Tags

, ,

Nama   :           Ang Gary Angelo

NIM    :           1402045028

Kelas   :           Hubungan Internasional 2014(A)

Jepang Di Mataku : Bushido

Menurut pandangan saya, hal yang sangat dikenal oleh masyarakat internasional tentang jepang adalah semangat dan kode etik Samurainya, atau yang lebih dikenal dengan Bushido. Kode etik tersebut sangat terkenal di mata internasional dikarenakan oleh fakta dimana kode etik tersebut sangat menjunjung tinggi kehormatan seseorang. Selain itu, keberadaan Bushido sendiri sangat unik walaupun dihadapkan dengan fakta samurai sudah tidak ada di Jepang, namun semangat dan kode etik mereka masih bertahan dari terpaan majunya teknologi dan globalisasi tidak seperti kode etik ksatria di barat yang menghilang ketika munculnya persenjataan dan teknologi modern. Selanjutnya, saya akan menjelaskan apa itu Bushido.

Bushido, seperti yang kita ketahui adalah sebuah kode etik keksatriaan golongan Samurai dalam feodalisme Jepang. Bushido berasal dari nilai-nilai moral samurai, paling sering menekankan beberapa kombinasi dari kesederhanaan, kesetiaan, penguasaan seni bela diri, dan kehormatan sampai mati. Kode ini terlahir dari Neo-confucianisme pada zaman kedamaian di Tokugawa, Jepang dan mengikuti beberapa tulisan-tulisan confucianisme, Bushido juga dipengaruhi oleh kepercayaan Shinto dan Zen Buddhism, yang menyebabkan keberadaan Samurai yang kasar ditempa dengan kebijaksanaan dan ketenangan. Bushido mulai berkembang pada abad ke 16 dan 20, namun masih diperdebatkan keberadaannya sejak abad ke 10 walaupun beberapa sarjana melihat bahwa istilah Bushido sendiri jarang ditemukan di literatur zaman pra-modern.

Dapat ditelusuk dari sejarahnya diatas, Bushido sendiri merupakan kebudayaan yang ada sejak lama namun eksistensinya tetap ada sampai jaman sekarang. Hal inilah yang membuat Bushido sendiri sebagai salah satu hal yang paling dikenal dari Jepang. Berikut perjalanan panjang dari sejarah Bushido itu sendiri :

Sejarah Awal – Abad ke-11

Pada zaman ini, konsep awal dari Bushido ditemukan di dalam Shoku Nihongi, buku yang berisi tentang sejarah awal Jepang yang ditulis pada tahun 797. Bab yang meliputi tahun 721 sangat dikenal karena penggunaan awal dari kata “Bushi”(武士)(Yang masih dibaca sebagai “mononofu” pada waktu itu) dan referensi tentang idealisme ksatria-penyair terpelajar. Istilah Tionghoa tentang bushi sendiri sudah memasuki kosakata Jepang melalu pengenalan awal dari literatur-literatur Tionghoa, yang mendukung arti awal dari tsuwamono dan mononofu.

Selain itu, terdapat juga referensi terhadap saburau, kata yang berarti ‘untuk menunggu atau menemani seseorang dengan posisi tinggi’ muncul di dalam Kokin Wakashū, buku kerajaan yang berisi koleksi puisi yang dipublikasikan pada awal abad ke-10. Pada akhir abad ke-12, saburai(“pengikut”) telah menjadi sinonim dengan bushi, dan diasosiasikan dengan posisi menengah dan tinggi pada kelas ksatria.

Walaupun banyak karya awal Jepang memiliki gambaran tentang ksatria, istilah bushido tidak muncul dalam karya-karya awalnya. Prinsip ksatria dan tindakannya mungkin diilustrasikan, namun istilahnya tidak muncul di karyanya hingga periode Tokugawa(1600-1868).

Abad ke-13 – Abad ke-16

Pada zaman ini, terdapat banyak referensi dari literatur-literatur yang ada terhadap prinsip militer, namun masih belum secara langsung bisa disebut bentuk awal dari bushido. Namun, terdapat buku yang dikompilasikan selama tiga abad yang bermula sejak awal 1180-an berjudul Heike Monogatari(Cerita Heike) yang menggambarkan cerita tentang persaingan antara dua klan ksatria, Minamoto dan Taira, pada akhir abad ke-12, konflik yang dikenal dengan dengan Perang Genpei.

Pada buku tersebut, dipaparkan jelas prinsip seorang ksatria yang benar. Ksatria didalam cerita tersebut menjadi model bagi ksatria terpelajar untuk generasi selanjutnya walaupun prinsip mereka dianggap tidak mungkin dicapai. Namun demikian, pada awal era modern, prinsip-prinsip ini sangat dikejar oleh masyarakat ksatria kelas atas dan direkomendasikan sebagai bentuk tepat dari ksatria Jepang.

