Tags

, ,

Moderator          :

Nur Mayda Rusmianti (1402045126)


Notulen               :

Versy Gita Neshia (1402045044)


Dokumentasi     :

Qintamani Istiqfarin Qadr (1402045018)

Joko Permono (1402045051)

Aji Muhammad Iqbal (1402045015)


This slideshow requires JavaScript.

Diskusi kali ini membahas tentang hasil wawancara dengan tema “Kecenderungan Pemikiran Mahasiswa”  yang terbagi menjadi 10 kelompok dengan narasumber dari berbagai fakultas.


Kelompok 1 (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam)

Anggota :

– Muhammad Yamin (1402045085)

– Nadia Kusrini (1402045145)

– Maysarah (1402045128)

– Maria Ulfah (1402045136)

– Dhysti Windyswara (1402045076)

– Dinda A.S. Sari (1402045171)

Diwakili oleh pembicara :

Dhysti Windyswara (1402045076)

“Kecenderungan Pola Pemikiran Mahasiswa FMIPA Mengenai Perkembangan Pemikiran Islam dalam Hak Asasi Manusia”

Kelompok 1 yang diwakili oleh Dhysti Windysawara dalam menjelaskan hasil survei kelompok mereka, Dhysti mengatakan “Dari 50 Mahasiswa sebagai narasumber, kami mengklasifikasikan pada jurusan fisika,kimia,biologi,statistik,ilmu komputer dan kimia. Pada jurusan biologi, ada 12 orang narasumber dengan kecenderungan mahasiswa lebih kepada revivalis sebesar 5 orang,pandangan mereka menghidupkan kembali pada hukum islam,menganggap negara sekuler menyalahi HAM dan menyetujui keharmonisan antara dunia dengan akhirat.  Pada jurusan ilmu komputer terdapat 15 orang narasumber yang cenderung kepada neo-revivalis,tradisional dan modernis klasik dengan jumlah masing-masing 4 orang. Pada jurusan statistik terdapat 5 orang narasumber dengan kecenderungan pemikiran revivalis dan neo-revivalis masing-masing sebesar 2 orang yang berpendapat HAM masa kini bertentangan dengan islam. Pada jurusan fisika dengan narasumber 10 orang lebih cenderung pada neo-revivalis dengan jumlah 5 orang dan jurusan kimia dengan narasumber 8 orang cenderung pada neo-revivalis dengan jumlah 3 orang. Maka, kesimpulan dari wawancara yang telah kami lakukan pada 6 jurusan yang ada di FMIPA, mahasiswanya cenderung kepada pemikiran NEO-REVIVALIS sebanyak 16 orang. Pemikiran mereka lebih kepada corak modern dan reaksional yang kebanyakan tidak setuju dengan pemikiran barat dan lebih ke pendapat ulama masa kini yang mengacu pada Al-Qur’an dan Hadist.”


Kelompok 2 (Fakultas Kesehatan Masyarakat)

Anggota :

– Rezha Resky Fandano (1402045157)

– Annisa Maulidya (1402045156)

– Denada Sujianto Putri (1402045163)

– Fiena Clarissa C (1402045127)

– Betrix Firginia (1402045161)

– Mukti Hidayat (1202045083)

Diwakili oleh pembicara :

Betrix Firginia (1402045161)

Denada Sujianto Putri (1402045163)

”Gaya Hidup Hedon”

Kelompok 2 mengangkat fokus survei mereka tentang gaya hidup Hedon, Betrix menjelaskan bahwa, “Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan melalui wawancara pada mahasiswa fakultas Kesmas, kebanyakan dari mereka menyadari bahwa mereka merupakan orang  semi-hedon yang termasuk dalam kecenderungan MODERNIS KLASIK.” Ditambah oleh penjelasan Denada, “Mahasiswa Kesmas lebih menekankan pada faktor rasionalitas, hak asasi manusia (HAM) dan kesehatan. Mereka berpikir jika pulang kerumah akan merepotkan dan tidak tahu jika ada pengumuman mendadak yang ada dikampus maka lebih baik menunggu di kampus saja. Pada pemikiran modernis klasik lebih kepada menghargai hak asasi manusia dan rasionalitas.”


