Tags

Nama : Qintamani Istighfarin Qadr

NIM : 1402045018

Kelas : HI-A Reguler 2014

TUGAS

 “PENDIDIKAN ANTI KORUPSI”

Mata Kuliah Anti-Krupsi disini menurut saya sangat diperlukan, awalnya memang terasa membosankan namun semakin kita menelurusinya lebih dalam akan terasa lebih menegangkan. Menurut saya sendiri, pendidikan Anti Korupsi memang sudah harus ada sejak dini, sedikit menyayangkan kenapa harus dimasa sekarang saya mendaptkannya. Banyak yang saya sesalkan dan saya lewati begitu saja, dan banyak yang saya sadari bahwa sebelumnya saya sering melakukan korupsi kecil. Meskipun kecil, tetap saja itu Korupsi.

Di mata kuliah Anti Korupsi kami, satu kelas di bagi menjadi beberapa Kelompok. Saya sendiri berada di Kelompok Ancor’s Warrior yang berarti adalah Pejuang Anti Korupsi. Kami beranggotakan 7 orang yaitu Saya sendiri (Qintamani), Yani, Yunda, Eka, Riska, Dini dan Randa sebagai Ketuanya.

Di tugas pertama kami melakukan wawancara dengan beberapa masyarakt. Saya dengan Yani turun kelapangan, menuju ke pasar, mall dan sekolah-sekolah di samarinda. Setiap masyarakat mempunyai pandangan yang berbeda tentang Korupsi, namun rata-rata dari mereka mempunyai pikiran yang sama untuk menghukum tersangka Korupsi dengan seberat-beratnya.

Yang menarik di sini kami sempat mewawancarai oang asing. Saat itu saya dan Yani sedang berjalan di saah satu Mall yang berada di tengah kota Samarinda, Plaza Mulia. Kebetulan saat itu adalah waktu selesai solat jumat yang berarti banyak orang di Mall tersebut karena Mall tersebut memiliki mesjid diatasnya. Kami menemui beberapa bapak-baak dengan seragam dinas dan beberapa orang yang berseragam, kami bertanya pan dengan sopan untuk ijin mewawancarai, namun mereka hanya pergi dan tidak mengatakan apa-apa seperti halnya kami ini tidak ada. Bahkan ada juga beberapa bapak yang bahkan mengatakan “saya tidak tau apa itu Korupsi”

Apakah itu benar? Atau mereka menghindar? Entahlah. Sampai akhirnya saat itu kami bingung ingin mewawancarai siapa berjalan tanpa arah dan akhirnya kami melihat seorang Bule yang sedang menyesap Kopinya disalahsatu kedai kopi di Mall tersebut. Ia kelihatan sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dilihat dari kerutan di dahinya ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Saya dan Yani pun berjingkrak kegiragan, karena ini adalah keempatan yang sangat Jackpot sekali untuk kelompok kami, bisa saja kami mendapatkan nilai plus Karena mewawancarai orang asing. Dengan bermmodalkan keberanian dan bahasa inggris yang pas-pasann saya dan Yani pun melangkah berani menemuinya. Setiap orang di kedai tersebut menatap kami dengan bingung. Sampai pada akhirnya kami menyapanya. Namanya adalah Zack, dan dia berasa dari Canada, pekerjaannya adlah Enterpreneur. Oh.. pantas saja ia sering mengerutkan dahinya, Enterpreneur memang membutuhkan tenaga pikiran yang ekstra.

Kami melakukan wawancara bersama Zack dengan lancar. Saat kami mengatakan bahwa kami ingin melakukan wawancara, Zack mengatakan “okay, but hurry because im in my job”

Lalu saya dan Yani berfikir, Zack yang sedang sibuk saja bisa meluangkan watunya untuk wawancara. Bagaimana dengan beberapa orang berseragamm tadi?

Zack banyak memberikan masukan dan juga pengalaman. Zack merasa bahwa Korupsi itu memang harus dihukum. Melakukan korupsi kecil harus di hukum dengan benar apaagi yang besar? Dan yang lebih menarik lagi adalah saat kami mengatakan “Corruption” Zack langsung menyangkal “Indonesia?” saya dan yani langsung berfikir, seperti itukah Indonesia dimata orng luar? Atau mungkin hanya bgi Zack yang memang bekrja di bidang bisnis. Yah tentu saja Zack lebih mengerti akan hal tersebut.

