Tags

Nama               : Yunda Hestya Saputri

NIM                : 1402045003

Prodi               : Hubungan Internasional (A)

 ESSAY PENDIDIKAN ANTI KORUPSI

Pada awalnya, saya mengira mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi ini  membosankan, yang dimana perkuliahan diisi dengan materi melulu seperti definisi korupsi itu sendiri, contoh kasus-kasusnya, dan cara mencegahnya. Tetapi, ternyata tidak begitu. Perkuliahan Pendidikan Anti Korupsi ternyata menarik. Oleh Ibu Eni, kami diajak berpikir, berdiskusi, menceritakan pengalaman-pengalaman terkait korupsi itu sendiri yang terjadi di kehidupan sekitar kami, hingga debat-debat yang membuka pikiran kami semua.

Saya pikir, kenapa tidak dari dulu saja saya mendapatkan Pendidikan Anti Korupsi  ini ? Mungkin akan lebih baik jika sejak di bangku sekolah dasar saya mengetahui tentang korupsi. Karena ada saja tindak korupsi yang terjadi pada saya sejak masih kecil tapi saya tidak menyadarinya. Misalnya mengambil uang kembalian saat berbelanja dan membeli buku pelajaran. Yang ada dipikiran saya saat melakukan itu “uang orangtua saya juga, tidak apa kalau diambil sedikit. Ini tidak akan menjadi masalah besar dan mereka tidak bakal marah dengan saya”. Saya berani melakukan hal tersebut hanya pada orangtua, karena saya pikir orangtua saya adalah orang yang paling sayang dengan saya sehingga hal tersebut tidak akan menjadi masalah. Tetapi ternyata hal tersebut adalah salah besar. Mengambil uang yang bukan hak kita, besar maupun kecil jumlahnya, pada orang asing maupun pada orang tua sekalipun, hal itu jelas salah. Dan termasuk dalam tindak korupsi.

Hal menarik lainnya pada Pendidikan Anti Korupsi ini, adalah saat kami diberi tugas untuk membuat kampanye anti korupsi. Kami diberi pilihan untuk membuat video dalam bentuk role, interview, dan animasi serta kampanye dalam bentuk properti seperti stiker, karikatur, dan handycraft. Sebelumnya kami diberitahu untuk membentuk kelompok yang berisi 6-7 orang untuk membuat kampanye anti korupsi ini. Lalu saya, Eka, Rizqa, Yani, Ina, Dini, dan Randa sepakat membentuk kelompok yang kami beri nama Ancor’s Warrior yang artinya Pejuang Anti Korupsi. Dan nantinya, hasil kerja kami akan di presentasikan ke depan kelas dihadapan dosen dan teman-teman lainnya.

Kelompok saya, Ancor’s Warrior memutuskan untuk membuat video interview masyarakat di sekitar tentang korupsi. Berhari-hari kami mendatangi berbagai macam tempat seperti sekolah, mall, pasar tradisional, dari anak kecil sampai orang dewaasa kami wawancarai. Kami menanyakan pertanyaan seputar korupsi, yaitu “apa itu korupsi?” “bagaimana pencegahannya?” “hukuman bagi koruptor?” hingga “seberapa pentingkah pendidikan anti korupsi sejak dini ?” . Hal-hal mendasar tersebut kami tanyakan sekedar ingin tahu tingkat pemahaman masyarakat awam tentang korupsi. Beberapa diantara mereka malah ada yang takut diwawancara karena topik yang kami berikan. Entah sebabnya apa, mungkin membahas korupsi masih terlalu sensitif bagi mereka. Padahal kami ingin masyarakat juga membuka mata mereka tentang kasus-kasus korupsi yang terjadi di sekitar mereka sendiri.Tidak  mau tahu dan tidak mau turun tangan mencegah tindak korupsi inilah yang menyebabkan para koruptor makin menjadi-jadi dalam melakukan korupsi. Tetapi ada juga masyarakat yang dengan garangnya memberi komentar tentang korupsi yang terjadi di negara ini. Mereka tidak segan-segan menyebut koruptor itu maling dan menginginkan eksekusi mati sebagai hukumannya. Kami salut dengan orang-orang seperti ini. Mereka masyarakat kecil, tetapi nyali mereka besar untuk memberantas korupsi.

Semester 1 pun berlalu. Memasuki semester 2, mata kuliah pendidikan anti korupsi diajarkan oleh ibu Unis. Pada awal pertemuan kami diberi materi terkait nilai-nilai dan prinsip anti korupsi. Ada 9 nilai anti korupsi yang penting ditanamkan dalam kehidupan kita, yaitu kejujuran, kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, keberanian, dan keadilan. Selain memberi materi, ibu Unis juga memberi kami tugas untuk membuat strategi dalam rangka mencegah korupsi di lingkungan terdekat, dan hasilnya dijadikan bahan debat pada pertemuan kami selanjutnya. Ibu Unis juga memberi kami tugas dalam bentuk video seperti tugas yang diberikan pada semester 1. Namun, sasaran kami kali ini adalah orang-orang yang berada di instansi besar. Seperti partai politik, DPRD kota atau provinsi, kejaksaan dan kepolisian. Kelompok saya, Ancor’s Warrior sepakat untuk mewawancarai ketua/wakil DPRD Kota, Ketua/Wakil Gubernur KalTim, dan Partai Demokrat.

