Tags

PENDIDIKAN ANTI KORUPSI

Annisa

NIM. 1402045021

Prodi Hubungan Internasional

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Mulawarman

Tujuan utamanya adalah mewawancarai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kalimantan Timur, yang pada saat kami menentukan target tersebut, tidak ada satupun dari kami yang pernah bertemu dengan beliau, atau bahkan pernah pergi ke gedung DPRD. Namun, karena kami adalah seorang visioner, maka kami tetap menargetkan hal tersebut. Dari 7 orang anggota, 2 diantaranya adalah perempuan, yaitu saya sendiri dan Indin Novita Sari, 5 sisanya adalah laki-laki, Kurnianto Rombe Rante, Ageng Bambang Saputro, Aji Muhammad Iqbal, Ibnu Haridzah, dan Arif Fa’at. Tugas ini adalah tugas yang pertama kali yang mengharuskan kami untuk mewawancarai pelaku politik seputar korupsi yang diberikan oleh dosen mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi, Ibu Uni Sagena.

Maka pada tanggal 06 Mei 2015, kelompok kami berkumpul di Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman di Jl. Gunung Kelua, saat saya datang, hanya ada satu orang teman saya yang baru juga datang yaitu Arif, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 sesuai perjanjian kami sebelumnya, lama kemudian berdatanganlah satu per satu teman-teman kelompok kami. Saat anggota sudah lengkap, kami langsung pergi.

Mengingat gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kalimantan Timur sedikit jauh, maka kami putuskan untuk mampir dulu ke target cadangan kami, yaitu mewawancarai Walikota Samarinda, jadi kami pergi ke gedung Balai Kota yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus kami.

Sesampainya disana kami langsung mendatangi meja resepsionis, yang waktu itu dijaga oleh dua orang pegawai negeri perempuan yang saat kami tanyai bagaimana caranya untuk bertemu Bapak Walikota terlihat cukup bingung dan hanya menyarankan kami untuk menanyakan hal tersebut ke resepsionis yang berada di lantai tiga gedung tersebut.

Pergilah kami beramai-ramai ke lantai 3, suasana kantor Balai Kota cukup hening, sehingga tidak banyak orang disana yang menyadari kehadiran kami. Saat sampai di lantai 3, kami menghampiri meja resepsionis yang saat itu sedang dijaga oleh pegawai yang berseragam sama dengan pegawai yang di lantai 1 tadi, hanya saja kali ini seorang pria yang sedang sendiri. Saat kami tanyai hal yang sama, pria ini juga merespon sama seperti pegawai sebelumnya, bingung dan menyarankan kami untuk pergi ke gedung sebelah.

Di gedung yang ia sarankan tersebut, penjagaannya lebih ketat, tidak seperti di gedung sebelumnya, disini saat pertama kali masuk, kami ditanyai tujuan dan asal kami datang kesana. Kamipun menunjukkan surat tugas dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman yang membuat tugas ini secara resmi merupakan tugas kuliah. Kamipun naik ke lantai 2, disana tidak ada seorangpun kecuali seorang bapak tua yang sedang duduk dengan wajah sinis menatap kehadiran kami yang cukup meriuhkan suasana sunyi kantor tersebut. Dua orang dari kami langsung menanyai bapak tersebut, tetapi bapak itu tidak memberikan informasi yang berguna dan hanya mengatakan bahwa Bapak Walikota sedang tidak berada di tempat dan menyarankan ke kami untuk menunggu saja.

Kamipun memenuhi saran tersebut. Kami duduk, cukup lama hingga kami bisa memprediksikan bahwa kami tidak akan mendapatkan apa-apa hari itu, bahwa seluruh birokrasi menuju meja wawancara bersama seorang pejabat akan sangat disulitkan oleh sangat minimalnya koneksi dan informasi yang kami punya mengenai kegiatan beliau saat itu.

Maka kami meninggalkan gedung tersebut dengan tidak mendapat satu kalimatpun dari Bapak Walikota. Kami tidak melanjutkan perjalanan hari itu, dan mengatur agenda selanjutnya untuk pergi ke kantor DPRD.

Hari berikutnya kami pergi ke kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kalimantan Timur, disana karena terlalu banyak gedung kami cukup kebingungan untuk memasuki gedung yang mana, semua gedung terlihat sama, sama sepinya.

Kami masuki saja gedung pertama yang paling dekat dengan gedung kami parkir, ada beberapa security yang berjaga di dekat meja resepsionis, kami bisa dengan mudah langsung berjalan saja memasuki lift.

Di lantai 2, kami melihat ada banyak sekali ruangan, dengan pintu tertutup pastinya. Kami tidak tahu harus mencari kemana dan menunggu siapa, atau bertanya kepada siapa. Sampai beberapa saat kemudian, seorang pegawai laki-laki lewat dan kami langsung menghampiri dia dan menanyainya. Pegawai tersebut mengarahkan ke kami ke salah satu ruangan, disana ada 2 orang pegawai perempuan yang berseragam serasi dengan pegawai yang mengarahkan kami sebelumnya. Ibu pegawai yang satu ini lebih komunikatif dibandingkan semua orang yang pernah kami temui selama ini, hanya saja memberikan informasi yang sama mengecewakannya, yaitu Bapak Ketua DPRD sedang bertugas ke luar kota dan mungkin akan kembali minggu depan.

Tepat seminggu kemudian, 1 hari sebelum deadline tugas tersebut dikumpulkan, kami kembali ke gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kalimantan Timur, kami memasuki gedung yang sama seperti seminggu sebelumnya saat pertama kali kami datang kesana, dan bertemu dengan pegawai yang sama lagi, kali ini dengan tidak ada saran yang keluar dari mulutnya. Kamipun berjalan luntang-lantung ke gedung yang lain, disana kami bertemu seorang office boy yang mengatakan kepada kami bahwa seluruh anggota DPRD berada di lantai 4. Kami bahkan tidak berpikir untuk pergi ke lantai 4 sebelumnya. Kami langsung menuju ke lantai 4, dimana ada banyak sekali orang dan ruangan dengan semua pintu yang terbuka, hingga kami bingung mau memasuki ruangan yang mana. Jadi kami berpencar saja, sampai salah satu ruangan menyetujui permintaan kami.

Ruangan tersebut diisi oleh seorang kepala Komisi 1 DPRD, yang menangani urusan Hukum dan Perundang-Undangan. Beliau bernama Bapak H. Jahidin, pertanyaan demi pertanyaan kami sampaikan dan dijawab dengan lancar oleh bapak yang keliatannya senang sekali diwawancarai. Beliau menyampaikan bahwa tindak korupsi diawali dari dalam diri masing-masing pelakunya, dengan kesempatan yang hadir di lingkungan kerjanya, namun bila tidak ada kesempatanpun, seseorang bisa dengan sendirinya menciptakan dan merancang kesempatan untuk berkorupsi tersebut. Hasilnya sebuah video wawancara ekskusif berdurasi 12 menit tersebut kami rekam dengan rapi dan siap kami sajikan untuk dosen dan teman teman kami di kelas Hubungan Internasional.

Advertisements