Kelompok 3 (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)

Anggota :

– Finny Fitria Febrin (1402045062)

– Nor Sa’adah (1402045070)

– Sri Mulyani (1402045051)

– Joko Permono (1402045051)

– Aji Muhammad Iqbal (1402045015)

– Sesilia Novita (1102045076)

Diwakili oleh pembicara :

Sri Mulyani (1402045051)

“Kecenderungan Pemikiran Mahasiswa Fisip tentang LGBT”

Kelompok 3 melakukan pemilihan acak wawancara dan membagikan beberapa kuisioner dengan memberikan 2 pertanyaan yaitupertama, setujukah jika LGBT merupakan penyetaraan HAM? Dan kedua, setujukah jika LGBT dilegalkan di Indonesia? Pada pertanyaan pertama terdapat 1 orang setuju yaitu termasuk dalam pemikiran neo- modernis, 5 orang berpikiran modernis klasik dengan menjawab setuju, 15 orang tidak setuju yang termasuk dalam pemikiran revivalis, 19 orang sangat tidak setuju dikelompokkan pada pemikiran neo-revivalis dan 10 orang ragu. Pada pertanyaan kedua mendapatkan hasil tidak ada yang menjawab sangat setuju, 3 orang menjawab setuju, 5 orang ragu, 16 orang tidak setuju dan 26 orang sangat tidak setuju. Maka, kesimpulan yang didapatkan oleh kelompok 2 bahwa sebagian besar mahasiswa Fisip menentang keras LGBT dan tidak setuju jika LGBT dilegalkan di Indonesia, apabila dilegalkan mahasiswa FISIP sangat menentang hal tersebut, karena menurut mereka LGBT adalah sesuatu hal yang tidak sesuai dengan norma yang ada. Kelompok 2 yang diwakili oleh Sri Mulyani, mengatakan “Mereka masuk kepada pemikiran NEO-REVIVALIS karena lebih kepada pemikiran yang berlandaskan agama”.


Kelompok 4 (Fakultas Hukum)

Anggota :

-Fathurrahman (1402045164)

– Rideka Nuswantari (1402045166)

– Dea Meylinda (1402045082)

– Rizki Sinthiadeti (1402045081)

– Gesna Amarila (1402045155)

Diwakilkan oleh pembicara :

Fathurrahman (1402045164)

“Ide “Islam Nusantara”di Indonesia”

Kelompok 4 yang diwakili oleh Fathurrahman sebagai pembicara, mengambil fokus tentang Ide “Islam Nusantara” di Indonesia, Latar belakang pengambilan fokus tersebut didasarkan atas fenomena yang terjadi saat ini dalam kehidupan masyarakat muslim di Indonesia.Akhir-akhir ini, para intelektual muslim yang “mengutak-atik” Islam berlabel Nusantara ini belum menemukan formula yang tepat untuk menjelaskannya kepada Ummat, masih sebatas wacana yang pada akhirnya menimbulkan pro dan kontra di kalangan umat muslim Indonesia. Hal ini membuat masyarakat awam banyak salah menafsirkan bahwa islam nusantara merupakan ajaran islam yang di nusantarakan, dimana islam disesuaikan dengan budaya Indonesia. Misalnya seperti Mengaji dengan menggunakan langgam Jawa, Jilbab merupakan budaya Arab sehingga Jilbab dapat diganti dengan pakaian adat Nusantara, Ucapan “Assalamu’alaikum” dapat diganti dengan ucapan “Salam Sejahtera”, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk pemaknaan lainnya yang salah terhadap ide “Islam Nusantara” tersebut.Fathurrahman mengatakan bahwa “Dari 50 responden kami melakukan random sampling dengan menyebarkan kuisioner untuk mengetahui pendapat dan kecenderungan mahasiswa fakultas hukum. Terdapat 6 pertanyaan yang kami ajukan dan hasilnya adalah 50% mahasiswa fakultas hokum tergolong ke dalam pemikiran REVIVALIS yangberpendapat bahwa islam nusantara cukup berbahaya dan tidak dapat diterapkan di Indonesia, segala sesuatunya diharapkan kembali kepada Al-Qur’an, Al-Hadits, dan Sunnah. 36% mahasiswa pada pemikiran modernis menganggap setuju bahwa islam dapat mengikuti perkembangan jaman agar dapat disesuaikan dengan masyarakat Indonesia. 6% mahasiswa yang mempunyai pemikiran tradisional mengatakan bahwa ide islam nusantara tidak baik dan menyesatkan. Ajaran islam tidak perlu dirubah dan kembali berpatokan kepada fatwa-fatwa. 6% juga mahasiswa cenderung pada pemikiran neo-modernis bahwa islam nusantara mendukung sikap toleransi dengan adanya islam nusantara menjadi tidak masalah. Indonesia bukanlah negara islam dan dengan adanya islam nusantara menjadi solusi agar islam diterima dimasyarakat. Sisanya 2% mahasiswa berpikiran neo-revivalis mengatakan bahwa islam nusantara harus sesuai dengan sunah nabi yang sudah ada. Maka tanggapan kami adalah islam nusantara sendiri itu merupakan ideologi yang disebarkan oleh orang yang ingin mengubah islam murni yang sudah ada.”


