Tags

, ,

Nama               : Asih Dewi Lestari

NIM                : 1402045014

Prodi               : Hubungan Internasional (A)

Matkul             : Pemikiran Politik Jepang

Jepang Negara Peduli Pendidikan

(Kawanku Sang Kereta Malang, Arigatou Gozaimashita!!!)

Semua orang yang ada di dunia ini pasti tidak asing lagi mendengar sebuah negara canggih bernama Jepang. Negara “Matahari Terbit” adalah julukan yang disandang oleh negara tersebut. Kunci kesuksesan negara jepang yang membuatnya menjadi negara canggih seperti saat ini adalah adanya rasa peduli yang tinggi terhadap pembangunan sumber daya manusia dengan cara memperhatikan pendidikan setiap warga negaranya.  Rasa kepedulian terhadap pendidikan yang tinggi ini telah berakar sejak lama, terbukti dalam sejarah Jepang pada saat keikut sertaannya dalam perang dunia, yang mana pada saat itu kekalahan dalam perang dunia II memporak-porandakan Jepang. Jepang menjadi negara yang terpuruk dengan hancurnya kota Nagasaki dan Hiroshima oleh bom yang diuncurkan oleh Amerika. Walaupun keadaan Jepang pada saat itu sedang kacau namun sang pemimpin yang bernama  Kaisar Hirohito pada saat itu menciptakan suatu gebrakan yang sangat luar biasa. Setelah mengalami kekalahan tersebut Kaisar Hirohito langsung mengumpulkan semua jenderal-jendralnya yang masih bertahan hidup. Beliau pun bertanya kepada para Jenderalnya “ Berapa jumlah guru yang tersisa?” pertanyaan tersebut sontak membuat para jenderal bingung, megapa Kaisar mereka malah menanyakan berapa jumlah guru yang tersisa? bukan berapa jenderal yang tersisa? dan mereka menegaskan bahwa meraka masih sanggup menyelamatkan serta melindungi Kaisar walaupun tanpa guru. Namun Kaisar Hirohito kembali berkata, “ Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi  perang. Tapi kita tidak tahu bagaimana kita akan mengejar mereka? Maka kumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa diseluruh pelosok kerajaan ini, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada kekuatan senjata”. Kata-kata tersebut adalah suatu bukti nyata bahwa jepang menjadi negara yang hebat seperti ini karena adanya kesadaran pentingnya pendidikan bagi pembangunan  negara mereka.

Upaya pemerintah Jepang dalam bidang pendidikan sangatlah tinggi. Dahulunya para pemuda Jepang dikirim oleh pemerintah ke luar negeri untuk belajar sesuai dengan bidangnya masing-masing. Hal ini memiliki tujuan yang jelas yaitu untuk mencari ilmu dan menanamkan keyakinan bahwa Jepang akan dapat berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dengan kemajuan dunia barat. Kegiatan Jepang dalam mencerdaskan anak bangsanya telah menuai hasil yang signifikan. Hubungan timbal balik antara majunya pendidikan Jepang dan kemajuan industrinya benar-benar terwujud. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan bangsa Jepang tumbuh menjadi negara industri utama di Asia, yang kedudukannya sejajar dengan bangsa barat lainnya.

Pendidikan yang memang meluas di Jepang telah membuat orang-orang Jepang hampir semuanya melek huruf mendekati angka 100%, dan orang yang buta huruf kurang lebih hanya 0,7% pada tahun 1979. Bayangkan betapa hebatnya Jepang dalam membangun pendidikannya. Ditahun 70-an saja Jepang sudah bisa mencetak rekor melek huruf yang luar biasa. Dalam era sekarang ini Jepang tentunya lebih meningkatkan mutu pendidikannya dengan memberikan fasilitas-fasilitas yang lengkap dan canggih bagi para anak bangsanya.

