan didukung oleh niat kemauan siswa yang ingin memperoleh sertifikat kemahiran dan serta nama-nama artis terkenal di jepang terus menyebar genre seperti min’yō, Tsugaru-jamisen dan jenis-jenis musik tradisional lainnya agar terkenal dan ditularkan dengan cara yang lebih resmi dan di kemas dengan sistem modern. Saat ini, beberapa min’yō diwariskan dalam organisasi keluarga pseudo yang mana setiap anak anak penerusnya wajib sekali tau dan mencintai music min’yō ini.

Ini adalah beberapa foto yang ada di jepang tentang penerapan di keseharian masyarakat dan pelesatarian budaya yang khusus nya adalah budaya lagu min’yō.

arif 1  arif 2

arif 3  arif 4

DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Musik_Jepang

http://alatmusiktradisional.com/alat-musik-tradisional-jepang.html

Macam Tradisi & Budaya Jepang, Budaya Tradisional Hingga Modern

https://marthanuning.wordpress.com/musik-jepang/

http://www.compusiciannews.com/read/Mengenal-Alat-Musik-Tradisional-Jepang-Shamisen-dan-Koto-2800

https://googlegambar.com/kebudayaan-jepang- min’yō

 

Advertisements