Tags

, ,

Nama               : Puteri Adelia Syari

NIM                : 1402045048

Prodi               : Hubungan Internasional A

Mata kuliah     : Poltik Jepang

BUDAYA MALU ORANG JEPANG

Siapa sih yang tidak mengenal jepang? Macan Asia, Negara dengan tekhnologi yang duper canggih, Negara dengan harapan hidup tertinggi di dunia dan Negara dengan “ budaya malu” yang mempesona. Negeri ini begitu mempesona bagiku, banyak hal yang menjadi alasan kenapa aku begitu menyukainya.

Berawal dari anime yang sering aku tonton saat kecil, Imajinasku aku ingin kehidupan layaknya kartun, rumahnya unik berlantaikan kayu, taman bermainnya dll. Remaja aku mulai memperhatikan budaya politik jepang,begitu tercengangnyadiriku ketika aku melihat salah satu pejabat jepang“mengundurkan diri” dari posisinya dengan alasan “ malu” karena belum berkontribusi pada jepang seperti apa yang dicampagnekan.. hal itu tentu bertolak belakang dengan negeri kita. begitu mereka menjunjung rasa malunya, pantes negerinya maju dan bersih dari korupsi.

Setelah saya renungkan, rasa malu atau budaya malu di Jepang sangat berbeda dengan rasa malu atau budaya malu di Indonesia. Orang Jepang akan merasa malu, bila melanggar norma moral yang ada, seperti buang sampah sembarangan, malu bila santai atau tidak berkerjakeras, malu jika tidak disiplin atau melanggar peraturan, malu jika tidak jujur apalagi korupsi, atau mengambil barang yang bukan miliknya.

Budaya malu sejatinya merupakan sikap dan sifat bangsa Timur/Asia termasuk bangsa kita. Intinya merupakan wujud hati nurani yang benar, bukan hanya di permukaan saja atau cari-cari bublistas saja. Sampai kinipun, bagi masyarakat Jepang moral atau akhlak dalam konsep rinri (bertata-krama), jiwanya datang dari China kuno. Ajaran Konfusianisme di Jepang sebagai panduan yang menjiwai identitas dan tanggung jawab tidak hanya dalam keseharian keluarga, tapi juga dalam keseharian pelayanan brokrasi dan kelincahan bisnis/mencari untung dengan pertanggungjawaban sosial.

Filsuf kuno Konfusius sudah sejak zaman dulu mengungkapkan secara halus berikut ini “… kesalahan mendasar kita adalah mempunyai kesalahan dan tidak sudi memperbaikinya (the real fault is to have faults and not to amend it). “Setiap kali orang Jepang membuat kesalahan fatal, karena malu menggugat diri/intropeksi diri dengan melakukan meditasi dan kemudian memperbaiki diri atau mengundurkan diri bahkan ada yang sampai ber-harakiri, karena rasa malu.

Setiap anggota masyarakat di Jepang harus berani dan fokus menatap cermin, setiap pagi sebelum sarapan dan malam sebelum tidur selama 60 detik, mengugat diri/intropeksi diri dan bertanya yang ada di cermin, masihkah menghayati etika dan norma yang ada atau budaya malu sudah luntur dalam dirinya?

Dari usia dini, selain diajarkan budaya malu, anak-anak diajarkan budaya saling memperhatikan dan melayani orang lain, budaya ini telah ditanamkan di sekolah dasar dan TK. Kalau di Indonesia kita mengenal kata piket, di Jepang pun ada, dengan tanggung jawab yang lebih banyak. Kelompok-kelompok yang piket bertugas bukan hanya membersihkan kelas saja, tetapi juga membantu memasak dan juga menyiapkan makanan untuk teman-temannya, menyiram tanaman dan memberi makan binatang piaraan di sekolah. Di hari-hari tertentu jika ada kegiatan bersih-bersih masal, semua orang akan turun tak terkecuali, termasuk para pimpinan. Di Jepang tidak perlu promosi dalam bentuk foto atau siaran TV atas keterlibatan para pemimpin dalam menunjukkan kesungguhan dalam berkerja keras, karena di Jepang peduli pada lingkungan dan kegiatan bersih-bersih masal sudah merupakan hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah jika ada yang tidak berpartisipasi atau hanya sekedar tunjuk sana tunjuk sini. Selain itu anak-anak di didik dan diberi tanggung jawab sejak dini untuk membawa tas, jaket atau perlengkapan sekolah lainnya sendiri, tanpa bantuan orang tua, saudara ataupun pembantu.

