Tags

Nama : Citra Ullyna B. Manalu

NIM   : 1402045033

Prodi : Hubungan Internasional (A)

Tugas Pendidikan Anti Korupsi

Sebagai mahasiswa semester dua program studi Ilmu Hubungan Internasional saya mendapatkan mata kuliah yang sebenarnya cukup sederhana namun memiliki makna yang luar biasa, Pendidikan Anti Korupsi. Pendidikan Anti Korupsi memang terdengar pelajaran yang sangat sederhana dengan inti bahwa sebagai rakyat Indonesia yang berbakti terhadap negara kita tak boleh melakukan tindak kejahatan korupsi. Namun, dengan adanya pelajaran ini, kami khususnya benar-benar mengerti bahwa tindak kejahatan korupsi memang sudah menjadi penyakit di negara ini. Indonesia bukan hanya sedang dalam kondisi darurat narkoba, namun korupsi juga sudah menjadi salah satu kondisi darurat dinegeri bumi pertiwi ini.

Melalui pelajaran ini saya benar-benar mengerti bahwa korupsi merupakan tindak kejahatan yang memiliki efek sangat besar terhadap kondisi bangsa ini. Anak-anak kelaparan, terlantar, tidak sekolah dan tidak mampu memiliki kehidupan yang layak juga difaktori oleh tindak korupsi yang dilakukan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu di pemerintahan yang terus menerus memangkas anggaran untuk kesejahteraan rakyat. Pendidikan Anti Korupsi juga mengajarkan saya bahwa apa yang didapat dari hasil korupsi tidaklah sebanding dengan sangsi social yang akan kita dapatkan, apalagi ketika kasus korupsi yang kita lakukan mulai menyeruak kepermukaan media.

Mata kuliah ini diempu oleh dua dosen, yang pertama Ibu Eni Faturachmi dan yang kedua Ibu Unis Sagena. Metode mereka mengajar pun sangat variatif, karena kita benar-benar diajak untuk have fun namun tetap dalam control belajar. Ibu-ibu ini meminta kita untuk membuat video, mempresentasikannya dan membuat topic yang dapat diperdebatkan sehingga kelas tidak terkesan datar dan membosankan. Khususnya jika dikela mulai terjadi perdebatan hanya karena hal-hal kecil. Hebatnya, perdebatan itu tidak lantas membuat kita merenggang namun semakin membuat kita mengenali teman-teman kita dikelas.Suatu waktu ibu Unis meminta kita untuk melakukan perjalanan wawancara terhadap instansti instansi tertentu yang berkaitan tentang korupsi. Perjalanannya yang ditanyakan juga sangat general, namun dari perjalanan itu kelompok kami mendapat pelajaran yang sangat berarti. Sebelum tugas video tersebut diberikan, ibu Unis sendiri meminta kami untuk memberikan masukkan masukkan bagaimana cara memberantas korupsi, banyak yang memberikan pendapatnya. Pendapat yang diberikan juga sangat beragam,ada yang memberikan pendapat bahwa korupsi itu harus di berantas dari diri sendiri dulu, ada juga yang mengatakan bahwa korupsi diberantas dengan cara memberikan pendidikan anti korupsi dari mulai dini.

Saya sendiri setuju terhadap pendapat bahwa korupsi itu bisa diberantas dimulai dari diri sendiri. Karena saya banyak memiliki pengalaman tentang korupsi, memang bukan tentang uang yang banyak, tetapi dengan hal yang paling sederhana yaitu, korupsi waktu. Contohnya, saya mengikuti beberapa kegiatan yang salah satunya adalah paduan suara, disitu kami berkomitmen bahwa latihan dimulai pukul 5 sore, tetapi kenyataannya banyak sekali anggota yang datang terlambat dan dengan alasan yang tidak masuk akal. Hal seperti itu terlihat sangat sepele, tapi sebenarnya tidak. Tanpa kita sadari, mereka membuang-buang waktu mereka hanya untuk menunggu, padahal sebenarnya waktu yang terbuang itu bisa dimanfaatkan untuk hal lain. Dan akibatnya, latihan memakan waktu yang lebih banyak daripada yang seharusnya, seperti harusnya selesai jam 7 malam tetapi karena ada yang terlambat jadi selesai jam 8 atau lebih. Hal seperti itu sangat sangat merugikan, yang harusnya kita bisa istirahat atau melakukan kegiatan lain menjadi terpotong karena terlambatnya beberapa orang, jadi menurut saya setiap orang harus memiliki kesadaran dari diri sendiri bahwa dengan kita korupsi waktu sama saja kita merugikan diri sendiri.

Ada juga pengalaman lain yang mungkin dirasakan oleh masyarakat luas yaitu, pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) praktik korupsi masih sangat jelas sekali terlihat. Pengalaman pribadi saya ketika membuat SIM menunjukkan bahwa hampir tidak ada yang melalui jalur dan prosedur resmi dengan serangkaian tes sebagaimana mestinya. Sebagian besar melalui jalur belakang yang memang lebih cepat dan tidak terlalu membuang tenaga. Tentu saja ada kompensasi pembayaran yang lebih mahal yang harus ditanggung pembuat SIM. Anehnya, baik itu pihak kepolisian maupun masyarakat sama-sama sepakat dengan praktik itu.

Saat mengamati pelamaran CPNS serta pendaftaran sekolah juga terjadi praktik-praktik tidak jujur. Beberapa kali ditemukan transaksi bawah tangan yang korup antara calon pelamar dengan penyelenggara layaknya ajang jual beli dengan tawar menawar antara keduanya. Parahnya, praktik-praktik tersebut sudah tidak menjadi rahasia umum lagi, alias semua pihak sudah tahu sama tahu.

Lalu bagaimana cara untuk mencegah lahirnya koruptor-koruptor muda ? Tidak perlu berfikir jauh, cukup dengan menanamkan sifat jujur pada diri kita pribadi, bayangkan jika setiap bangsa Indonesia mempu menanamkan sifat jujur dalam dirinya, tidak akan ada lagi kata korupsi, serta tidak akan ada lagi yang di bohongi, Namun sepertinya usaha untuk menciptakan bangsa yang jujurpun cukup sulit dinegeri ini, karena telah banyaknya pengaplikasian dari sikap ketidak jujuran yang di selubungi kata “Keterpaksaan”, salah satu contoh adalah budaya mencontek, dengan landasan keterpaksaan akibat tidak mampu menjawab soal, kita ambil contoh kecil saja, pada pelaksanaan UNAS, masih banyak kasus yang menunjukkan bocornya soal-soal UNAS yang di lakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab, ataupun kasus beberapa siswa/siswi yang ketahuan tidak jujur dengan mencontek dari kunci jawaban dll. Ini wujud prilaku tidak jujur anak bangsa, namun sadarkan bahwa prilaku itu telah menanamkan sebuah pemikiran baru dalam otak mereka, bahwa “segala masalah dapat dengan mudah di atasi dengan ketidak jujuran”. Bayangkan jika pemikiran ini mereka bawa hingga dewasa, bahkan hingga nantinya jika mereka menjadi para wakil rakyat, mereka akan terbiasa tidak jujur, bermulut manis tapi berprilaku buruk, hingga pada akhirnya mereka berani mengelapkan uang rakyat, membohongi rakyat, dll. Cara untuk mengatasi kasus ini adalah kembali pada diri pribadi, tidak perlu dengan menasehati atau memarahi orang yang kita anggap salah, namun cukup memberikan contoh dalam bentuk tindakan tentang bagaimana melakukan hal yang benar. Serta tetap tanamkan dalam diri bahwa jujur itu penting.

Advertisements