Tags

NAMA                 : NUR HARIYANI

NIM                     : 1402045002

PRODI                 : HUBUNGAN INTERNASIONAL (A)

MATA KULIAH : PENDIDIKAN ANTI KORUPSI

TUGAS               : ESSAY “ANCOR’s WARRIOR

Ancor’s Warrior adalah kelompok Anti Korupsi yang dibentuk karena adanya mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi yang diampu oleh dosen Pembina yaitu  Uni Wahyuni Sagena, M.Si., Ph.D. Ancor’s Warrior ini terdiri dari tujuh (7) orang mahasiswa yaitu Nur Hariyani,Randa Nur Pratama,Qintamani I.Q,Dini Hariyatti,Eka Novita Sari,Yunda Hestya dan Rizqa Rahmatania dari kelas Hubungan Internasional A angkatan tahun 2014 dan diketuai oleh saudara Randa Nur Pratama. Pada tanggal 22 April, bu Unis selaku dosen Pembina bagi mata kuliah ini memberikan tugas untuk setiap kelompok di kelas HI-A 2014 yaitu “wawancara ke instansi pemerintah atau partai mengenai kasus korupsi yang pernah terjadi di instansi tersebut” dan kelompok Ancor’s Warrior pun memilih tiga (3) instansi sebagai target wawancara.Ancor’s Warrior sendiri punya strategi dalam menjalankan misi (tugas) yang diberikan oleh bu Unis yaitu dengan menggunakan waktu yang diberikan sebaik mungkin salah satu langkah yang kami ambil adalah membagi-bagikan tugas untuk setiap orang di kelompok Ancor’s Warrior ini dan memecahkan 7 orang di kelompok ini untuk pergi ke 3 instansi tersebut secara terpisah. Kami memberikan porsi tugas yang sama untuk setiap anggota kelompok dan menetapkan tujuan yang sama yaitu menyelesaikan tugas dan membagi ilmu tentang anti korupsi. Instansi-instansi yang kami wawancara adalah a)  Biro Hukum Kantor Gubernur b) Partai Demokrat c) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Samarinda. Seterusnya, pembagian kerja bagi kelompok ini adalah seperti berikut ;

  1. Biro Hukum Kantor Gubernur
  • Dini Hariyatti
  • Qintamani I.Q
  • Yunda Hestya
  1. Partai Demokrat
  • Eka Novita Sari
  • Rizqa Rahmatania
  1. DPRD Samarinda
  • Nur Hariyani
  • Randa Nur Pratama

Berdasarkan pembagian kerja yang berhasil di wawancarai hanya dua instansi yaitu Biro Hukum Kantor Gubernur dan Partai Demokrat. Sedangkan DPRD Samarinda gagal untuk di wawancarai. Saya dan saudara Randa sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mewawancarai ketua DPRD Samarinda akan tetapi tidak berhasil karena beberapa hambatan.

Rabu, 29 April 2015 merupakan hari pertama saya dan saudara Randa mendatangi kantor DPRD Samarinda yang pada awalnya berniat untuk membuat janji dengan ketua atau wakil DPRD Samarinda untuk di wawancara. Kami tiba di kantor DPRD Samarinda pada jam 10:05 WITA dan langsung menemui satpam untuk meminta izin untuk masuk ke dalam kantor dan kami pun di minta untuk menemui resepsionislalu kami pun pergi dan setiba kami di resepsionis, kami memperlihatkan surat tugas kami dan kami pun langsung di suruh untuk ke bagian HUMAS DPRD Samarinda. Di HUMAS, kami di suruh langsung naik ke ruangan wakil ketua DPRD Samarinda dan langsung bertemu dengan sekretaris wakil tersebut dan pada akhirnya sekretaris tersebut mengatakan bahwa wakil DPRD tersebut tidak sedang di kantor dan meminta kami untuk datang kembali pada hari senin (04 Mei 2015). Saya dan saudara Randa pun mengambil keputusan untuk pergi dan kembali ke kampus. Hari seterusnyapun datang, pada hari Senin,04 Mei 2015 kami pergi ke kantor DPRD Samarinda setelah menyelesaikan kelas Sosiologi. Kami tiba di kantor DPRD Samarinda pada jam 10:10 WITA dan kami langsung di minta ke bagian UMUM untuk membuat janji untuk bertemu wakil ketua DPRD pada waktu itu kami menegaskan bahwa sekretaris wakil sendiri yang meminta kami kembali pada hari senin dan bagian resepsionis tetap menegaskan bahwa harus ke UMUM dahulu. Lalu, kami pun ke bagian UMUM dengan membawa surat tugas tersebut dan di minta untuk meninggalkan surat itu serta nomor telefon yang bisa dihubungi dan pada akhirnya sampai saat ini pun pihak DPRD Samarinda tidak ada menghubungi dan akhirnya misi dari saya dan saudara bisa di bilang gagal. Hambatan yang kami lalui di sini adalah kesalahan arahan dari pihak resepsionis yang berganti-ganti.

