Tags

Nama : Maghfirah Nur Ade Suciani

NIM    : 1402045069

Prodi  : Hubungan Internasional (A)

Lewat kesempatan yang berupa tugas ini saya akan menceritakan pengalaman saya dan teman-teman saya kelompok “The untouchable” dalam melakukan wawancara tentang korupsi dan anti korupusi di lembaga-lembaga nasional maupun swasta. Wawanara yang kami lakukan sebenarnya merupakan tugas lain yang telah lebih dahulu ditugaskan kepada kami. Kelompok saya “the untouchable” terdiri dari 8 orang 4 perempun, yaitu saya, Aprin, Dwiki, dan Retita, dan 4 laki-laki yautu, Armin, Jurmin, Reno dan Rivaldi.

Kami sepakat untuk melakukan wawancara di KNPI pusat dan partai politik GERINDRA. Kami memilih melakukan dua kali wawancara di tempat berbeda agar dapat membandingkan hasil mana yang lebih baik yang akan kami kumpulkan sebagai hasil akhir tugas kami. Langah pertama yang kami lakukan adalah membuat janji pertemuan dengan masing-masing lembaga tersebut. Kami pergi mebuat janji dengan lembaga-lembaga tersebut tanpa ada kendala yang berarti. Pertama kami mendatangi gedung KNPI di jalan A.W Syahrani. Saat kami datang ternyata di gedung tersebut tidak ada satu pun pengurus yang datang, kita sempat menunggu selama 30 menit tetapi tetap tidak ada yang datang saat itu waku menunjukan pukul 09.30 jadi kami sempat menunggu sampai jam 10.00. awalnya kami bingung apa yang harus di lakukan lagi karna bisa saja kami gagal membuat janji wawancara hari ini. Tetapi salah satu dari kami memiliki kontak salah satu pihak KNPI dan mengatakan dia yang akan membuat janji dengan pihak KNPI melalui telepon. Jadi kita memutuskan berpindah ke kantor parpol GERINDRA.

Tidak banyak waktu yang dihabiskan dalam perjalanan dari gedung KNPI menuju kantop GERINDRA mungkin hanya memakan waktu sekitar 10 menit. Ya, tempatnya cukup dekat. Karena kantor GERINDRA berada di perumahan Villa Tamara. Sesampainya di sana dengan menakjubkannya ternyata sama dengan di KNPI tidak ada pengurus juga yangberada di tempat. Wah, kebetulan yang menjengkelkan. Kita mendapatkan informasi kalau biasanya mereka datang setelah istirahat makan siang, kita tidak bisa menunggu setelah istirahat makan siang karena saat itu kita pun memiliki jadwal kuliah yang lain. Jadi, kita memutuskan untuk datang lagi besoknya.

Keesokan harinya, salah satu teman saya mengabarkan bahwa dia telah membuat janji dengan pihak KNPI, bahwa kita akan melakukan wawancara hari itu juga pada pukul 13.00. sebagian teman kelompok saya ada yang tidak setuju dikarenakan pada jam tersebut kami memiliki jadwal kuliah lain, mereka berpendapat tidak mungin membolos kuliah untuk mengerjakan tugas kuliah. Tetapi wawancara hanya bisa dilakukan hari itu juga karena janji temu telah dibuat dan kita tidak bisa membatalkan janji tersebut seenaknya. Maka sesuai suara terbanyak di kelompok kami, kami sepakat membolos satu mata kuliah tersebut. Sebenarnya jika saja janji temu tersebut belum dibuat kami tidak harus mengorbankan satu mata kuliah tersebut. Kemudian berangkatlah “the untouchable” menuju gedung KNPI pusat Samarinda. Sesampainya di sana ternyata hanya ada satu orang saja yang menyambut kami. Awalnya kami berencana hanya 3 dari 8 orang saja yang masuk dan melakukan wawancara karena ruangan awal yang akan kami gunakan wawancara cukup kecil. Format wawancara kami awalnya seperti wawancara kebanyakan yang hanya ada satu reporter satu cameramen dan satu notulen, ternyata melihat anggota kami yang cukup banyak ini ruang wawancara kemudian di pindakan ke ruang ketua yang cukup besar dan sering digunakan untuk melakukan pertemuan. Karena ruangan ketua ini digunakan juga sebagai ruang pertemuan maka terdapat satu meja besar yang memiliki beberapa kursi yang cukup untuk kami berdelapan. Melihat ruangan baru ini kami pun mendapatkan ide bahwa wawancara ini lebih baik kita lakukan tidak seperti awal kita rencanakan yaitu hanya melibatkan 3 orang dari kami melainkan wawancara yang kita lakukan lebih condong  ke diskusi bersama, jadi semua anggota kelompok memiliki kesempatan mengajukan pertanyaan kepada narasumber.