Budaya malu, mendahulukan dan melayani orang lain ini bersumber dari ajaran Zen Buddhism. Melayani menumbuhkan rasa rendah hati dan kepekaan diri. Budaya malu menumbuhkan rasa tanggungjawab, perbaikan diri dan penyesalam yang dalam. Padahal banyak masyarakat Jepang yang tidak beragama, tapi justru mereka masih sangat teguh memegang tradisi ini dan bisa menghargai, menghormati serta bertenggang rasa pada sesama hingga kini.

Salah satu budaya yang masih sering dilakukan oleh orang Jepang yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisionalnya adalah harakiri. Harakiri adalah tindakan mengakhiri hidup dengan cara menusukkan belati atau samurai ke perut atau jantung yang dilakukan oleh orang yang merasa telah kehilangan kehormatan akibat melakukan kejahatan, aib, dan/atau mengalami kegagalan dalam menjalankan kewajiban. Bagi mereka, tidak ada gunanya lagi melanjutkan hidup bila sudah kehilangan kehormatan. Budaya ini juga masih terkait erat dengan kesetiaan dan kepatuhan orang Jepang kepada kaisar, dimana kaisar dalam kepercayaan Shinto (agama tradisional yang masih banyak dipeluk oleh masyarakat Jepang) berada di tempat yang sangat disakralkan.

Seppuku (harakiri) merupakan salah satu adat para samurai, terutama jenderal perang pada zaman bakufu yang merobek perut mereka dan mengeluarkan usus mereka agar dapat memulihkan nama mereka atas kegagalan saat melaksanakan tugas dan/atau kesalahan untuk kepentingan rakyat. Pada tradisi Jepang, istilah seppuku lebih formal.Harakiri merupakan istilah yang secara umum dikenal dalam bahasa Inggris, dan sering kali disalah-tuliskan dengan “hari kari”.

Harakiri (Seppuku) adalah upacara untuk bunuh diri dan di luar Jepang lebih populer dengan istilah Harakiri, walaupun di Jepang sendiri istilah Harakiri dianggap sebagai istilah yang kasar. Ritual Seppuku biasanya memerlukan keterlibatan aktif paling tidak dua orang, satu yang mau bunuh diri dan satu lagi adalah pendampingnya (Kaishakunin) yang bertugas memenggal kepala orang yang melakukan Seppuku. Hanya saja, dalam pemenggalan itu leher yang dipenggal tidak boleh betul-betul putus, harus ada daging yang membuat kepala yang dipenggal tetap menempel pada tubuhnya.Ini sulit, oleh karenanya sang pendamping haruslah jagoan pedang juga.

Harakiri (Sepuku) biasanya dilakukan dengan upacara yang rumit. Orang yang hendak bunuh diri mandi dulu bersih-bersih, lantas pakai pakaian putih-putih, makan dulu, baru sesudahnya siap-siap untuk tusuk dan iris dimulai. Duduk diam dengan Tanto diletakkan di depannya. Menulis puisi terlebih dahulu. Selesai, baru itu Tanto diambil lantas ditusukan ke perut agak ke kiri lantas Tanto digeser ke kanan, yang terakhir ke atas sedikit,agar isi perutnya keluar. Selesai, baru sekarang giliran Kaishakunin beraksi menyabet lehernya. Tanto bekas pakai tadi lalu diletakkan di piring bekas makan tadi.

