Tags

Nama   : Joko Permono

NIM    : 1402045051

Prodi    : Hubungan Internasional

Pada angkatan tahun ini kami yang pertama berkesempatan menjalani mata kuliah “Pendidikan Anti Korupsi” dimana mata kuliah ini belum didapat pada angkatan–angkatan sebelumnya. Mata kuliah ini dilaksanakan karena Indonesia merupakan salah satu negara yang paling korup di dunia, untuk meminimalisir hal tersebut dilaksanakanlah mata kuliah ini. Pendidikan Anti Korupsi juga mengajarkan kami bahwa apa yang didapat dari hasil korupsi tidaklah sebanding dengan sanksi sosial yang akan kita dapatkan, apalagi ketika kasus korupsi yang kita lakukan mulai menyeruak kepermukaan media.

Pada rabu tanggal 21 April 2015 kami mendapat tugas untuk mewawancarai instansi pemerintahan atau pengurus partai politik tentang kasus korupsi yang pernah terjadi dan cara pencegahan tindak pidana korupsi di instansi dan kepengurusan partai politik tersebut. Mendapat tugas itu kami langsung memusyawarahkan instansi mana yang akan kita lakukan wawancara. Pada awalnya kami berembuk untuk memutuskan instansi mana yang hendak kami datangin. Akhirnya keputusan tercapai, kami berniat menuju kantor KPU alias Komisi Pemilihan Umum. Namun, beberapa hari kemudian kami pun mengurungkan niat kami dikarenakan salah satu anggota kami memberikan info bahwa instansi tersebut sedang benar-benar sibuk dikarenakan mengurusi PEMILUKADA yang akan dilaksanakan serentak pada bulan desember 2015 ini. akhirnya kami berembuk lagi untuk mencari pengganti instansti tersebut, beberapa nama instansi sempat disebut dalam musyawarah kami. Hingga akhirnya pilihan jatuh ke Kantor Kamar Dagang Industri kota Samarinda.

Banyak pertimbangan mengapa akhirnya kami memilih instansi ini, salah satunya karena kami memiliki kenalan di kantor tersebut sehingga kami bisa meminta bantuan kepada beliau. Namun, Kamar Dagang Industri atau yang disingkat KADIN ini benar-benar harus sesuai prosedur. Walaupun terkesan dibantu oleh salah satu anggota KADIN, kami tetap dimintai Surat Tugas oleh mereka. Kami juga benar-benar melalui prosedur, dimana untuk bertemu dengan kepala KADIN kami harus menemui sekretaris beliau terlebih dahulu untuk melapor dan mengatur jadwal pertemuan kami. Walaupun kami telah mendapat instansi untuk diwawancara justru kami mengalami kesulitan dalam mengumpulkan anggota kelompok yang dimana memiliki kesibukan masing-masing. Setelah menemukan tanggal yang cocok  pada tanggal 3 Mei 2015 di mana ketua KADIN ada dan kami memiliki waktu luang masalah kembali timbul dimana seluruh anggota kami tidak ada yang memiliki kamera dan terpaksa kami membatalkan wawancara pada hari itu Akhirnya kamu mengatur ulang jadwal pertemuan, dan mengubahnya menjadi hari selasa, 04 Mei 2015. Saat itu yang berangkat hanya 3 orang, yaitu Saya sebagai Kameramen, Faroza Satria sebagai pewawancara dan Alvin Fazrien sebagai penyambung hubungan kami dengan KADIN. Anggota kelompok kami yang lain tidak ikut kesana dikarenakan pada hari tersebut hujan turun dengan derasnya, dan akhirnya kami memutuskan agar yang pergi ke KADIN yang rumahnya dekat dengan kantor KADIN saja. Dalam pertemuan itu kami disambut dengan hangat oleh para staff KADIN untuk melakukan wawancara kepada ketua KADIN. Dalam wawancara tersebut sebelumnya bapak ketua KADIN menjelaskan apa itu KADIN dan bagaimana cara kerja mereka. Setelah selesai menjelaskan ada beberapa pertanyaan yang kami ajukan sebagai berikut :

  1. Jadi, kami ingin bertanya apakah sempat terjadi kasus korupsi di instansi ini?’
  2. Jadi karena tidak bermasalah bapak itu mengatur anak buahnya seperti apa sehingga tidak terjadi korupsi di instansi bapak?

Dari hasil wawancara tersebut bahwa KADIN sebelumnya tidak pernah tersangkut kasus tindak pidana korupsi dan uniknya lagi KADIN sendiri tidak memiliki bendahara dan didapat jawaban bahwa di KADIN tidak pernah terjadi tindakan korupsi, dikarenakan mereka memakai uang swadaya dalam segala urusan.  Kepala KADIN tersebut juga menjelaskan bahwa KADIN merupakan kumpulan pengusaha yang bergerak dibidang perdagangan dan industri sehingga KADIN pun merupakan sebatas perkumpulan saja. KADIN tidak sepenuhnya mendapatkan uang dari Negara. Kalaupun ada selisih dana yang terjadi, biasanya ini hanya sekedar salah perhitungan dan setelah diselidiki ulang memang benar-benar tidak ada korupsi di Kantor ini. Dikarenakan tidak ada tindak pidana korupsi yang terjadi, kami menanyakan pertanyaan kami yang kedua “Karena tidak bermasalah bapak itu mengatur anak buahnya seperti apa sehingga tidak terjadi korupsi di instansi bapak?” dan beliau menjawab bahwa KADIN ini memiliki id card atau kartu tanda anggota yang dimana apabila ada anggota yang melakukan tindak korupsi kecil maupun besar dapat dengan mudah dideteksi. Setelah mengetahui jawaban tersebut kami pun menghentikan wawancara untuk menyesuaikan durasi presentasi video nanti.

Dari wawancara diatas hal yang kami dapat adalah bahwa KADIN merupakan salah satu instansi pemerintah yang bersih dari korupsi dan mereka berswadaya dalam pembangunan gedung mereka di jalan Siradj Salman Samarinda dikarenakan kurangnya dukungan pemerintah.

Advertisements