Kelompok 5 (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan)

Anggota :

-Nur Mayda Rusmianti (1402045126)

– Rahmawati (1402045130)

– Ade Mustika Dewi Bachtiar (1402045132)

– Nenoy H Kabalmay (1402045086)

– Desy Evan Nor Rizki (1402045080)

Diwakilkan oleh pembicara :

Nenoy H Kabalmay (1402045086)

“LGBT dan HAM”

Pada fakultas FKIP terbagi menjadi 3 lokasi yaitu kampus di jalan Gunung Kelua, jalan Bangeris, dan jalan Pahlawan. Berdasarkan hasil survei, 16 orang mahasiswa cenderung pada pemikiran TRADISIONAL, 14 orang cenderung pada pemikiran revivalis, 8 orang cenderung pada pemikiran modernis klasik, 5 orang pada pemikiran neo-revivalis dan 7 orang pada pemikiran neo-modernis. Kesimpulan yangdidapatkan ialahkebanyakan mahasiswa FKIP tergolong ke dalam pemikiran tradisionalis yang menganggap agama islam sempurna dan menentang LGBT,mereka mengatakan bahwa hal tersebut merupakan tindakan menyimpang. Serta HAM adalah sesuatu yang telah melekat sejak kita lahir. Pada orang yang berpikiran revivalis menganggap LGBT adalah tindakan yang dilaknat dan HAM adalah hak setiap manusia yang harus tetap sesuai dengan perintah agama. Pada pemikiran modernis mengatakan bahwa seharusnya diadakan UUD anti LGBT dan menganggap HAM merupakan kesadaran dari tiap manusia. Pemikiran neo-revivalis mengatakan LGBT perilaku menyimpang dan pendidikan agama itu penting dengan membatasi HAM dengan nilai islam. Terakhir orang yang berpemikiran neo-modernis menganggap LGBT hal yang biasa saja, mereka lebih bersifat individualis.


Kelompok 6 (Fakultas Teknik)

Anggota :

– Najib Kazwandhani (13020455038)

– M Banu Purnadinata (1302045002)

– Isnaniah (1302045090)

– Eka Sulistya (1402045071)

– M Andi Nur (1402045158)

– Khajjar Rohmah (1302045026)

– Novita Andes Nurdiana (1302045047)

Diwakilkan oleh pembicara :

M Andi Nur (1402045158)

“Pernikahan Beda Agama”

Kelompok 6 melakukan wawancara sebanyak 20 orang dan menyebarkan kuisioner sebanyak 30 orang. Pada jurusan teknik industri mahasiswa lebih kepada pemikiran tradisional yang mengacu kepada Al-Qur’an dan Hadist, mereka mengatakan bahwa nikah beda agama hukumnya haram walaupun hal tersebut melanggar hak asasi manusia. Pada teknik pertambangan lebih kepada pemikiran neo revivalis dan modernis klasik dengan menganggap lebih kepada hak asasi manusia dan menikah itu adalah sesuatu hal yang sakral dan tidak dapat dilarang oleh agama sekalipun.  Kesimpulan yang didapatkan oleh Kelompok 6 adalah mahasiswa teknik lebih banyak kepada pemikiran TRADISIONALIS.


Kelompok 7 (Fakultas Kehutanan)

Anggota :

-Putri Ayu Lestari (1402045170)

– Halidasia (1402045148)

– Euisita Gunawan (1402045150)

– Rusydah Nurul H (1402045143)

– Dini Hariyati (1402045031)

Diwakilkan oleh pembicara :

Dini Hariyati (1402045031)

“Feminisme”

Kelompok 7 melakukan wawancara dan pembagian kuisioner dengan acak. Alasan mengambil tema feminisme karena dapat dilihat kelompok ini terdiri dari perempuan dan isu feminisme ini bukan hanya untuk perempuan tetapi laki-laki juga perlu mengetahui tentang kesetaraan gender. Kelompok 7 diwakili oleh Dini Hariyati sebagai pembicara, ia mengatakan “Kami memberikan 8 pertanyaan yang dapat disimpulkan dalam pemikiran modernis sebanyak 34,21% mahasiswa, Adapun mahasiswa yang cenderung kepada pemikiran tradisional sama yaitu 34,21% mahasiswa, Mahasiswa yang lebih pada pemikiran revivalis terdapat 31,70%, dan tidak ada hasil untuk pemikiran neo-revivalis dan neo-modernis. Kesimpulan yang dapat kami ambil dari wawancara dan pembagian kuisioner tersebut bahwa tidak ada hasil yang terlalu mendominasi, mahasiswa kehutanan masih menjunjung nilai islam dan tetap menerima ide baru selagi ide tersebut tidak merusak dari prinsip islam yang sudah ada dan tidak bersifat radikal.”


