Tags

, ,

Nama  : Nur Rahmat

NIM    : 1402045020

Prodi   : Hubungan Internasional A

 Mata Kuliah Pemerintahan Jepang

 

IJIME

Ketika mendengar kata ijime atau bully saya mendengar di salah satu media televisi swasta indonesia. Dimana televesi tersebut membahas ijime yang ada di jepang. Tingkat bullying di Jepang sangat lah tinggi dan nomor satu di dunia masalah bullying. Terlintas di pikiran saya mengapa jepang sangat tinggi mengenai bullying, bukannya jepang sangat terkenal dengan budaya sopan santunnya. Dimana orang jepang sangat menghormati satu sama yang lain. Dan jepang juga mempunya budaya malu yang sangat tekenal.

Dan banyak kasus baik media cetak maupun elektronik yang memberitakan tentang kasus bunuh diri yang terjadi di jepang. Kasus bunuh diri tersebut diakibatkan oleh faktor bullying. Dimana si korban tidak kuat dalam psikisnya faktor bullying. Faktor apa yang menyebabkan terjadi Ijime? Bagaiman keadaan sikorban saat di Ijime? Kenapa korban tidak melawan saat di ijime dan bagaimana pemerintah menaggulangi masalah sosial ijime tersebut

rahmat 1

Ijime merupakan kata jepang yang berati bullying/ dijahilin/ diolok-olok. Menurut kemntrian pendidikan jepang ijime adalah bentuk penyerangan tertentu, baik secara fisik maupun psikis. Yang dilakukan secara sengaja dan berkelanjutan kepada korban yang lebih lemah dari pada pelaku. Dimana si korban merasa dirugikan. Para sosiolog Jepang secara sederhana mendefinisikan ijime sebagai tindakan penganiayaan yang terjadi di dalam kelompok masyarakat Jepang. Namun ada beberapa sosiolog jepang yang mengatakan ijime memiliki perbedaan dengan bulying. Salah satunya adalah Mitsuru Taki dia mengatakan bahwa  dua hal yang menjadi perbedaan paling mendasar di antara ijime dengan bullying. Pertama, definisi ijime yang dikemukakan oleh Morita memberikan penekanan pada ide posisi dominan yang berkaitan erat dengan interaksi di dalam satu grup yang sama. Hal ini berarti korban dan pelaku memiliki hubungan kekerabatan yang dekat. Korban ijime bisa saja orang-orang yang berada dalam kelas yang sama, lingkungan pekerjaan yang sama, bahkan tidak jarang masih merupakan anggota keluarga si pelaku. Yang menjadi perbedaan yang mencolok antara korban dan pelaku adalah pelaku memiliki posisi yang lebih berkuasa dibandingkan korban. Dominasi kekuasaan itu seolah-olah membuat si pelaku berhak untuk melakukan ijime terhadap orang lain yang tidak disukainya. Hal kedua yang membedakan ijime dengan bullying adalah sasaran utama dari tindakan ijime bukanlah fisik melainkan mental korban. Inilah yang menjadi karakteristik dari ijime di Jepang. Tujuan dari tindakan ijime adalah untuk menjatuhkan mental korban, membuat korban merasa rendah diri dan tidak pantas berada di dalam suatu kelompok yang sama dengan si pelaku.

rahmat 2

Taki (2001) menyatakan bahwa berdasarkan hasil survey yang dilakukan peneliti Jepang banyak disebutkan bahwa ijime dapat terjadi kapanpun, di sekolah manapun, dan di antara anak-anak manapun. Survey tersebut menyatakan bahwa ijime tidak dipertimbangkan sebagai tingkah laku spesifik seorang anak yang “luar biasa” dengan latar belakang yang problematik tetapi sebagai seorang anak yang biasa. Yang melakukan ijime bukan hanya anak-anak yang memiliki latar belakang yang berbeda namun anak-anak biasa yang dengan latar belakang baik dan tidak pernah mendapat perlakuan tidak baik pun bisa melakukan ijime

Kriteria yang Menyebabkan Ijime

Ada beberapa kriteria orang menjadi korban ijime yaitu lebih pintar, bodoh, berbeda suku, teman pindahan, orang asing, hobinya berbeda dengan yang lain, dan lain-lain. Pokoknya yang berbeda dengan kebiasaan dengan mereka akan di jadikan korban bulying. Ciri-ciri dampak korban bulying biasanya mengalami depresi yang sangat mengganggu si korban, mengalami kurang kepercayaan diri atau minder dalam diri si korban, sikorban biasanya menjadi pemalu dan lebih menyendiri dengan temannya, dari depresi dan kurang kepercayaan si korban biasanya mengalami kemerosotan dalam prestasi di bidang akademik, sikorban merasa dirinya terisolasi dari teman-teman di sekitarnya, dan bahkan yang lebih mengerikan sikorban berpikir untuk melakukan bunuh diri.

Adapun seseorang korban mengalami ijime dikelasnya yang harus diperhatikan adalah dimana sikorban tersebut enggan untuk berangkat sekolah dan mencari alasan terhadap orang tua untuk tidak berangkat sekolah. Sikorban mengalami penurunan daya tahan tubuh akibat dari ijime yang dilakukan oleh si pelaku. Barang-barang yang dimiliki si korban mengalami kerusakan dan hilang. Rasa amarah atau benci yang sering terluapakan kepada orang lain atau merusak benda untuk meluapakan amarahnya. Biasanya kasus ijime memang sering terjadi di dunia sekolah jepang. Namun pihak sekolah sering menyangkal akibat kasus ini, karena para guru takut sekolah nya turun kredibilitasnya.