Cukup lama kami menunggu narasumber yang akan kami wawancarai karena beliau baru saja pergi dari kediamannya. Selagi menunggu narasumber kami ditemani olah salah satu anggota KNPI tersebut. Beliau menemani kami sekaligus memberikan banyak informsi tentang KNPI. Banyak yang beliau ceritakan salah satunya kasus bahwa KNPI samarinda terbagi menjadi dua pihak karena alasan internal. Juga mengenai kegiatan KNPI lain. Setelah sekitar satu jam lebih kami menunggu narasumber kami datang. Narasumber kami bernama Arif Rahman Hakim, S.Hi. karena ketua umum KNPI sedang berada di luat kota untu urusan tertentu beliaulah yang dipercaya menggantikannya untuk wawancara ini. Bapak Arif Rahman Hakim S.Hi ini menjabat sebagai ketua bidang organisasi, keanggotaan dan kaderisasi (OKK).

Wawancara dimulai dengan perkenalan dari kelompok kami dan alasan mengapa kelompok kami memilih KNPI sebagai lembaga yang kami wawancara untuk tugas kami. Alasan mengapa kami memilih KNPI untuk di wawancara adalah karena KNPI menaungi anak-anak muda dan seperti yang kita tahu banwa anak muda adalah geberasi selanjutnya yang akan memimpin negeri ini. Jadi lembaga yang menaungi anak-anak muda ini juga harus bersih dan berada di jalan ynag benar. Itu yang ingin kami ketahui apakah KNPI ini berada dijalan yang benar.

Lalu dimulailah wawancara ini dengan pertanyaan pertama “apa pendapat bapak tentang mata kuliah pendidikan anti korupsi yang baru tahun ini ditambahkan menjadi mata kuliah wajib di perguruan tinggi dan salah satunya di Universitas Mulawarman?”. “ ya sebenarnya pendidikan anti korupsi di perguruan tinggi ini menurut saya sudah terlambat, karena seharusnya anak-anak kita di ajarkan tentang anti korupsi dari mereka kcil, dari mereka dini. Sehingga ketika mereka sudah remaja bahkan sudah dewasa mereka bisa menerapkannya dengan baik. Di perguruan tinggi seharusnya mereka sudah melakukan penerapan anti korupsi tersebut bukan lagi baru mempelajarinya, tapi saya sangat mengapresiasi mahasiswa seperti kalian ini yang peduli terhadap korupsi di negeri kita ini” jawab pak Arif. “benar pak kami setuju sekali dengan statemen bapak bahwa anak-anak harus dikenalkan dengan anti korupsi ini sejak mereka kecil sejak mereka masih dini, dan mata kuliah pendidikan anti korupsi di perguruan tinggi ini menurut kami hanya agar mengingatkan lagi tentang pentingnya anti korupsi apalagi dengan banyaknya kasus korupsi di negara kita akhir-akhir ini. Lalu apakah di KNPI ini sebagai instansi yang menaungi para pemuda pernah terjadi kasus korupsi pak?” “wah kalau di KNPI ini setahu saya belum pernah sekalipun terjadi kasus korupsi” sahut pak Arif. “apa rahasianya tuh pak sehingga KNPI ini bisa tidak pernah sama sekali terjadi kasus korupsi?” reporter kami kembali memberikan pertanyaan. “ya karena kami sangat menghargai keterbukaan ya. Setiap kali kami mengadakan kegiatan kami akan melakukan evaluasi setelahnya semua kita laporkan mulai dari anggaran yang besar sampai anggara-anggaran kecil. Tidak boleh ada satu laporan pun yang tidak kita laporkan. Dan kita juga harus saling percaya satu sama lain, jika kita mendapatkan ada yang menggunakan anggaran dengan tidak semestinya akan kita sidang dan berikan hukuman sebagai mana semestinya” jawab pak Arif. “seharusnya kalian para mahasiswa ini sebagai pioner anti korupsi bisa menuntut kampus kalian itu atas keterbukaan soal anggaran, kan kalian setiap semester mebayar uang semester, kalian harus tahu ketama uang itu pergi, untuk apa uang itu di pergunakan, kalian harus bisa menuntut laporan anggaran agar jelas juga di kampus kalian itu ada atau tidak adanya korupsi, agar kampus kalian itu bisa bebas korupsi” tambah pak Arif. Kemudian diskusi dilanjutkan dengan pertanyaan “jika ada pak salah satu pihak KNPI ini ketahuan melakukan tindak pidana korupsi apa yang akan KNPI ini lakukan?” “ya seperti yang saya bilang tadi jika ada yang ketahuan menyelewengkan anggaran akan kita sidang dan berikan hukuman sebagaimana seharusnyadan sudah pasti akan kita laporkan KPK dan pihak berwajib lainnya jika korupsinya tersebut sudah tidak bisa dimaafkan. Ya jika korupsinya tidak terlalu besar bisa kita skors saja atau bahkan bisa sampai kita keluarkan, tetapi ya kan jika korupsinya sudah mencapai jumlah yang sangat besar harus kita laporkan ke pihak berwajib” pak Arif kembali menjawab. Sampai dipertanyaan terakhir, “pertanyaan terakhir nih pak apa saran bapak untuk para pemuda-pemuda yang nantinya akan menjadi pemimpin?” narasumber menjawab “ya sudah pasti kalian harus selalu jujur apa lagi kalian mahasiswa-mahasiswa fisip yang berhubungan dengan politik sebisa mungkin lakukanlah politik yang bersih. Ini sudah bagus kalian ini sadar akan pentingnya anti korupsi, kampenyekan lagi kepada masyarakat tentang pentingnya anti korupsi. Jaman sekarang kan sudah serba canggih semuanya kalian bisa kampanye lewat sosial media kan sudah mudah. Saya rasa anak-anak muda sekarang ini tingkat sadar anti korupsinya sudah sangat tinggi. Ini yang kalian lakukan ini sangat bagus sekali sangat peduli sekali tentang korupsi”.

