Tags

NAMA : NUR WIDYA OKTAVIANA

NIS      : 1402045013

Korupsi merupakan sebuah kata yang tidak asing lagi kita dengar, dimana kita mengambil barang/uang yang bukan milik kita. Banyaknya kejadian korupsi yang terjadi belakangan ini mengharuskan kita untuk belajar anti korupsi. Di FISIPOL UNMUL terdapat mata kuliah baru yang mengajarkan tentang pendidikan anti  korupsi yang di ajarkan oleh ibu Unis.

Kali ini kami mahasiswa Hubungan Internasional kelas A 2014 diberi tugas kelompok untuk mewawancarai beberapa instansi-instansi yang ada di Samarinda, apakah ada tindakan korupsi atau tidak, cara penanganannya, serta cara pencegahannya.

Dalam pendidikan anti korupsi  ini kelompok kami diberi nama The Bulletproof. Setelah berdiskusi tentang instansi mana yang kami akan kunjungi kami memutuskan untuk memilih kantor pajak. Yang kami tuju adalah Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tenggarong, alasan kami kesana karena salah satu orang tua anggota kami bekerja disana, jadi memudahkan kita untuk masuk ke instansi tersebut. Alasan lainnya juga yaitu karena kantor pajak merupakan sebagian penghasilan keuangan negara, dan beberapa kasus korupsi juga pernah terjadi di beberapa kantor pajak di Indonesia.

Setelah mendapat tugas tersebut pada hari Senin, 27 April 2015 sepulang kuliah kami pergi ke KPPPT untuk meminta izin dan membuat janji kapan kami bisa mewawancarai narasumber yang nantinya akan memberikan kami informasi. Saat kami sampai di KPPPT kami disambut oleh Bapak Ludi Fitrian yang merupakan ketua Unit Kepatuhan Internal KPPPT. Kami pun menyampaikan tujuan kedatangan kami kesana, beliau sangat mendukung dan merespon baik wawancara tentang anti korupsi. Dan sepakat untuk melakukan wawancara pada tanggal 30 April 2015 pada jam 08.30 WITA.

Pada tanggal 30 April 2015 pada jam 08.30, kami berkumpul di KPPPT untuk melakukan wawancara, namun sayang sekali setelah kami menghubungi Pak Ludi, kami tidak dapat mewawancarai pada jam tersebut karena Pak Ludi ada rapat mendadak yang membahas akan ada pergantian kepala kantor. Dan kami bisa bertemu sampai jam 11.00 siang. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan bertemu lagi pada jam 11.00 siang. Tapi pada jam 10.30, Pak  Ludi menghubungi bahwa rapat diperpanjang hingga jam13.00 siang karena kami ada kelas pada jam segitu maka pertemuan di undur menjadi jam 14.30. Setelah kelas bubar kami pun bergegas ke KPPPT. Dan disana Pak Ludi beserta rekannya pak Beni telah menunggu kami. Sebelumnya pada hari Senin kami telah memberikan gambaran pertanyaan yang akan kami tanyakan. Kemudian Pak Ludi menyarankan akan menjawab pertanyaan dalam bentuk slide, bukan dalam bentuk Tanya jawab seperti wawancara biasanya. Yang dimana nanti beliau  menampilkan slide tentang KPPPT dan dari slide tersebut mereka akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami buat dari penjelasan-penjelasan mereka di slide. Tentu saja kami tidak langsung bertanya apakah ada tindakan korupsi disana karena pasti semua instansi sensitive dengan pertanyaan seperti itu.   Berikut pertanyaan yang kami ajukan/ sampaikan kepada KPPPT :

