Tags

NAMA : NICKY NASDA JUNITA

NIM     : 1402045057

Tugas yang di berikan bu Unis kali ini adalah melakukan wawancara kepada instansi terkait dengan korupsi. Saya adalah anggota dari kelompok yang bernama Against The Coruption, kelompok yang telah di bentuk lama sebelum tugas wawancara ini di berikan. Kelompok ini terdiri dari 7 anggota, anggota-anggota tersebut antara lain adalah Indryanti, Nurrin Sofiyah, Nurlita Shafira, Ni Putu Rizky, Hadijah, Versy Gita dan saya sendiri Nicky Nasda. Ibu Unis telah memberikan beberapa instansi utama atau pilihan yang di prioritaskan tetapi bukan berarti lantas kami tidak diperbolehkan memilih instansi mana yang kami kehendaki. Bu Unis tetap memberikan kebebasan dan saya bersama teman-teman saya memiliki daftar instansi sendiri yang sekiranya dapat menjadi narasumber kami.

Pada tanggal 29 April pukul 09.30 pagi kami memulai perjalanan wawancara kami. Instansi yang pertama kali kami datangi adalah kantor DISPENDA atau Dinas Pendapatan Daerah, setelah mendapatkan surat pengantar dan mendapat persetujuan dari Bu Unis kami segera bergerak menuju kantor DISPENDA yang terletak di jalan Mt. Haryono. Setibanya disana kami mendapati staf yang sedang bertugas, setelah memperkenalkan diri, menjelaskan apa maksud kedatangan kami, siapa yang ingin kami temui, dan menuliskan catatan kecil yang nantinya akan diserahkan kepada kepala kantor Dispenda staf yang sedang bertugas tadi naik ke lantai atas untuk menemui sang kepala Dispenda di ruangannya. Setelah menunggu kira-kira 10 menit beliau tadi datang kembali dengan memberitahukan kepada kami bahwa ketua maupun wakil ketua kantor Dispenda tersebut sedang berada di luar kota. Karna hal tersebut kami pun memutuskan untuk mengganti narasumber kami dengan yang lain, mungkin sekertaris atau pihak-pihak lain yang tidak berkeberatan jika kami wawancarai. Tetapi ternyata kami harus menunggu lagi karna sekretaris juga sedang berada di luar, beliau mengatakan kira-kira jam 1 atau setelah makan siang kami bisa kembali lagi dan dapat dipastikan ibu Nita selaku sekretaris telah berada di ruangannya. Sebenarnya bisa saja kami kembali lagi tetapi kami harus mengikuti mata kulai Statistika siang nanti. Setelah berunding kembali, akhirnya kelompok kami memutuskan untuk beristirahat di salah satu rumah teman kami, Hadijah. Setelah sampai dan beristirahat sejenak kami segera memikirkan kembali instansi mana yang kira-kira cocok untuk kami datangi. Banyak sebenarnya pilihan yang dapat kami jadikan narasumber tetapi kami ragu belum lagi kendala surat pengantar yang harus diurus kembali jika kami ingin mendatangi instansi yang berbeda. Setelah bertukar pikiran satu sama lain akhirnya kami menemukan solusinya, kami akan mendatangi kantor Satuan Kerja Pengembangan Air Minum dan Sanitasi . Alasan mengapa kami memilih kantor tersebut karena Hadijah teman kami adalah mantan duta Sanitasi dan mengenal baik staf yang ada disana, bahkan Hadijah mengenal kepala kantor tersebut. Tidak menunggu lama lagi siang itu sekitar pukul 13.00 kami langsung bergerak menuju ke kantor Satuan Kerja Pengembangan Air Minum dan Sanitasi tersebut. Kedatangan kami kesana bukan langsung ingin mewawancarai melainkan kami hanya ingin membuat janji dengan pihak setempat agar besok lebih mudah dan jelas bagi kami untuk mewawancarai. Pihak sana mengatakan bahwa sebaiknya kami datang di pagi hari, kami pun meng’ iya’ kan dan menganggap itu adalah sebuah janji. Selain membuat rencana untuk mewawancarai kantor Satuan Kerja Pengembangan Air Minum dan Sanitasi  kami juga memilih Kantor Partai Politik Nasdem yang terletak di Sungai Kapih, Sambutan sebagai salah satu cadangan jika mungkin terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan. Kami sepakat untuk membagi tugas menjadi 2 kelompok, saya adalah salah satu yang ikut ke dalam kelompok yang akan mewawancarai kantor Satuan Kerja Pengembangan Air Minum dan Sanitasi sedangkan kelompok yang akan mewawancarai kepala kantor Nasdem adalah rekan saya, Indry dan Ni Putu Rizky. Akhirnya siang itu kami putuskan untuk pulang kerumah masing-masing dan di lanjutkan pada hari Senin.

