Tags

Nama  :  Lita Lidya

NIM      : 1402045039

Prodi   :  Hubungan Internasional (A)

Laporan Kegiatan Observasi Mata Kuliah Anti Korupsi

Saya dan kawan-kawan lainnya dari anggota kelompok Pemburu Tikus Berdasi memilih untuk melakukan wawancara didua instansi pemerintahan. Untuk rencana pertama, saya dan anggota kelompok lainnya memilih untuk melakukan wawancara di Kantor Polisi Sektor Samarinda yang berlokasi di jalan Slamet Riyadi. Lalu rencana kedua saya dan teman-teman akan melakukan wawancara di Dinas Pekerjaan Umum Kaltim, rencana ini hanya untuk berjaga-jaga jika tidak berhasil mewawancarai pihak kepolisian.

Pada hari senin tanggal 27 April 2015, sekitar pukul 10 pagi saya dan anggota kelompok Pemburu Tikus Berdasi tiba di Kantor Polisi Sektor Samarinda. Kami berniat melakukan observasi secara langsung dan meminta ijin pihak kepolisian untuk melakukan wawancara kepada salah satu pihak dari instansi tersebut. Namun, saya dan teman-teman diminta untuk datang esok hari hingga surat permohonan ijin wawancara kami selesai diproses.

Oleh karena itu saya dan teman-teman menjalankan rencana kedua. Kami mendatangi Kantor Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kaltim, sekitar pukul 12 siang kami tiba disana. Saya dan teman-teman bertanya pada bagian resepsionis apakah kami bisa melakukan wawancara kepeda salah satu dari mereka, khususnya yang memiliki jabatan di instansi tersebut. Bagian resepsionis itu memperbolehkan saya dan teman-teman untuk melakukan wawancara dengan Kasubag Umum DPU Kaltim. Sayangnya, hanya 3 orang yang diperbolehkan untuk melakukan wawancara. Saya dan 4 orang lainnya hanya boleh menunggu diluar.

Teman-teman saya yang bertugas melakukan wawancara hanya diberi waktu 2 menit untuk mewawancarai salah satu pihak dari Dinas Pekerjaan Umum Kaltim tersebut. Alasannya karena beliau mengatakan masih banyak tugas yang belum selesai sehingga tak bisa berlama-lama untuk diwawancarai. Karena keterbatasan waktu tersebut, pertanyaan yang kami susun tidak bisa sepenuhnya tersampaikan. Saya dan teman-teman juga merasa sangat kecewa dengan hal ini. Disamping keterbatasan waktu yang diberikan oleh beliau, jawaban beliau atas pertanyaan kami juga sangat sulit dipahami. Jawabannya sangat rumit tetapi sama sekali tidak berhubungan dengan topic pembicaraan.

Pada tanggal tanggal 29 April 2015, saya dan teman-teman datang kembali ke Kantor Polisi Sektor Samarinda untuk menanyakan apakah surat ijin melakukan wawancara kemarin telah diproses. Kami tidak bisa melakukan wawancara karena salah satu Polwan yang bertugas disana mengatakan kertas permohonan ijin kami tidak dapat ditemukan alias tercecer sehingga kami diminta sabar menunggu konfirmasi lebih lanjut. Polwan tersebut hanya meminta nomor telepon rekan saya dan mengatakan akan memberikan kabar secepatnya jika surat permohonan itu telah ditemukan.

Tetapi pada hari-hari berikutnya kami tidak mendapat kabar apa-apa. Sama sekali tidak ada informasi yang jelas dari pihak kepolisian hingga salah satu rekan kelompok saya berinisiatif untuk menghubungi pihak kepolisian. Saya merasa tujuan baik dari kelompok Pemburu Tikus Berdasi untuk melakukan observasi secara langsung sengaja diabaikan oleh pihak kepolisian. Padahal kami (sebagai mahasiswa) datang dengan damai, bukan untuk berdemo. Saya dan rekan-rekan hanya ingin melakukan observasi secara langsung untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi, akan tetapi maksud dan tujuan baik kami sepertinya selalu dipersulit oleh pihak kepolisian. Bukannya saya ingin memfitnah atau menjelek-jelekan pihak kepolisian, tetapi kenyataan yang saya dapatkan di lapangan memang seperti itu.

Beberapa hari kemudian saya dan teman-teman memutuskan untuk kembali lagi ke Kantor Polisi Sektor Samarinda. Tepatnya pada hari senin tanggal 4 Mei 2015. Saya sangat bersyukur karena kali ini kedatangan kami untuk melakukan observasi (wawancara) akhirnya diterima oleh pihak kepolisian. Kami diterima oleh bapak Bambang Susilo di ruangan TIPIKOR.

Kelompok Pemburu Tikus Berdasi menanyakan beberapa pertanyaan yang sebelumnya telah disusun sebagai berikut:

  1. Menurut bapak korupsi itu apa?
  2. Bagaimana cara mengurangi korupsi?
  3. Apa faktor yang menyebabkan terjadinya korupsi?
  4. Hukuman apa yang layak untuk membuat pelaku korupsi jera?
  5. Apakah pendidikan ankor penting untuk generasi muda?