  1. Apa saja visi dan misi dari Dirjen Pajak atau KPPPT ?
  2. Apa saja tata tertib kepegawaian yang berlaku di KPPPT ?
  3. Apakah pernah terjadi pelanggaran terhadap tata tertib tersebut ?
  4. Bagaimana strategi pencegahan tindak korupsi di KPPPT ?
  5. Apakah strategi tersebut telah efektif diterapkan di KPPPT ?
  6. Bagaimana KPPPt menyikapi kasus besar korupsi yang pernah terjadi di Dirjen Pajak seperti Gayus Tambunan ?
  7. Apa pengaruh kasus tersebut terhadap Dirjen Pajak di mata masyarakat ?
  8. Bagaimana KPPPT menyikapi para wajib pajak yang berusaha untuk mengurangi beban pajaknya yang berimbas juga terhadap perilaku korupsi yang dilakukan oleh para pegawai Dirjen Pajak ?

Wawancara pun dimulai dengan persentasi oleh Bapak Beni yang menjelaskan definisi dari korupsi serta gratifikasi dan visi misi dari Dirjen Pajak. Dimana visi nya adalah menjadi institusi pemerintah penghimpun pajak negara terbaik di wilayah Asia Tenggara, misi nya adalah menyelenggarakan fungsi administrasi perpajakan dengan menerapkan UU perpajakan secara adil dalam rangka membiayai penyelenggaraan negara demi kemakmuran rakyat. Dan juga Dirjen Pajak menanamkan nilai integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan. Persentasi selanjutnya disampaikan oleh Pak Ludi yang menjelaskan bahwa DJP memiliki system pengendalian intern yang merupakan proses integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien. Apabila terjadi pelanggaran akan dilakukan evaluasi terpisah kemudian dilakukan tindak lanjut serta pemantauan berkelanjutan. Unit kepatuhan internal memiliki tugas sebagai pemantau pengendalian intern, pemantau pengelolaan/ manajemen resiko, pemantau kepatuhan terhadap kode etik dan disiplin pegawai, pemantau tindak lannjut hasil pengawasan, dan perumusan rekomendasi perbaikan proses bisnis.

Kemudian adapun strategi anti korupsi  oleh Dirjen Pajak adanya pertama, Blind Surveillance yaitu menyelidiki suatu kantor pajak dengan menyamar sebagai wajib pajak, untuk mengetahui apakah ada pegawai pajak yang menyeleweng dari tugasnya. Dan metode ini pun berhasil menangkap pegawai pajak yang nakal. DJP juga sering melakukan pengecekan data berkala apakah sesuai dengan data atau tidak. Jika ada yang tidak sesuai setiap kantor biasanya akan melakukan sidak untuk mengetahui pelanggaran-pelanggaran di kantor tersebut.

Dan metode selanjutnya yaitu Whistle Blowing System adalah system pengaduan yang ada di Dirjen Pajak yang menampung laporan atau pengaduan terhadap dugaan penyelewengan yang dilakukan oleh pegawai pajak. Whistle Blowing System elakukan pengawasan terhadap sesame pegawai Dirjen Pajak. Dimana jika ada yang melihat seorang pegawai melakukan tindakan penyelewengan maka akan dilaporkan ke DJP melalui WBS ini atau ke Unit kepatuhan internal jika terbukti bersalah maka akan ditindak lanjut, sedangkan yang melapor akan dilindungi dan di beri reward. Kemudian, KPPPT juga membuat banner serta slogan-slogan yang mengajak pegawai pajak akan lepas dari korupsi seperti “DJP Bersih di tangan kita.”, kemudian tolak gratifikasi, dan lain-lainnya.

Setelah persentasi selesai kami pun mengajukan dua pertanyaan tambahan, yaitu dengan adanya system yang telah terstruktur dan sistematis apakah masih ada kemungkinan pegawai pajak akan tetap melakukan korupsi ? Dijwab oleh Pak Ludi bahwa yang namanya tindakkan korupsi itukan seperti air. Walaupun sudah ditutup jalannya dia pasti masih saja mencari celah untuk keluar. Nah, bagitu pula dengan kasus korupsi. Saat telah ditanggulangi satu kasus, telah ditutup lubangnya, timbul lagi satu kasus baru.