Dengan kemajuan pendidikan yang pesat, standar pendidikan di Jepang pun menjadi tinggi. Tingginya standar pendidikan di Jepang tidak semata-mata muncul dengan sendirinya, bangsa Jepang sendiri memiliki ciri utama  yang selalu haus akan pendidikan dan tak pernah puas akan pengehtahuan. Niat baca warga Jepang sangatlah tinggi bukan hanya bacaan berupa buku ilmu pengehtahuan, teknologi, dan sastra saja yang menjadi bahan bacaan mereka, tetapi koran pun masih menjadi bacaan wajib setiap harinya. Membaca bagi kebanyakan orang Jepang bukan merupakan kegiatan yang dipaksakan, tetapi karena dalam diri mereka sendiri mereka telah menanamkan suatu sifat kebutuhan akan bacaan. Maka dari itu tidaklah heran bila melihat kehidupan orang Jepang tidak akan lepas dari membaca.

Sejak tahun 1947 pemerintah Jepang telah membuat program mewajibkan setiap warga negara untuk bersekolah selama 9 tahun, di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Program ini tidak main-main sehingga jika ada warga negara yang melanggar, maka akan dikenakan sanksi. Demi kemajuan pendidikan di Jepang, pemerintah Jepang bahkan benar-benar membebaskan warganya belajar sampai SMP tanpa dipungut biaya sedikitpun alias gratis. Para warganya difasilitasi  peralatan sekolah dari kepala sampai kaki semuanya diberikan secara cuma-cuma.

Pemerintah Jepang telah berhasil merombak masyarakatnya memalui pendidikan. Usaha-usaha ini tidak lepas dari beberapa hal yaitu, adanya perhatian kepada pendidikan yang datang dari berbagai macam pihak, sekolah di Jepang yang tidak mahal, di jepang tidak ada diskriminasi terhadap sekolah, kurikulum sekolah di jepang sangatlah berat, dijaminnya guru tidak akan kehilangan jabatan, para guru di Jepang penuh dedikasi, adanya rasa wajib memberi pendidikan sebagai manusia yang telah tertanan di diri mereka, dan guru di Jepang bersikap adil.

Keseriusan pemerintah Jepang dalam pendidikan warga negaranya kemudian menimbulkan sebuah kisah menakjubkan yang dilakukan oleh pemerintah Jepang. Sebuah stasiun kereta di wilayah pulau paling utara Hokkaido rela membatalkan penutupan stasiun tersebut demi seorang gadis perempuan yang masih menimba ilmu di bangku sekolah menengah atas. Stasiun Kami-Shirataki adalah stasiun kereta yang berada disebuah desa bernama Engaru. Pedesaan ini dulunya memiliki penduduk yang lumayan banyak. Tapi seiring berjalannya waktu generasi muda yang berada di desa itu secara berlahan pergi meninggalkan Engaru dan menetap di perkotaan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Stasiun Kami-Shirataki yang dulunya cukup ramai karena menjadi pusat transportasi angkutan para penduduk desa, kini semakin lama kehilangan para menumpang yang setiap harinya memenuhi stasiun ini. Keadaan ini membuat Japan Railways sebagai perusahan pun bersiap untuk menutup stasiun tersebut sekitar 3 tahun yang lalu. Bahkan Stasiun Kami-Shirataki telah kehilangan setidaknya 20 jalur rel dalam beberapa dekade terakhir. Tapi niatan itu tidak jadi terlaksana. Karena stasiun ketara ini harus tetap beroperasi untuk Kana seorang siswa SMA. Kana Harada merupakan satu-satunya siswa SMA yang tinggal di desa Engaru. Dia bersekolah di Engaru High School, yang mana hanya ada satu kereta dipagi hari yang dapat mengantar Kana pergi ke sekolah tersebut yang berada di Asahikawa. Tanpa adanya kereta ini siswa SMA ini harus mengambil kereta di stasiun lain yang baru akan datang pada pukul 9 pagi. Tentu saja jika Kana menggunakan kereta ini ia akan telambat. Atau menggunakan kendaraan yang jauhnya 30 km dari stasiun ke sekolah.

