Tags

,

NAMA       :   MOCHAMAD ISKAMAL

NIM           :  1302045014

PRODI       :  HUBUNGAN INTERNASIONAL REG 2013

MATKUL   :  POLITIK DAN PEMERINTAHAN JEPANG

 

” JEPANG DI MATAKU “

Menurut saya sebuah negara tidak bisa terlepas dari kebudayaan , sama halnya dengan jepang, jepang juga memiliki budaya , seni dan tradisi yang sangat banyak dan beragam . karena banyaknya ragam budaya yang mereka miliki tentu saja saya tidak akan mungkin menuliskan semuanya . Saya akan menjelaskan salah satu kebudayaan jepang yaitu ORIGAMI .

 

ORIGAMI

 kamal 1

Apakah origami itu ?

Hingga abad 21 sekarang ini, kita sudah tidak asing lagi dengan istilah Origami. Meskipun demikian, dalam tulisan kali ini akan dibahas dari awal lagi mengenai “Apakah Origami itu?” agar pemahaman kita lebih jelas lagi. Origami berasal dari kata 折る ‘oru’ yang berarti “melipat” dan kata 紙 ‘kami’ yang berarti kertas. Sehingga jika kedua kata ini digabungkan akan menghasilkan arti “kertas lipat” atau “lipatan kertas”.Origami merupakan seni melipat kertas yang berasal dari China pada sekitar abad ke-7 yang kemudian di populerkan di negara Jepang, sehingga, terkesan bahwa Origami memang betul-betul asli dari negara Jepang. Meskipun demikian, Origami sudah menjadi salah satu bagian budaya tradisional yang sudah mendarah daging di seluruh masyarakat Jepang. Hal ini bisa dilihat bahwa pda kenyataannya Origami sering diajarkan pada siswa-siswi mulai di sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar. Selain itu, bukti bahwa masyarakat Jepang sangat mencintai Origami adalah, mereka selalu melakukan inovasi dan improvisasi yang kreatif dalam menghasilkan beragam bentuk lipatan Origami yang sangat tinggi nilai seninya.

Sejarah Origami

Kertas yang pertama kali digunakan untuk membuat Origami dinamakan kertas Washi. Kertas Washi yang lembut dan indah ini pertama kali diciptakan pada awal abad ke-7 dan merupakan hasil China dalam pengembangan metode pembuatan kertas yang masuk ke Jepang. Penemuan Washi menghasilkan berbagai benda kebudayaan dan salah satunya adalah Origami.

Terkadang ada pertanyaan tentang “Kapan Origami pertama kali dipraktekkan?” yang agak sulit dijawab berdasarkan dengan bukti-bukti peninggalan sejarah yang ada. Hingga saat ini, tidak cukup banyak dokumentasi yang ditemukan, sehingga sulit untuk mengatakan secara pasti kapan Origami pertama kali dipraktekkan oleh masyarakat. Namun, sebagaimana kertas Tatou, kertas origami dikatakan telah digunakan secara praktis untuk membungkus berbagai benda sejak abad ke-10.

Pada kenyataannya, memang ada yang menyatakan bahwa selain Jepang, Origami berasal dari China dan Spanyol. Di Eropa, teknik pembuatan kertas sudah ada di abad ke-12, dan mereka juga bermain Origami dengan cara sendiri. Tapi, bagaimanapun juga, kiranya cukup adil untuk mengatakan bahwa Jepanglah yang paling aktif mengembangkan seni Origami dan sekaligus menjaga nilai-nilai kesenian yang tradisional hingga sampai pada era modern. Itulah mengapa, jika disebut kata Origami maka secara otomatis kita akan mengidentikannya dengan negara Jepang sebagai asal kesenian ini.
Apakah Lem atau Gunting Tidak Digunakan Dalam Origami?

Menggunakan lem merupakan hal yang tidak aneh dalam Origami. Lem digunakan untuk menyatukan dua hal yang terpisah atau untuk menguatkan bagian-bagian tertentu. Seiring berjalannya waktu, bentuk dari satu karya Origami dapat menjadi hancur, sehingga untuk menjaga bentuknya diperlukan penggunaan lem untuk menguatkan bagian0bagian kertas yang digunakan.

Ada banyak beberapa contoh di mana gunting digunakan pada karya klasik atau tradisional. Kini, diantara para penggemar Origami, ada juga yang tetap mempertahankan pemikiran dimana penggunaan gunting tidak diperbolehkan, dan yang paling baik adalah menyeleseikan satu kreasi origami hanya dengan menggunakan selembar kertas bujur sangkar. Ha ini didasari oleh hakikat menjaga ketradisionalan Origami itu sendiri yang benar-benar hanya mengandalakan lipatan pada kertas tanpa menggunakan alat potong dan alat tempel. Namun seiring dengan perkembangan Origami dari waktu ke waktu yang dikembangkan dengan penuh inovasi dan kreasi oleh tangan-tangan modern hingga menghasilkan bentuk Origami yang mengagumkan, maka alat bantu gunting dan lem memiliki peran dalam proses penciptaannya.

kamal 2Origami Bangau – Sebuah Simbol Perdamaian (Kisah 1000 Bangau)

 

kisah 1000 bangau ini bermula dari kisah seorang gadis kecil benama Sadako Sasaki (1943-1955) berusia 10 tahun. Pada saat itu dan mengalami sakit akibat dari pemboman Hiroshima. Sadako percaya bahwa ia akan sembuh dengan doa yang ia selipkan pada Origami bangau yang dibuatnya hingga mencapai jumlah 1000 buah. Namun, Tuhan berkehendak lain karena Sadako akhirnya meninggal pada usia 12 tahun.