Pada hari Senin tepatnya tanggal 4 Mei kami memulai perjalanan kembali. Sesuai dengan rencana kemarin, pagi ini kami di bagi menjadi dua kelompok. Saya bersama Hadijah, Versy, dan Nurrin tiba di kantor Satuan Kerja Pengembangan Air Minum dan Sanitasi sekitar pukul 09.00 pagi sesuai dengan jadwal yang telah dijanjikan. Pagi itu kami pergi hanya berempat karna salah satu anggota kami Nurlita Shafira tidak dapat hadir karna suatu keperluan yang mendadak.

Sampai disana kami disambut oleh salah satu karyawan yang langsung menyuruh kami untuk menunggu sebentar lagi karna sedang ada meeting yang sedang berjalan, kami memaklumi kejadian tersebut karna hari Senin memang hari yang sangat sibuk. Selagi menunggu kami di suguhkan air minum sembari berbincang dengan karyawan-karyawan yang berada disana. Kebanyakan dari mereka mengira bahwa kami akan melakukan KKN, kadang pula kami tertawa bersama karna ternyata karyawan disana sangat friendly. Setelah menunggu berjam-jam tepatnya pada pukul 11.00 kami dipersilahkan untuk menunggu di ruangan yang terletak didalam kantor karna  ruangan sebelumnya tempat kami menunggu yang terletak di depan kantor langsung terpapar dengan panas matahari sehingga udara disana sangat tidak nyaman apalagi kami telah menunggu selama 2 jam. Setelah masuk ruangan yang ternyata adalah ruang meeting tanpa pikir panjang lagi kami langsung mempersiapkan diri karna berpikir meeting sudah selesai dan itu artinya kami akan melakukan wawancara sebentar lagi. Kami lalu membagi tugas, saya mendapatkan tugas menjadi pewawancara, Hadijah menawarkan diri untuk mengambil gambar dengan telepon selular miliknya, Versy dan Nurrin bersedia menjadi notulis. Selang beberapa menit kemudian kepala kantor tersebut masuk kedalam ruangan tempat kami menunggu, kami memperkenalkan diri kepada beliau dan menjelaskan maksud kedatangan kami tapi ternyata kami tidak menyangka bahwa beliau langsung berlalu lagi seraya berkata “Saya masih ada keperluan sebentar diluar, mungkin siang saya akan kembali”, kami pun tertunduk dan kecewa. Bagaimana mungkin batal begitu saja padahal kami telah menunggu beliau selama lebih dari 2 jam? Dengan semangat yang sudah tidak semembara tadi, kami berusaha mencari jalan lain. Kami rasa tidak akan masalah jika bukan kepala dari kantor tersebut yang menjadi narasumber kami, jadi kami putuskan untuk menawarkan kepada karyawan-karyawan yang bekerja disana untuk menjadi narasumber kami tetapi lagi-lagi kami tidak berhasil dengan alasan mereka seperti ini “Kami hanya bawahan, selama ada atasan beliau-lah yang berhak untuk urusan seperti ini.” Tidak ada pilihan lain akhirnya dengan keadaan fisik yang sudah lelah karna berjam-jam menunggu dan belum makan kami terpaksa pulang dengan tangan kosong tanpa hasil. Kami memutuskan tidak mau menunggu sampai jam makan siang habis seperti yang di perintahkan kepala kantor Satuan Kerja Pengembangan Air Minum dan Sanitasi tadi, kami memilih untuk pulang dan memikirkan lagi rencana kami selanjutnya.