Abad ke-17 – Abad ke-19

Pada zaman ini, Jepang menikmati keadaan yang relatif damai pada periode Tokugawa dari 1600 hingga pertengahan abad ke-19, juga dikenal dengan sebutan ‘Edo’ di jaman sekarang. Pada periode ini, kelas samurai bermain peran terpusat dalam mengatur kebijakan dan administrasi negara dibawah kekaisaran Tokugawa. Literatur bushido di jaman ini mengandung banyak pemikiran yang terkait dengan kelas ksatria yang mengejar aplikasi umum dari prinsip-prinsip bela-diri dan pengalaman dalam keadaan damai, juga sebagai refleksi dari sejarah panjang Jepang yang dipenuhi peperangan.

Abad ke-19 – Abad ke-21

Pada zaman saat ini dan masih berkembang, sarjana-sarjana dari Jepang maupun dari luar Jepang telah memfokuskan perbedaan diantara kelas samurai dan teori bushido yang berkembang di Jepang modern. Bushido pada jaman sebelum perang sering berpusat pada kekaisaran dan menaruh nilai yang sangat tinggi pada loyalitas dan pengorbanan diri daripada penggambaran di era Tokugawa. Bushido juga digunakan sebagai alat propaganda bagi pemerintah dan militer.

Sementara itu, pada era sebelum perang dunia ke-2 dan pada saat perang dunia ke-2, bushido ditekan penggunaannya untuk militer, menunjukkan bahwa perang itu sebagai penyucian dan kematian adalah tugas. Dengan doktrin inilah bushido menjadi perisai spiritual yang membuat tentara-tentara bertarung hingga titik darah penghabisan.

Berkat ini juga para tahanan perang menolak tuduhan penganiayaan tahanan perang yang dilayangkan ke Jepang karena kebaikan dan kemurah-hatian bushido. Interview yang dilakukan dengan tahanan juga digambarkan sebagai simpati kepada lawan, bukan sebagai propaganda, simpati inilah yang hanya bisa dimunculkan dengan bushido.

Ajaran Bushido

Bushido sendiri merupakan ajaran yang memperluas dan memformalkan bentuk awal dari kode samurai, dan menitikberatkan prinsip kesederhanaan, loyalitas, penguasaan akan seni bela diri, dan kehormatan sampai mati.

Bushido memiliki penggambaran yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Beberapa versi bushido melibatkan sikap rendah hati dan toleransi kepada orang-orang yang memiliki posisi dibawahnya dan demi menjaga nama baiknya. Bentuk awal literatur bushido menunjukkan syarat-syaratnya berupa : melakukan sesuatu dengan ketenangan, kesetaraan, keadilan, dan kesopanan. Hubungan antara belajar dan jalan seorang ksatria sangat dekat, berupa yang satu merupakan pasangan dengan yang lain.

Tujuh Kebajikan Bushido

Bushido memiliki 7 sikap kebajikan yang dianut oleh orang-orang yang menganut prinsip tersebut, yaitu :

-Kesungguhan (义 gi)

-Keberanian (勇 yu)

-Kebajikan (仁 jin)

-Penghargaan (礼 rei)

-Kejujuran (诚 makoto)

-Kehormatan (名誉 meiyo)

-Kesetiaan (忠义 chūgi)

Dan bagi para penganut prinsip ini, jika mereka melanggar salah satu sikap ini, mereka merasa kehilangan kehormatan dan harga diri mereka sehingga bushido juga bisa dikatakan menjadi kompas moral untuk menjalankan hidup yang benar. Namun, jika dilanggar, masih ada satu cara untuk memulihkan kehormatan pelanggar : seppuku/harakiri, tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh samurai di Jepang dengan cara merobek perut dan mengeluarkan usus untuk memulihkan nama baik setelah kegagalan saat melaksanakan tugas dan/atau kesalahan untuk kepentingan rakyat. Hanya samurai yang berhak melakukan ini. Berikut juga tokoh-tokoh Jepang yang menganut prinsip bushido.

Tokoh-Tokoh Terkenal Penganut Bushido :

Asano Naganori                    – Sakanoue no Tamuramaro     – Sasaki Kojirō

Imagawa Ryōshun                – Tadakatsu Honda                              – Torii Mototada

Katō Kiyomasa                     – Tokugawa Ieyasu                              – Saigō Takamori

Kaligrafi Tentang Kebajikan Bushido :

gary 1

Gambaran Samurai yang Melaksanakan Seppuku/Harakiri :

gary 2

Advertisements