Pertanyaan kedua adalah dengan peran media massa yang sangat menyoroti kasus korupsi Gayus Tambunan serta kasus-kasus korupsi lainnya di DJP yang menjadikan wajah DJP menjadi negatif di masnyarakat sehingga masih banyak yang belum mengetahui sisi positif dari DJP, bagaimana KPPPT menyikapi hal tersebut? Dijawab oleh Pak Ludi serta Pak Basuki bahwa memang benar peran media massa sangat besar menyoroti kasus Gayus Tambunan lalu, namun hal ini sekali lagi menjadikan motivasi kepada DJP serta KPPPT untuk lebih baik lagi. Karena seperti analogi bahwa kertas yang putih bersih apabila terkena noda hitam setitik saja maka kertas itu akan terlihat kotor, begitu pula instansi-instansi di pemerintahan ini, semuanya awalnya didirikan tentu dengan niatan yang baik akan tetapi kebaikan itu jika telah dirusak oleh satu orang saja maka pasti terlihat jelek juga. Sudah tidak bisa dihindari lagi, akan tetapi hal tersebutlah yang memacu DJP lebih baik lagi agar tidak ada Gayus yang lainnya.

Setelah perbincangan yang memakan waktu dua jam tersebut akhirnya kami selesai mewawancarai KPPPT.

Pada tanggal 23 Mei 2015 kami melakukan persentasi bersama dengan dua kelompok lainnya, ya kami sedikit kecewa dengan tidak hadirnya Ibu Unis pada saat kami persentasi. Tapi itu bukan sebuah hambatan bagi kami, karena peralatan kurang memadai seperti tidak adanya sound system sehingga suara dari video tidak terlalu kedengaran jadi kami skip ke bagian akhir video yang menampilkan sebuah renungan untuk bangsa Indonesia tidak melakukan korupsi. Setelah video selesai saudari Bella dari kelompok kami pun menjelaskan secara singkat isi dari hasil wawancara, setelah itu selesai lah persentasi dari kami. Kemudian masuk di sesi Tanya jawab, banyak sekali pertanyaan yang di ajukan oleh teman-teman tapi yang anehnya tidak ada satu pun yang bertanya kepada kelompok kami. Kemudian salah satu kelompok yang bernama untoucheable bertanya kenapa tidak ada tanggapan atau saran bahkan pertanyaan yang diberikan untuk The Bulletproof yaitu kelompok kami. Kenapa demikian ? Ya alsannya bahwa kelompok kami telah menyampaikan persentasi yang cukup jelas dan mudah dimengerti oleh audience sehingga tidak ada pertanyaan ataupun tanggapan tentang kelompok kami, kalaupun ada itu masalah sound, dan durasi pada video yang kami buat. Saudari Hariyani pun menambahkan bahwa masalah kami di sund dan durasi akan tetapi video dan penjelasan sudah cukup jelas. Kami tentunya kecewa karena tidak bisa menampilkan video tersebut dengan baik, mudah-mudahan kedepannya kami bisa lebih baik lagi. Dengan berakhirnya sesi Tanya jawab, berakhir pula diskusi tersebut dan dilanjutkan minggu depan oleh kelompok selanjutnya.

Tentunya ini belum berakhir bagi kami, pada tanggal 01 Juni 2015 kami harus ke KPPPT lagi untuk menceritakan kepada mereka bagaimana instansi lainnya dalam menghadapi korupsi ini. Sepetau bisa dijadikan motivasi untuk KPPPT lebih baik lagi.

Terima kasih kepada Allah SWT yang telah memudahkan kami,serta terimakasih  kepada semua pihak kepada Ibu Unis, serta narasumber Bpk Ludi Fitrian, Bpk Basuki Hermawan, Bpk Beni Tito, Ibu Lilik dan kawan-kawan Hubungan Internasional A 2014 yang telah membantu kelancaran tugas ini. Sekian dan Terima kasih.

Advertisements