Pada hari Kamis tanggal 7 Mei usai mata kuliah Sistem Ekonomi Indonesia kami melanjutkan perjalanan wawancara kami ke kantor Satuan Kerja Pengembangan Air Minum dan Sanitasi. Harapan kami semoga pada hari ini kepala kantor tersebut sedang berada ditempat dan bersedia untuk kami wawancarai. Ternyata lagi-lagi setibanya disana kami dikecewakan kembali. Kami sadari bahwa yang kali ini adalah murni kesalahan kami karna kami datang terlalu siang, sekitar pukul 14.30 kami baru diperbolehkan pulang setelah mengikuti mata kuliah Sistem Ekonomi Indonesia, berarti kira-kira pukul 15.00 lewat kami baru tiba di kantor Satuan Kerja Pengembangan Air Minum dan Sanitasi. Walaupun begitu kami belum patah semangat, apalagi setelah para karyawan disana menyarankan agar kami datang lagi pada hari Senin. Tidak mau kejadian kemarin terulang kembali, kami berinisiatif untuk meminta nomor telepon salah satu karyawan yang bekerja disana agar kami bisa mendapatkan kabar yang pasti tentang keberadaan sang atasan kantor. Akhirnya kami pulang kerumah masing-masing dan menunggu sampai hari Senin tiba

Pada hari Senin 11 Mei kira-kira pukul 09.30 pagi setelah kami mengikuti mata kuliah Sosiologi kami segera memutuskan pergi ke kantor Satuan Kerja Pengembangan Air Minum dan Sanitasi. Kali ini anggota kami Nurlita Shafira ikut serta. Sesampainya disana kami sempat bertemu dengan kepala kantor tersebut tetapi ternyata masih ada suatu hal yang harus beliau urus, dengan sigap kami mengambil keputusan yang lain. Kami dengan terpaksa mendesak karyawan yang berada disana untuk menepati janji-janji mereka kemarin. Akhirnya usaha kami mendesak dan membujuk berhasil, salah satu karyawan disana bersedia untuk menjadi narasumber kami. Tanpa basa-basi lagi saya selaku pewawancara langsung menempatkan diri di kursi yang telah disediakan di ruangan tersebut tepat didepan saya sang narasumber yang sepertinya sudah siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan. Pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah “Apakah pernah terjadi kasus korupsi di kantor Satuan Kerja Pengembangan Air Minum dan Sanitasi tempat bapak bekerja ini?” Narasumber kami menjawab Tidak. Alasannya adalah “Karna kami dan teman-teman yang lain saling mengingatkan, serta selalu meningkatkan keimanan kepada sang pencipta” Tidak lebih mungkin dari 5 menit, wawancara itu pun selesai. Saya dan teman-teman saya lega serta berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada pihak kantor yang pada akhirnya mau menjadi salah satu narasumber kami. Tidak lupa kami meminta surat keterangan bahwa kami benar-benar telah melakukan wawancara di kantor tersebut tanpa adanya rekayasa. Setelah selesai dengan semangat yang masih tersisa kami memutuskan untuk pergi ke satu instansi lagi tepatnya ke kantor Dewan Pimpinan Wilayah Partai Perindo yang terletak di jalan Antasari. Sesuai dengan surat pengantar yang kami urus kemarin bahwa kami menyertakan pula kantor Partai Perindo untuk menjadi cadangan kami. Mengingat rekan kami, Indry dan Ni putu Rizky yang tidak mendapatkan hasil dari kantor NASDEM itu lah yang akhirnya membulatkan tekad kami untuk melanjutkan perjalanan kami pagi itu.  Sesampainya disana kami mendapati suasana yang sangat lengang, kendaraan yang terparkir di halaman kantor tidak banyak seperti dugaan saya. Ketika masuk kami di sambut oleh seorang bapak yang tidak kami tanyakan namanya siapa dengan sangat ramah. Beliau mempersilahkan kami untuk mengisi buku tamu dan duduk sebentar, menunggu kesediaan narasumber kami untuk diwawancarai. Tidak menunggu waktu yang lama, kami dipersilahkan masuk langsung ke ruangan narasumber kami. Saat masuk ke dalam ruangannya, beliau dengan ramah menyambut kami. Setelah berjabat tangan seraya memperkenalkan diri, menyebutkan darimana kami berasal dan menjelaskan tujuan kami, kami lalu memulai sesi pertanyaan. Pertanyaan yang saya lontarkan sama seperti sebelumnya, pak Hamdani dengan tenang menjawab “Tidak pernah” . Saat saya tanya apa faktor atau alasannya sampai tidak pernah terjadi kasus korupsi di kantor ini pak Hamdani menjawab “Korupsi kan suatu perbuatan yang mengambil hak orang lain, memakan uang rakyat sedangkan kantor ini baru saja berdiri, dana operasional yang digunakan saja uang pribadi saya, jadi saya mau korupsi apa? Tapi bukan berarti jika kantor ini sudah berdiri lama akan ada tindak korupsi, tidak seperti itu maksudnya. Orang-orang yang ingin masuk ke partai ini diseleksi sangat ketat seperti harus memiliki sifat yang mandiri, tidak bergantung denga orang lain. Saya sendiri sangat mendukung tindakan anti korupsi sendiri.” Begitulah kira-kira jawaban pak Hamdani menutup sesi tanya jawab kami, teman-teman termasuk saya sangat puas dengan jawaban pak Hamdani.