Pak Bambang Susilo mengatakan, korupsi adalah suatu tindakan perbuatan yang melanggar formil dan materil yang berdampak merugikan negara. Formil misalkan bantuan hibah, suatu organisasi diberikan hibah oleh pemerintah, namun tidak dikerjakan. Proposal yang dibuat adalah tentang penghijauan namun yang dikerjakan tidak sesuai dengan apa yang ada diproposal. Faktor yang mempengaruhi adalah dari diri masing-masing, niat dari awal dan tindakan., moral yang kurang. Faktor yang paling mempengaruhi adalah pengawasan dari dalam. Bantuan yang diberikan harus diawasi terus, buat apa sih? Benar-benar tidak digunakan sesuai apa yang diajukan.

Cara menanggulangi korupsi, yang pertama yaitu menanamkan pengertian korupsi dikalangan anak-anak hingga dikalangan dewasa (siswa SD hingga Mahasiswa). Dari moral dan sisi agama, jangan mengedepankan intelektual saja. Kita juga harus mengedepankan kekuatan lain seperti kekuatan spiritual dan emosional. Spiritual harus didahulukan daripada intelektual, agar ada pengawasan dari dalam diri sendiri. Hukuman untuk para pelaku korupsi harus sesuai dengan apa yang dikorupsikan, apabila mengkorupsi Rp 500.000.000 harus kembali Rp 500.000.000. Selain itu pelaku korupsi harus diberikan hukuman berupa penyitaan asset-asset kekayaan yang dimilikinya dan juga mendapatkan hukuman pengasingan agar menimbulkan efek jera. Contoh kasusnya seperti pencucian uang untuk menyembunyikan uang korupsi.

Menurut pak Bambang Susilo, pendidikan anti korupsi sangat penting khususnya dikalangan anak-anak. Anak-anak ibarat bibit tanaman, yang jika disirami dan dipupuk secara teratur akan menghasilkan buah yang bagus. Kita bisa mengajarkan pentingnya untuk tidak melakukan tindakan korupsi, belajar untuk selalu jujur dan selalu berusaha untuk menggapai sesuatu dengan cara yang halal. Jangan setelah dewasa baru kita mengajarkan anti korupsi. Ibarat pohon yang sudah tua, akarnya sudah sangat kuat. Selain itu perlu ditanamkan iman, taqwa, serta moral yang benar untuk selalu jujur dan tidak melalukan tindakan korupsi sekecil apapun itu.

Pak Bambang Susilo mengatakan bahwa para koruptor itu rata-rata adalah orang yang berintelektual tinggi, berpendidikan. Tetapi mereka malah merusak banga kita sendiri. Mereka dengan seenaknya menggunakan uang rakyat untuk berpergian dengan keluarga sedangkan rakyat masih banyak yang kelaparan dan tidak sekolah. Padahal mereka adalah orang-orang yang sangat diharapkan untuk memperbaiki bangsa dan negara. Sudah jelas bahwa spiritual dan moral perlu ditanamkan didalam diri kita, bukan? Bahkan sekarang orang yang terlihat baik dan agamis diluar juga bisa melakukan korupsi. Jadi, memang harus ada pengawasan dari dalam diri sendiri dan belajar jujur dari hal-hal kecil, selalu mengingat tuhan. Hal ini dijadikan sebagai pondasi awal yang kuat untuk tidak melakukan korupsi dalam bentuk apapun dan kapanpun. Terkadang faktor yang membuat orang korupsi adalah faktor gaya hidup yang berlebihan dan tidak mau bekerja keras dengan yang halal. Mereka menghalalkan segala cara untuk korupsi. Gaya sosialita mereka yang membuat hidup mereka selalu kekurangan.

Pak Bambang Susilo juga berpesan agar kami (sebagai mahasiswa dan penerus bangsa) untuk berusaha jujur, dimulai dari hal-hal kecil hingga hal-hal besar. Bekerja keras, berusaha, dan jangan lupa berdoa selalu ingat kepada tuhan untuk membentengi diri agar terhindar dari korupsi. Karena korupsi terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, namun adanya kesempatan yang membuat mereka melakukan korupsi. Intinya jauhi, hindari, dan laporkan apabila ada yang melakukan tidakan korupsi.

Dalam kegiatan observasi ini saya mendapatkan pengalaman baru. Dimana saya dapat turun langsung ke lapangan untuk melakukan observasi yaitu mewawancarai instansi-instansi pemerintahan. Saya juga akhirnya mengetahui bahwa dalam melakukan observasi di instansi pemerintahan tidaklah semudah yang dipikirkan. Harus ada surat ijin melakukan observasi dari pihak universitas sendiri. Selain itu harus ada persetujuan dari instansi tersebut. Disamping kendala yang saya dan teman-teman hadapi saat melakukan observasi, hasil wawancara dari narasumber yang tertulis diatas menjadi sebuah warning untuk diri saya sendiri bahwa saya adalah penerus bangsa dan saya tidak boleh membiarkan diri saya melakukan tindakan korupsi. Untuk menyadarkan orang lain akan buruknya tindakan korupsi, saya terlebih dahulu harus menyadarkan diri sendiri.

The duty of youth is to challenge corruption.” ~ Kurt Cobain

Advertisements