Pada hari Rabu,06 Mei 2015 kelompok kami yaitu Ancor’s Warrior pun membuat presentasi dari hasil yang di temukan oleh teman-teman yang lain. Syukur Alhamdulillah teman-teman saya bisa mewawancarai instansi-instansi tersebut. Saya dan saudara Randa hanya membatu proses penyelesaian video wawancara dan diskusi kelompok kami terkait hasil yang sudah dicapai. Menurut saya tugas yang diberikan ini sangat menarik dan memberikan banyak pembelajaran bagi saya dalam menghadapi proses pendewasaan diri yaitu dengan lebih teliti dalam menghadapi sesuatu masalah dan amanah yang diberikan serta belajar dari contoh kasus yang kami hasilkan dalam wawancara bersama narasumber.

Ancor’s Warrior hanya dapat mewawancarai staff biro hukum di Kantor Gubernur Samarinda dan kami mendapati bahwa di sana terdapat kasus korupsi tetapi pihak biro hukum tidak bisa membeberkan kasus tersebut kepada kami karena masih menjaga profesionalitas dan hal tersebut juga masih belum terbukti sepenuhnya bersalah. Kasus kedua yang kami dapatkan adalah di partai Demokrat yang menyatakan bahwa di kantor cabang Samarinda belum pernah menghadapi kasus korupsi dan ketika terdapat anggota partai yang melakukan tindak korupsi, maka akan dinonaktifkan keanggotaannya dan otomatis akan dipecat dari partai.

Seterusnya, saya sebagai manusia biasa pasti pernah melakukan tindak korupsi walaupun korupsi “kecil-kecilan”.pada saat saya berumur 12 tahun dan sedang di kelas 6 SD, saya membantu ibu saya berjualan kue dan minuman di sekolah dekat rumah saya pada pagi hari karena saya sekolah sore pada waktu itu. Setiap hari ibu saya hanya memberikan RM1 (seringgit Malaysia) kepada saya untuk uang saku saya akan tetapi pada waktu itu saya merasa bahwa uang tersebut tidak cukup dan mengambil uang ibu saya (recehan) RM0.50 sen bahkan sampai RM2 (dua ringgit Malaysia).Tindak korupsi lainnya yang pernah saya lakukan juga adalah melakukan tindakan suap atau rasuah untuk kelancaran berkas pada saat urus MyKad (identity Card Malaysia) sebesar RM 500 . Pada saat itu saya hanya berfikir bahwa pembayaran tersebut adalah bentuk keharusan atau syarat yang harus saya patuhi tetapi seiring berjalannya waktu saya tahu bahwa tindakan tersebut salah dan tidak pernah melakukan hal tersebut lagi.

Sebagai generasi Anti Korupsi, kita seharusnya mencegah adanya korupsi di sekitar kita dan ambil pembelajaran dari sekitar kita agar tidsk melakukan tindak korupsi serta menjalankan langkah pencegahan sejak dini seperti menyalurkan pendidikan anti korupsi kepada sekeliling kita dan mendirikan organisasi bagi pemuda-pemuda yang mau bangkit melawan tindak korupsi.Marilah kita bersama-sama melawan korupsi dengan mengamalkan prinsip-prinsip anti korupsi yang seharusnya kita terapkan dalam diri kita sebagai generasi ANTI KORUPSI.

Advertisements