Tags

,

Jepang diMataku

Nama   : Karenda Eka Karmila

Nim     : 1102045183

BONEKA TERU TERU BOZU

Diplomasi budaya jepang dengan teru teru bozu

LATAR BELAKANG

Hujan di banyak negara telah mempengaruhi budaya di dalam kehidupan masyarakatnya, termasuk di Jepang, salah satu negara yang mempunyai ragam budaya dari masa lalu yang memiliki kebudayaan yang eksotis namun tetap eksis bersanding dengan budaya modern yang terus bertumbuh. Hujan dimaknai sebagai salah satu fenomena alam yang menghasilkan suatu kebudayan pada masyarakat Jepang. Siapa yang tidak mengenal boneka Teru Teru Bozu? Boneka Teru Teru Bozu sangat identik dengan budaya hujan di Jepang. Sebuah boneka tradisional Jepang yang awalnya terbuat dari kertas atau kain putih yang biasa digantung di tepi jendela dengan benang. Orang Jepang percaya boneka ini sebagai “jimat” mampu mendatangkan cuaca cerah dan mampu mengusir hujan yang sedang turun. Teru merupakan kata kerja yang berarti bersinar atau cerah, sedangkan Bozu bisa diartikan biksu atau dalam bahasa pergaulan masa kini berarti kepala botak.

Boneka Teru Teru Bozu telah populer di kalangan masyarakat urban Jepang sejak zaman Edo. Anak-anak pada zaman tersebut sering membuat boneka putih sembari memohon cuaca cerah sambil bernyanyi. Secara tradisi, bila cuaca cerah maka mereka akan menggambari mata pada boneka tersebut, kemudian memberi sesaji berupa sake suci dan dituangkan pada mereka lalu kemudian menghanyutkannya di sungai. Lalu tradisi dengan menggantung boneka putih tersebut disebut dengan Teru Teru Bozu.

Pada masa kini, anak-anak biasanya membuat boneka Teru Teru Bozu menjelang acara piknik sekolah atau kegiataun study tour dengan harapan agar cuaca cerah sepanjang hari mereka melakukan kegiatan diluar, namun apabila hujan turun disaat kegiatan tengah berlangsung, mereka akan menggantungkannya secara terbalik.

Asal-usul mengenai Teru Teru Bozu sendiri erat kaitannya terkait dengan sebuah lirik lagu yang ditulis oleh Kyoson Asahara pada tahun 1921 dan menjadi terkenal di kalangan anak-anak pada Zaman Edo. Lagu ini memiliki sejarah tersendiri yang menceritakan tentang seorang biarawan yang berjanji pada para petani untuk menghentikan hujan dan membawa cuaca cerah selama periode hujan berkepanjangan. Lalu pada akhirnya, sang biarawan tersebut gagal membawa sinar matahari atau cuaca yang cerah untuk para petani dan akhirnya dihukum mati. Berikut lirik lagu tersebut yang sebetulnya mempunyai makna yang mengerikan.

Lagu Teru Teru Bozu

Teru-teru-bōzu, teru bōzu (teru-teru bozu, teru bozu)
Ashita tenki ni shite o-kure (buatlah esok hari yang cerah)
Itsuka no yume no sora no yō ni (seperti langit dalam mimpi pada suatu waktu)
Haretara kin no suzu ageyo (jika cerah aku akan memberimu sebuah bel emas)

Teru-teru-bōzu, teru bōzu (teru-teru bozu, teru bozu)
Ashita tenki ni shite o-kure (buatlah esok hari yang cerah)
Watashi no negai wo kiita nara (jika kamu membuat keinginanku menjadi kenyataan)
Amai o-sake wo tanto nomasho (kita akan banyak minum anggur beras manis)

Teru-teru-bōzu, teru bōzu (teru-teru bozu, teru bozu)
Ashita tenki ni shite o-kure (buatlah esok hari yang cerah)
Sorete mo kumotte naitetara (tetapi jika awan menangis

 

Boneka Teru Teru Bozu sering ditampilkan di dalam manga (gambar komik Jepang) dan anime (animasi kartun Jepang) menjadikannya Boneka Teru Terus Bozu dikenal oleh banyak kalangan. Sebagaimana kita ketahui bahwa budaya atau tradisi menggantungkan boneka Teru Teru Bozu di saat cuaca buruk atau sebelum hujan turun merupakan salah satu budaya atau tradisi dari Jepang sangat terkenal.

 

PEMBAHASAN

            Era globalisasi membawa peranan penting bagi Jepang untuk mengenalkan budaya atau tradisi Teru Teru Bozu-nya ke dunia internasional. Era globalisasi juga memberikan perubahan yang cukup signifikan di bidang teknologi. Oleh karena itu perubahan-perubahan tersebut mampu membuat Jepang maju dalam berbagai bidang, salah satunya di bidang ekonomi kreatif.

Kehadiran boneka Teru Teru Bozu di dalam manga dan anime merupakan salah satu contoh awal Jepang berdampak pada industri ekonomi kreatifnya, dimana Teru Teru Bozu yang memiliki sebuah asal-usul yang buruk, namun karena diperkenalkan “secara tidak langsung” di dalam manga dan anime dengan tampilan yang positif maka dunia pun mengenalnya hanya sebatas budaya atau tradisi yang dari Jepang. Boneka Teru Teru Bozu ada ditampilkan di salah satu anime “Chibi Marukochan”, juga dalam comic. adapun meluasnya kisah mitos dari  teru-teru bozu menjadi berpeluang dalam industri-industri kreatif di jepang yakni di inovasikan menjadi karakter unik dan lucu dari teru-teru bozu Dengan produk unik seperti alat tulis, accesesories, dll.

Ekonomi kreatif itu sendiri adalah sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan oengetahuan dari sumber daya manusia sebagai factor produksi yang utama.

Dengan demikian, boneka Teru Teru Bozu merupakan sebuah produk nyata yang berupa boneka lalu menjadi sebuah tradisi atau budaya untuk mengusir hujan atau menangkal cuaca buruk dari Jepang. Lalu dapat dikemas dan dikenalkan secara luas menggunakan diplomasi budayanya yang  berkaitan pula dengan peluang ekonomi kreatifnya.

KESIMPULAN

 

Kehadiran boneka Teru Teru Bozu di dalam manga dan anime merupakan salah satu contoh awal Jepang berdampak pada industri ekonomi kreatifnya, dimana Teru Teru Bozu yang memiliki sebuah asal-usul yang buruk, namun karena diperkenalkan “secara tidak langsung” di dalam manga dan anime dengan tampilan yang positif maka dunia pun mengenalnya hanya sebatas budaya atau tradisi yang dari Jepang. Boneka Teru Teru Bozu ada ditampilkan di salah satu anime “Chibi Marukochan”, juga dalam comic. adapun meluasnya kisah mitos dari  teru-teru bozu menjadi berpeluang dalam industri-industri kreatif di jepang yakni di inovasikan menjadi karakter unik dan lucu dari teru-teru bozu Dengan produk unik seperti alat tulis, accesesories, dll. Dengan demikian, boneka Teru Teru Bozu merupakan sebuah produk nyata yang berupa boneka lalu menjadi sebuah tradisi atau budaya untuk mengusir hujan atau menangkal cuaca buruk dari Jepang. Lalu dapat dikemas dan dikenalkan secara luas menggunakan diplomasi budayanya yang  berkaitan pula dengan peluang ekonomi kreatifnya.

 

Advertisements