Kelompok 8 (Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan)

Anggota :

– Qintamani I.Q (1402045018)

– Versy Gita Neshia (1402045044)

– Nurlita Shafira (1402045019)

– Mita Azrina (1402045006)

– Nurrin Shofiyah (1402045012)

– Irma Yulianti (1402045050)

Perwakilan oleh pembicara :

Qintamani I.Q (1402045018)

”Apakah Hijab Menjadi Penghalang untuk Mengeskpresikan diri?” 

Sebelumnya, marak berita mengenai statement seorang komedian yang mengatakan bahwa dia lebih baik memilih istri yang berpakaian sexy pergi ke club daripada perempuan berjilbab yang menonton konser sambil jingkrak-jingkrak. Hal tersebutlah yang menjadikan latar belakang kelompok 8 untuk mengangkat tema ini, dan mereka menanyakan kepada mahasiswa FPIK, manakah yang lebih dipilih, apakah setuju dengan pendapat komedian tersebut atau lebih memilih perempuan berjilbab yang menonton konser sambil jingkrak-jingkrak. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, terdapat19 mahasiswa cenderung kepada pemikiran modernis klasik yang dimana salah satu narasumber mengatakan bahwa lebih baik perempuan yang berjilbab dan pergi kekonser, karena hal tersebut tidak masalah daripada pergi ke club. Berbanding terbalik dengan mahasiswa yang mempunyai pemikiran neo-modernis sebanyak 12 orang yang menganggap lebih baik perempuan yang sexy sekalian daripada perempuan berjilbab tetapi jingkrak-jingkrak “nangisin idolanya” dan 13 orang yang berpikiran tradisionalis mengatakan untuk tidak memilih dua-duanya dikarenakan seorang perempuan berkewajiban untuk memakai jilbab dan lebih baik berada dirumah saja. Sisanya yang berpikiran revivalis sebanyak 1 orang dan neo-revivalis sebanyak 5 orang menganggap lebih baik perempuan yang berjilbab dan menghindari penyimpangan. Kesimpulan yang didapatkan adalah lebih banyak mahasiswa FPIK cenderung pada pemikiran MODERNIS KLASIK dengan memilih perempuan memakai jilbab tetapi tetap dipengaruhi oleh ide barat dengan memperbolehkan pergi kekonser.


Kelompok 9 (Fakultas Pertanian)

Anggota :

-Rivaldi Nasution (1402045053)

– Hadi Nur M (1402045059)

– M Aditya Wardhana (1402045058)

– Ferdiansyah (1402045068)

– M Dian Irsandi (1402045065)

– Erni Mayura (1402045026)

– Riky Pinandra (1202045091)

Diwakilkan oleh pembicara :

Rivaldi Nasution (1402045053)

“Sertifikasi Halal Pangan oleh MUI” 

Kelompok 9 melakukan wawancara untuk mengetahui apakah mahasiswa menyetujui atau tidak terkait sertifikasi halal oleh para MUI karena ada beberapa yang menganggap sertifikasi halal digunakan oleh beberapa oknum untuk hal bisnis. Berdasarkan hasil survei, didapatkan 90% yaitu sebanyak 45 orang setuju untuk sertifikasi halal karena mereka berpendapat bahwa sudah tugasnya MUI untuk memberikan petunjuk kepada masyarakat manakah yang halal maupun tidak. Sedangkan ada 2% yaitu sebanyak 2 orang yang tidak setuju karena sertifikasi halal cenderung dibisniskan oleh beberapa oknum dan 3 orang sisanya menjawab tidak tahu dan terserah ada atau tidaknya sertifikasi halal tersebut. Kesimpulan yang didapatkan adalah mahasiswa fakultas pertanian lebih kepada pemikiran TRADISIONALIS karena mereka berpendapat sudah tugas dari MUI untuk memberikan petunjuk bagi masyarakat awam dan tidak perlu pembaharuan pemikiran yang sudah baku bahwa sertifikasi halal memang harus dilakukan.