Kisah yang menyayat hati ini diceritakan dalam berbagai versi hingga menyebar ke seluruh dunia. Di Hiroshima Peace Memorial Park dibangun monumen Perdamaian Anak yang menggambarkan Sadako dihiasi dengan ribuan kalung bangau dari seluruh dunia. Kini, 1.000 bangau tidak hanya menjadi doa agar harapan seseorang terkabul, namun juga sebagai simbol doa untuk perdamaian.

Dalam kehidupan sehari-hari saat ini, kepercayaan tentang dengan membuat 1.000 buah Origami bangau bisa mewujudkan harapan masih bertahan di masyarakat. Biasanya 1.000 buah Origami yang dibuat diharapkan bisa mewujudkan harapan lulus ujian, keselamatan, mewujudkan cita-cita dan lain-lain. Namun pada intinya, mereka tidak hanya berdiam diri dalam usaha mewujudkan harapan dan keinginannya hanya dengan membuat 1.000 Origami bangau saja, mereka juga tekun berusaha. Sehingga dengan membuat 1.0000 Origami bangau mereka bisa menyelipkan doa dan membulatkan tekad berulang-ulang kali hingga menghasilkan 1.000 buah bangau, hingga keinginan dan harapannya terwujud.

Esensi Origami

Bagi orang yang baru mengenal istilah Origami atau baru saja belajar membentuk sebuah wujud dari pola Origami, kemungkinan besar hanya menganggap Origami hanya sebuah hiburan atau permainan dari kertas. Namun sebenarnya, ada banyak esensi yang dimiliki oleh Origami itu sendiri. Dengan penciptaan sebuah bentuk Origami , seseorang diharapkan belajar sikap yang luwes yang tercermin dalam keluwesan kertas yang dilipat sesuai pola yang ada, keterampilan yang tercermin dalam pembentukan wujud Origami yang beragam, kesabaran yang tercermin dalam tiap lekukan dan lipatan yang detail hingga membentuk sebuah wujud kreasi Origami yang indah. Dari sikap ini akan membentuk pola pikir manusia yang luwes dalam menyikapi permasalahan dalam hidup, terampil dalam menghasilkan ide-ide cemerlang dan tidak hanya memandang sebuah masalah kehidupan hanya dari satu sisi saja, serta kesabaran yang diperlukan manusia dalam menekuni suatu hal yang dilakukan dalam hidupnya hingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi hidupnya dan hidup orang lain.

Keseluruhan sikap yang dituntut dikuasai oleh seseorang yang sedang ber Origami ini bisa dirangkum dalam satu wadah konsep yang disebut dengan 和 ‘wa’ yang memiliki arti “harmoni”. Harmoni juga bisa diartikan sebagai keselarasan dan keserasian. Coba kita perhatikan dari awal pembentukan sebuah karya Origami yang diawali dengan penggunaan kertas bujur sangkar yang pasti panjang setiap sisinya berukuran sama. Kemudian setiap lipatan didasarkan pada pedoman pembagian garis lipatan horizontal dan vertikal serta pola-pola lipatan lain yang harus seimbang. Jika keseimbanagan lipatan diabaikan, maka sebuah bentuk Origami yang indah tidak akan terwujud.

Oleh karena itu, sangat benar jika Origami memiliki esensi menjaga keharmonian. Inilah yang terdapat dalam konsep kehidupan orang Jepang yang selalu menjaga keharmonian dalam kehidupannya. Meskipun pada kenyataannya orang Jepang banyak yang tidak mematuhi peraturan agama serta lebih mengedapankan rasional daripada keputusan Tuhan. Mereka berusaha menciptakan hidup yang harmoni, selaras dan serasi dalam kehidupan sehari-hari. hal ini bisa kita lihat dalam kebiasaan hidupnya yang disiplin, mampu menghargai karya orang lain dengan baik, menghargai waktu dengan seksama, memiliki toleransi yang tinggi dalam kesehariannya, mampu menghormati orang lain pada tempatnya yang diwujudkan dalam budaya Ojigi,penggunaan bahasa sopan keigo, sonkeigo dan kenjogo, konsentrasi penuh dengan apa yang dikerjakannya hingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, tekun dan terampil dalam bekerja, cenderung dinamis dalam mengembangkan pola pikir ke arah yang positif, serta menjaga sisi ketradisonalan negara Jepang meskipun di tengah era modernisasi yang kian memuncak misalnya pengadaan festival atau matsuri, seni minum teh chanoyu, seni merangkai bunga ikebana dan masih banyak lagi ketradisionalan yang mereka jaga hingga saat ini. Dengan mewujudkan semua aspek kehidupan ini, masyarakat Jepang yakin keharmonian hidup yang tercipta akan semakin indah adanya.

 

 

 

Advertisements