Hanya saja pendamping untuk Seppuku hanya untuk orang yang Seppukunya untuk menjaga kehormatan. Misalnya, kalau seorang Samurai tertangkap oleh musuh, maka seorang pendamping akan ditugaskan untuk memenggalnya. Jika Samurainya itu Samurai tukang mencuri, tukang korupsi atau jadi penjahat kelas teri dan lainnya yang tidak ada pendamping, dibiarkan mati begitu saja saja dengan kesakitan sampai kehabisan darah.

Seppuku sebagai hukuman telah resmi dihapuskan pada tahun 1873, segera setelah restorasi Meiji, tetapi Seppuku secara sukarela belum sepeniuhnya mati. Ratusan orang diketahui melakukan Seppuku setelah dihapuskannya. Termasuk beberapa orang anggota militer yang melakukan bunuh diri pada tahun 1895 sebagai protes menolak dikembalikannya wilayah China, setelah meninggalnya kaisar Meiji. Dan lebih banyak lagi tentara dan rakyat yang lebih memilih untuk mati daripada menyerah di akhir PD II.

Dan sebagai dampak budaya, kata seppuku biasa digunakan sebagai metafora seseorang melakukan self punishment sebagai tanggung jawab bila melakukan kesalahan. Ritual ini telah membudaya di Jepang, sehingga apabila seseorang melakukan kesalahan dan melakukan bunuh diri, maka hal itu sah-sah saja dan dianggap sabagai upaya menebus kesalahan.

Jiwa kesatria yang patut dihargai sebagai rasa menunjukan kejujuran atas kesalahan. Rasa MALU akan kesalahan dan berbuat kesalahan adalah hal yang jadi dasar semua tindakan. Jika seseorang masih punya rasa malu maka ia akan berpikir lagi jika akan melakukan kesalahan. Hal yang langka saat ini dinegeri ini dimana seorang yang jelas jelas salah tidak pernah memiliki rasa malu. tidak ada kata Tau Malu Jiwa Seorang Pelaku Harakiri pelaku kejahatan di negeri ini.

Budaya malu dan merasa bersalah begitu kental dalam kehidupan meraka. Apabila seorang pejabat publik bersalah, secara otomatis ia akan mengundurkan diri dari jabatannya. Misalnya saja kasus pengunduran diri Menteri Luar Negeri Jepang, Seiji Maehera. Ia mengundurkan diri dari jabatannya karena terbukti menerima donasi dari warga Korea Selatan yang bermukim di Tokyo.

Uang tersebut tidak sepeserpun digunakan untuk pribadi Maehera, namun sebagai dana sumbangan partai politiknya, atau Partai Demokrat Jepang (DPJ). Enta karena tidak tahu, atau kurang teliti, ternyata pemberian itu melanggar UU Partai Politik di Jepang, yang tidak boleh menerima sumbangan dari bukan warga negara. Meski jumlahnya tidak besar, Maehera tetap dianggap melanggar.

Bahkan lebih jauh lagi angka bunuh diri yang tinggi di Jepang ternyata 70% disebabkan karena rasa malu. Pada intinya orang Jepang merasa malu bila melakukan hal yang merugikan orang lain.

Betapa indahnya jika kita salling melayani sekaligus punya rasa malu dan betapa damainya jika sifat rendah hati dan saling peduli bisa menjadi keseharian kita tanpa memandang ras, suku bangsa maupun agama.

Selain budaya malu saya juga sangat menyukai budaya berjalan kaki orang-orang di Jepang, disana orang-orang lebih menyukai berjalan kaki dan menggunakan fasilitas public untuk berpergian. Jalannya sepi dari kendaraan, padahal kita semua tau bahwa Jepang adalah produsen kendaraan no. 1 di dunia. Begitu hebatnya Jepang bisa mencipakan suasana yang bertolak belakang dari negaranya.

Saya begitu mengagumi Jepang dari segala aspek, tapi ini bukan berarti saya tidak mencintai tanah air, saya mengaguminya karena sisi positifnya yang tidak saya temukan di Indonesia.

pute 1

(harakiri)

 pute 2

(pengunduran diri)

pute 3 

(sikap saling menghormati)

Advertisements