Tags

, ,

NAMA   :  FINNY FITRIA FEBRIN

NIM       : 1402045062

KELAS  :  HUBUNGAN INTERNASIONAL – A

 

Jepang di Mataku : Bushido dan Tradisi Harakiri

Masyarakat Jepang dikenal begitu menanamkan prinsip- prinsip hidup seorang ksatria samurai (Bushido/武士道).  Etika moral Bushi-do yang terdiri dari  kesungguhan (义 /gi), keberanian (勇 /yu),kebajikan(仁/jin), penghargaan(礼/rei), kejujuran(诚/makoto), kehormatan(名誉/ meiyo), dan kesetiaan (忠义 /chūgi). Melalui prinsip-prinsip itulah yang membuat negeri matahari tersebut  mampu berdiri sebagai negara maju. Orang Jepang juga begitu melestarikan nilai-nilai kebudayaan, salah satunya tradisi bunuh diri untuk menjaga kehormatan.

Harakiri(腹切り) atau di Jepang disebut dengan seppuku(切腹) Seppuku atau dalam bahasa Indonesia artinya merobek perut adalah ritual bunuh diri yang awalnya dilakukan oleh para ksatria samurai dihadapan rekan sekelompoknya sebagai wujud penyesalan bila telah gagal dalam tugas. Bisa juga pada saat mereka tertangkap oleh musuh, mereka lebih baik membunuh diri sendiri daripada harus mati di tangan musuh. Ritual hara-kiri bisa dilakukan dengan suatu upacara. Orang yang hendak hara-kiri membersihkan diri terlebih dahulu, makan dulu, lalu menulis sebuah puisi. Setelahnya  dengan menggunakan tanto, ia menusuk perutnya hingga isinya perutnya keluar. Lalu tanto diletakkan di piring bekas makan tadi dan lalu giliran Kaishakunin (seorang pendamping) yang memenggal lehernya.

Selain dua istilah diatas ada pula yang namanya kamikaze ((神風) yang bila diartikan berarti angin dewa atau angin ilahi. Istilah ini merujuk pada bunuh diri  yang dilakukan para tentara Jepang dimasa Perang Dunia II. Dimana para prajurit rela mati bersama dengan musuh demi menjaga kehormatan. Istilah ini lebih dikenal dikalangan militer. Namun ada beberapa yang mempercayai bahwa ini merupakan bentuk propaganda para nasionalis Jepang zaman dulu saja.

Miris sebenarnya jika budaya hara-kiri dijadikan suatu self-punishment bila dirasa tidak sanggup lagi menanggung beban hidup. Seperti yang sudah dikatakan diatas bahwa bangsa  Jepang adalah bangsa yang sangat menjunjung tinggi kehormatan diri. Jadi bila dirasa harga diri sudah tidak ada lagi, lebih baik mati daripada menanggung malu seumur hidup. Bahkan  seseorang dapat melakukan harakiri sebagai bentuk ketidaksetujuan terhadap kebijakan pemerintah. Tak heran bila tingkat bunuh diri di Jepang begitu tinggi dibanding negara-negara lain.

Di era modern ini, hara-kiri terutama di bidang politik sudah menjadi sesuatu yang lumrah di Jepang. Namun hara-kiri sekarang bukan lagi diartikan membunuh diri sendiri melainkan memundurkan diri dari jabatan. Apabila telah melakukan kesalahan berat, terbukti korupsi misalnya,  Ia secara ‘sukarela’ akan memundurkan diri dari jabatannya. Hal ini sebagai bentuk keberanian seorang pemimpin mengakui kesalahannya dalam bertugas.

 

Advertisements