Itu tadi hasil wawancara kami dengan kepala bidang organisasi, keangotaan dan kaderisasi KNPI Samarinda. Wawancara selesai pukul 16.00 wita. Kelompok kami merasa sangat puas dengan hasil wawancara kita hari ini. Kami pun memutuskan untuk mengumpulkan hasil wawancara yang ini saja dan tidak jadi melakukan wawancara ke pihak GERINDRA. Kesimpulan hasil wawancara kami ini adalah banhwa untuk di KNPI sendiri tidak pernah kasus korupsi, setidaknya itu yang pihak mereka katakan. Alasannya karena di KNPI tersebut selalu terbuka soal anggaran, anggaran sekecil apapun akan mereka laporkan saat evaluasi kegiatan. Dalam melaksanakan wawacara ini pun kelompok kami tidak mengalami kesulitan ataupun sengaja disulitkan oleh pihak narasumber bahkan terkesan sangat halus dari melakukan janji temu karena salah satu dari kami yang membuat janji temu tersebut melalui telepon dengan pihak KNPI sendiri dan dalam melakukan wawancara pun kelompok kami disambut hangat hany terdapat kemdala waktu karena kami harus menunggu narasumber dengan cukup lama. Tetapi, terlepas dari semua kendala-kendala kecil tersebut kami merasa sangat puas dengan wawancara yang kami lakukan ini begitupun dengan hasilnya. Terlepas dari apakah narasumber kami mengatakan yang sebenarnya atau tidak, kami selaku pewawancara hanya bisa menerima hasil wawancara yang apa adanya seperti yang narasumber katakan.

Selanjutnya video wawancara kami pun memasuki tahap pengeditan. Sejujurnya hanya satu orang dari kelompok kami yang melakukan pengeditan video kami ini. Kami menyerahkan kepercayaan kami pada ketua kami untuk mengeditnya tanpa tahu bagaimana hasilnya sampai video selesai diedit. Oleh karena itu, inilah akhir cerita saya tentang pengalaman melakukan wawancara di KNPI Samarinda yang di wakilkan oleh bapak Arif Rahman Hakim S.Hi kepala bidang organisasi, keanggotaan dan kaderisasi KNPI Samarinda.

Advertisements