Jepang terkenal dengan kasus ijime yang sulit untuk dilepaskan dari masyarakat jepang. Yang pertama karena jepang memiliki sikap homogenitas, dimana masyarakatnya lebih nyaman hidup yang sama dengan orang lain. Mereka takut berbeda dengan orang lain karena takut untuk di ijime. Sehingga masyarakatnya berusaha untuk sama dengan orang lain, walaupun masyarakatnya memiliki kelebihan biasanya di pendam dan menyimpan dalam-dalam kemampuan yang dimilikinya. Yang kedua, sistem pendidikan yang lebih condong ke sebuah karier si siswa tersebut dimana masyarakat berlomba-lomba untuk belajar dan mendapatkan perguruan tinggi yang bagus ditengah ketatnya pendidikan dijepang. Sehinngga sekolah akan berusaha menciptakan reputasi sekolah dan siswa yang berprestasi. Yang ketiga, pola asuh orang tua yang salah merupakan sipelaku melakukan ijima terhadap orang lain. Di dalam jepang terkenal dengan kata-kata kyouiki mama yang berarti seorang mama yang bertanggung jawab untuk mempersiapkan anaknya untuk masuk disekolah yang sangat kredibilitas. Ketika anak tersebut tidak lulus masuk di sekolah atau perguruan tinggi yang berkredibilas maka si orang tua si anak yang ada di jepang sangat memalukan bagi keluarga. Sehingga membuat si Anak sangat depresi dari keluarga dan melimpahkan emosinya ke teman-teman yang ada disekolahannya.

Jumlah kasus ijime di Jepang sebanyak 124.898 kasus menurut data Kementerian Pendidikan Jepang. Dari jumlah kasus itu , 35 persen di kalangan SLTA, 40 persen di kalangan SLTP dan 25 persen kalangan SD. Sedangkan yang bunuh diri dari 124.898 kasus itu, 171 orang bunuh diri. Ada yang sangat memprihatinkan dalam kasus ijime tersebut. Pada tahun 2006 ada seorang anak laki-laki mengirimkan surat kepada kementrian pendidikan jepang. Seorang anak laki-laki tersebut sangat tersiksa sekali dengan kasus ijime yang dilakukan oleh teman-temannya. Ditambah lagi dengan pihak sekolah yang sangat tidak peduli dan terkesan membiarkan kasus ijima yang dilaporkan oleh si anak laki-laki tersebut. Sehingga sikorban tersebut mencoba membuat surat yang dikirimkan kepada kementrian pendidikan. Dalam isi surat tersebut dari artikel yang saya baca bahwa intinya kekecewaan terhadap pihak sekolah terutama para guru yang mebiarkan dan terkesan menyepelekan kasus yang dialmianya, seharusnya guru sebagai pengayom para siswa.

rahmat 3                   rahmat 4

Surat yang ditulis seorang laki-laki korban ijime

Dan ada kasus lagi dari artikel otaku yang saya baca bahwa ada gadis 8 tahun yang tinggal di daerah osaka melakukan bunuh diri dengan mengikat handuk dilehernya dan rak pakaian setinggi 1,8 m di beranda apartemen mereka, menggunakan kursi lipat untuk mencapai rak dan menjatuhkan dirinya. Korban ditemukan oleh ibunya yang pulang dari kerja. Lalu ayahnya menghubungi pelayanan darurat, namun telah dinyatakan meninggal. Lalu orang tuanya bercerita bahwa anaknya karena seseorang telah merusak buku nya, dari total 12 ada yg menulis nama nya dan kata “mati “. Pada waktu itu gadis itu mengambil 8 hari utk izin dari sekolah, tapi kemudian kembali masuk. Ibu dari salah satu temannya menggambarkan dirinya sebagai “seorang gadis kecil sopan” dan mengatakan bahwa dia tidak akan terpengaruh pada perbuatan temannya itu, sementara seorang wanita yang mengetahui gadis itu sebagai “gadis yg imut” melaporkan bahwa gadis itu telah menjadi korban kekerasan fisik oleh teman sekelasnya.

Ada Salah satu manga yang menceritakan tentang ijime adalah manga yang berjudul life. Dimana dalam manga tersebut menceritakan seorang siswa di perlakukan ekstrim yang di lakukan oleh teman-temannya.

Kesimpulan dari jabaran diatas yang dapat saya ambil yaitu sangat miris melihat jepang sesungguhnya, negara maju dimana sangat terkenal bahkan seantero dunia menjunjung akan budaya sopan santun dan saling menghormati. Dengan kasus ijima yang sudah memakan banyak korban bunuh diri, kita dapat memetik pembalajaran dimana kita harus menghormati dan menerima kekurangan satu sama lain. Dalam kasus ijima memang sangat rumit dan telah mendarah daging di masyarakat jepang. Namun peran keluarga sangatlah penting karena lingkungan pertama atau lingkungan inti dalam bersosialisasi.

 

Advertisements