Di tugas kedua, kami ditugaskan untuk melakukan Wawancara kepada pihak yang berwenang. Kami membagi kelompok yang beranggotakan beberapa orang itu menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama menuju ke Kantor Partai Demokrat Samarinda, sedangkan kelompok kedua menuju Kantor DPRD Samarinda, dan saya sendiri beserta Yunda dan Dini di kelompok ketiga ditugaskan menuju Kantor Gubernur Kalimantan Timur.

Semua berjalan dengan lancar, kami membuat surat ijin dan berangkat. Hari pertama saya berangkat menggonceng Dini sedangkan Yunda membawa motor sendiri, kami berjalan dengan beriringan. Sesampainya, kami masuk melalui gerbang belakang dan memakirkan motor di tempatnya. Sebenarnya kami sedikit bingung, kemana kami harus pergi ? sangat disayangkan, kantor megah dan luas seperti ini tidak ada Security atau Petugas keamanan yang menanyakan dahulu dan memberikan ijin masuk, jadi sembarangan orang tentu saja bisa masuk. Siapa tau kami yang berwajah seperti ini adalah penjahat hehehe, tidak lama setelah kami sedikit berbincang kearah mana kami harus pergi. Kami menemukan beberapa Karyawan berseragam yang sedang berbincang sambil menyesap rokok mereka.

“permisi pak, kami dari Mahasiswa Hubungan Internasional Universita Mulawarman ingin melakukann wawancara kepada bapak Gubernur. Kemana ya pak kira-kira kita harus pergi?”

Beberapa Karyawan itu terlihat berbincang lalu menanyakan Surat Ijin kepada kami. Kami pun langsung memberikan Map yang berisikan surat ijin tersebut. Bapak itu langsung tersenyum dan berkata “langsung saja ke biro Umum tapi sebelumnya ke resepsionis dulu ya”

Kami pun langsung mengambil langkah menuju resepsionis. Dijalan menuju resepsionis kami melihat beberapa stiker bertemakan Anti Korupsi. Saat sampai kami melakukan hal yang sama, bertanya dan memberikan surat ijin. Perempuan di resepsionis itu pun memberikan ijin dan menunjukan jalan menuju kantor Biro Hukum. Kami pun mengikuti petunjuk Mba resepsionis tersebut. Sesampai disana kami sedikit bingung dan sungkan untuk bertanya karena kebanyakan dari mereka sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sampai pada akhirnya, seorang bapak-bapak berseragam menegur kami dan mempermudahkan jalan kami untuk masuk ke Biro Umum. Setelahnya kami menghadpa kepada wanita berseragam cantik yang sibuk dengan komputernya. Sedetik kemudian bapak itu meberitahu tentang tujuan kami kepad ibu itu. Ibu itu mengangguk lalu menatap kearah kami. Lalu ia menjelaskan bahwa bapak Gubernur tidak semudah itu di ajak untuk berwawancara, memakan waktu beberapa hri untuk memprosesnya dan itu cukup membuat kami tertegun. Namun Ibu itu member saran untuk melakukan wawancara kepada Kepala bagian Biro Hukum di kantor tersebut karena pastinya Biro Hukum mengetahui beberapa cerita permasalahan Hukum di sana. Dan juga Ibu itu memberikan beberapa saran untuk surat kami. Kamipun berterimakasih dan berjanji unuk memperbaiki Surat kami.

Keesokan harinya, kami memperbaiki Surat dan pergi menuju kantor Gubernur lagi, disana kami melaukannya dengan lancar sampai akhirnya kami berhadapan dengan beberapa staff Biro Hukum, melakukan wawancara sekitar 2 jam. Kami sangat diperlakukan dengan baik, bahkan kami diberikan beberapa soft-copy file tentang Anti Korupsi dan juga hard-copy dari peraturan-peraturan yang ada di Biro Hukum.

Mereka menegaskan bahwa Biro Hukum tidak mencampuri urusan tentang Korupsi, Korupsi adaah masalah pribadi, mereka hanya menemani untuk memberikan keterangan. Setelahnya kami pun berpamitan dengan beberapa Staff Biro Hukum dan sebelum pergi meninggalkan kantor tersebut, tidak lupa kami berfoto dan bernarsis ria disana hehehe.

Berfikir tentang Korupsi yang pernah kita lakukan memang banyak, hal-hal kecil yang dianggap korupsi tetap saja judulnya Korupsi. Jadi lebih baik kita membenahi diri terdahulu lalu membawa pesan dan energy postif terhadap yang lainnya. SALAM SUPER!

Advertisements