Satu hal yang membuat kedatangan kami kesana begitu berkesan, mengapa demikian? Karna dengan senang hati pak Hamdani berbagi pengalaman serta pikirannya kepada kami, mahasiswa yang di anggapnya pantas mendengarkan nasihatnya tersebut. Beliau berkata bahwa pada saat ini dunia politik sangat kekurangan peran wanita, padahal wanita adalah salah satu peran yang juga tidak kalah pentingnya di dalam dunia perpolitikkan. Sudah saatnya kami, para generasi muda terutama wanita memberanikan diri untuk terjun ke dunia politik, menyampaikan aspirasi-aspirasi kami. Apalagi peran wanita ini sesungguhnya sudah tertulis pada Undang Undang Dasar bahwa 30% adalah hak wanita untuk ikut serta dalam dunia politik. Ketika sedang seksama mendengarkan, tiba-tiba teman kami Hadijah menyanggah perbincangan pak Hamdani dengan melontarkan suatu pertanyaan kepada pak Hamdani, “Tapi pak, umumnya wanita tidak dihargai seperti layaknya pria apalagi jika mereka ingin terjun ke dunia politik.” Pak Hamdani tersenyum dan menjawab, mereka akan sepenuhnya dihargai jika mereka bisa meningkatkan kualitas diri mereka sendiri. Berkaca dari proses terbentuknya batu akik. Bagaimana batu akik semula sebelum di olah hanyalah seonggok batu yang tidak menarik perhatian, sama saja dengan batu-batu yang lain pada umumnya. Tatapi lihatlah ketika batu tersebut telah mengalami beberapa proses, dikikir, di amplas, di gerindra. Banyak sekali orang yang berbondong-bondong mencari batu yang awalnya tidak berharga tersebut, bahkan rela membelinya dengan harga yang tidak biasa. Seperti itu lah seharusnya wanita-wanita Indonesia. Tidak ada yang tidak mungkin, jika mereka bersungguh-sungguh, menonjolkan kualitas dan kemampuan diri mereka. Pasti dengan secara otomatis mereka akan dihargai oleh orang lain. Beliau berpesan kepada kami, jika sudah lulus nanti jangan lah sibuk mencari pekerjaan karna menurut beliau lebih baik kami menciptakan lapangan pekerjaan atau memiliki usaha sendiri. Seraya menceritakan pengalaman pribadi bahwa beliau tidak pernah ingin di gaji, beliau berpegang teguh kepada prinsip hidup beliau bahwa lebih baik menganggur daripada di gaji oleh orang lain.

Banyak pesan dan kesan serta nasihat baik yang kami dapatkan dari sosok Pak Hamdani siang itu. Kami seperti mendapatkan dua keuntungan sekaligus, yang pertama kami telah berhasil mewawancarai beliau itu artinya tugas mata kuliah Anti Korupsi kami pun selesai dan yang kedua kami mendapatkan pelajaran yang baik dari Bapak Hamdani.

Saya pribadi merasa telah mendapatkan pengalaman yang berharga dari tugas mata kuliah Anti Korupsi ini. Pengalaman bernegosiasi dengan para calon narasumber kami untuk bersedia menjadi narasumber kami, pengalaman kami bertemu dengan beberapa wakil masyarakat dan berbincang langsung dengan mereka, melihat bagaimana kinerja mereka, pengalaman kami membentuk kelompok dan bekerja sama dengan sebaik-baiknya. Karna tugas Anti Korupsi ini kami menjadi lebih tau mendalam mengenai korupsi, dampak yang ditimbulkan olehnya, dan cara kami menjauhi korupsi itu sendiri. Kami pun menjadi sadar dan mulai menerapkan nilai-nilai anti korupsi agar kami para generasi muda bisa menjadi generasi yang benar-benar berkualitas, menjunjung tinggi nilai- nilai Pancasila dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari serta menjaga keutuhannya. Generasi yang dapat dipercaya dan diandalkan untuk meneruskan pembangunan bangsa ini ke arah yang lebih baik lagi. Menciptakan calon-calon wakil rakyat yang berintegritas tinggi, menanamkan sifat-sifat anti korupsi sehingga dapat menjadi wakil rakyat yang amanah.

Advertisements