Japan Railways sebagai perusahan meresa memiliki tanggung jawab pada Kana bahkan sampai membuatkan jadwal khusus kedatangan kereta agar dapat digunakan untuk berangkat maupun pulang sang siswa SMA itu. Dengan layanan kereta ini sangat memudahkan keluarga Kana. Orang tua Kana hanya perlu mengantarnya ke stasiun tersebut selama 5 menit. Setelah itu Kana pergi menggunakan kereta pada pukul 7:16 pagi. Lama perjalanan dengan kereta memakan waktu 57 menit. Dikarenakan hanya kereta itu yang dapat diguakan kana, maka setelah sekolah, Kana tidak sempat melakukan kegiatan lain di sekolahnya. Karena ia harus kembali ke stasiun untuk naik kereta pulang ke rumah.

Kereta yang beroperasi di Kami-Shirataki ini hanya memiliki memiliki dua tujuan yaitu mengantarkan gadis tersebut ke sekolah dan menjemputnya pulang sekolah. Begitu besarnya  perhatian dan investasi pendidikan bagi pemerintah Jepang, dari pada memikirkan dari segi komersilnya atau keuntungan perusahaan semata. Stasiun ini sendiri akan resmi di tutup setelah Kana lulus SMA pada bulan Maret.

Akhirnya Stasiun Kami-Shirataki yang keretanya hanya memiliki satu penumpang ini resmi ditutup pada tanggal 26 Maret 2016, karena Kana telah menyelesaikan pendidikannya di bangku SMA. Mendengar pengumuman dari perusahaan kereta tersebut membuat hati Kana sedih. Setelah ia menikmati waktunya bertahun-tahun ke sekolah dengan kereta, menikmati stasiun kereta seperti rumahnya sendiri. Semua itu akan menjadi kenangan terindah bagi Kana sepanjang hidupnya. Waktu ini pun telah tiba, Kana dipaksa harus berpisah dengan kawan sejatinya itu.  Kini tugas mulia Stasiun Kami-Shirataki telah usai. Stasiun yang sangat luar biasa ini telah menyelamatkan seorang anak dari kemungkinan dirinya akan putus sekolah. Jasa  Stasiun Kami-Shirataki sangat membanggakan sekali dan layak diberi apresiasi yang sebesar-besarnya. Seperti inilah kepedulian pemerintah Jepang terhadap pendidikan warganya. Jepang tetap melayani warganya sepenuh hati dengan kereta walaupun penumpangnya hanya satu, semua ini dilakukan demi pendidikan generasi muda bangsa.

Dedikasi pemerintah Jepang kepada pendidikan para warga negaranya patut diacungi jempol. Pemerintah Jepang tahu bahwa siswa sangatlah bernilai. Jepang melihat bahwa gadis itu adalah sebagai investasi jangka panjang bagi negara mereka. Jadi mereka tidak merasa rugi melakukan semua itu untuk Kana. Apa yang dilakukan oleh pemerintah Jepang ini menjadi pelajaran bagi negara-negara lainnya, bahwa pendidikan itu sangatlah berharga bagi masa depan bangsa. Sikap menghargai setiap siswa tersebut adalah hal yang menyadarkan dunia bahwa setiap siswa yang ada disuatu negara berhak mendapatkan pendidikan dan fasilitas  yang layak, memaksimalkan penyediaan semua sarana yang diperlukan untuk pendidikan setiap warganya. Terima kasih Jepang karena telah memberikan sebuah cerita inspiratif yang sangat mengharukan. Betapa pendidikan itu adalah hal yang berarti bagi semua. Inilah bentuk komitmen Jepang terhadap dunia pendidikan.

                                                                      ありがとうございました ^-^asih 1asih 2asih 3asih 4

 

Advertisements