Tags

Nama              : Kurnianto Rombe Rante

NIM                : 1402045008

Mata Kuliah : Pendidikan Anti Korupsi

Kelas               : HI A 2014

Laporan Observasi

Rabu 5 Mei 2015 saya dan Team Visionary yang terdiri dari Kurnianto, Ageng, Indin, Nisa, Ibnu,Iqbal, dan Arif mulai mengawali perjalanan observasi kami untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi yang diampu oleh Ibu Uni Wahyuni Sagena, M.Si., Ph.D. Dalam observasi tersebut kami mendapat tugas untuk mewawancarai hal-hal terkait dugaan korupsi di instansi-instansi pemerintah baik itu parpol, kejaksaan, serta kantor polisi yang ada di Kota Samarinda. Sesuai dengan kesepakatan kami Team Visionary sebelumnya maka, kami ingin mewawancarai ketua DPRD Provinsi Kaltim sebagai plan A dan Walikota Samarinda sebagai plan B. Pada hari itu juga pada pukul 09.30 WITA kami memulai perjalanan observasi. Yang pertama kami datangi adalah Balaikota Samarinda. Setibanya di Balaikota kami langsung mendatangi staf dari bapak walikota untuk mengatur jadwal agar bisa bertemu dengan beliau untuk meminta tanggapan, namun karena beliau yang pada tahun ini kembali mencalonkan diri sebagai walikota Samarinda untuk periode yang kedua tersebut sedang diluar kota dan staf tersebut tidak tahu kapan beliau balik ke Samarinda sehingga kami belum bisa mengatur jadwal. Pada akhirnya kami memutuskan untuk menemui wakil walikota, namun karena beliau juga sedang tidak ditempat sehingga kami juga tidak dapat mengatur jadwal dan kami pulang dengan tangan kosong. Kami memutuskan untuk mengakhiri perjalanan hari itu dan kembali ke kampus karena pukul 11.20 siang ada kuliah selanjutnya. Setibanya di kampus, kami melakukan rapat kecil-kecilan terkait kapan akan melakukan kunjungan observasi ke kantor DPRD Provinsi Kaltim, dan kami pun memutuskan untuk melanjutkan nya esok hari.

Keesokan harinya pukul 09.00 Pagi kami kembali memulai perjalanan. Hari ini kami melakukan kunjungan tugas ke kantor DPRD Provinsi Kalimantan Timur untuk menemui ketua DPRD untuk dimintai tanggapan nya terkait dugaan korupsi di instansi tersebut karena banyak anggapan dari masyarakat yang mengatakan bahwa, banyak sekali anggota dewan yang melakukan tindak pidana korupsi. Sesampainya kami disana kami sempat diberhentikan oleh petugas keamanan yang menjaga gedung tempat dimana para wakil rakyat dari seluruh daerahyang ada di Kalimantan Timur berkantor. Setelah ditanya terkait kepentingan kami datang ke kantor tersebut, pihak keamanan memberitahukan kepada kami bahwa seluruh anggota dewan sedang tidak di tempat karena sedang perjalanan dinas ke luar kota, lebih tepatnya ke Jakarta. Namun karena kami tidak ingin usaha kami kembali tidak mendapat hasil, maka kami memutuskan untuk menemui staf dari ketua DPRD untuk mengatur jadwal.Ketika kami bertemu dengan staf tersebut dan hendak ingin mengatur jadwal, beliau mengatakan tidak tahu sampai kapan Bapak H. M. Syahrun, H.S yang saat ini menjabat sebagai ketua DPRD Kaltim untuk masa jabatan 2014 – 2015 berada diluar kota, sehingga kamipun tidak dapat bertemu dengan beliau. Setelah itu, kami dipertemukan dengan staf dari wakil ketua DPRD dan kamipun kembali mencoba untuk mengatur jadwal. Namun kami harus kembali dihadapkan dengan kenyataan bahwa kami tidak dapat mengatur jadwal. Kepada kami staf tersebut menyarankan untuk kembali datang hari senin karena pada hari tersebut akan ada rapat bersama dengan anggota dewan lainnya, yang dimana akan langsung dipimpin oleh bapak Dody Rondonuwu selaku wakil ketua DPRD. Meskipun hari itu perjalanan kami sia-sia dan berbuah kekecewaan, tapi kami tetap semangat untuk terus menyelesaikan tugas mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi yang baru tahun ini di aplikasikan sebagai mata kuliah wajib bagi perguruan tinggi.