Pada hari Rabu, 29 April 2015 kami mendatangi kantor Partai Demokrat yang terletak pada jalan Ir.H. Juanda. Saat kami memperlihatkan surat izin dari Prodi, mereka langsung menyambut kami dengan ramah. Tetapi sayangnya, ketua dan wakil Partai Demokrat untuk wilayah Kalimantan Timur saat itu tidak berada di tempat.

Kami ditawari untuk mewawancarai salah satu anggotanya, yaitu Pak Rachmadi Kasim. Kami menanyakan seputar kasus korupsi yang mungkin pernah terjadi di kantor Demokrat tersebut. Pak Rachmadi berkata bahwa belum ada kasus korupsi yang terjadi pada kantor Demokrat di wilayah Kalimantan Timur, tetapi untuk wilayah pusat sudah pernah terjadi kasus korupsi. Beliau juga mengatakan bahwa Ketua Umum Partai Demokrat, yaitu pak Susilo Bambang Yudhoyono selalu mengingatkan kader-kadernya agar mengikuti aturan-aturan, norma dan etika. Pak SBY juga berpesan kepada kader-kadernya untuk menjaga partai dengan baik, cintai rakyat kalau partai ingin dicintai oleh rakyat. Korupsi itu hanya akan menyengsarakan dan menyakiti keluarga koruptor itu sendiri. Pak Rachmadi juga memberi saran untuk mencegah korupsi di lingkungan terdekat, salah satunya adalah dengan selalu mendekatkan diri dengan Tuhan. Sehingga keinginan-keinginan buruk bisa ditangkal dari dalam diri kita. Menurut beliau, persoalan korupsi itu merupakan persoalan tradisi. Misalnya saat seseorang terpilih menjadi anggota legislatif, ia mengadakan syukuran dengan membagi-bagikan uang kepada masyarakat yang datang. Hingga kebanyakan masyarakat saat ini harus diberi uang terlebih dahulu baru mau memilih, dengan kata lain suap-menyuap. Hingga hal tersebut menjadi kebiasaan buruk dalam masyarakat kita. Pendidikan anti korupsi sejak dini juga penting dilakukan agar generasi masa depan bisa bebas dari korupsi. Misalnya, di sekolah dibuka kantin kejujuran, dimana siswa melakukan transaksi jual-beli sendiri. Dari situ bisa dilihat sampai mana tingkat kejujuran para siswa. Begitulah isi wawancara kami dengan Pak Rachmadi Kasim selaku anggota partai Demokrat Kalimantan Timur.

Selanjutnya kami pergi ke kantor DPRD Kota, tetapi lagi-lagi sasaran wawancara kami sedang tidak berada di tempat. Kami pun beralih ke Kantor Gubernur, berharap Ketua atau wakilnya ada ditempat tetapi lagi-lagi kami kecewa karena keduanya juga sedang di luar kota. Kami pun di beri saran oleh resepsionis untuk mewawancarai staf Biro Hukum, karena terkait dengan tema wawancara yang akan kami ajukan. Akhirnya kami mewawancarai beberapa orang staf di Biro Hukum pada keesokan harinya yaitu pada hari Kamis, tanggal 30 April 2015.

Harapan kami untuk mendapat info tentang kasus korupsi yang mungkin pernah terjadi di Kantor Gubernur ternyata tidak memuaskan. Staf  Biro Hukum sendiri seakan tidak mau membuka aib mereka. Tetapi mereka berkata bahwa dalam lingkup Kalimantan Timur sendiri ada kasus korupsi yang terjadi. Mereka sendiri tahu ada kasus korupsi itu dari berita, dan mereka tidak ikut menanganinya. Untuk pencegahan korupsi, biasanya staf Biro Hukum mengundang BPK, Kejaksaan, dan KPK untuk seminar anti korupsi di lingkungan kantor gubernur tersebut. Kira-kira begitulah isi wawancara singkat kami dengan staf Biro Hukum Kantor Gubernur Kalimantan Timur.

Setelah melakukan perjalanan dan mewawancarai orang-orang di berbagai instansi besar, kami mepresentasikan hasil karya kami tersebut perkelompok di kelas. Ternyata apa yang kami alami juga dialami oleh kelompok lain, kebanyakan  instansi yang mereka datangi tidak terlalu mau membuka diri. Bahkan diantara teman-teman saya ada yang dipersulit untuk proses wawancaranya.

Saya mengambil kesimpulan bahwa orang-orang di instansi tersebut berbeda dengan masyarakat biasa yang blak-blakan membahas korupsi, orang-orang di instansi tersebut terkesan lebih menjaga nama baik instansinya walau mereka sendiri tahu ada kebobrokan di dalamnya. Sehingga dalam penyampaian mereka tentang korupsi menjadi kurang memuaskan.  Saya harap kedepannya instansi-instansi besar ini bisa lebih ganas mengungkap kasus korupsi yang terjadi pada instansinya, agar tidak ada lagi ruang bagi koruptor untuk beraksi.

Advertisements