Kelompok 10 (Fakultas Farmasi)

Anggota :

-Jumriana (1402045025)

– Puteri Adelia Syari (1402045048)

– M Fauzi Andhoyo (1402045036)

– Dian Indrianti (1302045102)

– Mayang Sari (1302045053)

– Vivi Dwi Setiawati (1302045125)

– Yusra Mufassir (1302045109)

Diwakilkan oleh pembicara :

M Fauzi Handhoyo (1402045036)

“Bagaimana Cara Berpikir Mahasiswa Farmasi tentang LGBT”

Kelompok 10 melakukan wawancara dan penyebaran angket dengan menanyakan pendapat mereka mengenai LGBT, hasilnya adalah mahasiswa yang berpikiran tradisionalis sebanyak 13 orang, modernis klasik sebanyak 29 orang, revivalis sebanyak 6 orang, neo-revivalis dan neo-modernis masing-masing 1 orang. Pada satu angket pertanyaan ditemukan pemahaman yang saling berbeda, misalnya seperti pertanyaan yang pertama menjawab setuju kemudian pertanyaan yang kedua menjawab tidak setuju. Tanggapan kelompok 10 bahwa kebanyakan dari mereka memilih pemikiran modernis klasik yang mana sama dengan hasil dari wawancara dari mahasiswa farmasi yang cenderung pada pemikiran MODERNIS KLASIK.


TANGGAPAN DAN PERTANYAAN

Pertanyaan :

M. Fauzi Andhoyo (1402045036) dari Kelompok 10

“Untuk Kelompok 1, mengapa pengambilan sampel wawancara dibedakan menurut jurusan, mengapa tidak diambil secara acak?”

Dijawab oleh :

Dhisty Windyswara (1402045076) dari kelompok 1

“Awalnya kami mengambil sampel secara acak kemudian kami kelompokkan dalam masing-masing jurusan, dan jumlahnya semua tetap 50 orang.”


Pertanyaan :

Fathurrahman (1402045164) dari kelompok 4

“Untuk kelompok 1 hasil yang didapatkan adalah kecenderungan pemikiran neo-revivalis, sedangkan pandangan anda sendiri memposisikan sebagai apa?

Dijawab oleh :

Muhammad Yamin (1402045085) dari kelompok 1

“Dari saya sendiri lebih cenderung kepada pemikiran revivalis, tetapi teman-teman yang lainnya cenderung kepada neo-revivalis karena lebih kepada pemikiran konsep Islam”


Tanggapan :

Mukti Hidayat (1202045083) dari kelompok 2

“Menyanggah dan menambahkan untuk kelompok 8 bahwa memakai jilbab itu kewajiban dan akhlak itu  lain sendiri dan tidak dapat disatukan. Mereka yaitu narasumber belum paham antara kewajiban dan akhlak.”


Pertanyaan :

Erni Mayura (1402045026) dari kelompok 9

“Menurut saya islam nusantara itu ada sebab karena pengaruh dari hindu, buddha dan nilai melayu. Apa tindakan dan solusi dari kelompok 4?”

Dijawab oleh :

Fathurrahman (1402045164) dari kelompok 4

“Adanya kesalahpahaman makna pada islam nusantara tersebut dan islam itu beralkulturasi. Konteks mengapa tema yang diambil islam nusantara karena akhir-akhir ini para politisi mendukung islam nusantara dan wacana tersebut menimbulkan pro dan kontra. Pendapat pribadi saya sendiri islam nusantara tersebut faktanya adalah masih tetap islam tetapi bagaimana cara memaknai islam tersebut. islam ya islam tanpa embel-embel.”


Tanggapan :

Mukti Hidayat (1202045083) dari kelompok 2

“Tambahan untuk kelompok 6, didalam Al-Quran menurut yang saya baca, pernikahan beda agama itu dilarang, mutlak itu tidak benar karena ada suatu surah kalau tidak salah yang berisi bahwa laki-laki dapat menikahi budak dan hamba non-muslim untuk diislamkan”

Ditanggapi kembali oleh :

M. Andi Nur (1402045158)

“Bahwa laki-laki dalam islam menikah dengan yang non-muslim tidak dianjurkan”

Tanggapan Lainnya oleh :

Nur Mayda Rusmianti (1402045126) dari kelompok 5

“Menambahkan bahwa non-muslim yang dimaksudkan dalam Al-Quran adalah ahli kitab yang tidak memerangi Islam yang diperbolehkan untuk dinikahi.”


Advertisements