Senin 11 Mei 2015, pukul 09.30 pagi. Team Visionary berangkat bersama-sama dari kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik menuju kantor DPRD Provinsi Kalimantan Timur yang beralamatkan di jalan Teuku Umar, Karang Paci tersebut dengan penuh semangat. Sesampainya disana, kami mendapati kantor DPRD dalam keadaan yang sangat sepi hampir tidak ada anggota dewan satu pun yang kami lihat, yang terlihat hanyalah beberapa staf. Kami langsung menuju ruang staf wakil ketua DPRD untuk meminta ijin untuk bertemu dengan beliau, namun saat itu Pak Dody belum datang ke kantor.Sambil menunggu kedatangan wakil ketua, kami menyempatkan diri berkeliling di daerah sekitar kantor tersebut untuk sekedar take selfiebersama. Saya pun sempat berfoto dengan penghargaan yang di dapatkan oleh DPRD Kaltim yang jumlahnya sangat banyak dan tidak bisa dihitung. Setelah menunggu setengah jam lebih, semangat kami sedikit mulai pudar. Beberapa dari teman kelompok menyarankan untuk pulang saja dan keesokan harinya datang kembali. Namun beberapa pula masih tetap dengan semangat untuk menyelesaikan tugas ini dan kami memutuskan untuk kembali ke ruang staf wakil ketua dan beliau mengatakan bapaknya belum juga datang, namun beliau menyarankan untuk mewawancarai anggota dewan yang lain saja yang kantornya berada persis dibelakang gedung tempat dimana ketua DPRD berkantor. Sesuai dengan sarannya maka kami pergi ke gedung tersebut, namun lagi-lagi sama sekali tidak ada anggota dewan di gedung tersebut. Ketika kami bertanya kepada staf penerima tamu, staf tersebut mengatakan mereka belum juga datang.

Akhirnya kami kembali memutuskan untuk pulang. Setibanya di area parkiran kami menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak. Saat itu menunjukkan pukul setengah 11 siang dan ada hal aneh yang kami rasakan dimana satu per satu dari anggota dewan datang. Hal itu berbanding terbalik dengan alasan yang selalu kami terima “mereka belum datang”! saya mencoba untuk mengikuti mereka. Entah untuk alasan apa para wakil rakyat yang saat ini duduk di kursi dewan Kaltim, banyak sekali yang datang di atas jam setengah 11 siang. Apakah mereka tidak punya jam kerja? Apakah karena mereka diberikan kepercayaan oleh rakyat untuk duduk di kursi dewan lantas mereka semena-mena? Apakah mereka lupa dengan tugas mereka? Atau mungkin mereka hanya ingin menerima “Gaji Buta”?.

Saya bertanya dengan Office Boy yang sedang betugas saat itu dan mereka menyarankan untuk mencari anggota dewan di lantai 4. Mendapat kabar tersebut saya langsung memberitahu teman-teman dan kami langsung menuju lantai 4, sesampainya disana kami menemukan ada beberapa anggota dewan yang sedang ngantor. Setelah mengamati dari pintu satu ke pintu yang lain, kami memutuskan untuk memilih mewawancarai seorang anggota komisi I DPRD Provinsi Kaltim yang membidangi masalah hukum dan pemerintahan  bernama H. J. Jahidin S, SH, MH yang saat itu nampak sangat sibuk dengan tumpukan kertas-kertas nya. Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami, akhirnya Pak Jahidin yang juga sempat menjabat sebagai tenaga ahli hukum DPRD Kaltim periode 2004 – 2009 ini menyetujui untuk kami wawancarai. Namun sebelum mewawancarai, kami sempat terlebih dahulu memberitahukan pertanyaan seperti apa yang nantinya kami berikan kepada beliau. Tanpa membuang-buang waktu kami langsung saja memulai sesi wawancara kami. Dalam wawancara tersebut kami memberikan beberapa pertanyaan seperti, apakah pernah terjadi kasus tindak korupsi di kantor DPRD tersebut? Kalau iya, apakah sistem nya yang memungkinkan tindakan tersebut terjadi atau apakah memang orang nya sendiri yang melakukan? Apa solusi yang bapak bisa lakukan dalam mencegah tindak korupsi tersebut?. Dari penuturan bapak Jahidin kami mengetahui bahwa dulu pernah terjadi tindak korupsi di instansi tersebut yang dimana ketua DPRD Kaltim yang menjabat pada periode 2004-2009 terbukti melakukan tindak pidana korusi bersama dengan beberapa anggota dewan yang lain dan akhirnya mereka di dakwa dengan 7 tahun penjara. Pak Jahidin juga sempat berkata bahwa sebenarnya apa yang mereka lakukan itu dapat mencoreng image dari semua anggota dewan karena sesungguhnya tidak semua dari anggota DPRD melakukan tindakan korupsi. Pada saat kami bertanya terkait usaha apa yang bisa beliau lakukan untuk mencegah hal tersebut yaitu salah satunya dengan terus saling mengingatkan kepada rekan-rekan yang lain untuk tidak melakukan tindakan tersebut dan terus meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kalaupun terjadi tindak korupsi maka akan langsung ditangani oleh komisi etik di DPRD. Di akhir pembicaraan kami dengan Pak Jahidin, beliau sempat berpesan kepada kami sebagai calon-calon penerus bangsa untuk terus berpegang teguh pada apa yang kami yakini dan terus membela hak-hak masyarakat. Setelah selesai mewawancarai Pak Jahidin kami sempat berfoto dengan beliau. Hari itu pun selesai, kami kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan senang dan bahagia karena tugas kami akhirnya bisa selesai. Rabu, 13 Mei 2015 kami pun mempresentasikan hasil observasi kami di depan kelas.

Tentunya sebagai generasi pertama yang menerima mata kuliah Pendidikan Anti Korupsi, kita harus mengimplementasikan ilmu tersebut di dalam kehidupan sehari-hari dan harus terus membawa pesan Anti Korupsi kepada siapa pun itu sampai akhirnya nanti Ibu Pertiwi boleh bangga menjadi bagian dari bangsa yang bebas dari korupsi. BERANTAS korupsi, ciptakan INDONESIA HEBAT!

Advertisements