Tags

, ,

Asti Meydyanti

1202045122

Tak hanya Indonesia yang memiliki beragam kebudayaan di dalamnya, Negara Jepang ternyata juga memiliki beragam tradisi kebudayaan yang sampai saat ini masih terus dilestarikan dan masih dilakukan dalam berbagai kesempatan, tidak heran karena masyarakat Jepang memang sangat terkenal akan kecintaannya terhadap budaya mereka sendiri. Kebudayaan Jepang umumnya sangat identik dengan unsur seni yang terkandung di dalamnya, misalnya saja Sadou atau upacara minum teh di Jepang, Ikebana atau seni merangkai bunga, Origami atau seni melipat kertas, Tako atau kesenian layang-layang, dan masih banyak lagi.

Ada satu kesenian yang  sangat menarik menurut saya yaitu seni merangkai bekal dari Jepang atau lebih dikenal dengan istilah Bento, makanan bekal berupa nasi berikut lauk-pauk dalam kemasan praktis yang bisa dibawa-bawa dan dimakan di tempat lain. Seperti halnya nasi bungkus, bento bisa dimakan sebagai makan siang, makan malam, atau bekal piknik. Menarik karena menurut saya selain unik juga dalam penyajiannya dituntut untuk memiliki keterampilan mengenai pengaturan jenis lauk dan warna agar sedap dipandang serta mengundang selera yang merupakan ciri khas dari bento itu sendiri.

asti 1

contoh bento tradisional yang berisi nasi serta lauk-pauk

Dahulu sebelum dikenal dengan istilah Bento, orang Jepang mengenal makanan praktis berupa nasi yang ditanak dan dikeringkan. Makanan ini disebut Hoshi-ii (nasi kering) dan dibawa di dalam tas kecil. Di zaman Azuchi Momoyama (1568-1600), orang Jepang mulai gemar makan di luar, dan kotak kayu yang dipernis digunakan sebagai wadah membawa makanan. Bento mulai dikenal sebagai makanan praktis yang biasa dibawa pada perayaan Hanami atau melihat bunga sakura bermekaran dan Sadou atau upacara minum teh. Pada zaman Edo (1603-1867), kebudayaan bento semakin meluas di kalangan rakyat, banyak orang yang berwisata atau piknik membawa bento, pada zaman inilah kemudian cara memasak, mengemas, dan menyiapkan bento mulai diterbitkan dalam bentuk buku resep masakan. Kemudian pada zaman Meiji untuk pertama kalinya terdapat penjualan paket nasi yang disebut Ekiben (bento stasiun) untuk dinikmati di atas kereta, dan sering merupakan hidangan khas dari daerah tempat stasiun kereta api tersebut berada. Bekal bento yang dibawa murid dan guru juga mulai populer di zaman ini.

Namun Pada zaman Taisho (1912 – 1926), perbedaan kaya-miskin yang tajam seusai Perang Dunia I menimbulkan gerakan sosial untuk menghentikan kebiasaan membawa bento ke sekolah. Bento dituduh sebagai sarana pamer kekayaan bagi anak orang berada yang mampu membawa nasi ke sekolah. Setelah Perang Dunia II, tradisi membawa bento secara berangsur-angsur hilang sejalan dengan semakin banyaknya sekolah yang menyediakan tempat untuk makan siang. Bento kembali populer di tahun 1980-an setelah dikenal kemasan kotak plastik sekali pakai, oven microwave, dan semakin meluasnya toko 24 jam. Sementara itu, bento buatan ibu kembali mulai digemari, dan tradisi membawa bento dari rumah hidup kembali. Keahlian menyiapkan bento untuk anak-anak merupakan kebanggaan tersendiri bagi ibu rumah tangga. Lauk seperti sosis dan nori dipotong-potong atau digunting untuk dijadikan hiasan, seperti daun, bunga, binatang, hingga karakter anime.

asti 2

            Seiring berjalannya waktu dan tekhnologi yang semakin berkembang, Bento dari Jepang sekarang telah dikenal oleh masyarakat dunia. Tak sedikit juga yang memanfaatkan keterampilan membuat Bento sebagai bisnis usaha yang cukup menjanjikan, baik berupa membuka kursus bagi yanng berminat untuk belajar membuat bento yang terkenal unik dan lucu hingga berupa bisnis makanan dalam bentuk restoran bento siap saji seperti di Indonesia, hidangan ala bento mulai dipopulerkan jaringan restoran siap saji bernama Hoka-Hoka Bento.

Betapa kreatifnya masyarakat Jepang hingga nilai keindahan tetap diterapkan pada sekotak bekal sekalipun…

Advertisements